LOGINLangit malam berwarna ungu kehitaman ketika Vella turun ke ruang makan. Rumah besar itu terasa terlalu sunyi; hanya denting peralatan makan dan suara langkah pelan di lantai marmer.
Di ujung meja panjang, Victor sudah duduk menunggu. Ia mengenakan kemeja hitam yang dibuka dua kancing teratas, rambutnya masih agak basah, aroma parfum kayu mengisi udara.
“Duduklah,” katanya tanpa menoleh. Suaranya terdengar tenang, tapi ada sesuatu di nada itu—kendali yang tidak memberi ruang untuk menolak.
Vella menarik kursi di seberang. “Kau tidak perlu repot menyiapkan ini.”
Victor menatapnya sekilas. “Aku tidak repot. Aku hanya ingin makan malam bersama keluargaku.”
Kata keluargaku diucapkan dengan penekanan halus yang membuat Vella sulit menelan ludah.
Mereka makan dalam diam beberapa menit. Hanya terdengar denting sendok menyentuh piring. Tapi Vella tahu, Victor memperhatikannya di setiap helaan napas.
“Bagaimana hari ini?” tanya Victor akhirnya.
“Biasa saja,” jawab Vella pelan. “Aku hanya di rumah seperti katamu.”
Victor mengangguk pelan, seolah puas. “Baik.” Ia menatap piringnya sebentar sebelum menambahkan, “Aku tidak suka mengulang hal yang sama dua kali, Vella. Aku bilang jangan buka apa pun di rumah ini tanpa sepengetahuanku.”
Sendok di tangan Vella terhenti. Napasnya tersangkut di tenggorokan. “Kau—kau tahu aku membuka sesuatu?”
Senyum Victor tidak sampai ke matanya. “Aku tahu segalanya di rumah ini.” Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan. “Kau pikir aku akan menaruh sesuatu di sini tanpa pengawasan?”
Darah di wajah Vella terasa surut. “Jadi kau sengaja menaruh flashdisk itu?”
Victor tidak menjawab. Ia hanya menatapnya, lama, dengan senyum samar yang anehnya tidak jahat—lebih seperti seseorang yang menikmati permainan berbahaya.
“Aku hanya ingin tahu,” kata Vella akhirnya, berusaha tenang. “Kenapa ada foto-fotoku di sana?”
“Karena aku menyimpannya,” jawab Victor ringan, seolah itu hal paling wajar di dunia. “Aku menyimpan semua yang kuanggap penting.”
“Tanpa izinku?”
“Aku tidak pernah butuh izin untuk mengenang masa laluku.”
Vella terdiam. Ada sisi dari Victor yang benar-benar membuatnya takut sekarang. Tapi di sisi lain, ada sesuatu dalam suaranya yang membuat dada Vella sesak — seperti nostalgia yang dibungkus obsesi.
“Victor,” katanya pelan, “aku bukan milikmu lagi.”
Victor tertawa pendek, rendah, hampir tanpa suara. “Kau benar. Tapi aku juga tidak pernah menganggapmu sekadar milikku.” Ia berdiri, berjalan mengitari meja, lalu berhenti di belakang kursinya.
Tangannya menyentuh bahu Vella pelan, lembut tapi membuatnya kaku. “Kau tahu apa yang membuatku marah dulu?” bisiknya di dekat telinga. “Bukan karena kau memutuskanku. Tapi karena kau berpikir bisa melupakan segalanya semudah itu.”
Vella menunduk, menatap piringnya yang sudah dingin. “Aku harus melupakanmu. Aku tak tahu siapa kau sebenarnya.”
“Dan sekarang kau tahu,” jawab Victor dengan nada halus tapi penuh arti. “Kau tinggal di rumahku, di bawah namaku, dan seluruh dunia mengenalmu sebagai adikku.”
Ia menunduk, matanya bertemu dengan mata Vella yang bergetar menahan amarah dan takut. “Lucu, bukan? Bagaimana takdir memaksa kita bersama lagi.”
“Takdir?” Vella menahan napas. “Kau menyebut semua ini takdir?”
Victor tersenyum. “Apa pun yang membuatku bisa melihatmu setiap hari—aku akan menyebutnya takdir.”
Ia menyingkirkan sehelai rambut dari wajah Vella, jari-jarinya berhenti di lehernya. Sentuhan itu membuat napas Vella tercekat.
“Victor… tolong hentikan ini,” bisiknya.
Victor menatapnya lama, lalu berkata pelan, “Aku hanya akan berhenti kalau kau bisa berhenti membuatku peduli.”
Hening.
Mata mereka bertemu, dan dalam diam itu, ada sesuatu yang nyaris pecah. Vella ingin berdiri, tapi Victor sudah lebih dulu berbalik, berjalan menuju balkon.
“Besok,” katanya, tanpa menoleh, “aku akan memperkenalkanmu pada beberapa orang dari industri. Aku ingin kau kembali ke dunia modeling.”
Vella menatap punggungnya, kaget. “Apa? Aku—aku tidak siap—”
“Kau akan siap,” potong Victor. “Aku akan pastikan semua kontrakmu kembali. Semua pintu yang dulu tertutup, akan kubuka lagi.” Ia menatap Vella dari balik bayangan pintu balkon. “Hanya saja… kali ini, kau berjalan di bawah namaku.”
Suara malam di luar terdengar sunyi.
Vella tahu, ia baru saja masuk ke permainan yang jauh lebih dalam dari yang ia sadari.
Dan di balik senyum dingin Victor, ada sesuatu yang menunggu untuk meledak.
Saat Victor meninggalkan ruangan, ponsel Vella bergetar di pangkuannya. Pesan baru masuk dari nomor misterius itu lagi:
“Jangan percaya apapun yang dia tawarkan. Dunia yang dia buka untukmu bukan tempat yang sama seperti dulu.”
Vella menatap layar, lalu menatap pintu tempat Victor baru saja menghilang. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar tidak tahu apakah pria itu sedang menyelamatkannya… atau membawanya ke dalam perangkap yang ia ciptakan sendiri.
***
Udara sore itu beraroma manis—seperti bunga taman yang baru mekar setelah hujan. Dari balkon kamar, Vella mendengar suara tawa ibunya di bawah, hangat dan ringan.
Mereka akhirnya pulang.
Setelah dua minggu bulan madu, rumah yang tadinya sunyi kini kembali ramai. Tapi bagi Vella, suara itu tidak lagi menenangkan; justru membuat dadanya berat. Karena bersama suara itu, ada satu kalimat yang menggantung di kepala sejak pagi.
“Kau akan berjalan di bawah namaku.”
Kalimat Victor. Ancaman, janji, atau keduanya—ia tidak tahu.
Pintu kamar diketuk dua kali.
“Vella?” suara ibunya memanggil.
Vella buru-buru menyeka wajahnya dan membuka pintu. “Mama…”
Wanita itu tersenyum cerah, memeluknya erat. “Kau kelihatan kurusan. Kau makan yang benar, kan?”
“Ya, Ma.”
Ibunya melonggok ke dalam kamar, matanya berkilat hangat. “Victor juga sudah di bawah. Aku dan ayahmu ingin bicara. Kami akan menghadiri acara keluarga besar besok malam. Semua keluarga hadir—dan tentu, kalian berdua juga harus ikut.”
Vella menelan ludah. “Acara… keluarga?”
“Iya. Keluarga dari pihak ayah tiri kamu. Besar, formal, dan penting sekali. Kalian harus tampil serasi, supaya tidak ada gosip yang aneh.”
Vella hanya mengangguk.
Serasi.
Kata itu menggema di kepalanya.
Malam itu, sebelum tidur, Vella mengetuk kamar Victor.
Ia tahu ia harus bicara.
Pintu terbuka, memperlihatkan Victor dalam pakaian santai. “Ada apa?”
“Kau dengar soal acara besok?”
Victor bersandar di pintu, menyilangkan tangan. “Tentu. Aku bahkan sudah menyiapkan undangan digitalnya.”
“Kita harus terlihat normal,” kata Vella cepat. “Seperti saudara pada umumnya. Aku tidak ingin Mama curiga.”
Alis Victor terangkat sedikit. “Normal?”
“Ya.”
Ia tersenyum tipis, ekspresi yang tak bisa dibaca. “Kalau itu yang kau mau, kita akan terlihat sangat… normal.”
Nada suaranya terlalu tenang, terlalu lembut untuk tidak mencurigakan.
***
Acara itu diadakan di hotel mewah di pusat kota. Aula besar berkilau dengan lampu kristal dan musik orkestra. Vella mengenakan gaun panjang warna ivory, rambutnya disanggul rapi. Ketika ia melangkah keluar dari kamar hotel, Victor sudah menunggunya di koridor.
Jas hitamnya pas di tubuh, dasi abu gelap membuat matanya terlihat lebih tajam. “Kau cantik,” katanya singkat.
“Terima kasih.” Vella berusaha menjaga nada netral, tapi jantungnya berdegup tak karuan.
Mereka berjalan berdampingan menuju aula. Dari luar, mereka terlihat seperti pasangan muda yang harmonis. Tidak ada yang tahu bahwa setiap langkah mereka adalah hasil kesepakatan rapuh—dan setiap jarak di antara mereka menyimpan percikan yang berbahaya.
Musik mengalun lembut. Para tamu berdansa, meneguk anggur, berbicara tentang bisnis dan proyek hiburan.
Ibunya datang bersama ayah tiri mereka, tersenyum bahagia. “Kalian berdua harus berkenalan dengan beberapa kerabat. Mereka semua ingin bertemu anak-anak kami yang tampan dan cantik.”
Vella tersenyum kecil, menahan gugup. Victor, di sisi lain, memainkan perannya dengan sempurna—ramah, penuh pesona, dan menatapnya sesekali dengan cara yang membuat napasnya nyaris berhenti.
“Vella, ini paman Robert,” kata ibunya memperkenalkan. “Dia bekerja di perusahaan majalah ternama, mungkin bisa membantu karier modelingmu nanti.”
Sebelum Vella sempat menjawab, Victor menimpali dengan suara tenang, “Terima kasih, Paman. Tapi saya akan pastikan Vella memilih proyek yang tepat. Dia tidak akan sembarangan lagi dengan orang yang salah.”
Nada lembut itu terdengar sopan bagi orang lain, tapi bagi Vella—itu peringatan.
Tangan Victor di punggung bawahnya terasa hangat, tapi tekanan halusnya membuatnya sulit bergerak.
Ia mencoba menjaga senyum, tapi detak jantungnya tak stabil.
Victor memiringkan wajah, berbisik di telinganya tanpa mengubah ekspresi di depan tamu,
“Tersenyumlah. Mereka memperhatikan.”
Dan Vella tersenyum—karena harus.
Setelah acara makan malam berlangsung lama, mereka akhirnya duduk di meja utama. Sorot lampu lembut mengenai wajah Vella. Ia menatap gelas anggurnya, mencoba mengatur napas.
“Kenapa kau terlihat tegang?” tanya Victor pelan.
“Aku hanya lelah.”
“Lelah atau ingin kabur?”
Tatapannya membuat Vella membeku. Ia menelan ludah dan berpaling.
“Jangan bicara seperti itu di sini.”
Victor mencondongkan tubuh sedikit ke arahnya, suaranya rendah tapi tajam. “Kau tahu kenapa aku setuju datang ke acara ini? Karena aku ingin dunia tahu bahwa kau berada di tempat yang aman.”
“Aman?” Vella tertawa pelan, nyaris getir. “Atau terkurung?”
Victor tidak menjawab. Ia hanya mengangkat gelasnya, menatap refleksi mereka di permukaannya.
“Terkadang, perbedaan keduanya hanya soal siapa yang kau percaya.”
Ketika acara berakhir dan para tamu mulai meninggalkan aula, Vella berusaha menenangkan diri di taman hotel. Udara malam segar, cahaya lampu jalan memantul di permukaan kolam kecil. Ia menarik napas panjang, membiarkan ketegangan pelan-pelan luruh.
Namun langkah kaki di belakangnya membuatnya menoleh.
Victor berdiri di sana, jasnya sudah dilepas, tangan di saku.
“Kenapa sendirian?”
“Aku butuh udara.”
Ia berjalan mendekat, berhenti hanya beberapa langkah di depannya.
“Jadi kau kabur lagi?”
“Aku tidak kabur.”
Victor menatapnya lama. “Kau tahu, setiap kali kau bilang begitu, aku makin sulit mempercayainya.”
Vella berbalik, menatap permukaan air yang bergetar diterpa angin. “Aku ingin kita benar-benar menjadi keluarga biasa, Victor.”
“Dan aku ingin kau berhenti berpura-pura tidak menginginkan apa pun dariku.” Ia mengatakannya tanpa meninggikan suara. Tapi kalimat itu mengguncang udara di antara mereka.
Vella menatapnya, tak tahu harus marah atau takut.
Victor menatap balik, lalu menunduk sedikit, matanya melembut. “Aku tahu caraku salah. Tapi setiap kali aku melihatmu, aku merasa dunia berhenti sedikit lebih lama. Itu bukan hal yang bisa aku kendalikan.”
Vella tidak menjawab.
Ia hanya menatap cahaya yang memantul di mata Victor—cahaya yang entah berasal dari cinta, obsesi, atau keduanya.
Tepat saat keheningan itu mulai terasa berat, ponsel Vella bergetar di dalam tas.
Pesan baru masuk dari nomor misterius yang sama:
“Hati-hati. Ada seseorang di acara ini yang mengenal masa lalu Victor.”
Vella mendongak, menatap ke arah pintu aula di belakang mereka. Kerumunan tamu mulai berkurang, tapi di antara sisa orang-orang itu, seseorang berdiri menatapnya—seorang pria yang tampak familiar.
Victor mengikuti arah pandangnya, wajahnya langsung berubah tegang.
Tangan Victor mencengkeram bahunya.
“Jangan menatapnya,” katanya datar.
“Siapa dia, Victor?”
Senyum Victor tipis dan dingin.
“Seseorang yang seharusnya sudah tidak ada di dunia ini.”
***
Beberapa jam setelah makan malam yang terasa canggung baginya, Vella sedang asyik bersantai di sofa sambil menonton televisi. Wajahnya ditempeli masker yang melekat dingin di kulitnya, dengan bando lucu menahan poni-poni nakalnya agar tidak menempel di dahi. Suasana tenang itu tiba-tiba terganggu oleh dering telepon dari salah satu gadis kru yang tadi siang ikut menghiburnya makan pizza."Halo?" sapa Vella riang."Vella, gimana kalau minggu depan kita nonton film terbaru Chris Evans? Katanya action-nya keren banget!" seru temannya di seberang sana."Wih iya! Aku juga udah lama pengen liat itu. Tapi tau nggak sih, sebenernya idolaku tuh Tom Cruise dari dulu. Cowok kayak gitu tuh idaman banget! Berani, talent-nya oke, dan yang jelas... tampan!" canda Vella sambil tertawa ringan.Di tengah obrolan seru mereka tentang aktor-aktor Hollywood, tiba-tiba Victor yang tak terdengar langkah kakinya mendekat, dengan santai merebahkan tubuhnya di sofa. Kepalanya yang berat tiba-tiba saja menyandar
"Ah... benar-benar ceroboh~" rintih Vella lagi, kali ini dengan suara parau. Kedua telapak tangannya menutupi wajahnya, seolah berusaha menyembunyikan rasa malu dan frustrasi yang membara di pipinya.Victor mengamatinya dari kejauhan, tatapannya tajam bagai elang yang mengamati mangsanya. Kemudian, dengan langkah tenang namun penuh tujuan, dia mulai mendekat."Ada apa? Kau ingin menyerah?" suaranya rendah, terdengar hampir seperti bisikan di telinga meski mereka masih terpisah beberapa langkah.Sebelum Vella bisa menjawab, Victor sudah berdiri tepat di hadapannya. Tubuhnya yang tinggi menjulang membuat Vella yang duduk di sofa merasa kecil. Perlahan, dia berlutut, sehingga posisi matanya sejajar dengan Vella. Tangannya yang besar dan hangat menyentuh pergelangan tangan Vella, menariknya perlahan dari wajahnya."Jangan sembunyikan wajahmu dariku," bisiknya, suaranya lembut namun mengandung perintah. "Aku ingin melihat setiap emosi yang melewati wajah cantikmu."Vella terpana, tidak bis
"Kami tertarik dengan potensi kolaborasi ini, Nona Vella," ujar Ms. Rena dengan senyum profesional yang tertata rapi, meski matanya yang tajam tak berhenti mengamati setiap gerak-gerik Vella.Ruang rapat mewah Alves Entertainment yang biasanya sepi, hari ini diisi oleh kehadiran yang sangat berarti. Namun yang membuat suasana semakin mencekam adalah kehadiran langsung sang legenda hidup industri kosmetik—Madam Laurent. Perempuan paruh baya itu duduk tegak bak patung, wajahnya yang judes dipenuhi ekspresi angkuh yang seolah sudah melekat permanen. Penampilannya begitu mencolok: jaket fur hitam yang mewah, sanggul rambut tinggi yang sempurna tak sehelai pun terlepas, dan sepatu boots leather yang mengkilap—setiap detailnya berteriak tentang status dan kekuasaannya."Portofolio yang dikirimkan Alex sangat menarik perhatian kami," sambung Ms. Rena, yang bertugas sebagai kepala marketing yang bertanggung jawab mencari wajah baru untuk produk kosmetik mereka.Vella mengatur napas dalam-dala
Vella masih terpaku memandangi tabung lipstik berwarna emas di telapak tangannya, perutnya bergejolak oleh rasa tidak percaya dan getir. Begitu banyak emosi yang bertarung dalam dirinya—kemarahan, rasa malu, dan yang paling menusuk: kecemburuan yang tak ingin diakuinya."Menemukan harta karun?"Suara rendah itu, seperti guntur dekat, membuatnya tersentak. Vella berbalik dan melihat Victor berdiri di ambang pintu, bersandar pada bingkai pintu dengan sikap santai yang menipu. Matanya, bagaimanapun, tajam dan waspada, langsung tertuju pada benda di tangannya.Dia tidak berkata apa-apa. Hanya melangkah mendekat, gerakannya halus seperti kucing besar. Dengan lembut namun penuh kepastian, dia mengambil lipstik dari genggaman Vella yang kaku."Chloe," ucapnya, memutar-mutar benda itu di antara jari-jarinya sebelum melemparkannya dengan acuh ke atas mejanya. Seolah itu sampah. "Dia ada pertemuan bisnis di sini kemarin. Cerewet sekali, selalu meninggalkan jejak."Vella mencari-cari kebohongan
Dengan napas tersengal dan jantung berdegup kencang bagai drum perang, Vella membanting pintu kamarnya. Suara gemeretak kayu solid nyaris memecahkan kesunyian penthouse. Dia menyandarkan tubuhnya yang gemetar di balik pintu, berusaha menenangkan diri dari pertarungan yang baru saja terjadi di dapur. Bau Victor masih melekat di hidungnya, sentuhannya masih membakar kulitnya."Pria itu gila. Benar-benar gila," pikirnya, menekan pelipisnya yang berdenyut-denyut.Tiba-tiba, pintu di belakangnya bergerak, terdorong oleh tekanan dari luar. Vella terkesiap, mendorong tubuhnya lebih kuat lagi."Buka," suara Victor yang rendah dan bergetar menyelinap lewat celah pintu. Ia terdengar lebih dekat dari yang seharusnya."Pergi, Victor!" teriak Vella, mendorong pintu dengan seluruh tenaganya. "Aku tidak mau bicara denganmu!""Kita belum selesai."Sebelum Vella bisa bereaksi, sebuah sepatu kulit hitam yang mahal menyangkut di celah pintu yang berhasil dia buka selebar dua jari. Kaki Victor. Dia menggu
Mobil akhirnya sampai di penthouse. Hujan masih rintik-rintik ketika mereka bergegas masuk ke lobi, menghindari udara dingin yang mulai menggigit. Victor mendorong pintu kaca dengan bahunya, kedua tangannya masih setia memegang kantong belanjaan yang berat.Mereka berjalan menuju lift dalam kesunyian yang nyaman, hanya diiringi suara sepatu mereka yang basah menyentuh lantai marmer. Saat pintu lift tertutup, memisahkan mereka dari dunia luar, Vella memandangi pantulan diri mereka di dinding kaca yang mengilap. Victor berdiri di sampingnya, terlihat begitu perkasa namun juga menyimpan kesendirian yang tak terucap."Aku membaca tentangmu," ucap Vella tiba-tiba, suaranya lirih di dalam ruang sempit itu. "Tentang Alves Entertainment. Aku tidak pernah menyangka."Victor menatap pantulannya di kaca, bertemu dengan mata Vella yang penuh tanya. "Menyangka apa?""Bahwa kau adalah Victor Alexander. CEO dari salah satu agensi terbesar. Selama ini, selama kita... pacaran, aku mengira kau hanya se







