Home / Fantasi / Ketika Si Jenius Menjadi Tokoh Antagonis / Eighth Story: Di Perkebunan Stroberi

Share

Eighth Story: Di Perkebunan Stroberi

Author: _yukimA15
last update Last Updated: 2022-11-19 09:36:01

Saat kami akan pulang, Countess Vivicy Lobart mengatakan kepadaku,

"Terima kasih banyak, Lady Viyuranessa! Saya sangat berterima kasih atas bantuannya! Padahal saya sangat hina di waktu itu dan pastinya saya akan dilihat sangat menjijikan! Tetapi hanya anda yang berbeda! Saya sungguh berterima kasih!"

Aku menggelengkan kepala lalu mengatakan, "Saya yang harus berterima kasih, bibi Vivi! Anda mempercayai saya dan juga bersedia bekerja bersama saya!"

Disaat aku dan bibi Vivi sedang berbincang, adikku menghampiri Rean dan mengatakan,

"Sebenarnya, apa yang kamu inginkan dari kakakku?!"

Rean mendengar pertanyaan Celzuru dan mencernanya. Ia sempat berpikir lalu ia tersenyum, "Aku ingin semua darinya, keberatan?!"

"Huh... kamu gila?"

Rean segera berbalik menuju kereta kuda dan diikuti Rennel.

***

Beberapa minggu kemudian, aku sedang mengunjungi perkebunan Stroberi bersama dengan adikku dan juga tunanganku. Aku menahan topi besar yang menutupi kepalaku dengan tangan saat angin mencoba menerbangkan topiku.

"Baru kali ini aku melihat Stroberi sebesar dan secerah ini," ucap adikku, Celzuru dengan wajah yang ceria. "Dibuat susu Stroberi pasti lebih enak!"

"Sepertinya begitu," ucapku yang ikut tersenyum melihat Zu.

"Perkebunan ini milik kerajaan," ucap Rean. "Kakekku seorang petualang hingga ia tidak sengaja menemukan bibit ini."

'Jadi, bukan hasil penelitian,' batinku. "Pasti kakekmu adalah orang yang luar biasa. Apakah dia adalah kakek dari ibumu?" Aku hanya sibuk memperhatikan dan melihat-lihat sekelilingnya. Disamping itu, ekspresi Rean menjadi marah.

"Ya," ucap Rean dengan tatapan tajam ke sosokku. Ia mengepal tangannya untuk menahannya amarahnya.

"Aku mau melihatnya dari dekat!" ucap Celzuru. Lalu, Celzuru segera turun dan melihat-lihat perkebunan itu. Saat ia berpapasan dengan petani, ia segera menyapanya dan berbicara akrab dengan paman itu hingga tertawa.

Aku hanya tersenyum melihat adikku dari kejauhan. Melihat senyuman itu, Rean pun lebih tenang dari amarahnya sebelumnya.

'Apa-apaan itu!?' batin Rean yang sedikit kesal melihat senyumanku. Angin kuat menerjang hingga mengibarkan gaun dan rambut silver kebiruanku. Tanpa sadar, Rean semakin terpanah saat melihatnya.

Karena sibuk memperhatikan sekitar, aku tidak sadar kalau angin sudah menerbangkan topinya.

"Topiku?"

Lalu, mataku bergerak mencari topiku hingga melihat sosok Si Topi yang berada di atas pohon. Aku segera menghampiri pohon itu dan memikirkan bagaimana cara mengambilnya. Seperti biasanya, saat aku berpikir, salah satu jari-jariku akan mengetuk-ngetuk halus bibirku. Rean hanya memperhatikan kelakuanku.

'Panjat saja! Lagipula, pohonnya memiliki banyak percabangan,' pikirku.

Saat aku mulai memanjatnya, Rean menahannya dengan menahan lenganku.

"Jangan katakan kalau kamu mau memanjatnya," ucap Rean.

"Tentu saja karena aku tidak terpikirkan cara lain," ucapku.

"Cobalah untuk mengandalkan orang lain, Yu! Sihir angin lebih mudah mengambilnya." Tatapannya menunjukkan ketulusan padaku. Aku hanya menatap pangeran itu dengan ekspresi datar.

"Aku bisa sendiri!" ucapku.

Lalu, aku menghentakkan kakinya ke bumi hingga tanah naik dan membentuk tangga yang indah.

"Itu tidak masalah, kan?"

Sang Pangeran terkejut, 'Bagaimana ia bisa menggunakan sihir setingkat ini? Dan juga, ia belum belajar di akademi. Bukankah sihirnya bertipe listrik!?'

'Selain itu, bagaimana ia bisa terpikirkan mengontrol sihirnya hingga menjadi seperti ini?'

Aku segera menaiki anak tangga itu dan mengambil topiku. Lalu, tanah itu ku kembalikan hingga seperti semula.

'Semakin menggunakan sihir, maka sihir akan semakin kuat. Status sihirku juga akan semakin meningkat. Seperti peningkatan kekuatan tubuh dengan rutin olahraga!'

"Elemen sihirmu?" ucap Rean.

"Listrik. Tadi, aku menggunakan gaya tarik antar molekul untuk mengatur susunan partikel pasir dan gra-," ucapku.

"Aku belum pernah mendengar tentang itu," ucap Rean dengan tatapan tajam.

'Ah aku kelepasan!' batinku. 'Kebiasaanku menjelaskan segala sesuatu kepada Zu.'

Aku segera mengatakan, "Itu... aku mengetahuinya dari sebuah buku. Tapi, aku lupa buku apa itu." Aku tersenyum kaku. "Dan... Lebih baik kita segera melihat-lihat stroberi itu!"

Aku segera menghampiri saudariku dan Rean terus mengikuti langkahku. Pada saat itu, aku berhenti sejenak dan mengatakan,

"Aku dengar, ada masalah di perbatasan. Ayahanda mengatakan kalau ia tidak bisa pergi ke wilayah itu karena sedang ditutup."

"Tentang itu... Baginda Raja sedang kesulitan menangani kasus penyakit menular di perbatasan di barat. Penyakit ini semakin cepat menyebar sehingga Baginda hanya bisa menutup wilayah itu. Apakah kamu punya pendapat untuk masalah ini, Yu?"

Aku jelas mendengar ucapan Rean. Aku segera berbalik dan menghadapnya.

"Penyakit menular? Apa saja yang kamu ketahui mengenai kondisi disana?"

Rean mengatakan, "Sakit di daerah perut, mual, muntah dan korban sering BAB hingga wilayah itu sudah dipenuhi kotoran manusia. Dan yang paling parah, ada beberapa yang kejang-kejang."

Mataku yang hanya biasanya terbuka setengah itu pun terbuka lebar. Kemudian, aku menggerakkan mataku ke sudut bawah. Tanganku bergerak menyentuh bibir bawahku.

Aku kemudian berpikir, 'Penyakit menular yang mungkin menginfeksi saluran pencernaan. Kemungkinan disebabkan oleh bakteri yang bisa hidup dan berkembang biak dan menyebar melalui kotoran manusia. Tapi perlu tahu dulu juga jenis bakterinya.'

Rean yang menyadari perubahan ekspresiku, segera berdiri di hadapanku. Tubuhnya membungkuk dan wajahnya mendekat dan menatap dekat wajahku.

"Apakah kamu tahu sesuatu?" ucap Rean. Tatapannya beralih turun ke benda merah yang berada di bawah hidungku.

Saat aku menatap lurus ke depan, mataku terbuka sempurna. Mata berwarna merah yang tajam sedang menatapku sangat dekat. Aku tentu kaget dan gugup. Lalu, aku segera mengalihkan pandangan ke arah lain.

"Un-untuk apa kamu mendekat seperti itu?" Kepalaku menoleh ke samping.

"Aku sedang berpikir dan tidak usah mengganggu konsentrasiku, Rean!"

Rean memegang daguku lalu mengangkatnya. "Caramu berpikir membuatku tergoda, Yu!"

Aku tersentak dan degupan jantungku semakin cepat saat aku tidak punya pilihan lain selain menatap sepasang iris mata Red Diamond itu.

"Bukankah kamu sendiri yang ingin pendapatku? Jadi, aku perlu memikirkannya," ucapku sambil menyipitkan mata.

Aku memegang lengan Rean dan mendorongnya menjauh dari wajahku. 'Ia selalu saja menggodaku. Padahal, ia hanya terpaksa melakukannya untuk membuatku tergila-gila padanya.'

Aku segera melangkah maju dan membiarkan Rean tertinggal.

'Ia hanya akan meninggalkanku dan melukai hatiku demi balas dendam karena... kebenciannya kepada Viyuranessa Roseary. Meski aku tidak mengetahui alasannya membencinya, aku akan mencari tahunya sendiri!'

Aku menyisir rambut perak kebiruanku hingga seolah-olah rambutku terbang di udara. Sepasang kaki yang terus melangkah ke depan, iris berlian biru muda itu bergerak hingga ke sudut matanya untuk menangkap sosok lelaki bersurai hitam. Iris Red Diamond itu menatapku dengan senyuman tajam hingga menampakkan taringnya.

Tiba-tiba, saat itu aku menabrak seseorang yang sedang memperhatikan stroberi yang masih muda.

"Ah, maaf!"

"Tidak usah dipikirkan, Lady Viyuranessa Roseary!" ucap seorang lelaki bersurai hijau dengan iris emas, ia terlihat seumuran denganku.

"Anda mengenal saya?"

"Paras cantik menawan anda dengan rambut perak kebiruan itu dan ornamen mawar biru di pakaian dan perhiasan anda, tentu saja saya akan segera menyadari sosok anda karena anda sangat terkenal di kerajaan ini."

"Oh, apakah aku begitu terkenal?" gumamku sambil berpikir. Saat ia mulai menganggakat tanganku untuk melakukan kebiasaan saat berpikir. Rean segera melingkarkan lengannya di pinggang rampingku dan menariknya. Aku menogak ke atas dan melihat Rean sedang menatapku.

"Karena kamu adalah tunangannya Putra Mahkota, tentu saja membuatmu terkenal hingga ke luar kerajaan, Yu!"

Mata merah Rean bersinar dan bergeser untuk menatap lelaki yang ada di hadapannya dengan tajam.

"Jiwa sekeras berlian, akan berkilau!" Pria itu segera memberi hormat kepada Rean dengan senyuman.

"Nikmati hari anda, Yang Mulia Putra Mahkota! Saya permisi!" sebelum ia berbalik, ia melihatku hingga mata kami bertemu. Pria bersurai hijau itu segera melangkah jauh.

_____

See U...

- This is My Story -

by: yukimA15

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ketika Si Jenius Menjadi Tokoh Antagonis    164th Story: Inginkan Kekuasaan

    "Mohon maaf, saya adalah Cistine Moontel, putri pertama Duke Moontel! Baru sekarang saya berkesempatan bertemu dengan anda.... Setelah sekian lama saya berada di luar kerajaan ini. Walaupun saya sudah lama kembali ke kerajaan ini semenjak kelulusan, baru kali ini saya berkesempatan menemui anda. Mengingat, anda yang sering berada di sisi Putra Mahkota...." "Saya mengerti, senang bertemu dengan anda lagi, Lady." Leitte memberikan salam dengan gerakan tubuhnya. "Tapi, saya cukup senang berhadapan dengan anda lagi seperti ini!" "Iya, Lady Cistine Moontel. Senang bertemu dengan anda." Putri pertama Verk bertunangan dengan Putra Kedua Duke Moontel, Tristante Moontel. Dikarenakan itu, diadakan pertemuan kedua keluarga tersebut atas pertemuan pelamaran dari Duke Moontel ke kediaman mereka. Dengan rasa penasaran, Leitte segera memasuki ruang pertemuan dan memperkenalkan dirinya hingga pusat perhatian mereka ke sosok Leitte Verk. Pembicaraan sempat menjadi membicarakan Leitte hingga ke

  • Ketika Si Jenius Menjadi Tokoh Antagonis    Second Side Story: Kisah Horor

    Angin malam di hutan menerpa rambut Soft Pink yang terurai meskipun Celzuru berada di dalam tenda yang dibangun oleh para pasukan prajurit kerajaan Diamondver. Ia dan Riliana Verk menginap di tenda yang sama. Pintu tenda masih terbuka dan Celzuru memperhatikan suasa luar tenda yang mana hutan yang gelap tertangkap oleh mata pink Diamondnya yang bulat sempurna. "Mengingat suasana ini, aku jadi teringat suatu hal..." Celzuru terdiam dan Riliana tersentak melihat raut wajah Celzuru yang terlihat suram. "I, i, ingat hal apa, zzzz Zu!?" Riliana merasa merinding apalagi suara hutan membuatnya bulu kuduknya berdiri. "Rilia! Bagaimana kalau kita menceritakan kisah horor!?" "Ja, jangan menceritakan kisah horor di tempat menyeramkan seperti ini, Zu! Aku tidak bisa tidur! "Humm... Ataukah kamu mau mendengar kisah Croinel selama ia menjadi pelayanku?" Riliana tersentak. Ia menggelengkan kepalanya dengan malu. Rasa takutnya hilang sesaat. "Ba, baiklah kisah horor saja!" Celzur

  • Ketika Si Jenius Menjadi Tokoh Antagonis    163rd Story: Tidak Sebaik itu

    "Daerah sini kah." Dari ketinggian Zennofer berhasil menemukan kereta kuda kerajaan yang akan berpulang ke istana dari kediaman Roseary menuju istana. 'Dia benar-benar terlihat berbeda dibandingkan waktu melupakan pria itu.' 'Aku jadi penasaran saja. Apa aman-aman saja aku datang ke tempat tinggalnya ini?' 'Tapi untungnya orang itu tidak tahu aku sering menemuimu, Viyuranessa.' 'Menganggap dunia ini ada di genggamannya. Ia terlalu percaya semua akan berjalan atas pemikirannya.' *** "Terasa panjang juga hari ini." Baru saja aku merebahkan diriku di kasur untuk melepaskan semua penat di hari ini, angin mulai berhembus masuk ke dalam kamarku. Aku tentunya mengenali angin ini. Tanpa beranjak dari berbaring, aku hanya menoleh ke arah jendela. "Wah wah, kamarmu membosankan juga, Viyuranessa." "Kamu bahkan berani datang ke rumahku, Zenno." Aku sedikit sentak menggelengkan kepala memang sempat kepikiran sebelumnya di ada di sini. "Aku sempat berpikiran sih kamu bakal menem

  • Ketika Si Jenius Menjadi Tokoh Antagonis    162nd Story: Sulit Untuk Jujur

    "Kamu benar-benar santai, Rean. Yang mereka incar sebenarnya adalah kamu." Rean tersentak dan tentunya terheran. "Bagaimana kamu tahu itu, Yu!?" Aku tentunya terheran dengan keterkejutannya yang jelas-jelas terlihat. "Kenapa kamu jadi berpikir aku tidak bakalan menyadari hal seperti ini." "Tunggu dulu, Yu. Apa saja yang sudah kamu ketahui mengenai hal ini?" Termenung memikirkan Zennofer yang masih berada disana, aku hanya bisa menghembuskan nafas pasrah dengan keadaan yang rumit ini. 'Dia juga bisa lebih gila lagi jika dibiarkan lebih lama. Aku tidak ingin tangannya jadi kotor lagi akibat ulah keserakahan orang itu.' 'Aku tidak bisa melakukannya sendirian.' 'Karena itu waktu itu aku mencoba membicarakannya dengannya, tetapi malah...!' "Itu-" "Viyura!" Lina melihatku dan segera menghampiriku. Aku menoleh ke arah Lina sambil mengatakan, "Kita bicarakan nanti ya, Rean," ucapku yang hanya didengar oleh Rean. "Jelaskan saja sekarang, Yu!" "Nanti saja!" Memberikan tatapan

  • Ketika Si Jenius Menjadi Tokoh Antagonis    161st Story: Kejutan

    "Racunkah." "Bagaimana kamu yakin, Yu?" "Rasa minuman sangat berbeda! Chiii, nyebelin juga ya makan diganggu gini!" Sedikit tarikan nafas dalam untuk meredam kekesalan ini, pikiran jernih pun jernih hingga sempat terpikirkan banyak hal. "Tapi bagus sih, kita bisa memanfaatkan percobaan ngeracun gini, mwehehe!" Aku tersenyum dengan mata yang menyipit. "Bagaimana?" "Bagaimana kalau kita berpura-pura meminumnya sampai habis sehingga mereka menganggap kalau kita memiliki resistensi terhadap racun?" "Kamu yakin kalau mereka yang menaruh racun?" "Bagaimana ga yakin, rasanya aja jadi jelek gini!? Mungkin saja kan mereka pembunuh profesional yang menghalalkan segala cara untuk membunuh targetnya. Untungnya soal rasa makanan aku bisa membedakannya. Orang yang tidak cicip dulu dari aromanya dulu lalu mulai masuk mulut, cuma lihat penampilan saja kayak kamu ini, mudah teracuni! Dasar ga pekaan!" "Jangan nusuk gitu roasting tunanganmu ini, Yu. Tak apa sih, masih tetap sayang."

  • Ketika Si Jenius Menjadi Tokoh Antagonis    160th Story: Gangguan

    Di tengah keramaian kota, di taman kota banyak yang membangun stand-stand yang menjual berbagai macam terutama makanan dan minuman. Melihat kesana kemari dengan bersemangat. Aku cukup bingung ingin menghampiri stand yang mana dulu. Satu hal yang paling menarik perhatian yaitu... Aku segera melangkah menghampiri kedai minuman dingin. Meskipun mereka memiliki menu yang banyak, tetap saja aku memilih, "Es teh!" Sambil menyeruput minuman menyegarkan bagi tubuh dan pikiran, aku melirik sosok Rean yang melihat diriku dan terlihat bersemangat entah kenapa. 'Masa sih ia terlihat bersemangat gitu hanya melihatku? Hem....' 'Iya sih, aku juga gitu....' 'Ia jauh lebih keren padahal.' 'Tidak ku sangka ia bisa mengubah kerajaan ini dengan sesingkat ini.' 'Aku bahkan dengar ada beragam pelatihan dilakukan untuk mengurangi pengangguran.' 'Meskipun aku juga sering melihat perkembangan cepat di Lezarion, tapi disini lebih cepat!' Mataku kembali bergeser ke arah Rean yang mana ia terli

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status