MasukArischa menyesap jus jeruknya dengan perlahan, mengabaikan tatapan Adrian yang masih tertuju padanya. Di matanya, Adrian bukan lagi sosok suami yang harus ia rayu demi kasih sayang, melainkan sekadar pria kaya yang kebetulan berbagi atap dengannya. Ia tidak merasa perlu membalas tatapan tajam itu, karena baginya, keheningan di meja makan ini jauh lebih mewah daripada percakapan palsu yang penuh tuntutan.
"Aku akan pergi ke butik sore ini," ucap Arischa tiba-tiba, memecah kesunyian tanpa menoleh. Adrian meletakkan cangkir kopinya dengan dentingan yang cukup keras di atas meja marmer. "Lagi? Bukankah lemari pakaianmu sudah hampir meledak karena koleksi musim lalu yang bahkan belum pernah kamu sentuh?" Arischa menyeka sudut bibirnya dengan serbet kain dengan gerakan yang sangat elegan, seolah ia memang terlahir sebagai bangsawan. "Itu koleksi musim lalu, Adrian. Hari ini aku merasa ingin suasana baru, dan bukankah kartu kredit yang kamu berikan memang gunanya untuk itu? Daripada kamu pusing memikirkan cara membelanjakannya, biarkan aku yang membantumu." Jawaban itu membuat Adrian terdiam sesaat, ia biasanya sudah siap dengan rentetan alasan Arischa yang ingin menghadiri pesta sosialita atau pamer pada teman-temannya. Namun kali ini, Arischa menjawab dengan nada yang sangat pragmatis, seolah berbelanja hanyalah tugas administratif yang harus ia selesaikan. Tanpa menunggu respon lebih lanjut, Arischa berdiri dan melangkah pergi, meninggalkan suaminya yang mulai merasa bahwa istrinya ini benar-benar telah kehilangan minat padanya. Di lantai atas, ia berpapasan dengan si bungsu, Elian. Anak ini adalah calon antagonis yang menurut ingatannya akan tumbuh menjadi sosiopat karena merasa diabaikan. Elian sedang berdiri di depan pintu kamar dengan wajah cemberut, sengaja menghalangi jalan Arischa dengan mainan robotnya yang berserakan. Ia menatap ibunya dengan tatapan menantang, berharap mendapatkan reaksi kemarahan seperti biasanya. "Minggir, Elian. Kamu menghalangi jalan," ucap Arischa pendek, suaranya tidak mengandung kemarahan, hanya instruksi datar. Elian mendongak, matanya yang besar berkaca-kaca secara dramatis—sebuah taktik yang biasanya membuat Arischa asli berteriak frustrasi. "Mama jahat! Mama tidak pernah mau bermain denganku! Aku akan bilang pada Ayah kalau Mama memukulku!" Arischa menunduk, menatap anak kecil itu dengan tatapan dingin yang membuat nyali Elian menciut secara instan. "Silakan lapor. Tapi ingat, kalau kamu berbohong dan Ayahmu tahu, dia mungkin akan mengirimmu ke sekolah asrama lebih cepat dari yang kamu kira. Sekarang, rapikan mainanmu atau aku akan menyuruh pelayan membuang semuanya ke tempat sampah." Elian terpaku, ia belum pernah melihat ibunya setenang ini saat diancam. Biasanya, Arischa akan langsung panik atau malah membalas dengan bentakan yang lebih keras. Melihat ibunya yang hanya melewatinya begitu saja tanpa rasa bersalah, Elian merasa ada sesuatu yang hilang dari rutinitas harian mereka—perhatian, meski itu dalam bentuk kemarahan. Arischa masuk ke kamarnya, menutup pintu, dan langsung menuju ke walk-in closet yang luasnya lebih besar dari toko baju di mal. Ia memilih setelan santai namun tetap terlihat sangat mahal: celana kulot sutra dan atasan linen yang bernapas. Ia tidak ingin tampil mencolok seperti biasanya; ia hanya ingin keluar dari rumah yang terasa seperti museum dingin ini dan menikmati udara segar sebagai orang kaya yang merdeka. "Nyonya, mobil sudah siap di depan," lapor salah satu ajudan melalui interkom. Arischa mengambil tas tangan bermerek yang paling simpel dan melangkah keluar rumah dengan penuh percaya diri. Ia tidak berpamitan pada siapa pun, tidak juga pada Adrian yang masih berada di ruang kerja. Baginya, kehidupan barunya ini adalah tentang dirinya sendiri, dan jika keluarga ini ingin membencinya, silakan saja—selama mereka tidak mengganggu kenyamanan dan saldo rekeningnya. Sesampainya di pusat perbelanjaan elit, Arischa tidak langsung menuju butik pakaian langganannya. Ia justru berbelok ke arah sebuah toko buku besar yang memiliki kafe tenang di pojokannya. Para pelayan butik yang sudah menunggu kedatangannya pasti akan bingung, karena Nyonya Maheswari yang mereka kenal biasanya hanya peduli pada berlian dan tas kulit buaya. Ia memesan secangkir kopi hitam tanpa gula dan duduk di pojok kafe, membuka sebuah buku tentang manajemen aset yang ia ambil dari rak. Di kehidupan sebelumnya, ia harus bekerja keras demi recehan, sekarang ia punya modal yang tidak terbatas. Mengapa ia harus sibuk mengurus drama keluarga jika ia bisa membangun kerajaannya sendiri secara diam-diam? "Nyonya Arischa? Benar Anda?" sebuah suara pria menginterupsi ketenangannya. Arischa mendongak dan melihat seorang pria berkacamata dengan setelan jas rapi berdiri di depannya. Ingatannya berputar cepat dan menemukan identitas pria itu: Thomas, pengacara pribadi Adrian yang juga menangani perjanjian pranikah mereka. Pria itu tampak sangat terkejut melihat Arischa sedang membaca buku serius alih-alih mencoba sepatu hak tinggi. "Ya, Thomas. Ada apa? Apa suamiku menyuruhmu mengawasiku sampai ke toko buku?" tanya Arischa sambil menutup bukunya perlahan. Thomas tampak salah tingkah, ia segera menyesuaikan kacamata di hidungnya. "Ah, tidak, Nyonya. Saya hanya sedang lewat untuk janji temu. Hanya saja... pemandangan ini cukup tidak biasa bagi saya. Anda terlihat sangat... berbeda hari ini." Arischa memberikan senyum tipis yang tidak mencapai matanya. "Manusia bisa berubah dalam semalam, Thomas. Beritahu Adrian, jika dia ingin menceraikanku karena aku terlalu tenang, katakan padanya aku akan meminta setengah dari asetnya sebagai biaya ketenangan tersebut. Sekarang, biarkan aku menikmati kopiku." Thomas ternganga, ia hanya bisa mengangguk sopan dan segera pergi dengan langkah terburu-buru. Ia harus segera melaporkan ini pada Adrian, bukan karena Arischa berbuat ulah, tapi karena Arischa justru berhenti berbuat ulah sama sekali. Sementara itu, Arischa kembali menyesap kopinya dengan nikmat, merasa bahwa menjadi "istri yang tidak peduli" adalah pekerjaan terbaik yang pernah ia miliki sepanjang hidupnya.Restoran yang dipilih Xavier berada di lantai teratas sebuah gedung pencakar langit di kawasan SCBD. Tempatnya privat, dengan pencahayaan temaram dan dinding kaca raksasa yang menyajikan pemandangan lanskap lampu kota Jakarta yang berkilauan. Tidak ada musik yang berisik, hanya alunan piano klasik yang mengalun lembut di latar belakang.Elian, yang langsung menyusul dari tempat lesnya, duduk di sebelah Arischa dengan wajah bersemangat."Ma, tahu tidak? Tadi di sekolah, teman-temanku heboh membicarakan berita Arts District tahap dua. Mereka tanya apa mereka bisa dapat tiket gratis kalau berkunjung."Arischa memotong steaknya dengan tenang. "Katakan pada teman-temanmu, tidak ada yang gratis di dunia ini, Elian. Tapi kalau mereka mau membantu mengecat instalasi luar ruangan akhir pekan ini, saya bisa pertimbangkan memberi mereka kartu akses masuk gratis selama sebulan."Xavier tertawa kecil sambil menyesap minumannya. "Mama benar-benar memanfaatkan tenaga kerja remaja gratisan. Bisnis ya
Hendra tidak bodoh. Begitu kakinya melangkah keluar dari area Arts District, ia langsung tahu bahwa posisinya terancam. Wanita yang dulu bisa ia setir dengan iming-iming nominal harta, sekarang menjelma menjadi sosok jenderal yang tahu semua kartu as di tangannya. Namun, keserakahan membuatnya nekat. Sore itu juga, Hendra mendatangi kantor pusat Maheswari Group, berniat menemui Adrian sebelum Arischa sempat bicara.Ia masuk ke ruang kerja Adrian dengan napas yang diatur seprofesional mungkin. Di dalam ruangan, ternyata tidak hanya ada Adrian, tapi juga Julian yang sedang meninjau laporan audit tahunan."Adrian, Xavier. Maaf mengganggu waktu kalian," Hendra meletakkan tas kerja kulitnya di atas meja marmer. "Ada hal krusial mengenai restrukturisasi aset perwalian mendiang Ayah yang harus kita bahas segera. Ini menyangkut pergerakan... mencurigakan dari beberapa aset yang belakangan dialihkan ke galeri seni."Hendra mencoba melempar umpan lambung, berharap insting protektif Adrian terha
Pukul sembilan lewat dua puluh delapan malam. Dua menit sebelum tenggat waktu yang diberikan Arischa berakhir, suara decitan ban mobil sport Xavier terdengar memekik di halaman depan rumah Maheswari. Xavier dan Leo keluar dari mobil dengan napas yang agak memburu, setengah berlari melintasi pintu utama yang untungnya masih terbuka lebar. Di ruang tengah, Arischa sedang duduk santai di sofa kulitnya sambil membaca majalah arsitektur internasional, ditemani Adrian yang sedang menyesap teh di sampingnya. "Dua puluh delapan menit. Skor yang bagus untuk ukuran kemacetan Jakarta setelah hujan," ucap Arischa tanpa mengalihkan pandangan dari majalahnya. "Sana ganti baju, lalu ke meja makan. Supnya sudah hampir dingin." Xavier mengembuskan napas lega yang panjang, sementara Leo langsung tersenyum lebar. "Siap, Ma." Setelah kedua anak laki-laki itu naik ke lantai atas, Adrian meletakkan cangkir tehnya dan menatap Arischa sambil menggelengkan kepala, kagum sekaligus geli. "Kamu benar-benar
Bagi seorang Xavier Maheswari, hidup ini selalu tentang kalkulasi. Sejak kecil, ia diajar oleh ayahnya bahwa setiap tindakan harus menghasilkan keuntungan, dan setiap emosi adalah kelemahan yang bisa dieksploitasi lawan. Baginya, sang ibu—Arischa yang dulu—adalah contoh nyata dari sebuah investasi yang gagal: emosional, menuntut, dan selalu histeris.Namun malam ini, saat Xavier duduk di ruang kerjanya yang baru di lantai atas kantor pusat Maheswari Group, ia mendapati dirinya menatap sebuah kontrak kerja sama luar negeri bukan dengan rumus matematika, melainkan dengan logika yang ia pelajari dari ibunya yang "baru".“Kalau mereka tidak mau menghargai tokomu, tutup saja. Masih banyak pasar lain yang butuh barangmu.”Kata-kata Arischa saat Xavier mengeluh tentang negosiasi yang alot minggu lalu mendadak terngiang di kepalanya.Xavier tersenyum miring. Ia mengambil pulpennya dan langsung mencoret tiga poin tuntutan dari pihak investor asing yang dirasa terlalu mendikte. Dua tahun lalu,
Makan malam itu berlangsung riuh—sesuatu yang jika dikatakan pada Adrian atau anak-anak dua tahun lalu, mereka pasti akan menganggapnya sebagai lelucon fiksi ilmiah.Elian sibuk memamerkan trik dribble barunya menggunakan buah jeruk (yang langsung mendapat pelototan tajam dari Arischa), sementara Julian dan Adrian terlibat diskusi serius namun santai tentang investasi pasar modal teranyar.Leo? Dia hanya duduk tenang di sebelah Arischa, sesekali meletakkan potongan daging terbaik ke piring ibunya tanpa bersuara.Setelah makan malam selesai dan anak-anak kembali ke kamar mereka untuk menyelesaikan urusan masing-masing, Arischa melangkah keluar menuju balkon lantai dua.Udara malam Jakarta setelah hujan terasa sejuk, membawa aroma tanah basah yang menenangkan.Langkah kaki yang berat namun teratur terdengar mendekat. Adrian berdiri di sampingnya, ikut menatap lampu-lampu kota yang berpendar di kejauhan."Kamu tahu, Arischa..." Adrian membuka suara, nadanya rendah dan reflektif."Kadang
Satu tahun setelah peresmian Arischa Arts District di Jakarta, kehidupan keluarga Maheswari telah menemukan titik keseimbangan yang baru. Rumah megah yang dulunya terasa seperti sangkar berlapis emas itu kini telah berubah total. Suasana di dalamnya hangat, dinamis, dan yang paling penting: tidak ada lagi kepura-puraan. Sore itu, hujan rintik-rintik membasahi Jakarta, menciptakan suasana tenang yang disukai Arischa. Ia duduk di ruang tengah, menikmati teh chamomile hangat sambil membaca laporan keuangan kuartal pertama dari Galeri Aura yang terus menunjukkan grafik melonjak naik. Xavier masuk ke ruangan dengan langkah santai, melepas dasinya dan melemparkannya ke atas sofa. "Xavier," tegur Arischa tanpa mengalihkan pandangan dari tabletnya. "Saya bukan pelayanmu. Ambil dasi itu dan taruh di tempatnya." Xavier terkekeh, segera mengambil kembali dasinya dengan patuh. "Maaf, Ma. Kebiasaan kantor terbawa ke rumah. Omong-omong, saham Maheswari Group minggu ini naik lagi setelah kita m
Arischa menghabiskan waktu berjam-jam di ruko barunya, berdiskusi dengan kontraktor tentang tata letak pencahayaan dan pemilihan material lantai. Ia merasa jauh lebih hidup saat membicarakan blueprint bangunan daripada membicarakan menu makan malam. Namun, kedamaian itu terusik saat sebuah mobil me
Arischa terbangun dengan perasaan segar, meskipun ia tahu suasana di luar kamarnya sedang tidak baik-baik saja. Setelah penolakannya terhadap Adrian semalam, ia mengira pria itu akan meledak marah. Namun, yang ia temukan di depan pintunya pagi ini bukanlah surat cerai, melainkan sebuah buket bunga
Jalanan Jakarta siang itu cukup bersahabat bagi Arischa yang sedang menikmati kemudi mobil sport putihnya. Ia tidak pergi ke mal mewah atau tempat kumpul sosialita yang biasanya menjadi habitat aslinya. Tujuannya adalah sebuah kawasan ruko tua yang sedang direvitalisasi di pinggiran Jakarta Selata
Sinar matahari masuk menembus celah gorden sutra yang sengaja tidak ditutup rapat oleh Arischa semalam. Ia terbangun tanpa alarm, tanpa teriakan pelayan yang panik, dan tanpa rasa pening yang biasanya menghantui hidupnya yang dulu penuh tekanan. Arischa merentangkan tangannya, menikmati keheninga







