Compartir

Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda
Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda
Autor: Fitri

Bab 1

Autor: Fitri
Lunara Angkasa tidak pernah membayangkan bahwa pimpinan yang tiba-tiba diturunkan perusahaan adalah ayah biologis putrinya. Seandainya tahu akan bertemu Kayden Narasoma di sini, Lunara tidak akan datang ke perusahaan ini apa pun alasannya.

Dalam beberapa hari terakhir, departemen sudah ramai membicarakan bahwa akan ada pimpinan muda berbakat yang langsung ditempatkan dari pusat. Katanya, pria itu adalah putra keluarga presdir grup perusahaan ini yang terlahir kaya raya.

Setiap pencapaian dalam riwayat hidupnya adalah pencapaian yang tak mungkin dikejar oleh orang-orang biasa seperti mereka.

Pria yang berdiri di ruang rapat itu memasukkan satu tangan ke saku. Setelan jas khusus yang dikenakannya, membuatnya tampak anggun dan berkelas. Tubuhnya tinggi tegap, sisa-sisa kekanakan masa lalu telah diasah menjadi sorot ketajamanan. Meski masih muda, wibawanya terasa mengintimidasi.

Jemarinya yang tegas menggenggam remote, sambil memaparkan isi PPT dengan lancar. Suara yang rendah dan merdu itu bergema di seluruh ruang rapat. Tak seorang pun berani menarik napas terlalu keras, takut kesan pertama di hadapan atasan baru ini terlihat gugup.

Lunara berharap bisa menundukkan kepala sedalam mungkin.

Sayangnya, lantai ruang rapat dipoles hingga mengilap. Bukan hanya tak ada celah untuk bersembunyi, pantulannya malah menyorot jelas wajah Lunara yang canggung dan tertekan.

Lunara memang tahu bahwa perusahaan ini milik Keluarga Narasoma, tetapi dia tidak menyangka Narasoma yang dimaksud adalah milik keluarga Kayden. Jari-jari kaki Lunara menekan lantai, punggungnya basah oleh keringat dingin. Rasa sesak menyeruak ke dadanya.

Sudah tiga tahun. Tiga tahun mereka tidak bertemu, dan tiga tahun pula sejak mereka putus.

"Siapa penanggung jawab proyek ini?"

Dari depan, terdengar suara yang dingin dan berjarak. Tatapan pria itu menyapu seluruh karyawan di bawah, membuat suasana seketika mencekam dan tak seorang pun berani bersuara.

Kayden mengerutkan kening, lalu meninggikan suaranya. "Bahkan proyek yang kalian tangani sendiri juga lupa?"

Rekan kerja di sebelah Lunara berdiri dengan gemetar, suaranya penuh ketakutan. "Pak Kayden, saya yang bertanggung jawab."

Entah hanya perasaannya atau bukan, pada saat Lunara mengangkat kepala, pandangannya seolah bertemu dengan Kayden. Tatapan itu terasa membeku di udara, membuat Lunara lupa bernapas sejenak.

Kayden segera mengalihkan pandangan dan berkata dengan nada kesal, "Bagian-bagian ini perlu diperbaiki. Dengan hasil seperti ini, bagaimana kalian berani mengajukannya?"

Lunara menghela napas lega. Dia pikir, Kayden seharusnya tidak melihatnya. Lunara yang sekarang sudah sangat berbeda dari Lunara tiga tahun lalu.

Dia menundukkan kepala, berusaha meredam keberadaannya. Tatapannya terpaku pada lantai, sampai tiba-tiba Lunara melihat sepasang sepatu kulit mahal yang disemir mengilap berhenti tepat di hadapannya.

Seluruh tubuhnya terasa seolah-olah dilempar ke laut dalam. Air asin yang menyesakkan seolah menelan napas Lunara, membuat tangan dan kakinya mati rasa seketika.

Kayden berdiri di sampingnya.

Rekan kerjanya buru-buru membela diri, "Pak Kayden, ini sudah melalui umpan balik klien ...."

Remote di tangan Kayden dilempar ke atas meja. Dia mengangkat kepala, sorot matanya dingin dan tajam saat menatap rekan Lunara sambil berkata perlahan, "Rencana yang belum matang tetaplah belum matang. Standar kerjamu itu menjadikan klien sebagai tameng?"

"Atau kamu mengira tempat kerja ini arena main rumah-rumahan?"

Tatapan itu sarat penilaian dari posisi yang lebih tinggi. Namun, bukan rekan Lunara yang sedang melapor yang ditatapnya, melainkan ... dirinya.

Semua orang menunduk menatap punggung kaki masing-masing, takut amarah Kayden menjalar ke diri mereka. Lunara menarik napas dalam-dalam. Dia berusaha menenangkan diri.

Kayden melanjutkan, "Perbaiki dulu, baru ajukan lagi."

"Baik, Pak."

Saat semua orang akhirnya menghela napas lega, pandangan Kayden pun tertuju pada Lunara.

Wajah itu tetap cantik seperti dulu, hanya tubuhnya terlihat jauh lebih kurus. Kini dia mengenakan gaun kerja bergaya profesional, rambutnya tersanggul rapi di belakang telinga. Kulitnya masih pucat cerah seperti sebelumnya, tetapi lingkar hitam dan kelelahan di bawah matanya tak bisa disembunyikan.

Tatapannya sama sekali tidak mengarah kepada Kayden.

Kayden menyunggingkan senyum sinis. "Kalau lain kali masih bawa proposal seperti ini, tanggung sendiri akibatnya."

Jari-jarinya yang panjang mengetuk meja di hadapan Lunara. Lunara tahu betul, itu pertanda suasana hatinya sedang sangat buruk.

Sorot mata hitam itu menyimpan emosi yang sulit ditebak. Cukup dengan satu tatapan saja, telapak tangan Lunara sudah basah oleh keringat. Untungnya, Kayden tidak berkata apa-apa lagi dan beralih menanyakan perkembangan proyek lainnya.

Betis Lunara bergetar pelan.

....

Setelah rapat selesai.

Lunara kembali ke meja kerjanya bersama rekan-rekan lain. Setelah duduk dan meneguk setengah gelas air, barulah perasaannya sedikit tenang.

Proyek yang dikritik Kayden juga termasuk proyek kelompok Lunara. Akibatnya, hampir seluruh departemen harus lembur.

Rekan di sebelahnya mengeluh, "Atasan baru pasti mau unjuk taring. Kita ini dijadikan contoh. Lunara, kamu tahu nggak kenapa Pak Kayden berdiri lama sekali di dekat kita? Aku hampir mati ketakutan."

Lunara tertegun sejenak.

Kayden berdiri di dekat mereka, kemungkinan untuk mendengar jawaban rekan kerja dengan lebih jelas. Namun ketika kelompok proyek lain memberikan laporan, dia tetap tidak pergi. Dia terus berdiri di sisi Lunara.

Lunara tidak berani mengangkat kepala. Begitu rapat berakhir, dia segera pergi dengan tergesa-gesa dan tidak berani menoleh sedikit pun.

Melihat sikap Kayden, sepertinya dia memang sudah melupakan masa lalu mereka yang singkat dan kacau itu. Jika tidak, mengapa dia bisa berdiri di samping Lunara begitu saja tanpa bereaksi apa pun.

Hanya ketika sudah tidak peduli, seseorang bisa bersikap setenang itu.

Dulu, Kayden adalah primadona Fakultas Ekonomi Universitas Andara, empat tahun berturut-turut menyandang gelar idola kampus. Kisah cintanya dengan Lunara sempat menghebohkan banyak orang.

Saat itu, banyak yang mengatakan bahwa Lunara menjadikan Kayden simpanan. Lunara menggunakan uang untuk mengikat pria itu, membuat Kayden menjual dirinya demi dia.

Lunara sendiri pernah berpikir begitu. Bagaimanapun, Kayden kala itu tampak seperti mahasiswa miskin. Namun, uang yang diberikan Lunara tidak pernah dia terima.

Hingga hari ulang tahun Kayden tiba, Lunara masuk ke akun aplikasi belanja milik Kayden. DIa berniat melihat barang-barang mahal apa yang dimasukkan Kayden ke keranjang tapi tak pernah dibeli, agar Lunara bisa memesankannya sebagai hadiah.

Namun, Lunara melihat pesan pribadi Kayden dengan orang lain di aplikasi itu. Orang itu memanggil Kayden dengan sebutan mesra, "Kak Kay".

Bahkan berkata bahwa Kayden terlihat bukan tipe orang yang akan menyukai Lunara.

Saat itu, Lunara merasa tercengang, tubuhnya langsung mematung dari ujung rambut hingga ujung kaki. Namun tidak apa-apa. Kayden tidak membalas pesan tersebut, jadi hadiah itu tetap dibeli.

Saat Kayden menerima hadiah itu di pesta ulang tahunnya, dia tidak tampak terkejut atau senang. Dia hanya mengucapkan terima kasih dengan datar. Dengan memanfaatkan waktu ke toilet, Lunara pergi membayar tagihan.

Saat kembali, dia mendengar suara-suara penuh sindiran dari dalam ruang privat.

"Kalau bukan karena Lunara yang nggak tahu malu dan ngotot menempel sama Kak Kay, mana mungkin Kak Kay mau sama perempuan sekampungan seperti itu."

"Benar. Cuma punya sedikit uang saja sudah merasa hebat."

Kayden mengucapkan satu kalimat yang terdengar jelas di telinga Lunara, "Sebenarnya aku juga nggak pernah menganggap Lunara penting."

Tawa riuh orang-orang di sekitarnya menelan sisa ucapannya.

"Sudah kubilang, Kak Kay pasti nggak tertarik sama orang kaya dadakan seperti itu."

Lunara tidak pernah bisa melupakan perasaan saat itu. Dadanya terasa sakit sampai sulit bernapas, tangan dan kakinya mati rasa seperti tersetrum. Kebetulan, saat itu keluarga Lunara juga sedang mengalami masalah. Ayah Lunara, Orion Wikara, kemudian mengirimnya ke luar negeri.

Sekali pergi, tiga tahun telah berlalu.

Tiga tahun kemudian dia kembali. Siapa sangka, atasan yang tiba-tiba ditempatkan di perusahaan ini adalah Kayden?

Bahkan jika dipukuli sampai mati sekalipun, Lunara tidak akan pernah menyangka bahwa Kayden yang dulu harus mengandalkan kerja paruh waktu dan beasiswa hanya untuk makan, ternyata adalah putra tunggal Grup Narasoma.

Namun melihat sikap Kayden barusan, sepertinya Kayden berniat berpura-pura menjadi orang asing baginya.

Ada baiknya juga kalau begitu.

....

Di dalam kantor presiden direktur.

Kayden duduk di sofa kulit asli yang empuk. Jari-jarinya yang panjang dan ramping menggerakkan mouse, dengan mudah memunculkan data seluruh karyawan.

Nama Lunara ada di dalamnya.

Setahun lalu dia sudah bergabung di sini. Dengan riwayat kerja yang cemerlang dan kemampuan profesional yang menonjol, Lunara bukan hanya lolos masa percobaan, tetapi juga bahkan menjadi ketua tim proyek.

Wajah Kayden tampak muram. Buku-buku jarinya mengetuk meja, satu demi satu.

Sekretaris bernama Ignas berdiri di samping sambil mengamati ekspresi atasannya. "Pak Kayden, apakah ada instruksi?"

Kayden mengangkat cangkir kopi di sampingnya dan menyesap dengan sikap anggun, lalu berkata tenang, "Aku baru datang, masih belum familier dengan proyek-proyeknya. Perkenalkan para ketua tim ini padaku."

Ignas langsung mengerti dan mulai memperkenalkan satu per satu. Terakhir, barulah dia menyebut Lunara.

"Bu Lunara masih muda. Dia baru setahun pindah ke kantor pusat, sebelumnya bekerja di divisi luar negeri. Prestasinya sangat baik."

Prestasinya sangat baik?

Sudut bibir Kayden terangkat membentuk senyum dingin.

Putri Keluarga Angkasa yang diingatnya, ternyata bisa merendahkan diri untuk benar-benar bekerja? Sulit dipercaya bahwa pencapaian-pencapaian itu bukan hasil uang Keluarga Angkasa.

Bagaimanapun, Lunara memang suka menggunakan uang untuk mempermalukan orang lain. Dan paling suka pula menghilang tanpa kabar ketika perasaan sedang memuncak.

Melihat Kayden tidak berkata apa-apa, Ignas membaca situasi lalu melanjutkan, “Proyek ini sepenuhnya ditangani Bu Lunara. Dewan direksi juga cukup menaruh harapan padanya.”

Ignas menghela napas pelan.

Sejak masa magang, Lunara sudah berada di bawah bimbingannya. Bisa dibilang, Ignas-lah yang membesarkan Lunara dari nol. Dia sangat menghargai anak muda seperti Lunara yang sedikit bicara, tidak membuat masalah, bekerja terstruktur, dan punya kemampuan nyata.

Karena itu, dia tak kuasa menahan diri untuk menambahkan beberapa kalimat lagi.

"Kalau memang hasil kerjanya kurang baik, Pak Kayden silakan tegur dia. Asalkan beri dia satu kesempatan."

Kayden mengangkat kepala dengan dingin. Kelopak matanya terangkat sedikit, sorot matanya memancarkan hawa dingin yang membuat orang bergidik hanya dengan menatapnya.

Baru setahun kerja, sudah ada orang yang membelanya? Sepertinya Lunara memang masih sama saja, selalu pandai mengendalikan hati orang.

Ignas tidak menyadari perubahan ekspresi Kayden.

Dia menghela napas lagi lalu melanjutkan, "Kondisi keluarga Bu Lunara kurang baik. Ayahnya sudah meninggal, ibunya sakit keras, dan dia masih harus membesarkan seorang anak perempuan yang masih kecil. Anak itu juga kesehatannya kurang baik. Apalagi suaminya juga ...."

Kayden memotong dengan dingin dan melemparkan tatapan tajam. "Ignas, aku membayarmu untuk bekerja, bukan untuk bergosip."

Ignas bergidik ngeri. Setelah berulang kali meminta maaf dan melihat Kayden tidak berniat memperpanjang masalah, dia membungkuk dan keluar dari ruangan.

Untuk saat ini, dia masih belum bisa membaca suasana hati Kayden. Sepertinya, ke depannya dia harus lebih berhati-hati membawa diri.

Ruang kantor itu kembali sunyi.

Kayden mengelap kopi yang tidak sengaja tumpah tadi, lalu menggeser layar dengan mouse. Dia membuka berkas data karyawan Lunara. Foto identitasnya masih foto saat kuliah. Foto yang dulu dia ambil bersama Kayden setelah merengek agar Kayden ikut menemaninya.

Layar digeser ke bawah, ke kolom status pernikahan.

[ Menikah. ]
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda   Bab 138

    Lunara mencari alasan dengan santai.[ Ada dokumen yang nggak ketemu. Terima kasih atas niat baik Pak Kayden, tapi aku nggak mau pakai sumber daya perusahaan. ]Setelah mengirimnya, dia langsung menyimpan ponsel.Setelah makan, Gaia dan Eirene masih membahas soal kesejahteraan perusahaan yang memang bagus. Eirene punya teman yang bekerja di tim sekretaris Kayden. Dia mengeluarkan ponselnya dan berkata pelan, "Para petinggi di grup itu nggak mungkin tiba-tiba sebaik ini. Aku tanya dulu, bos mana yang sebaik ini."Lunara berjalan di samping mereka. Anak Gaia dan Eirene lebih besar beberapa tahun dari Daisy.Ketiga anak itu berjalan di depan, melompat-lompat sepanjang jalan.Tiba-tiba Eirene berseru, "Ini usulan langsung dari Pak Kayden."Gaia menghela napas kagum. "Wajahnya sudah setampan itu, masih perhatian lagi. Kalau kondisiku memungkinkan, aku juga ingin mengejarnya."Eirene penasaran. "Kondisi apa?""Kalau Pak Kayden mau, aku rela rugi sedikit. Sembunyi-sembunyi dari suamiku untuk

  • Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda   Bab 137

    Akhirnya, Lunara segera memutuskan untuk menyewa rumah itu.Melihat rumah sewanya itu tidak ada kulkas, Lunara bertanya pada agen, "Bisa nggak minta tolong untuk dibelikan kulkas?"Kalau pemilik tidak mau, Lunara juga bisa membelinya sendiri. Nanti saat pindah lagi, dia tinggal membawa kulkas itu. Agen itu langsung mengangkat ponsel dan segera menjawab, "Ibu mau ukuran berapa? Tiga pintu model side by side boleh?"Lunara terkejut. Dia buru-buru berkata tidak perlu sebesar itu. Bahkan kalau tidak memungkinkan, kulkas bekas juga tidak masalah. Nanti dia bersihkan sendiri saja sebelum dipakai.Siapa sangka, agen itu berkata dengan antusias, "Pemilik rumah sudah pesan. Besok langsung dipasang."Secepat itu?Lunara sampai terdiam.Pemilik rumah ini bahkan lebih mudah diajak bicara dari yang dia bayangkan.Harganya memang sedikit lebih mahal dari anggaran sebelumnya, tapi masih jauh lebih murah dibanding unit lain di kompleks yang sama. Sampai-sampai Lunara merasa seperti mendapat keberuntun

  • Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda   Bab 136

    Lunara bangun lebih awal. Namun, semalam dia tidur sangat nyenyak. Saat membuka mata, Daisy tidak ada di sampingnya.Lunara refleks menyentuh tempat tidur di sebelah, jantungnya langsung berdegup kencang. Dia benar-benar langsung terbangun sepenuhnya.Bahkan tanpa sempat memakai sandal, dia langsung turun dari tempat tidur untuk mencari Daisy.Akan tetapi, dia melihat Daisy sudah duduk di kursi makan anak di depan meja sambil memegang sendok berbentuk gajah dan menyuap makanan dari mangkuknya sedikit demi sedikit.Kayden duduk di sampingnya. Dia sudah mengenakan pakaian yang dipakainya kemarin. Sambil memegang laptop Lunara, dia menatap layar dengan fokus.Di atas meja sudah tersaji sarapan. Lunara langsung mengenalinya dalam sekilas. Semua makanan itu dibeli dari warung sarapan di dekat rumahnya. Kedua orang itu masing-masing sibuk dengan urusannya, tapi suasananya terasa harmonis.Daisy memegang mangkuk kecilnya sambil makan pangsit kuah. Begitu melihat Lunara, dia tersenyum lebar. "

  • Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda   Bab 135

    Jadi, Lunara pun melemparkan alasan dengan tenang, "Mirip sama ayahnya." Kemudian, dia bersikap seolah tidak ingin membicarakan soal ayah anak itu.Kayden bangkit dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Di sini tidak ada pakaian gantinya. Akhirnya, dia keluar hanya dengan mengenakan jubah mandi milik Lunara.Pakainya dimasukkan ke mesin cuci, setelah bersih lalu dijemur. Besok pagi masih bisa dipakai.Jubah mandi Lunara sebenarnya berukuran besar, tetapi saat dipakai Kayden tetap terlihat sempit. Saat berjalan, dari belahan bawahnya samar-samar terlihat paha pria yang kuat.Tubuhnya tegap, berotot indah, dan memancarkan aura maskulin yang kuat. Ditambah lagi, pria itu seolah sengaja tidak merapatkan bagian atas jubahnya. Otot dada dan perutnya terlihat jelas di mata Lunara.Melihat dia menjemur pakaian lalu berjalan kembali ke kamar tidur, Lunara buru-buru menutup mata dan mematikan lampu. Setelah terbiasa dengan kegelapan, bayangan di depan mata tampak samar.Di antara Kayde

  • Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda   Bab 134

    Dalam sekejap, Kayden menyadari bahwa dia ternyata merasa gugup. Setelah mendengar jawaban gadis kecil itu, jakunnya bergerak. Beberapa saat kemudian dia baru berkata, "Tentu kenal. Tapi aku nggak tahu dia itu pamanmu.""Kamu tahu nggak, kamu ikut nama belakang siapa?"Saat ini, Kayden merasa dirinya seperti iblis yang sedang membujuk anak kecil untuk membocorkan rahasia. Dia sama sekali tidak merasa tindakannya tidak bermoral. Kalau moral benar-benar berguna, dia tidak akan berada di sini sekarang.Di rumah seorang wanita lajang yang tinggal bersama putrinya.Kayden membujuk dengan sabar, "Kalau kamu jawab dengan benar, Om akan ajak kamu ke taman hiburan."Daisy belum pernah ke taman hiburan. Dia juga tidak tahu apakah anak seusianya punya banyak wahana yang bisa dimainkan. Dia hanya tahu bahwa para putri tinggal di taman hiburan. Dia ingin melihat putri.Suara Daisy lembut dan masih sedikit mengantuk, "Aku tahu. Aku ikut marga Kakek. Kakekku itu ayah Mama."Anak kecil tidak bisa memb

  • Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda   Bab 133

    Lebih tepatnya, untuk memastikan apakah di dalam rumah ada pria dewasa.Lunara menenangkan diri dan berdeham pelan. "Aku nggak tahu. Coba kamu buka saja pintunya dan lihat."Kayden tersenyum tipis. Suaranya dinaikkan dan pandangannya tetap tertuju pada Lunara. "Baik."Sambil menghadap ke arah pintu, Kayden berkata, "Siapa itu? Dari tadi ngetuk pintu terus. Sebaiknya kamu memang ada urusan penting."Nada bicaranya tidak ramah. Seperti pria yang kesal karena momen indahnya diganggu. Pria di luar langsung terlonjak menjauh dari pintu, lalu pergi tanpa menoleh lagi.Kayden membuka pintu dan berdiri di ambang sambil melihat ke arah lorong. Tatapannya yang dalam bertemu dengan sepasang mata yang bersembunyi di kegelapan tangga.Saat orang itu melihatnya dan memastikan ada pria dewasa di dalam rumah, dia segera bergegas turun tangga. Suara langkah yang panik terdengar makin lama makin jauh.Pintu ditutup kembali dan dikunci dari dalam. Begitu mendengar suara itu, Lunara langsung terduduk lema

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status