MasukLunara menatap mata Hilda yang memerah, lalu perlahan berkata, "Kamu bilang anak-anak itu memang bernasib buruk?""Kamu tahu nggak, orang tua mereka memilih rumah sakit kalian dengan membayar tiga sampai lima kali lebih mahal demi memastikan anak mereka lahir dengan selamat? Karena nasib buruk, mereka pantas jadi korban kelalaian rumah sakit kalian?""Hilda, sejak kecil sampai sekarang, kamu pernah merasakan harapan dan kasih sayang keluarga terhadapmu? Kalau anakmu sendiri mati di meja operasi, apa kamu juga bisa bilang dengan tenang kalau itu cuma nasib buruk anakmu?"Suara Lunara sangat pelan.Terdengar tenang, seolah sedang mengobrol biasa dengan Hilda. Namun saat berbicara, air matanya sudah jatuh terlebih dahulu. Dia memalingkan wajah, lalu mengangkat tangan untuk mengusap wajahnya.Saat menutup mata, yang muncul di kepalanya adalah foto Aaron yang dia lihat di internet setelah Fernando pergi.Aaron dan istrinya memeluk tubuh kecil anak mereka yang sudah dingin tak bernyawa, mena
Kata-kata Hilda penuh kebencian. Dia benar-benar tidak rela.Dengan menggertakkan gigi, dia memaki, "Sial banget! Jelas-jelas anak-anak itu sendiri nggak punya keberuntungan, nasibnya buruk. Sudah mati, keluarganya masih datang mau memeras uang. Sekumpulan sampah mata duitan, punya nyawa cari uang tapi belum tentu sempat nikmatin!"Begitu ucapan itu keluar.Saphira langsung kehilangan selera makan. Dia membanting sendok ke meja dengan keras dan merasa sakit kepala. Tatapannya pada Hilda juga mulai dipenuhi penilaian.Karena Hilda lahir dari keluarga terpandang dan dibesarkan dengan dimanja, sebenarnya Saphira tidak merasa masalah dengan sifatnya yang sedikit manja. Akan tetapi, bisa mengucapkan kata-kata sekejam itu benar-benar membuat orang tercengang.Di kalangan keluarga kaya Kota Andara, pendidikan anak sangat diperhatikan.Namun setelah selesai bicara, Hilda malah masih merasa belum puas. Dia menatap Saphira lalu berkata, "Tante, bagaimanapun aku juga Keluarga Narasoma. Keluargaku
Waktu melahirkan Aaron dulu, ibunya meninggalkan penyakit yang sampai sekarang terus dirawat. Aaron tidak ingin istrinya mengalami hal yang sama, jadi dia sengaja menabung uang agar istrinya bisa tinggal di ruang persalinan pribadi.Lunara mengatupkan bibir, lalu mencari rumah sakit yang disebut Fernando. Namun, dia malah melihat nama yang terasa familier."Ini rumah sakit milik Keluarga Handoko?"Casya ikut mendekat untuk melihat. "Iya, rumah sakit milik Keluarga Handoko. Sebelumnya juga sempat kena kasus malapraktik medis, korbannya juga bayi baru lahir ...."Perasaan sesak langsung memenuhi hati Lunara. Dirinya juga seorang ibu dari anak perempuan. Mendengar hal seperti itu saja sudah membuatnya sedih."Sarah, carikan rekening Aaron untukku. Aku mau transfer sedikit uang, anggap saja hadiah untuk anaknya.""Baik."Fernando buru-buru menolak, "Nggak, nggak perlu, Bu! Kalau Aaron tahu aku datang minta uang ke Bu Lunara, dia pasti marah! Kami juga sudah banyak berdoa untuk anak itu."N
Matahari mulai condong ke barat, para pegawai perusahaan mulai absen pulang kerja. Lunara duduk di kantornya sendiri sambil memijat pinggangnya.Sarah masuk dari luar. "Bu Lunara, Pak Ignas nganter kursi kantor. Katanya dipesankan Pak Kayden buat Ibu."Lunara tertegun, lalu wajahnya langsung memerah. Dia masih ingat jelas kejadian pagi tadi. Setelah tidur sebentar di tempat Kayden dan kembali untuk rapat, kursi kantor itu langsung dikirim.Dia sangat memahami maksud Kayden. Dalam hati, Lunara langsung memaki pria mesum itu.Kursi kantor sudah dibawa masuk. Ignas tersenyum sambil berkata, "Ini kursi yang dipesankan Pak Kayden buat Bu Lunara. Katanya Bu Lunara suka warna terang, jadi dipilih yang putih. Buku petunjuknya aku taruh di sini?""Baik, terima kasih, Ignas.""Sama-sama!"Ignas pergi dengan wajah puas.Setelah itu, barulah Casya menjulurkan kepala ke dalam ruangan. Kalimat pertamanya adalah, "Bu Lunara, kenapa kamu ganti baju? Tadi pagi bukan pakai yang ini."Wajah Lunara tetap
Dia menggiring tangan Lunara untuk bergerak turun.Lunara menjelaskan, "Kadang ada klien yang minta tipe tubuhnya nggak seperti kamu. Aku juga nggak tahu tubuh pria lain seperti apa, jadi ya cuma bisa cari referensi."Menggambar ilustrasi memang berbeda dengan pekerjaan lain. Ada klien yang suka pria muda kurus dan cantik, ada juga yang suka pria berotot penuh hormon maskulin. Lunara tidak mungkin menggambar semua karakter berdasarkan Kayden.Namun, Kayden malah mengernyit. Nada suaranya bercampur emosi rumit yang sulit dijelaskan. "Kamu masih mau lihat pria lain?"Lunara langsung diam. 'Mulut sialan, memangnya nggak bisa diam dikit, ya?'Sebenarnya Lunara ingin bilang, "Memangnya kenapa? Waktu kuliah dulu, entah sudah berapa banyak model telanjang yang kulihat demi menggambar anatomi tubuh. Semua itu memang pakai model sungguhan".Namun, melihat wajah Kayden yang mulai gelap, dia tidak melanjutkan. Jarinya malah mengait sabuk Kayden, lalu mengikuti perkataannya untuk membujuk."Lihat
Saat Lunara tersadar kembali, Kayden sudah menjalankan "uji coba" yang dikatakannya tadi dengan sangat tuntas. Sudut mata Lunara mulai berkaca-kaca. Dia melirik ke arah pintu dan melihat bayangan seseorang lewat.Jantungnya langsung menegang. Dia buru-buru mendorong Kayden. "Ada orang ...."Kayden tidak menjawab.Ini kantornya. Kalaupun ada yang datang, tidak ada yang berani masuk tanpa izinnya.Lagi pula, andaikan benar ada yang masuk, memangnya kenapa?Kayden hanya mencium istrinya sendiri di ruang kantornya. Itu bukan tindak kriminal dan juga tidak melanggar norma.Akan tetapi, Lunara sangat gugup.Bagaimanapun, dulu dia pegawai Grup Narasoma. Kalau ada yang masuk kantor, kemungkinan besar orang itu mengenalnya.Kayden sangat sibuk setiap hari dan tidak pernah membuka forum internal perusahaan, jadi dia tidak tahu seberapa heboh gosip para pegawai di belakangnya.Kalau benar ada yang melihat, jangankan besok, malam ini juga forum pasti sudah penuh dengan pembahasan soal Kayden yang







