Share

bab 6

Author: Tinta cinta
last update Last Updated: 2025-10-18 10:23:46

Setelah sarapan aku bergegas ke cafe. Tentunya dengan diantar Mas Ramdan karena arah kita sama. Dia mau pulang dan menemani Zahra ke panti asuhan katanya. Ya seperti biasa, Zahra rutin memberi santunan kepada panti asuhan yang berbeda setiap minggunya.

"Pak saya mau izin hari ini, " Ucapku pada pemilik kafe yang tengah menatap komputer. Sepertinya dia sedang memantau perkembangan kafe lewat tabel exel yang terpampang di monitor.

"Ckk, kamu itu kok kerja seenaknya , sering cuti tanpa alasan, " Pria dewasa taksiran usia 35 tahun itu mencebik kesal padaku.

Aku mengerucutkan bibir. Memang sih kalau menurut aturan harusnya aku sudah dipecat karena jam kerja yang seenaknya. Tapi kan setiap Zahra meliburkan ku dia memberi segepok uang pada pria ini.

Hissh dasar! Coba saja kalau Zahra yang bicara pasti langsung bilang. oh-boleh Nyonya, silahkan dan bla bla bla. Menyebalkan.

"Gak boleh, hari ini kamu harus kerja, lain kali saja izinnya, " Ucap Pak Romi.

Aku membulatkan mata sempurna. Ternyata memang beda perlakuan terhadap konglomerat dan orang biasa yang tak punya kuasa. Tapi aku tidak mau menerima penolakan. Hari ini aku harus libur karena tadi kata Mas Ramdan akan menikahiku nanti sore, jadi aku harus mempersiapkan segala sesuatunya. Yah meskipun hanya sederhana tetap saja butuh persiapan.

"Bapak yakin gak mau ngasih aku izin? " Tanyaku dengan gaya meremehkan dia.

Pak Romi menatapku sebentar, menimbang jawaban apa yang akan dilontarkan. Aku langsung mengeluarkan ponsel berpura-pura seakan mau menelpon seseorang.

"Eh eh eh, ya sudah saya izinkan, "

Yess, ternyata efektif. Aku menyengir dan segera pergi dari tempat itu. Bisa kudengar suara menggerutu Pak Romi dari belakang.

"Untung temannya Bu Zahra, kalau nggak udah saya pecat dulu! "

...

Aku memasuki Royal Mall. Tempat belanja terbesar di Jakarta. Biasanya aku akan ke sana jika Zahra mengajakku. Tapi kali ini aku masuk sendiri. Tentunya dengan kartu hitam yang tadi Mas Ramdan berikan padaku. Kalau tanpa itu mana bisa aku belanja di sini. Beli satu aksesoris saja pasti akan menghabiskan separuh tabunganku.

Di bagian baju pesta aku memilih gaun putih panjang dengan detail sederhana. Bagian leher yang terbuka dengan hiasan renda akan menampilkan aura anggun. Sementara bagian bawah melebar sehingga aku tidak akan kesulitan bergerak nantinya.

"Mbak, yang ini, " Ucapku pada pramuniaga berseragam navy yang tengah mengikutiku.

"Ini saja Nona? "

Ahh aku merasa muda. Usiaku dan Zahra itu sama tapi mungkin aku terlihat lebih muda. Jadi kalau orang biasanya memanggil Zahra nyonya, aku selalu dipanggil Nona.

"Iya itu saja, "

Hmm, sebenarnya melihat deretan gaun mewah tentu saja aku ingin membelinya. Tapi itu tidak boleh kulakukan. Nanti Mas Ramdan akan mengira kalau aku akan mengincar hartanya. Baru dikasih kartu saja langsung berfoya-foya, pasti begitu pikirnya.

Setelah memilih gaun aku beralih ke bagian lingerie. Malam ini harus jadi malam pertama yang berkesan untuk Mas Ramdan.

"Ada yang lebik seksi nggak? " Bisikku pada pramuniaga saat disodorkan lingerie maroon dengan model kimono .

Cukup lama di bagian lingerie dan akhirnya aku memutuskan mengambil dua model, satu lingerie hitam bustier dan satu lingerie robe merah. Ah waktunya cari bahan makanan untuk jamuan sederhana nanti.

...

"Ahh.. Aku memang cantik, "

Make up ku memang begitu pass dipadukan dengan gaun putih tadi. Tampak seperti seorang peri jika diliat dari pantulan cermin.

Sekarang semuanya sudah siap, Jamuan sederhana, tampilan anggun bersahaja, dan dekorasi ruang minimalis. Semua itu tentu saja berkat tanganku yang cekatan. Meski waktunya sedikit aku bisa menangani semua sendiri.

waktunya menunggu Mas Ramdan. Mungkin sebentar lagi datang.

"Ih mana sih? "

Waktu sudah semakin sore. Jam dinding yang tadinya menunjuk angka tiga sekarang sudah beralih beralih ke angka 4.

"Ramdan sialan! " Awas saja kalau dia berani tidak datang.

Baru saja sumpah serapah saling bersautan tiba tiba ponselku bunyi.

Kringg..

Zahra yang menelpon. Meski malas mengangkat telponnya tetap saja kuterima.

"Apa ra.. " Ucapku lesu.

"Ini aku, "

Ah Mas Ramdan rupanya.

"Emm, Zahra sedang pingsan, "

Ckk menyebalkan. Jangan bilang Mas Ramdan mau membatalkan acara ini.

"Kenapa bisa pingsan,? " Sahutku acuh.

Ini bukan pertama kalinya Zahra pingsan. Dia itu memang sudah begitu dari dulu. Lemah fisik. Kecapekan sedikit saja pasti sudah tidak sadarkan diri. Tapi meski begitu dia selalu memaksakan diri beraktivitas.

Coba saja kalau aku yang jadi dirinya. Nyonya mudanya tuan Ramdan. Pasti aku akan menikmati waktuku sebaik mungkin. Bersantai dengan aneka cemilan dan buah segar , nonton drama sambil selonjoran di beludru empuk. Atau berendam cantik dengan air susu campur mawar.

Ah membayangkannya saja sudah menyenangkan.

"Tadi dia berdiri kelamaan waktu bagiin makanan, jadi...."

"Jangan bilang kamu mau batalin acara! " Aku kelepas kontrol. Seharian aku capek demi untuk mengejar status 'istri simpanan'. Dan hanya karena Zahra pingsan semuanya akan batal.

Jangan salahkan aku. Memangnya aku mau jadi istri simpanan . Kalau bukan karena perkataan ibunya Zahra aku juga tidak tega melakukan ini. Siapa sih yang nggak sebal kalau ditatap dengan permusuhan dan diolok-olok dibelakang.

"Maaf ya Ris, tapi aku beneran gak bisa ninggalin Zahra, "

Aku tak menjawab lagi.

"Ris...?"

Prang

Hancur sudah hpku. Bisa-bisanya persiapan ku tak berarti bagi Ramdan. Harusnya dia menghargai ku. Kalau pun sekarang Zahra sedang pingsan dia bisa berjanji untuk menikahiku nanti malam bukan malah membatalkan.

"Brengsekkk! "

Aku histeris dengan mengacak acak meja kecil beralas kain putih itu. Meja yang harusnya jadi saksi pernikahan kini berantakan .

"Ramdan, jangan harap aku melepaskanmu, "

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ketika Pelakor Menggoda   Bab 17

    “Ya Allah… apa kecurigaanku benar?”Zahra terisak dalam mobil, bahunya bergetar pelan. Pikiran kacau berputar tanpa arah, menusuk dada dengan rasa sakit yang tak sanggup ia jelaskan. Padahal Ramdan belum terbukti mengkhianatinya… tapi anting itu, tatapan Ramdan tadi, alasan yang terasa dipaksakan—semuanya bercampur menjadi badai yang menghimpit.“Bu… Anda baik-baik saja?” tanya Pak Ujang, supir tua yang sudah seperti keluarga sendiri. Suaranya lembut, penuh kekhawatiran.“Nggak apa-apa kok, Pak.” Zahra menyeka air matanya cepat-cepat, mencoba memaksa senyum yang tak berhasil. Ia menarik napas dalam, menahan gemuruh di dadanya. “Aku cuma… capek.”“Kita pulang sekarang, Bu?” tanya Pak Ujang hati-hati.“Nggak, Pak. Ke Café Mentari aja. Aku mau ketemu Riska.”Suaranya parau, namun tegas.Riska adalah sahabat terdekatnya—tempatnya bercerita, tempat ia mencari pelukan saat dunia terasa berantakan. Zahra butuh Riska sekarang. Butuh seseorang yang bisa menenangkannya… atau setidaknya membuatn

  • Ketika Pelakor Menggoda   Bab 16

    Zahra masuk ke ruangan suaminya. Di sana, Ramdan sudah duduk di kursi kerjanya, tersenyum begitu melihatnya muncul di ambang pintu.“Sayang, tumben banget datang?” ucap Ramdan sambil berdiri dan menghampirinya.“Iya, lagi pengin aja ke sini. Kayaknya sudah lama aku nggak mampir ke kantor,” jawab Zahra.Ramdan mengangguk, lalu keduanya berjalan menuju sofa, duduk berdampingan.“Kok tumben nggak jemput aku di lobi? Biasanya kamu turun,” tanya Zahra dengan nada penasaran yang halus, tapi cukup membuat Ramdan menegang sepersekian detik.“Eh—itu… aku lagi nyelesain laporan. Tinggal sedikit lagi tadi. Pas mau nyusul kamu, eh kamu keburu naik,” sahut Ramdan, terdengar agak tergesa.Zahra mengangguk, mencoba menerima alasan itu. Ia membuka tas dan mengeluarkan kotak bekal.“Aku masak ini buat kamu. Buat makan siang.”“Makan siang kan masih dua jam lagi, Yang.”“Ya nggak apa-apa. Biar kamu nggak usah makan di luar.”Ramdan tersenyum kecil. “Makasih, Sayang.”“Ya sudah, kamu lanjutin kerja. Aku

  • Ketika Pelakor Menggoda   Bab 15

    Ramdan membeku saat Riska mendekat. Rok mini berpadu tank top yang dikenakannya benar-benar membuat Riska terlihat terlalu indah untuk diabaikan. Kini jarak mereka hanya tinggal beberapa senti.Riska menatap intens ke dalam netra Ramdan, menguncinya dengan gaya yang jelas menggoda.“Mas, kok nggak kangen aku?” ucap Riska, suaranya rendah sebelum ia memulai mencium Ramdan lebih dulu.Ramdan tak mampu lagi berpikir apa pun. Ia terbuai oleh godaan Riska, membuatnya mengimbangi tempo ciuman yang Riska berikan.“Mmmh…”Desahan Riska membuat sisi liar Ramdan bangkit. Dengan gerakan refleks, ia membopong tubuh Riska ke sofa, menelantangkannya, lalu melanjutkan permainan panas mereka—Kringgg…Di tengah adegan yang memanas itu, ponsel Ramdan berbunyi. Keduanya yang sedang tenggelam dalam suasana intens sontak menjeda aktivitas.“Mas… lanjutin dulu…” ucap Riska terengah.“Itu telepon dari Zahra,” jawab Ramdan, kemudian melepaskan diri dari Riska.“Tapi aku hampir…” Riska menahan kata-katanya,

  • Ketika Pelakor Menggoda   Bab 14

    Hari ini Riska bangun lebih pagi dari biasanya. Ia segera bersiap dan berangkat ke kafe tempatnya bekerja.“Saya kira kamu bakal bolos lagi,” sindir Pak Romi ketika Riska tiba.“Kalau Bapak nggak suka, ya pecat saja,” jawab Riska tanpa menoleh.Pak Romi mendelik tajam. Sejak awal ia memang menyukai karakter Riska: ceria, aktif, dan menarik. Saat Riska masih rajin bekerja, pengunjung kafe tak pernah sepi. Namun belakangan, setelah Riska sering izin, pelanggan pun ikut menghilang. Pak Romi merasa rugi besar.“Kamu pikir saya nggak berani mec—” belum selesai ia bicara, Riska memotong.“Ya sudah pecat saja saya sekarang.”Nada Riska penuh muak. Ia lelah pada bosnya yang selalu mengomel seolah kehadirannya tak punya arti. Padahal setiap izin, Zahra selalu mengganti kerugian pada pihak kafe.“Baik!” bentak Pak Romi. “Mulai hari ini jangan pernah datang lagi. Kamu saya pecat!”Riska mengangguk acuh. Ia melepas celemek yang baru saja ia kenakan, lalu melemparnya ke arah bosnya.“Sekarang mana

  • Ketika Pelakor Menggoda   Bab 13

    Ramdan mengecupi Zahra tanpa henti sambil membuka pakaian yang dikenakan sang istri. Kini Zahra sudah tak mengenakan selembar pun kain. Sejenak, Ramdan terdiam, memandangi tubuh istrinya—spontan bayangan Riska terlintas di pikirannya."Ramdan, apa yang kamu pikirkan!" gerutunya dalam hati.Zahra yang kini tanpa busana segera menarik selimut, rasa malu menyergap meski di hadapan suaminya sendiri. Selama lima tahun pernikahan mereka, Zahra masih sering merasa tak percaya diri saat tubuhnya terbuka tanpa helai kain, takut kalau bentuk tubuhnya tak lagi seindah dulu."Kenapa ditutup, sayang?" tanya Ramdan sambil menyingkap selimut dan mulai menciumi setiap inci tubuh Zahra.Namun malam ini terasa berbeda. Ritme yang biasanya penuh keintiman dan sabar terasa tergesa. Bayangan Riska terus mengusik benaknya. Semalam, dia baru saja melewati sebuah adegan panas bersama wanita itu—sesuatu yang luar biasa berani, bahkan untuk dirinya."Hisap lebih kuat, Mas," suara itu terdengar jelas di telinga

  • Ketika Pelakor Menggoda   Bab 12

    Ceklek.Pintu terbuka. Seketika Ramdan tertegun, tubuhnya mematung saat melihat siapa yang berdiri di depan pintu.“Riska?”...Siang tadi, sepulang dari taman kota, Riska tiba-tiba mendapat pesan dari Ramdan. Sayangnya, bukan kabar gembira, melainkan pembatalan makan malam yang sudah direncanakan.“Dih, enak aja semaunya sendiri. Pasti Mas Ramdan mau makan malam sama Zahra,” gumam Riska kesal.Meski hanya istri kedua, Riska merasa dirinya juga berhak atas Ramdan. Apalagi, Ramdan sudah lebih dulu mengajaknya. Sekarang, setelah semua bahan makanan ia beli, Ramdan seenaknya membatalkan begitu saja.Riska menutup ponsel tanpa membalas. Ia lalu meletakkan semua bahan di kulkas, kemudian memesan taksi online.“Aku bakal bikin kejutan buat kamu, Mas,” seringainya penuh rencana....Dan di sinilah Riska sekarang, berdiri di depan pintu kediaman keluarga Ramdan.“Eh, Mas Ramdan! Zahra mana, Mas?” sapa Riska ceria.“Kamu ngapain ke sini?” bisik Ramdan tak suka.Riska tak menanggapi. Ia mendoro

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status