Share

Bab 4 - Jeratannya

last update Terakhir Diperbarui: 2025-03-30 10:58:58

Vella mencoba mengabaikan sensasi mencekam yang menjalar di tubuhnya saat Victor berdiri begitu dekat, senyumannya samar tetapi matanya penuh makna tersembunyi.

“Kau tampak tegang,” ucapnya lembut, jemarinya nyaris menyentuh pipi Vella sebelum gadis itu mundur selangkah.

“Aku hanya terkejut,” kata Vella, suaranya berusaha terdengar datar.

Victor mengangkat alisnya, seolah mengejek. “Terkejut karena aku kembali? Atau karena kau akhirnya menyadari bahwa kau tidak bisa lepas dariku?”

Jantung Vella berdebar lebih kencang. Ia tidak boleh terjebak dalam permainan ini.

“Aku sudah melupakanmu, Victor.”

Victor tertawa pelan, ekspresinya tampak menghibur diri. “Kau benar-benar ingin aku percaya itu?”

Vella tidak menjawab. Ia memilih untuk pergi, melangkah melewati Victor. Namun, sebelum ia bisa menjauh, Victor menangkap pergelangan tangannya. Tidak terlalu kuat, tetapi cukup untuk menghentikannya.

“Sebaiknya kau bersiap, Vella,” bisiknya dekat di telinganya. “Aku akan memastikan kau tidak pernah bisa mengabaikanku lagi.”

Vella menahan napas, berusaha melepaskan dirinya dari genggaman Victor. “Lepaskan aku.”

Victor tersenyum kecil sebelum akhirnya membiarkannya pergi.

Namun sebelum Vella benar-benar menjauh, ia sempat berbisik, “Selamat datang kembali dalam hidupku, sayang.”

***

Vella tidak tahan berlama-lama di pesta itu. Setelah berbasa-basi dengan beberapa tamu yang bahkan tidak benar-benar dikenalnya, ia akhirnya meminta izin pada ibunya untuk pulang lebih dulu.

“Aku akan menginap di hotel malam ini,” kata sang ibu sambil tersenyum bahagia. “Nikmati rumah sendiri untuk malam ini, sayang.”

Vella hanya mengangguk. Jujur saja, ia lega. Ia butuh ruang untuk bernapas.

Hujan tipis turun saat Vella melangkah masuk ke rumah. Suasana sepi. Sunyi.

Ia menyalakan lampu ruang tamu, meletakkan tas di sofa, lalu berjalan langsung ke kamar. Setelah mengganti gaun pesta yang membuatnya sesak, ia masuk ke kamar mandi, mencoba menghapus semua beban di pikirannya di bawah guyuran air hangat.

Tapi bayangan Victor terus muncul di kepalanya. Tatapan matanya, kata-katanya tadi malam…

"Aku akan memastikan kau tidak pernah bisa mengabaikanku lagi."

Vella menghela napas berat, mengeringkan rambutnya cepat-cepat, lalu masuk ke kamar. Ia baru saja akan naik ke ranjang ketika ponselnya tiba-tiba bergetar di atas nakas.

Nomor tidak dikenal.

Alisnya berkerut. Pukul dua belas malam lewat. Siapa yang menelepon jam segini?

Ragu-ragu, ia menggeser tombol hijau.

“Halo?”

Beberapa detik tidak ada suara. Hanya napas pelan di seberang sana.

Vella hendak memutuskan panggilan, ketika suara itu terdengar.

“Kau pulang terlalu cepat, sayang.”

Vella membeku.

Itu suara Victor. Lembut. Tenang. Tapi ada sesuatu yang membuat bulu kuduknya berdiri.

“Victor?” suaranya meninggi, refleks. “Dari mana kau tahu nomorku?”

Victor tertawa pelan. Suara itu membuat punggung Vella merinding.

“Aku selalu tahu apa yang kau punya, Vella.”

Lalu sambungannya terputus.

Vella menatap layar ponselnya yang gelap, dadanya berdegup kencang.

Bagaimana dia tahu? Apakah Victor mengikutinya sejak tadi? Atau… apakah ia sudah masuk ke dalam hidupnya lebih jauh daripada yang ia bayangkan?

Pikirannya dipenuhi rasa takut yang mulai berubah menjadi kepanikan.

Ia menggenggam ponselnya erat, menatap gelapnya malam di luar jendela kamar.

Menggigit bibirnya, ia mencoba berpikir jernih. Ini pasti hanya permainan psikologis. Victor hanya ingin menakutinya. Tapi kenapa rasanya terlalu nyata?

Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya.

DING-DONG.

Vella tersentak.

Bel pintu rumahnya berbunyi.

Suara itu bergema di seluruh rumah yang luas, menggema di lorong-lorong yang sepi.

Siapa yang datang tengah malam begini?

Ia melirik jam di ponselnya—pukul 12:24 AM.

Tangannya mencengkeram erat ponsel saat suara bel berbunyi lagi. Kali ini lebih lama.

DING-DONG. DING-DONG.

Vella menahan napas.

Ia menajamkan telinga, mencoba mendengar suara di luar. Tidak ada langkah kaki, tidak ada suara mobil yang berhenti di depan rumahnya.

DING-DONG.

Jantungnya berdebar lebih kencang.

Ia berjalan pelan menuju pintu depan, melewati lorong gelap. Bayangan lampu luar memantulkan sosok samar ke lantai marmer.

Sesampainya di depan pintu, ia berdiri diam. Tidak berani bergerak.

Ia menatap lubang intip di pintu. Ragu.

Namun sebelum ia bisa melihat siapa yang ada di luar, ponselnya bergetar lagi.

Sebuah pesan dari nomor tak dikenal:

“Kenapa tidak membukanya, Vella?”

Napasnya tercekat.

Tangan Vella gemetar saat ia perlahan-lahan mundur. Ia tidak berani melihat ke lubang intip lagi.

Bel pintu tidak berbunyi lagi.

Namun, di tengah keheningan malam, ia bisa merasakan sesuatu.

Seseorang ada di luar sana. Menunggunya.

Dan ia tahu betul siapa itu.

Victor.

Vella menggigit bibirnya, hatinya berdebar kencang saat menatap pintu di depannya.

Ia tahu ini ide buruk. Sangat buruk.

Tapi rasa penasaran dan ketakutan bercampur menjadi satu, membuatnya perlahan mengulurkan tangan dan memutar kenop pintu.

Saat pintu terbuka, Victor berdiri di sana.

Ia mengenakan pakaian serba hitam, rambutnya sedikit berantakan, dan ekspresinya jauh berbeda dari pria yang ia temui di pesta tadi. Dingin. Gelap. Berbahaya.

Hujan gerimis membasahi bahunya, dan tatapannya langsung menembus mata Vella, tajam dan menuntut.

Vella merasa lidahnya kelu.

“Victor… apa yang kau lakukan di sini?”

Victor tidak langsung menjawab. Tiba-tiba, pria itu melangkah masuk tanpa menunggu izin.

“Victor! Apa yang kau—”

Klik.

Ia menutup pintu di belakangnya dan langsung mengunci dengan cepat.

Vella mundur selangkah, dadanya naik-turun. “Victor, keluarlah.”

Victor tidak bergerak. Ia hanya menatap ke dalam rumah, seolah menilai setiap sudut, sebelum akhirnya tatapannya kembali tertuju pada Vella.

“Rumah yang besar,” gumamnya pelan. “Terlalu besar untuk ditinggali sendiri.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ketika Mantan Jadi Kakak Posesif   Bab 19 - Telepon dari Ortu

    Beberapa jam setelah makan malam yang terasa canggung baginya, Vella sedang asyik bersantai di sofa sambil menonton televisi. Wajahnya ditempeli masker yang melekat dingin di kulitnya, dengan bando lucu menahan poni-poni nakalnya agar tidak menempel di dahi. Suasana tenang itu tiba-tiba terganggu oleh dering telepon dari salah satu gadis kru yang tadi siang ikut menghiburnya makan pizza."Halo?" sapa Vella riang."Vella, gimana kalau minggu depan kita nonton film terbaru Chris Evans? Katanya action-nya keren banget!" seru temannya di seberang sana."Wih iya! Aku juga udah lama pengen liat itu. Tapi tau nggak sih, sebenernya idolaku tuh Tom Cruise dari dulu. Cowok kayak gitu tuh idaman banget! Berani, talent-nya oke, dan yang jelas... tampan!" canda Vella sambil tertawa ringan.Di tengah obrolan seru mereka tentang aktor-aktor Hollywood, tiba-tiba Victor yang tak terdengar langkah kakinya mendekat, dengan santai merebahkan tubuhnya di sofa. Kepalanya yang berat tiba-tiba saja menyandar

  • Ketika Mantan Jadi Kakak Posesif   Bab 18 - Pengakuan Victor

    "Ah... benar-benar ceroboh~" rintih Vella lagi, kali ini dengan suara parau. Kedua telapak tangannya menutupi wajahnya, seolah berusaha menyembunyikan rasa malu dan frustrasi yang membara di pipinya.Victor mengamatinya dari kejauhan, tatapannya tajam bagai elang yang mengamati mangsanya. Kemudian, dengan langkah tenang namun penuh tujuan, dia mulai mendekat."Ada apa? Kau ingin menyerah?" suaranya rendah, terdengar hampir seperti bisikan di telinga meski mereka masih terpisah beberapa langkah.Sebelum Vella bisa menjawab, Victor sudah berdiri tepat di hadapannya. Tubuhnya yang tinggi menjulang membuat Vella yang duduk di sofa merasa kecil. Perlahan, dia berlutut, sehingga posisi matanya sejajar dengan Vella. Tangannya yang besar dan hangat menyentuh pergelangan tangan Vella, menariknya perlahan dari wajahnya."Jangan sembunyikan wajahmu dariku," bisiknya, suaranya lembut namun mengandung perintah. "Aku ingin melihat setiap emosi yang melewati wajah cantikmu."Vella terpana, tidak bis

  • Ketika Mantan Jadi Kakak Posesif   Bab 17 - Kegagalan

    "Kami tertarik dengan potensi kolaborasi ini, Nona Vella," ujar Ms. Rena dengan senyum profesional yang tertata rapi, meski matanya yang tajam tak berhenti mengamati setiap gerak-gerik Vella.Ruang rapat mewah Alves Entertainment yang biasanya sepi, hari ini diisi oleh kehadiran yang sangat berarti. Namun yang membuat suasana semakin mencekam adalah kehadiran langsung sang legenda hidup industri kosmetik—Madam Laurent. Perempuan paruh baya itu duduk tegak bak patung, wajahnya yang judes dipenuhi ekspresi angkuh yang seolah sudah melekat permanen. Penampilannya begitu mencolok: jaket fur hitam yang mewah, sanggul rambut tinggi yang sempurna tak sehelai pun terlepas, dan sepatu boots leather yang mengkilap—setiap detailnya berteriak tentang status dan kekuasaannya."Portofolio yang dikirimkan Alex sangat menarik perhatian kami," sambung Ms. Rena, yang bertugas sebagai kepala marketing yang bertanggung jawab mencari wajah baru untuk produk kosmetik mereka.Vella mengatur napas dalam-dala

  • Ketika Mantan Jadi Kakak Posesif   Bab 16 - Konfrontasi

    Vella masih terpaku memandangi tabung lipstik berwarna emas di telapak tangannya, perutnya bergejolak oleh rasa tidak percaya dan getir. Begitu banyak emosi yang bertarung dalam dirinya—kemarahan, rasa malu, dan yang paling menusuk: kecemburuan yang tak ingin diakuinya."Menemukan harta karun?"Suara rendah itu, seperti guntur dekat, membuatnya tersentak. Vella berbalik dan melihat Victor berdiri di ambang pintu, bersandar pada bingkai pintu dengan sikap santai yang menipu. Matanya, bagaimanapun, tajam dan waspada, langsung tertuju pada benda di tangannya.Dia tidak berkata apa-apa. Hanya melangkah mendekat, gerakannya halus seperti kucing besar. Dengan lembut namun penuh kepastian, dia mengambil lipstik dari genggaman Vella yang kaku."Chloe," ucapnya, memutar-mutar benda itu di antara jari-jarinya sebelum melemparkannya dengan acuh ke atas mejanya. Seolah itu sampah. "Dia ada pertemuan bisnis di sini kemarin. Cerewet sekali, selalu meninggalkan jejak."Vella mencari-cari kebohongan

  • Ketika Mantan Jadi Kakak Posesif   Bab 15 - Ciuman Victor

    Dengan napas tersengal dan jantung berdegup kencang bagai drum perang, Vella membanting pintu kamarnya. Suara gemeretak kayu solid nyaris memecahkan kesunyian penthouse. Dia menyandarkan tubuhnya yang gemetar di balik pintu, berusaha menenangkan diri dari pertarungan yang baru saja terjadi di dapur. Bau Victor masih melekat di hidungnya, sentuhannya masih membakar kulitnya."Pria itu gila. Benar-benar gila," pikirnya, menekan pelipisnya yang berdenyut-denyut.Tiba-tiba, pintu di belakangnya bergerak, terdorong oleh tekanan dari luar. Vella terkesiap, mendorong tubuhnya lebih kuat lagi."Buka," suara Victor yang rendah dan bergetar menyelinap lewat celah pintu. Ia terdengar lebih dekat dari yang seharusnya."Pergi, Victor!" teriak Vella, mendorong pintu dengan seluruh tenaganya. "Aku tidak mau bicara denganmu!""Kita belum selesai."Sebelum Vella bisa bereaksi, sebuah sepatu kulit hitam yang mahal menyangkut di celah pintu yang berhasil dia buka selebar dua jari. Kaki Victor. Dia menggu

  • Ketika Mantan Jadi Kakak Posesif   Bab 14

    Mobil akhirnya sampai di penthouse. Hujan masih rintik-rintik ketika mereka bergegas masuk ke lobi, menghindari udara dingin yang mulai menggigit. Victor mendorong pintu kaca dengan bahunya, kedua tangannya masih setia memegang kantong belanjaan yang berat.Mereka berjalan menuju lift dalam kesunyian yang nyaman, hanya diiringi suara sepatu mereka yang basah menyentuh lantai marmer. Saat pintu lift tertutup, memisahkan mereka dari dunia luar, Vella memandangi pantulan diri mereka di dinding kaca yang mengilap. Victor berdiri di sampingnya, terlihat begitu perkasa namun juga menyimpan kesendirian yang tak terucap."Aku membaca tentangmu," ucap Vella tiba-tiba, suaranya lirih di dalam ruang sempit itu. "Tentang Alves Entertainment. Aku tidak pernah menyangka."Victor menatap pantulannya di kaca, bertemu dengan mata Vella yang penuh tanya. "Menyangka apa?""Bahwa kau adalah Victor Alexander. CEO dari salah satu agensi terbesar. Selama ini, selama kita... pacaran, aku mengira kau hanya se

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status