Teilen

Bab 2

Fitri
Seluruh departemen berada di bawah tekanan pimpinan baru yang ditempatkan langsung dari pusat. Semua orang terpaksa lembur dan baru menyelesaikan pekerjaan sekitar pukul sembilan malam.

Terutama para ketua tim proyek yang namanya disebut langsung oleh Kayden. Semuanya menatap layar dengan wajah muram, tidak satu pun berani mengusulkan untuk pulang lebih dulu.

Ponsel Lunara berdering. Telepon itu dari putrinya, Daisy, yang menanyakan kapan dia akan pulang.

Lunara menurunkan suaranya. "Daisy, kamu tidur dulu sama Nenek, ya. Mama pulang agak malam."

Dengan suara cadel khas anak kecil, Daisy menjawab, "Baik, Mama. Mama jangan terlalu capek. Daisy dan Nenek bisa makan lebih sedikit."

Hidung Lunara langsung terasa perih.

Takut emosinya terlihat, dia segera menutup telepon. Namun, hatinya sama sekali tidak bisa tenang. Ucapan polos Daisy terus terngiang di kepalanya.

Lunara mengikuti marga ibunya, sedangkan ayahnya bermarga Wikara. Setelah Orion meninggal, Lunara dan ibunya sepakat membiarkan Daisy memakai marga Wikara karena mereka merindukan Orion.

Tidak ada seorang pun yang tahu bahwa Daisy sebenarnya adalah putri Kayden. Bahkan Kayden sendiri tidak akan pernah punya kesempatan untuk tahu bahwa di dunia ini dia memiliki seorang anak perempuan yang sedarah dengannya.

Tahun ini Daisy baru berusia dua tahun. Sistem imunnya bermasalah dan sejak kecil mudah sakit.

Dokter mengatakan anak ini adalah ditakdirkan hidup mahal karena harus dibesarkan dengan banyak biaya.

Lunara membawa Daisy berobat ke tabib tradisional. Setiap bulan, biaya obat saja sudah mencapai ratusan juta. Namun selama kesehatan putrinya bisa membaik, tidak masalah berapa pun uang yang harus dikeluarkan.

Setelah Keluarga Angkasa bangkrut, Lunara menjual tas, perhiasan, mobil, dan rumah yang dulu dimilikinya, hanya untuk menutup sebagian utang.

Sekarang, ibunya dan Daisy sama-sama harus minum obat. Seluruh keluarga bergantung pada Lunara seorang diri untuk mencari nafkah. Karena itu, meski dia terkejut melihat Kayden dan ingin kabur, meski kakinya gemetar dan hampir tak bisa berdiri, dia tetap tidak boleh kehilangan pekerjaan ini.

Dia butuh uang.

Rekan di meja sebelah melihat Lunara menerima telepon dari Daisy, lalu tersenyum sambil berkata, "Aku benar-benar nggak menyangka kamu masih muda tapi sudah punya anak sebesar itu. Ayah anaknya ke mana?"

Orang-orang di sekitar memang tidak mengangkat kepala, tetapi telinga mereka jelas terpasang untuk menunggu jawaban.

Lunara terkekeh pelan. Dia menyelipkan rambut ke belakang telinga. Gerakan sederhana itu pun terlihat begitu memesona. Dengan enteng dia menjawab, "Kondisinya nggak baik, hanya berbaring di rumah. Setiap bulan harus minum obat."

Seketika, para rekan kerja terdiam.

Mereka tahu putri dan ibu Lunara sama-sama bermasalah dengan kesehatan. Bukankah itu berarti seluruh keluarga sakit-sakitan dan hanya mengandalkan Lunara seorang diri untuk mencari uang?

Lunara benar-benar terlalu kuat.

Setelah gosip itu, tak ada yang bertanya lagi. Semua orang menunduk mengurus pekerjaan masing-masing, berharap bisa segera pulang.

Di luar departemen, sepasang sepatu kulit mengilap berhenti di sana. Seorang pria berjas khusus memegang ponsel. Dari ujung telepon terdengar suara yang mendesak.

"Halo? Kak Kay? Aku sedang bicara denganmu. Ibuku menanyakan apakah akhir pekan ini kamu ada waktu, datang ke rumah kami untuk makan."

Langkah kakinya berbelok. Kayden melangkah cepat masuk ke lift di sampingnya. "Nggak."

"Kalau akhir pekan depan?"

"Nggak juga."

Theron di seberang kehabisan cara. Alasan mengajak makan hanyalah kedok. Yang sebenarnya, ibunya ingin menjodohkan Kayden.

"Kamu baru saja mengambil alih perusahaan tapi sudah sesibuk itu? Waktu makan saja nggak ada? Terakhir kali aku mengajak Lunara makan, dia juga bilang nggak sempat. Orang yang nggak tahu bisa mengira kalian semua sedang mencalonkan diri jadi presiden."

Begitu menyebut nama Lunara, Theron baru sadar dia keceplosan.

Bagaimana bisa dia lupa bahwa orang di seberang sana adalah Kayden, yang pernah menjalin hubungan dengan Lunara?

Theron menggertakkan gigi dan menepuk mulutnya sendiri. 'Mulut sialan.'

Theron dan Lunara adalah sahabat. Sejak kuliah mereka hampir selalu bersama, bahkan sering main gim bareng. Dulu, Kayden sempat mengira ada sesuatu di antara mereka. Dia bahkan diam-diam cemburu dan bersaing.

Belakangan baru dia tahu, Lunara sama sekali tidak pernah memandang Theron sebagai laki-laki.

Suatu kali ketika ada kesempatan main basket, Lunara menghajar Theron habis-habisan. Setelahnya, mereka minum bersama dan Theron berkata, "Lunara itu memang cantik. Siapa yang bisa menahan diri?"

"Temperamennya juga luar biasa. Sedikit saja nggak cocok, langsung main tampar. Kak Kay, dia nggak pernah menamparmu, 'kan?"

Seseorang di sekitar langsung menyahut, "Lunara saja kebelet perlakukan Kak Kay dengan baik. Nampar Kak Kay, katamu? Punya 10 nyawa juga dia nggak bakal berani."

"Benar juga."

Theron baru saja ingin mengalihkan topik, ketika dia mendengar Kayden berkata dengan nada datar, "Keluarga Angkasa bangkrut?"

Theron tertegun sejenak, lalu menggaruk kepala fan menjawab, "Iya, itu sudah beberapa tahun lalu. Kak Kay, Lunara juga sudah menikah. Kamu nggak mungkin masih memikirkannya, 'kan?"

"Mikirin apa? Tanah di timur kota, atau pabrik di utara kota?"

Itu semua adalah proyek yang juga diincar Grup Rastanu, yaitu keluarga Theron. Mendengar hal itu, Theron langsung berhenti bercanda. Semangatnya bangkit seketika. "Kak Kay, kalau kamu makan daging, setidaknya biarkan saudaramu ini kebagian kuahnya."

Kayden menanggapi dengan singkat.

Namun, Theron masih merasa waswas. Sepertinya, ke depannya dia benar-benar tidak boleh lagi menyebut urusan Lunara di hadapan Kayden.

Setelah revisi proyek selesai, hari sudah larut malam.

Lunara mengangkat kepala. Rekan-rekan di sekitarnya sudah pulang. Ruang kantor yang luas kini hanya menyisakan dirinya seorang diri. Dia sudah terbiasa dengan pemandangan seperti ini.

Lunara mematikan komputer dan berdiri, lalu meregangkan leher. Sekalian dia mengecek satu per satu komputer di kantor apakah sudah dimatikan, mendorong semua kursi kembali ke meja masing-masing, barulah berjalan menuju lift.

Gedung perkantoran yang sepi di tengah malam terasa semakin sunyi. Bunyi hak sepatu Lunara memantul di lantai dan menggema berulang kali.

Di belakangnya, terdengar jelas ada langkah kaki lain. Lebih berat, terdengar seperti sepatu kulit.

Di tikungan, Lunara melirik sekilas. Sosok di belakangnya bertubuh tinggi. Posisi rambutnya bahkan lebih tinggi dibanding tinggi Lunara.

Seorang pria.

Meski ada kamera pengawas, Lunara tidak yakin apakah kamera masih aktif di tengah malam. Orang dari departemen lain seharusnya tidak naik ke lantai ini. Tadi dia sudah memastikan, semua orang di departemennya telah pulang.

Jantung Lunara langsung berdegup kencang.

Di tengah musim panas begini, bulu kuduk di lengannya sampai meremang.

Sebelumnya, gedung ini pernah diberitakan ada karyawan yang pulang larut malam dan bertemu orang mesum. Setelah itu, grup perusahaan menetapkan aturan lembur sebaiknya tidak lewat pukul 12 malam.

Hari ini, Lunara lembur sampai pukul 01.30.

Tidak mungkin dia sesial ini, 'kan?

Dengan pikiran kacau, Lunara gemetar mengeluarkan ponsel. Sambil pura-pura menelepon seseorang, dia sengaja meninggikan suara. "Halo, Sayang, kamu sudah sampai mana? Aku sudah pulang kerja. Cepat jemput aku, ya. Aku sudah sangat mengantuk."

"Kamu sudah hampir sampai? Baik, aku tunggu, ya."

Entah hanya perasaannya atau bukan, setelah panggilan itu berakhir, suara langkah kaki yang terus membuntutinya benar-benar berhenti. Lunara menghela napas lega, lalu berlari masuk ke dalam lift dan menekan tombol lantai satu dengan tangan gemetar.

Layar ponselnya masih menyala. Angka 188 terpampang jelas di sana, lalu layar kembali gelap.

Lift mulai turun.

Di koridor, orang yang tadi mengikuti berbelok masuk ke pintu darurat. Di sudut yang remang, nyala korek api menyala sekejap. Asap rokok perlahan membubung, menyelimuti wajah Kayden hingga raut matanya tampak samar dan suram.

Beberapa saat kemudian, rokok itu terbakar sampai ke ujung. Panasnya menyentuh kulit. Kayden menepiskan abu rokok dengan santai, barulah sedikit kesadarannya kembali.

Melihat lampu di lantai ini masih menyala, dia sekadar mampir untuk melihat-lihat. Tak disangka, orang yang lembur ternyata Lunara. Sepertinya, demi menghidupi suami yang sakit-sakitan itu, Luanra memang cukup berusaha keras.

Kayden mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan kepada Ignas.

[ Sebarkan pemberitahuan. Mulai sekarang, lembur lewat pukul 12 malam tidak dihitung sebagai lembur berbayar. ]

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda   Bab 360

    Di padang rumput, angin musim dingin bertiup kencang. Wajah Lunara terasa sedikit dingin diterpa angin.Kayden menuntun kudanya berjalan kembali dengan santai.Musim dingin di Kota Andara sudah berkali-kali mereka lalui bersama. Sejak masa kuliah hingga lulus, mereka selalu ada di sisi masing-masing.Lunara menyandarkan wajahnya di dada Kayden. Di dalam, Kayden hanya mengenakan sweter kasmir tipis. Angin justru menembus masuk, tidak benar-benar menghangatkan.Namun, suara detak jantungnya terdengar jelas dan kuat di telinga Lunara. Lunara berpikir, untuk hal-hal di masa depan, biarlah dipikirkan nanti.Dia tidak bisa menjamin sampai kapan hubungannya dengan Kayden akan bertahan. Hati manusia bisa berubah, waktu terus berjalan, dunia pun berubah. Mungkin suatu hari nanti, mereka juga akan saling membenci.Namun, itu semua masih belum pasti.Dulu karena takut akan perubahan dan bayang-bayang masa lalu, dia sempat tidak bisa menerima Kayden. Namun saat ini, dia percaya pada perasaan yang

  • Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda   Bab 359

    Api dalam hatinya mulai menyala sejak anak panah Lunara tadi dilepaskan. Selama belum melihatnya, api itu tidak akan padam.Silvar memukul satu bola golf. Tatapannya pada Alfie juga mengandung sedikit sikap meremehkan. Tidak berkata apa-apa, tetapi tatapan itu saja sudah membuat Alfie tidak nyaman.Beberapa orang ini jelas sengaja mempersulitnya hari ini! Masalahnya, tidak ada satu pun dari mereka yang bisa dia lawan, apalagi jumlahnya lebih dari satu.Alfie menarik napas dalam-dalam, lalu berbalik pergi. Saat pergi, dia menendang tong sampah. Namun, tong itu terbuat dari bahan khusus dan keras luar biasa. Begitu ditendang, rasa sakitnya membuat Alfie meringis.Sial! Bahkan tong sampah pun seperti menindasnya!Di padang rumput, tiga orang masih menunggang kuda. Tak jauh di depan, Kayden maju, lalu mengulurkan tangan dan menarik tali kekang kuda Lunara."Mau naik bareng?""Di kandang bukannya masih ada kuda lain? Kamu naik saja sendiri."Kuda Kayden adalah kuda hitam pekat, sebelumnya s

  • Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda   Bab 358

    Untuk sesaat, seluruh area menjadi sunyi senyap. Hanya terdengar suara angin yang berdesir dan derap kaki kuda.Lunara mengenakan pakaian berkuda berwarna cokelat, tampak gagah dan rapi. Rambut hitamnya terbawa angin dan menutupi wajahnya, menghalangi pandangannya. Dia pun menyibakkannya dengan tangan.Dia menunggang kuda merah kecokelatan itu ke depan. Seseorang sudah mengambil rangkaian bunga itu dan menyerahkannya kepada Lunara.Saat Lunara menoleh, Casya langsung berteriak kegirangan, "Kak Luna! Keren banget!"Memanah sambil menunggang kuda, bahkan langsung mengenai sasaran. Di mata Casya, momen itu seperti melihat bidadari turun dari langit!Rumput di padang seakan-akan ikut bersorak untuk Lunara, angin bertiup lembut. Cahaya di mata Casya juga bersinar terang.Lunara tersenyum malu, lalu menyerahkan bunga di tangannya kepada Casya."Waktu kecil aku pernah belajar. Aku punya kuda yang dipelihara di padang rumput. Setiap tahun ayahku akan membawaku ke sana untuk berkuda. Memanah sa

  • Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda   Bab 357

    Perempuan yang pernah dia tembak tidak kurang dari lima orang. Kalau melihat platform media sosial lainnya, hanya dari jumlah like yang dia berikan pada para streamer tari erotis lokal saja sudah tidak terhitung.Casya mengambil semua tangkapan layar itu dan mengirimkannya kepada Zafran. Sang kakek tidak merespons apa-apa soal itu, hanya berkata karena sudah dalam perjalanan, tidak apa-apa tetap bertemu, setidaknya tetap harus menjaga hubungan di permukaan.Casya memang datang, tetapi semakin melihat Alfie, dia semakin kesal."Kak Silvar, temani aku berkuda.""Kamu duluan saja, nanti aku nyusul. Atau ajak kakak iparmu sekalian?"Casya menoleh, melihat Lunara yang sedang berbicara dengan Kayden. Mendengar itu, dia mengangkat alis, lalu berlari menghampiri dan menggandeng tangan Lunara, mengajaknya berkuda bersama.Waktu kecil, Orion pernah membelikan Lunara seekor kuda kecil berwarna merah kecokelatan yang sangat imut. Sudah bertahun-tahun tidak berkuda, Lunara pun jadi tertarik."Kak,

  • Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda   Bab 356

    Di samping lapangan golf, ada sebuah arena panahan. Silvar menyerahkan sebuah busur kepada Kayden, lalu mengambil busur di sampingnya.Setelah memasang anak panah, dia melepaskannya. Di layar elektronik langsung muncul sepuluh poin.Kayden juga memasang anak panah. Untuk sesaat, tidak ada yang berbicara di arena.Setelah satu ronde selesai, Silvar mengelus bahunya, lalu menoleh ke belakang, melihat Alfie yang masih berdiri dengan kepala tertunduk.Silvar mengernyit, wajahnya penuh ketidaksabaran. Dia menatap Alfie dengan jijik. "Kenapa kamu belum pergi? Sudahlah. Kamu pikir dengan datang minta maaf saja, masalah ini langsung selesai?"Wajah Alfie menjadi muram. "Silvar, kita semua teman. Lagi pula, Martin itu adikku. Aku yakin kalau keluargamu mengalami hal seperti ini, sebagai kakak, kamu pasti nggak akan tinggal diam."Silvar menyelipkan rokok di mulutnya. Mendengar itu, dia tersenyum. Ujung rokok tergigit di antara giginya, membuat bentuknya sedikit berubah."Maaf ya, aku anak tungg

  • Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda   Bab 355

    Suaranya sedikit bergetar saat berbicara. Tangan yang menggenggam Lunara juga terasa semakin kuat. Suaranya tersendat.Dulu saat muda, dia lemah dan tidak mampu melindungi anaknya sendiri. Kayden tidak memiliki masa kecil yang baik. Tidak ada yang benar-benar merawatnya dengan baik saat dia kecil.Hati Saphira terasa sakit.Lunara membiarkan dirinya digenggam, sambil menenangkan emosinya, "Ibu, aku mengerti."Casya juga mendekat dan memeluk lengan Saphira. "Tante, ibuku bilang tahun ini ingin pulang waktu tahun baru nanti."Perhatian Saphira langsung teralihkan."Benarkah? Tapi kakekmu pasti nggak akan setuju.""Aku sudah bicara sama Kakak, dia bilang akan cari cara."Kayden memang tidak menolak jika Shaka dan Floryn keluar dari tempat mereka selama ini."Nanti aku juga akan diskusikan sama kakakmu."....Di perjalanan pulang, Saphira teringat apa yang tadi dikatakan Casya."Kayden, kamu benar-benar mau membiarkan Om Shaka dan Tante Floryn keluar untuk tahun baru?""Ya, sebentar lagi t

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status