Beranda / Fantasi / Ketika Si Jenius Menjadi Tokoh Antagonis / Seventh Story: Nyawa yang Berharga

Share

Seventh Story: Nyawa yang Berharga

Penulis: _yukimA15
last update Terakhir Diperbarui: 2022-11-19 09:34:58

"Bagaimana kalau bibi bekerja denganku saja?!"

Mendengar penawaran ku, ia menyilang kan tangannya di depan dadanya. "Bekerja dengan mu?! Dunia orang dewasa bukan taman bermain, anak kecil!"

Aku segera membuka tudung jubah yang ku kenakan sehingga ia bisa melihat warna dan iris mataku. Ia tersentak, kemudian tersenyum jahat. Bibi gemuk itu mengaktifkan sihirnya hingga tanah dibawahku naik dan menyelimuti tubuhku. Aku terperangkap oleh gundukan tanah padat tersebut.

'Bodohkah dia!?' Rean tersenyum kaku. Ia berniat melangkah maju namun ia terhenti disaat melihat ekspresiku yang masih tenang.

"Menjadikan dirimu sandera, tentunya aku bisa dapat uang yang sangat banyak. Bukankah begitu, putri Duke Roseary!?" Ucap bibi itu.

"Yang aku tawarkan ratusan kali lipat dari harga yang anda pikirkan untuk menyandera ku! Dan aku akan membiayai perobatan suami anda dan jikalau suami anda sulit disembuhkan oleh dokter aku akan mencari cara untuk menyelamatkan suami anda, bibi!"

"Apa yang bisa dilakukan anak kecil sepertimu?! Jangan bercanda!" Bibi itu mengetatkan tumbukan tanah yang memperangkap tubuhku.

"Aku tidak bercanda!" Tatapanku menjadi tajam. Saat itu, aku mengaktifkan sihir listrikku hingga ikatan antar molekul pada tanah tersebut merenggang hingga menjadi partikel pasir yang bertaburan di sekitar tubuhku.

Bibi gemuk itu dan Rean tercengang.

Rean masih diam disana dan kemudian auranya yang bersemangat terpancarkan di sekitar tubuhnya. "Hee..." Rean menyeringai.

Aku menyadari keberadaan Rean dan iris blue diamond milikku bergerak meliriknya. Pandanganku kembali lurus kedepan, aku berpikir, 'Kenapa ia masih disini!?'

"Bibi masih berpikir kalau anak kecil itu tidak berguna, Countess Vivicy Lobart?!" Ucapku.

Saat itu, Countess melayangkan bongkahan batu ke arahku. Namun, saat bongkahan tersebut akan mengenaliku, bongkahan batu tersebut menjadi partikel pasir.

'Seharusnya aku mengajak Zu! Bibi itu malah menganggap ku adalah ancaman. Dan sepertinya aku hanya perlu tersenyum, 'aku menghembus nafas panjang. "Pokoknya, Bibi Countess! Percayakan saja padaku!" Aku meminta berjabat tangan dan tersenyum dengan tulus.

Countess pun menyerah, kami pun berjabat tangan. "Apa untungnya untuk mu jika kamu memintaku bekerja dengan mu? Lagipula, aku sudah mempermalukan diri sendiri di muka publik."

"Kita bicarakan nanti, bibi Vivi! Untuk suami bibi, aku akan berkunjung besok! Bolehkah?"

Countess tersebut mengangguk sambil tersenyum. Tidak lama setelah itu, Countess Vivicy meninggalkan tempat itu dan kembali pulang dengan pelayannya.

Rean segera menghampiriku, "Kamu tidak segera pulang, Yu? Bukankah sekarang ini sudah larut untukmu?"

"Kamu sendiri! Kenapa kamu bisa ada disini!? Kamu itu putra mahkota dan tidak seharusnya berkeliaran sendirian," aku segera mulai melangkah.

"Oi, Yu! Itu seharusnya kata-kataku!" Ia mengikutiku dan menyamakan langkah kami.

"Apalagi kamu itu perempuan. Tadi saja bibi penuh lemak itu ingin menyandera mu! Bagaimana kalau kamu tiba-tiba diculik saat penculik tahu identitas mu?! Mungkin saja mereka akan mengembalikan mu dengan tubuh yang tidak utuh lagi!"

"Aku tidak peduli dengan itu. Kamu adalah putra mahkota yang akan memimpin kerajaan ini, sudah seharusnya kamu lebih memperhatikan nyawamu sendiri. Meskipun tidak ingin, diriku tidak sebeharga itu dan aku tidak peduli jika mereka ingin segera memutuskan nyawaku."

Mendengar hal itu, Rean segera menyentuh kedua bahuku dan kemudian membentak ku, "Apa kamu anggap nyawamu tidak berharga?!"

Rean menghempas tubuhku ke dinding dengan sihir anginnya, "Kenapa tidak mati saja sekarang?!"

Aku merasakan punggungku terbentur dengan dinding. Hentakan kuat itu membuat ku meringgis menahan rasa sakit. Ia berdiri di hadapanku dan meninju bagian dinding di samping wajahku dengan kuat hingga dinding tersebut retak.

Aku tersentak disaat melihat ekspresi wajahnya yang penuh dengan kebencian dan kemarahannya. Tubuhku tiba-tiba bergetar, aku tidak tahu apa yang sedang ku rasakan. Apakah itu takut, senang, sedih, ataukah marah, aku tidak mengerti. Hanya saja, air mataku mulai turun mengalir di pipi.

Melihat aliran air mata tersebut, Rean pun tercengang. Lalu, ia segera mundur, berbalik, merunduk dan mengucapkan,

"Maaf!"

Aku mengelap air mataku dengan tangan, "Kamu tidak perlu minta maaf. Aku juga tidak mengerti, kenapa aku menangis. Mungkin saja ada debu yang masuk ke mataku!"

"Apaan itu!? ..." Ia terdiam hingga suasana terasa canggung.

Aku masih merasakan suasana resah darinya belum berubah. Aku pun hanya menunggu disana, berdiam diri dan terbenam dipikiranku yang tentunya aku masih mengingat hal tadi. Tidak lama kemudian, ia pun memperhatikanku yang terus diam tanpa melirik ke sosoknya.

"Aku akan mengantarmu pulang!" Ia mencoba meraih lenganku.

Aku segera mundur hingga ia tidak bisa meraih lenganku, "Tidak perlu, lagipula aku tadi pergi sendiri! Kediaman ku jauh dari sini, jadi kamu tidak usah repot-repot!"

"Justru karena jauh, aku harus mengantarmu!" Ia segera kembali mencoba meraih tanganku.

"Aku bisa pulang sendiri! Sampai jumpa!" Aku segera berbalik dan berlari masuk ke keramaian. Saat itu, aku segera berlari secepat kilat hingga tidak ada yang bisa melihat sosokku.

Rean segera berlari mencari ku di sekitar, namun ia tidak dapat menemukanku.

'Apa aku terlalu berlebihan?' pikirnya sambil memandangi tangannya sendiri.

***

Keesokan harinya, Rean datang ke kediaman kami disaat aku dan adikku akan berangkat ke kediaman Countess Vivicy.

"Kenapa dia ada disini, kak Yu!?" Celzuru menunjuk ke sosok Rean yang sedang menghampiri kami.

"Entahlah, dia tidak bilang akan ikut juga. Hanya saja ia ada disana saat ku bicara dengan Bibi Vivi."

Adikku berbisik kepadaku, "Oh ya, kak! Waktu kakak diam-diam keluar, Klea mengatakan kalau kakak sering melakukannya dan juga ia juga mengatakan kalau kakak sendiri yang menyuruhnya untuk tidak melaporkannya ke ayah."

"Tapi, kemarin pertama kali aku keluar diam-diam. Di ingatan Viyuranessa juga tidak ada ingatannya keluar mansion diam-diam. Hanya saja... suasana di tengah kota terasa tidak asing. Mungkin saja masih ada beberapa ingatannya yang belum muncul."

Setelah persiapan kami sudah selesai, kami pun segera berangkat ke kediaman Count Lobart. Aku meminta ayah menyewa dokter untuk Count Lobart dan ayah menerimanya. Meskipun Duke Roseary sangat ditakuti orang-orang karena ketegasannya, ia tidak segan menolong orang lain yang kesusahan. Karena itu, ia sangat diakui oleh para penduduk.

Saat kami sudah tiba di kediaman Count Lobart, Countess menyambut kedatangan kami dan menyediakan jamuan. Ia sangat tersentak saat melihat Rean yang ikut bersama kami. Rean hanya menunjukkan ekspresi sadisnya kepada Countess.

'Kenapa anak-anak zaman sekarang sangat menakutkan?!' batin bibi Vivi.

Kami berserta dokter sedang berada di kamar Count yang mana Count Lobart sedang terbaring disana. Dokter sedang memeriksa kondisi Count dan mempertanyakan gejala yang dialami nya. Dan aku berdiri di belakang dokter memperhatikan tubuh Count yang pucat.

"Kurang darah...?" gumamku.

"Ya, sepertinya begitu, Lady!" Ucap Dokter tersebut setelah mendengar ucapanku. "Dan sepertinya ada masalah di salah satu organnya karena ia merasakan nyerih di sini."

"Di ginjal?"

"Hahaha! Anda pintar, Lady! Mungkin anda bisa jadi dokter!"

Aku bergeleng, "Nggak! Terlalu melelahkan! Bukan, nanti aku akan bosan karena aku cepat bosan!"

"Hahaha, pastinya perlu minat dulu untuk jadi dokter."

"Ya, aku kurang suka profesi itu." Aku menunjuk sosok Count, "Jadi... ini harus dibedah ya, dok?"

"Pastinya, sihir penyembuhan hanya dapat menyembuhkan bagian yang dilihat."

"Owh, seperti itu cara kerjanya! Untuk dibayangkan juga tidak bisa karena struktur organ tiap orang itu berbeda!"

"Jadi, anda sudah mengerti tentang genetik?"

"Aku pernah membacanya." Aku berpikir, 'Tenyata disini juga sama penamaannya. Tapi disini enak sekali, tidak perlu diganti ginjalnya.'

Setelah Dokter memeriksa Count Lobart, dokter tersebut segera memberikan beberapa obat-obatan kepada Countess dan operasinya akan dilakukan beberapa hari kedepan.

_____

See U...

- This is My Story -

by: yukimA15

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ketika Si Jenius Menjadi Tokoh Antagonis    164th Story: Inginkan Kekuasaan

    "Mohon maaf, saya adalah Cistine Moontel, putri pertama Duke Moontel! Baru sekarang saya berkesempatan bertemu dengan anda.... Setelah sekian lama saya berada di luar kerajaan ini. Walaupun saya sudah lama kembali ke kerajaan ini semenjak kelulusan, baru kali ini saya berkesempatan menemui anda. Mengingat, anda yang sering berada di sisi Putra Mahkota...." "Saya mengerti, senang bertemu dengan anda lagi, Lady." Leitte memberikan salam dengan gerakan tubuhnya. "Tapi, saya cukup senang berhadapan dengan anda lagi seperti ini!" "Iya, Lady Cistine Moontel. Senang bertemu dengan anda." Putri pertama Verk bertunangan dengan Putra Kedua Duke Moontel, Tristante Moontel. Dikarenakan itu, diadakan pertemuan kedua keluarga tersebut atas pertemuan pelamaran dari Duke Moontel ke kediaman mereka. Dengan rasa penasaran, Leitte segera memasuki ruang pertemuan dan memperkenalkan dirinya hingga pusat perhatian mereka ke sosok Leitte Verk. Pembicaraan sempat menjadi membicarakan Leitte hingga ke

  • Ketika Si Jenius Menjadi Tokoh Antagonis    Second Side Story: Kisah Horor

    Angin malam di hutan menerpa rambut Soft Pink yang terurai meskipun Celzuru berada di dalam tenda yang dibangun oleh para pasukan prajurit kerajaan Diamondver. Ia dan Riliana Verk menginap di tenda yang sama. Pintu tenda masih terbuka dan Celzuru memperhatikan suasa luar tenda yang mana hutan yang gelap tertangkap oleh mata pink Diamondnya yang bulat sempurna. "Mengingat suasana ini, aku jadi teringat suatu hal..." Celzuru terdiam dan Riliana tersentak melihat raut wajah Celzuru yang terlihat suram. "I, i, ingat hal apa, zzzz Zu!?" Riliana merasa merinding apalagi suara hutan membuatnya bulu kuduknya berdiri. "Rilia! Bagaimana kalau kita menceritakan kisah horor!?" "Ja, jangan menceritakan kisah horor di tempat menyeramkan seperti ini, Zu! Aku tidak bisa tidur! "Humm... Ataukah kamu mau mendengar kisah Croinel selama ia menjadi pelayanku?" Riliana tersentak. Ia menggelengkan kepalanya dengan malu. Rasa takutnya hilang sesaat. "Ba, baiklah kisah horor saja!" Celzur

  • Ketika Si Jenius Menjadi Tokoh Antagonis    163rd Story: Tidak Sebaik itu

    "Daerah sini kah." Dari ketinggian Zennofer berhasil menemukan kereta kuda kerajaan yang akan berpulang ke istana dari kediaman Roseary menuju istana. 'Dia benar-benar terlihat berbeda dibandingkan waktu melupakan pria itu.' 'Aku jadi penasaran saja. Apa aman-aman saja aku datang ke tempat tinggalnya ini?' 'Tapi untungnya orang itu tidak tahu aku sering menemuimu, Viyuranessa.' 'Menganggap dunia ini ada di genggamannya. Ia terlalu percaya semua akan berjalan atas pemikirannya.' *** "Terasa panjang juga hari ini." Baru saja aku merebahkan diriku di kasur untuk melepaskan semua penat di hari ini, angin mulai berhembus masuk ke dalam kamarku. Aku tentunya mengenali angin ini. Tanpa beranjak dari berbaring, aku hanya menoleh ke arah jendela. "Wah wah, kamarmu membosankan juga, Viyuranessa." "Kamu bahkan berani datang ke rumahku, Zenno." Aku sedikit sentak menggelengkan kepala memang sempat kepikiran sebelumnya di ada di sini. "Aku sempat berpikiran sih kamu bakal menem

  • Ketika Si Jenius Menjadi Tokoh Antagonis    162nd Story: Sulit Untuk Jujur

    "Kamu benar-benar santai, Rean. Yang mereka incar sebenarnya adalah kamu." Rean tersentak dan tentunya terheran. "Bagaimana kamu tahu itu, Yu!?" Aku tentunya terheran dengan keterkejutannya yang jelas-jelas terlihat. "Kenapa kamu jadi berpikir aku tidak bakalan menyadari hal seperti ini." "Tunggu dulu, Yu. Apa saja yang sudah kamu ketahui mengenai hal ini?" Termenung memikirkan Zennofer yang masih berada disana, aku hanya bisa menghembuskan nafas pasrah dengan keadaan yang rumit ini. 'Dia juga bisa lebih gila lagi jika dibiarkan lebih lama. Aku tidak ingin tangannya jadi kotor lagi akibat ulah keserakahan orang itu.' 'Aku tidak bisa melakukannya sendirian.' 'Karena itu waktu itu aku mencoba membicarakannya dengannya, tetapi malah...!' "Itu-" "Viyura!" Lina melihatku dan segera menghampiriku. Aku menoleh ke arah Lina sambil mengatakan, "Kita bicarakan nanti ya, Rean," ucapku yang hanya didengar oleh Rean. "Jelaskan saja sekarang, Yu!" "Nanti saja!" Memberikan tatapan

  • Ketika Si Jenius Menjadi Tokoh Antagonis    161st Story: Kejutan

    "Racunkah." "Bagaimana kamu yakin, Yu?" "Rasa minuman sangat berbeda! Chiii, nyebelin juga ya makan diganggu gini!" Sedikit tarikan nafas dalam untuk meredam kekesalan ini, pikiran jernih pun jernih hingga sempat terpikirkan banyak hal. "Tapi bagus sih, kita bisa memanfaatkan percobaan ngeracun gini, mwehehe!" Aku tersenyum dengan mata yang menyipit. "Bagaimana?" "Bagaimana kalau kita berpura-pura meminumnya sampai habis sehingga mereka menganggap kalau kita memiliki resistensi terhadap racun?" "Kamu yakin kalau mereka yang menaruh racun?" "Bagaimana ga yakin, rasanya aja jadi jelek gini!? Mungkin saja kan mereka pembunuh profesional yang menghalalkan segala cara untuk membunuh targetnya. Untungnya soal rasa makanan aku bisa membedakannya. Orang yang tidak cicip dulu dari aromanya dulu lalu mulai masuk mulut, cuma lihat penampilan saja kayak kamu ini, mudah teracuni! Dasar ga pekaan!" "Jangan nusuk gitu roasting tunanganmu ini, Yu. Tak apa sih, masih tetap sayang."

  • Ketika Si Jenius Menjadi Tokoh Antagonis    160th Story: Gangguan

    Di tengah keramaian kota, di taman kota banyak yang membangun stand-stand yang menjual berbagai macam terutama makanan dan minuman. Melihat kesana kemari dengan bersemangat. Aku cukup bingung ingin menghampiri stand yang mana dulu. Satu hal yang paling menarik perhatian yaitu... Aku segera melangkah menghampiri kedai minuman dingin. Meskipun mereka memiliki menu yang banyak, tetap saja aku memilih, "Es teh!" Sambil menyeruput minuman menyegarkan bagi tubuh dan pikiran, aku melirik sosok Rean yang melihat diriku dan terlihat bersemangat entah kenapa. 'Masa sih ia terlihat bersemangat gitu hanya melihatku? Hem....' 'Iya sih, aku juga gitu....' 'Ia jauh lebih keren padahal.' 'Tidak ku sangka ia bisa mengubah kerajaan ini dengan sesingkat ini.' 'Aku bahkan dengar ada beragam pelatihan dilakukan untuk mengurangi pengangguran.' 'Meskipun aku juga sering melihat perkembangan cepat di Lezarion, tapi disini lebih cepat!' Mataku kembali bergeser ke arah Rean yang mana ia terli

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status