Share

Bab 39 Racun Yang Manis

Penulis: Aira Jiva
last update Tanggal publikasi: 2026-03-08 10:42:07

“Lo mau lari sampai kapan, Cinta? Nggak ada lubang yang nggak bisa gue masukin...”

Suara Vanessa mengalun dingin, memantul di antara pilar beton koridor lantai tiga yang mulai sepi. Cinta yang tengah merapat di balik dinding merasakan jantungnya berdegup hingga ke kerongkongan.

Seharian ini, suasana kampus terasa mencekam. Aroma anyir yang lembap seakan terus merayap di belakang tengkuknya, memaksa Cinta berputar jalan melalui gudang-gudang tua hingga toilet dosen hanya demi menghindari tatapa
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Ketika Samudra dan Langit Jatuh Cinta    Bab 61 Misteri Sisik di Cermin

    “Mbak Ayu! Mbak! Ini laundry depan bener-bener mau gue laporin ke RT apa gimana sih?!”Suara Cinta menggelegar dari dalam kamar mandi berukuran dua kali dua meter itu, memantul di dinding keramik putih yang sudah sedikit berkerak. Mbak Ayu, sang ibu kos yang sedang asyik menyapu selasar di depan deretan kamar kos petak itu, langsung menghentikan kegiatannya. Ia menyandarkan sapunya di tembok kayu, lalu melongokkan kepala ke arah pintu kamar nomor 07 milik Cinta yang terbuka sedikit.“Kenapa toh, Nduk Cinta? Pagi-pagi kok sudah ribut mau lapor RT? Memangnya Mas RT nya mau kamu ajak berantem?” sahut Mbak Ayu dengan logat Jawanya yang kental dan nada santai, seolah sudah terbiasa dengan tabiat penghuni kosnya yang satu ini.Cinta keluar dari kamar mandi dengan langkah berderap yang membuat lantai ubin tua itu bergetar. Wajahnya merah padam, bukan hanya karena marah, tapi juga karena rasa mual yang sedari tadi ia tahan di pangkal tenggorokan. Ia memiringkan lehernya ke arah Mbak Ayu, j

  • Ketika Samudra dan Langit Jatuh Cinta    Bab 60 Irama yang Sama

    "LANGIT! LO BENER-BENER MAU GUE JADIIN SATE YA?!"Suara Cinta menggelegar, hampir saja merontokkan sisa-sisa plafon apartemen tua itu. Wajahnya yang tadi merah karena malu, sekarang berubah jadi merah padam karena murka. Ia berdiri dengan tangan berkacak pinggang di depan Langit yang hanya bisa meringkuk di sudut sofa sambil memegangi kepalanya yang masih pening."Terus sekarang ini apa?! Hidup gue terikat sama dia?!""Tahan, Cinta! Napas dulu!" seru Langit panik, mencoba melindungi wajahnya kalau-kalau ada api yang menyambar dari tangan gadis itu. "Gue juga baru tahu efek sampingnya bakal se-instan ini! Mana gue tahu kalau syarat kontrak jiwa dari kakek-kakek sakti itu otomatis aktif begitu lo pindahin lewat napas lo!""Baru tahu lo bilang?!" Cinta melangkah maju, jarinya menunjuk-nunjuk hidung Langit yang sudah pasrah. "Lo tahu nggak gimana rasanya ini? Gue ngerasa aneh, Lang! Rasanya kayak ada nyawa lain yang numpang di perasaan gue!"Langit menghela napas panjang, mencoba menca

  • Ketika Samudra dan Langit Jatuh Cinta    Bab 59 Nafas Kehidupan

    “Lang, lo bener-bener ya... mau muntah gue... sumpah gede banget itu batu! Kenapa harus gue telan sih?! nggak ada cara lain apa?”Suara Cinta meledak begitu dia hampir roboh di ambang pintu apartemen. Wajahnya yang pucat pasi kini kontras dengan rona merah di lehernya karena menahan mual. "Gue muntahin sekarang ya.."Ia mencengkeram perutnya, membungkuk di depan Langit yang masih terduduk lemas di samping sofa tempat Samudra terkapar.“Tahan, Cinta! Jangan dimuntahin sekarang!” Langit berseru panik, mencoba bangkit meski kakinya masih gemetar. “Kalau lo keluarin begitu saja, energinya jadi nggak berguna! Esensi daratannya bakal nguap kena udara dan Samudra nggak akan dapet apa-apa selain batu kosong!”“Gue nggak peduli ya.. mual banget sumpah! coba aja Lo yang nelen..” Cinta meringis, merasakan sensasi dingin yang nendang-nendang di dalam lambungnya. “Rasanya kayak nelan bongkahan es! Lo tahu nggak gimana susahnya lari dari kakek kakek sakti itu sambil nahan kelereng raksasa di ten

  • Ketika Samudra dan Langit Jatuh Cinta    Bab 58 Labirin Keabadian

    Dingin malam di hutan tua itu terasa berbeda. Bukan dingin yang menyegarkan, melainkan dingin yang membawa aroma tanah kuburan. Cinta merayap di antara semak-semak berduri, matanya tertuju pada celah sempit di dinding timur Kuil Keabadian. Dinding batu itu tampak menghitam, bekas sambaran petir ribuan tahun lalu yang menurut Langit adalah satu-satunya titik lemah pertahanan kuil mistis ini.“Lang, gue di depan celah itu. Sempit banget, gue nggak yakin bisa masuk,” bisik Cinta pada anting peraknya.“Fokus, Cinta. Pakai api di telapak tangan lo, tapi jangan diledakkan. Buat pendar tipis buat melunakkan lumut yang membeku di sana supaya lo bisa seluncur masuk,” suara Langit bergema halus di telinganya, memberikan instruksi yang presisi.Cinta memejamkan mata. Ia membayangkan api emasnya sebagai kehangatan lilin. Begitu ia menyentuh dinding, es yang membatu mencair seketika. Dengan susah payah, ia menyelipkan tubuhnya ke dalam celah sempit itu, merayap masuk hingga ia tiba di sebuah lo

  • Ketika Samudra dan Langit Jatuh Cinta    Bab 57 Oksigen Terakhir

    “Sam...ud.. ra...”Suara Cinta nyaris tidak terdengar, tertahan oleh cengkeraman tangan Samudra yang kini terasa sedingin baja dan sekeras karang.Wajah Cinta mulai membiru, matanya terbelalak menatap sepasang mata hitam pekat di depannya yang tak lagi menyisakan setitik pun kemanusiaan. Samudra, dalam pengaruh kutukan lautnya, benar-benar siap mematahkan leher gadis yang baru saja menyelamatkan nyawanya.Di lantai, Langit menggeram. Ia tidak bisa berdiri, kakinya terasa lumpuh setelah hantaman Vanessa, tapi ia tidak bisa membiarkan Cinta mati begitu saja.“Hanya... sebentar... Maafkan gue, Sam!”Langit mengangkat tangannya yang gemetar ke arah kepala Samudra. Ia memusatkan seluruh sisa energinya, bukan untuk menyerang secara destruktif, melainkan untuk memanipulasi atmosfer di sekitar wajah Samudra."Aero Vacuum!"Seketika, Langit menarik seluruh molekul oksigen dari area hidung dan mulut Samudra. Ia menciptakan ruang hampa udara yang memaksa paru-paru Samudra yang sudah lemah untuk

  • Ketika Samudra dan Langit Jatuh Cinta    Bab 56 Oksigen yang Hilang

    “Gue nggak bisa napas, Cinta... Udara ini... rasanya kayak duri yang bakar paru-paru gue.”Suara Samudra terdengar seperti gesekan karang yang pecah, kering dan parau. Ia tergeletak di lantai balkon apartemen tua itu dengan tubuh yang melengkung menahan sakit yang luar biasa. Setiap kali ia mencoba menghirup oksigen daratan, tubuhnya bereaksi seolah-olah ia sedang dipaksa menelan bara api. Izin tinggalnya telah dicabut oleh Prabu Baruna, dan kini atmosfer dunia manusia berubah menjadi racun yang mematikan bagi sang Penguasa Samudera.“Samudra! Bertahan, gue mohon! Lihat gue!”Cinta berlutut di sampingnya, air matanya jatuh mengenai pipi Samudra yang mulai menampakkan guratan sisik halus yang mengering dan pecah-pecah.Langit merangkak mendekat dengan sisa tenaganya, wajahnya sendiri pucat pasi akibat luka dari Vanessa. “Jangan cuma menangis, Cinta! Bantu gue bawa dia masuk! Darah birunya mulai mengental jadi kristal garam. Kalau dia terus terpapar angin laut di balkon ini, dia baka

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status