Share

Bab 6 - Misteri

last update Last Updated: 2025-10-23 11:41:47

Ponsel Vella bergetar. Sebuah pesan muncul dari nomor tak dikenal:

“Kau dalam bahaya. Jauhi dia. Sebelum kau benar-benar kehilangan segalanya.”

“Dia bukan seperti yang kau kira. Dia... menghancurkan hidup orang lain sebelum kamu.”

Matanya membesar. Tangannya gemetar.

Dan di belakangnya, Victor menariknya ke dalam pelukan.

“Siapa itu?” bisik Victor, suaranya tajam tapi lembut. “Ada yang mengganggumu, sayang?”

Pesan misterius itu terus terngiang di kepala Vella. Tapi sebelum sempat ia baca ulang, Victor mengambil ponselnya. Gerakannya tenang—terlalu tenang hingga membuat jantung Vella makin berdegup kencang.

“Aku cuma khawatir padamu,” katanya sambil memutar ponsel dengan dua jarinya, matanya tak lepas dari wajah Vella. “Siapa yang berani mengirimi pesan seperti ini, ya?”

“Berikan padaku, Victor.” Vella mencoba merebut ponselnya, tapi pria itu menariknya ke dalam pelukan sebelum sempat menjangkau.

Tangan Victor mendarat di punggungnya, menelusuri garis tulang belakangnya dengan lembut tapi pasti. Napasnya membelai leher Vella, hangat dan berat.

“Aku tahu kau masih takut padaku,” bisiknya. “Tapi... bukankah bagian dari dirimu juga masih menginginkanku?”

“Victor—”

“Shh...” Tangannya menyentuh dagu Vella, mengangkat wajahnya. “Kau bisa menyangkal dengan mulutmu, tapi tubuhmu selalu jujur padaku.”

Tatapan Victor menghujam seperti pisau. Dalam dan pekat. Lalu bibirnya menyentuh pipi Vella—bukan lembut, tapi menuntut. Meninggalkan jejak panas di kulitnya.

“Kau ingat, kan?” bisiknya. “Dulu, malam sebelum kau memutuskan pergi, aku ingin melamarmu di alun-alun kota. Tapi kau... memilih kabur. Kau lebih takut pada cinta ini, daripada merasakannya.”

“Karena cintamu menakutkan,” gumam Vella. “Kau ingin mengendalikan semuanya, termasuk diriku.”

Victor menghela napas panjang, lalu menindih tubuh Vella perlahan di atas tempat tidur. Tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Aura di sekitarnya berubah. Matanya lebih gelap, lebih dingin.

“Aku tidak mengendalikanmu, Vella. Aku... memilikinya. Itu berbeda.” Bibirnya kini di dekat bibir Vella. “Karena kau milikku. Sejak awal. Bahkan saat kau memutuskan pergi... aku masih bisa mencium wangi parfummu di bantal.”

Jari-jarinya menyusup ke sela rambut Vella, lalu turun ke tengkuk, memaksa matanya bertemu dengan tatapan Victor.

“Jangan lari lagi, Vella,” katanya lirih. “Karena kali ini, aku tidak akan membiarkanmu pergi.”

Lalu dia menciumnya. Dalam. Melingkupi. Seolah menumpahkan segala emosi yang tertahan selama tiga tahun.

Dan meskipun akalnya menolak, tubuh Vella bergetar menerima setiap gesekan itu. Ada rasa takut, namun juga kerinduan. Ada sisi dirinya yang merindukan pelukan ini—bau kulit Victor, nafasnya, tatapan yang dulu membuatnya merasa spesial… sebelum semuanya berubah jadi penjara.

Tapi sebelum ciuman itu semakin dalam, suara notifikasi ponsel berbunyi lagi.

Victor menarik diri, matanya masih merah karena gairah dan sesuatu yang lain… sesuatu yang gelap. Ia mengambil ponsel, membacanya dalam diam. Tapi sorot matanya langsung berubah jadi ancaman.

“Kau harus berhenti menerima pesan dari orang yang tidak kau kenal, sayang. Bisa-bisa, dia membuatmu tidak bisa tidur tenang...”

Vella menelan ludah. Ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuat bulu kuduknya berdiri.

“Apa maksudmu?”

Victor mengusap rambutnya dengan lembut, lalu menciumnya di kening.

“Tenang saja. Aku akan cari tahu siapa pengganggu ini. Dan kalau aku sudah tahu... aku pastikan dia tidak akan bisa menyentuhmu lagi. Bahkan lewat kata-kata.”

***

Pagi menembus tirai kamar dengan lembut, meninggalkan warna keemasan di dinding. Vella membuka mata perlahan. Udara masih mengandung jejak wangi cologne Victor—aroma yang menenangkan sekaligus menyesakkan.

Tempat di sampingnya kosong. Bantalnya masih hangat.

“Victor?” suaranya serak, ragu. Tidak ada jawaban.

Ia duduk, selimut melorot ke pangkuan. Bayangan malam tadi menyeruak: pelukan Victor yang begitu erat, tatapan yang mengancam tapi juga terasa seperti perlindungan yang nyata. Vella menggigit bibir, menahan sesuatu yang aneh di dadanya—campuran rindu dan takut.

Langkah kakinya menuju ruang tengah. Rumah itu sunyi, terlalu sunyi. Hanya ada secangkir kopi yang masih mengepul di meja. Di bawah cangkir itu, terlipat sebuah kertas kecil dengan tulisan tangan Victor yang rapi:

 “Aku pergi sebentar. Jangan keluar rumah. —V.”

Vella mengernyit. Sesuatu terasa tidak beres. Ia tak tahu ke mana Victor pergi, atau mengapa ia harus tetap di rumah.

Ketika ia berbalik, ponselnya bergetar di meja makan. Satu pesan baru masuk dari nomor tanpa nama.

 “Kau tahu siapa dia sebenarnya?”

Jantungnya berdegup keras. Ia menatap layar ponsel beberapa detik sebelum mengetik balasan.

 Siapa maksudmu?

Balasan datang cepat:

 “Victor tidak seperti yang kau kira. Cari di bawah piano ruang tamu. Kau akan tahu.”

Vella menelan ludah. Tangannya gemetar ketika melangkah ke ruang tamu. Piano putih di sudut ruangan tampak bersih, tidak mencurigakan. Tapi saat ia menunduk, ada sesuatu di bawah sana—sebuah kotak hitam kecil.

Kotak itu dingin di tangannya. Ia membukanya perlahan.

Di dalamnya terdapat flashdisk perak dengan inisial “V.H.”

Seketika jantungnya berdegup lebih cepat. Ia tahu, ini milik Victor. Tapi kenapa disembunyikan di rumahnya?

Ia menatap layar laptop yang menyala di meja, bimbang. Lalu menarik napas panjang dan mencolokkan flashdisk itu.

Folder tunggal muncul di layar, berjudul: Velentine.

Jari-jarinya gemetar saat mengkliknya. Di dalam folder itu ada puluhan foto dirinya—foto candid, diambil diam-diam dari berbagai tempat: studio pemotretan, apartemen lamanya, bahkan salah satu di bandara saat ia baru kembali ke kota ini.

Napas Vella tercekat. “Apa ini…?”

Layar tiba-tiba berubah. Satu file video terbuka otomatis. Rekaman dari kamera CCTV menunjukkan Victor sedang berbicara dengan seorang pria tua di ruang kantor bergaya mewah.

 “Dia tidak boleh tahu apa pun,” suara Victor terdengar jelas. “Jika dia tahu, semuanya akan berakhir.”

Vella menatap layar itu dengan tubuh gemetar. “Tidak boleh tahu… apa?” bisiknya.

Pintu depan berderit.

Vella menutup laptop dengan cepat. Langkah kaki berat mendekat. Nafasnya memburu. Ia tahu langkah itu.

Victor muncul di ambang pintu dengan jas gelap, rambut sedikit berantakan. Matanya langsung tertuju pada Vella yang berdiri di ruang tamu dengan wajah pucat.

“Vella.” Suaranya datar, nyaris tidak mengenali emosi.

“Kau sudah bangun rupanya.”

Vella mencoba tersenyum, tapi suaranya bergetar. “Kau... dari mana?”

Victor berjalan pelan, menatap sekeliling ruangan seolah mengamati sesuatu yang salah tempat. “Ada urusan kecil di kantor.” Ia berhenti tepat di depan Vella. “Kau baik-baik saja?”

“Aku…” Tapi suaranya lenyap ketika mata Victor tertumbuk pada laptop yang belum sempat ia cabut flashdisk-nya.

Hening mendadak menebal di antara mereka.

Victor melangkah lebih dekat, cukup dekat hingga Vella bisa mendengar desah napasnya. “Kau… membuka sesuatu yang bukan milikmu?” tanyanya pelan.

Nada suaranya tenang, tapi dinginnya menggigit.

Vella mundur setapak. “Aku—aku cuma menemukan—”

Victor menyentuh pipinya dengan lembut, tapi tatapannya tajam seperti pisau. “Kadang rasa ingin tahu itu berbahaya, sayang.”

“Victor, apa maksud semua ini?”

Senyum tipis muncul di bibir pria itu. “Maksudnya?” Ia menunduk sedikit, suaranya berbisik di telinganya. “Mungkin kau belum siap untuk tahu… siapa sebenarnya orang yang selama ini memelukmu.”

Seketika lampu di ruang tamu berkelip, laptopnya mati dengan suara letupan halus.

Vella tersentak. Victor menatap layar yang padam itu, lalu pada Vella, pandangannya tak terbaca.

 “Kau seharusnya tidak membuka kotak itu,” ucapnya pelan.

 “Sekarang… semuanya sudah berubah.”

Dan sebelum Vella sempat bertanya lagi, suara ponselnya berdering di meja. Nomor tanpa nama itu kembali muncul, tapi kali ini nama kontaknya berubah: “Aku tahu siapa dia.”

Vella menatap layar ponsel itu dengan tubuh bergetar, sementara Victor hanya tersenyum samar, seolah sudah menunggu pesan itu datang.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ketika Mantan Jadi Kakak Posesif   Bab 19 - Telepon dari Ortu

    Beberapa jam setelah makan malam yang terasa canggung baginya, Vella sedang asyik bersantai di sofa sambil menonton televisi. Wajahnya ditempeli masker yang melekat dingin di kulitnya, dengan bando lucu menahan poni-poni nakalnya agar tidak menempel di dahi. Suasana tenang itu tiba-tiba terganggu oleh dering telepon dari salah satu gadis kru yang tadi siang ikut menghiburnya makan pizza."Halo?" sapa Vella riang."Vella, gimana kalau minggu depan kita nonton film terbaru Chris Evans? Katanya action-nya keren banget!" seru temannya di seberang sana."Wih iya! Aku juga udah lama pengen liat itu. Tapi tau nggak sih, sebenernya idolaku tuh Tom Cruise dari dulu. Cowok kayak gitu tuh idaman banget! Berani, talent-nya oke, dan yang jelas... tampan!" canda Vella sambil tertawa ringan.Di tengah obrolan seru mereka tentang aktor-aktor Hollywood, tiba-tiba Victor yang tak terdengar langkah kakinya mendekat, dengan santai merebahkan tubuhnya di sofa. Kepalanya yang berat tiba-tiba saja menyandar

  • Ketika Mantan Jadi Kakak Posesif   Bab 18 - Pengakuan Victor

    "Ah... benar-benar ceroboh~" rintih Vella lagi, kali ini dengan suara parau. Kedua telapak tangannya menutupi wajahnya, seolah berusaha menyembunyikan rasa malu dan frustrasi yang membara di pipinya.Victor mengamatinya dari kejauhan, tatapannya tajam bagai elang yang mengamati mangsanya. Kemudian, dengan langkah tenang namun penuh tujuan, dia mulai mendekat."Ada apa? Kau ingin menyerah?" suaranya rendah, terdengar hampir seperti bisikan di telinga meski mereka masih terpisah beberapa langkah.Sebelum Vella bisa menjawab, Victor sudah berdiri tepat di hadapannya. Tubuhnya yang tinggi menjulang membuat Vella yang duduk di sofa merasa kecil. Perlahan, dia berlutut, sehingga posisi matanya sejajar dengan Vella. Tangannya yang besar dan hangat menyentuh pergelangan tangan Vella, menariknya perlahan dari wajahnya."Jangan sembunyikan wajahmu dariku," bisiknya, suaranya lembut namun mengandung perintah. "Aku ingin melihat setiap emosi yang melewati wajah cantikmu."Vella terpana, tidak bis

  • Ketika Mantan Jadi Kakak Posesif   Bab 17 - Kegagalan

    "Kami tertarik dengan potensi kolaborasi ini, Nona Vella," ujar Ms. Rena dengan senyum profesional yang tertata rapi, meski matanya yang tajam tak berhenti mengamati setiap gerak-gerik Vella.Ruang rapat mewah Alves Entertainment yang biasanya sepi, hari ini diisi oleh kehadiran yang sangat berarti. Namun yang membuat suasana semakin mencekam adalah kehadiran langsung sang legenda hidup industri kosmetik—Madam Laurent. Perempuan paruh baya itu duduk tegak bak patung, wajahnya yang judes dipenuhi ekspresi angkuh yang seolah sudah melekat permanen. Penampilannya begitu mencolok: jaket fur hitam yang mewah, sanggul rambut tinggi yang sempurna tak sehelai pun terlepas, dan sepatu boots leather yang mengkilap—setiap detailnya berteriak tentang status dan kekuasaannya."Portofolio yang dikirimkan Alex sangat menarik perhatian kami," sambung Ms. Rena, yang bertugas sebagai kepala marketing yang bertanggung jawab mencari wajah baru untuk produk kosmetik mereka.Vella mengatur napas dalam-dala

  • Ketika Mantan Jadi Kakak Posesif   Bab 16 - Konfrontasi

    Vella masih terpaku memandangi tabung lipstik berwarna emas di telapak tangannya, perutnya bergejolak oleh rasa tidak percaya dan getir. Begitu banyak emosi yang bertarung dalam dirinya—kemarahan, rasa malu, dan yang paling menusuk: kecemburuan yang tak ingin diakuinya."Menemukan harta karun?"Suara rendah itu, seperti guntur dekat, membuatnya tersentak. Vella berbalik dan melihat Victor berdiri di ambang pintu, bersandar pada bingkai pintu dengan sikap santai yang menipu. Matanya, bagaimanapun, tajam dan waspada, langsung tertuju pada benda di tangannya.Dia tidak berkata apa-apa. Hanya melangkah mendekat, gerakannya halus seperti kucing besar. Dengan lembut namun penuh kepastian, dia mengambil lipstik dari genggaman Vella yang kaku."Chloe," ucapnya, memutar-mutar benda itu di antara jari-jarinya sebelum melemparkannya dengan acuh ke atas mejanya. Seolah itu sampah. "Dia ada pertemuan bisnis di sini kemarin. Cerewet sekali, selalu meninggalkan jejak."Vella mencari-cari kebohongan

  • Ketika Mantan Jadi Kakak Posesif   Bab 15 - Ciuman Victor

    Dengan napas tersengal dan jantung berdegup kencang bagai drum perang, Vella membanting pintu kamarnya. Suara gemeretak kayu solid nyaris memecahkan kesunyian penthouse. Dia menyandarkan tubuhnya yang gemetar di balik pintu, berusaha menenangkan diri dari pertarungan yang baru saja terjadi di dapur. Bau Victor masih melekat di hidungnya, sentuhannya masih membakar kulitnya."Pria itu gila. Benar-benar gila," pikirnya, menekan pelipisnya yang berdenyut-denyut.Tiba-tiba, pintu di belakangnya bergerak, terdorong oleh tekanan dari luar. Vella terkesiap, mendorong tubuhnya lebih kuat lagi."Buka," suara Victor yang rendah dan bergetar menyelinap lewat celah pintu. Ia terdengar lebih dekat dari yang seharusnya."Pergi, Victor!" teriak Vella, mendorong pintu dengan seluruh tenaganya. "Aku tidak mau bicara denganmu!""Kita belum selesai."Sebelum Vella bisa bereaksi, sebuah sepatu kulit hitam yang mahal menyangkut di celah pintu yang berhasil dia buka selebar dua jari. Kaki Victor. Dia menggu

  • Ketika Mantan Jadi Kakak Posesif   Bab 14

    Mobil akhirnya sampai di penthouse. Hujan masih rintik-rintik ketika mereka bergegas masuk ke lobi, menghindari udara dingin yang mulai menggigit. Victor mendorong pintu kaca dengan bahunya, kedua tangannya masih setia memegang kantong belanjaan yang berat.Mereka berjalan menuju lift dalam kesunyian yang nyaman, hanya diiringi suara sepatu mereka yang basah menyentuh lantai marmer. Saat pintu lift tertutup, memisahkan mereka dari dunia luar, Vella memandangi pantulan diri mereka di dinding kaca yang mengilap. Victor berdiri di sampingnya, terlihat begitu perkasa namun juga menyimpan kesendirian yang tak terucap."Aku membaca tentangmu," ucap Vella tiba-tiba, suaranya lirih di dalam ruang sempit itu. "Tentang Alves Entertainment. Aku tidak pernah menyangka."Victor menatap pantulannya di kaca, bertemu dengan mata Vella yang penuh tanya. "Menyangka apa?""Bahwa kau adalah Victor Alexander. CEO dari salah satu agensi terbesar. Selama ini, selama kita... pacaran, aku mengira kau hanya se

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status