Partager

53. Cengkeraman Intrik Devan

Auteur: kopilatte
last update Date de publication: 2026-08-30 08:57:06

Kekosongan yang ditinggalkan Axel di dalam jiwa Nala berubah menjadi celah berbahaya yang dimanfaatkan Devan secara sempurna. Bayangan penolakan dari keluarga Axel dan pemandangan Siska yang mengusap kening pria itu di ruang perawatan terus menghantui hari-hari Nala. Dalam kondisi mental yang rapuh, terasing, dan kehilangan arah, Nala tak lagi memiliki energi untuk melawan.

Di sebuah kafe dekat Fakultas Hukum, Devan duduk berseberangan dengan Nala. Jemari pria itu dengan tenang menggeser sebuah
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Ketika Sahabat Mulai Cemburu: Kau Hanya Milikku   145. Reuni Kecil Sahabat

    Sore hari di halaman belakang kediaman Bramantya diselimuti angin sepoi-sepoi yang menyejukkan. Dekorasi outdoor party bernuansa earthy tone menghiasi meja kayu panjang di bawah naungan pohon rindang. Pendar lampu gantung berwarna hangat mulai menyala lembut, memancarkan atmosfer yang begitu ramah dan penuh nostalgia. Hari itu, kediaman Axel dan Nala menjadi tuan rumah untuk kumpul keluarga besar. Papi Bram, Mami Sinta, Papa Surya, dan Mama Rika duduk santai di sudut gazebo sembari asyik memanjakan Arka kecil yang bergantian berpindah dari pangkuan para kakek dan neneknya. Sementara itu, di dekat panggangan barbekyu, riuh percakapan dan aroma daging panggang yang gurih memenuhi udara. Reno, dengan celemek konyol bergambar tubuh berotot yang dipasangkan oleh istrinya, berdiri dengan spatula di tangan seraya membalik lembaran daging. "Bos Axel! Ini daging iga impor kualitas terbaik sudah matang sempurna! Tolong dinilai, apakah tingkat kematangannya sudah sesuai standar direksi Bra

  • Ketika Sahabat Mulai Cemburu: Kau Hanya Milikku   144. Pertumbuhan Sang Buah Hati

    Sinar matahari sore menembus lembut kaca ruang keluarga kediaman Bramantya, memancarkan pendar keemasan di atas karpet bulu tebal. Suasana rumah yang dulu dingin dan kaku kini riuh oleh canda tawa dan deburan langkah-langkah mungil yang menggemaskan. Arka, yang kini sudah menginjak usia sembilan bulan, berdiri tegak sembari berpegangan pada tepi sofa. Pangeran kecil itu tampak begitu menggemaskan dengan play-suit katun biru muda. Kaki gembulnya menapak mantap di atas karpet, sementara matanya yang bulat jernih menatap lurus ke arah Nala yang berjarak tiga langkah di hadapannya. "Ayo, Anak Pintar... Sini jalan ke Mama," panggil Nala halus. Ia duduk bersimpuh, mengulurkan kedua tangannya sembari menyunggingkan senyum paling manis yang ia miliki. Arka mendengut kegirangan. Tangan mungilnya melepas pegangan pada sofa. Dengan langkah yang masih sempoyongan dan membal-membal lucu, ia mencobakan langkah pertamanya. Satu... dua... "Ma... Ma!" seru Arka nyaring, memamerkan dua gigi b

  • Ketika Sahabat Mulai Cemburu: Kau Hanya Milikku   143. Rumah yang Selalu Hangat

    Pagi hari di kediaman Bramantya disambut oleh pendar sinar matahari keemasan yang menembus jendela kaca besar di ruang keluarga. Udara segar membelai tirai tipis yang melambai halus, membawa kehangatan yang amat menenangkan. Suasana rumah berukuran luas itu tak lagi sepi seperti dulu; kini setiap sudutnya dipenuhi oleh gema tawa renyah, langkah kaki yang sibuk, dan celotehan mungil yang menghidupkan suasana.Di atas karpet bulu tebal di tengah ruangan, Arka kecil yang kini sudah berumur beberapa bulan tampak sibuk menelungkup. Bayi laki-laki berparas tampan itu tertawa mengekeh saat sebuah boneka beruang berbunyi diputar-putar di hadapannya.Nala duduk bersimpuh di samping Arka, mengenakan gaun rumah berbahan katun longgar berwarna lavender. Rambut hitamnya diikat asal ke atas, menampilkan leher jenjang dan paras cantiknya yang memancarkan pendar keibuan yang kian matang."Ayo, Arka... sikit lagi sayang, ambil beruangnya!" seru Nala halus dengan binar mata bahagia, bertepuk tangan pel

  • Ketika Sahabat Mulai Cemburu: Kau Hanya Milikku   142. Kencan Singkat Pengantin Baru (Lagi)

    Suasana sore di kediaman Bramantya tampak sedikit sibuk namun penuh kehangatan. Di ruang keluarga, Mami Sinta dan Mama Rika tampak duduk di sofa empuk, sibuk menimang Arka kecil yang sedang terlelap nyaman dalam selimut bayinya. Dua nenek bahagia itu didampingi Suster Arini yang siap siaga membawa perlengkapan medis dan nutrisi bayi. Sementara itu, di kamar utama lantai dua, Nala sedang berdiri mematung di depan cermin rias. Ia mengenakan dress klasik berwarna merah marun yang pas membentuk tubuhnya—menampilkan lekuk anggun keibuannya yang kian memikat. Jemari lentiknya baru saja memoleskan lipstik tipis saat sepasang lengan tegap merangkul pinggangnya dari belakang. Axel menempelkan dadanya di punggung Nala, menyandarkan chin-nya di bahu mulus sang istri. Pria itu tampil sangat memukau dengan kemeja hitam yang lengannya tergulung hingga siku, memancarkan aura dominan dan ketampanan yang tak berkurang sedikit pun. "Mas Axel... beneran tidak apa-apa kita tinggalkan Arka di bawah?

  • Ketika Sahabat Mulai Cemburu: Kau Hanya Milikku   141. Cemburu pada Anak Sendiri

    Suasana siang hari di ruang keluarga kediaman Bramantya terasa begitu hangat. Sinar matahari menerobos masuk melalui dinding kaca, memantul di atas karpet bulu empuk tempat Nala sedang duduk bersimpuh. Dengan kelembutan murni seorang ibu, Nala sibuk menimang Arka yang sedang asyik memainkan jemari mungilnya. Senyum manis tak henti-hentinya mekar di paras cantik Nala, diiringi nyanyian timang-timang halus yang keluar dari bibirnya. Namun, kedamaian itu berbanding terbalik dengan pemandangan di sofa utama. Axel duduk bersandar tegap dengan setelan kemeja kasual yang lengan bajunya tergulung hingga siku. Pria perkasa yang biasanya disegani di dunia bisnis dan sirkuit otomotif itu kini melipat kedua tangan kekarnya di dada bidang. Sepasang iris mata hitamnya yang pekat menyipit tajam, menatap lurus ke arah anak bayinya sendiri dengan pendar rasa cemburu yang amat jelas. Sudah tiga jam lamanya Axel duduk di sofa itu. Dan selama tiga jam itu pula, Nala sama sekali belum mengalihkan pa

  • Ketika Sahabat Mulai Cemburu: Kau Hanya Milikku   140. Pernikahan Reno dan Maya

    Suasana gedung resepsi bergaya rustic-modern di kawasan Jakarta Selatan mendadak berubah riuh bagaikan area paddock sirkuit balap. Dekorasi bunga-bunga pastel nan anggun yang menghiasi pelaminan mendadak terasa sedikit kontras dengan deretan helm balap kustom dan patung mesin gokart berlapis cat emas yang dipajang di dekat pintu masuk utama. Hari itu adalah hari bahagia Reno dan Maya—sebuah pernikahan yang sudah diprediksi seluruh rekan mereka tidak akan pernah berjalan dengan tenang, melainkan penuh dengan komedi dan aksi heboh. Di atas pelaminan, Maya tampil sangat memukau dengan gaun pengantin putih berpotongan modern. Namun, raut anggun di wajah cantiknya sering kali terkikis oleh helaan napas pasrah setiap kali menatap suaminya yang berdiri di sampingnya. Reno, yang dibalut tuksedo hitam necis, tampak tidak bisa diam satu detik pun. Pria yang kini resmi melepas status lajangnya itu terus-menerus memamerkan cincin kawin di jari manisnya ke arah kawan-kawan mekanik dan pembal

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status