Share

Bab 517

Penulis: Fitri
Pipa AC di koridor perusahaan sedang diperbaiki. Semalam entah dari mana masuk serombongan kucing liar ke dalam saluran pipa. Induk kucing itu baru saja melahirkan, lalu para pekerja mengeluarkannya dari dalam saluran.

Sekarang mereka dipelihara di pos keamanan. Katanya nanti kalau sudah besar akan dibiarkan tinggal di pabrik untuk menangkap tikus.

Mereka sekalian membersihkan saluran pipa. Karena tidak ada AC untuk sementara, jendela di koridor pun terbuka, jadi sangat dingin.

Elina menerima te
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda   Bab 953

    Akan tetapi, sekarang dia menyadari bahwa selama ini sepertinya ada banyak hal yang selalu dia abaikan."Kenapa aku harus minta maaf? Dia bukan istriku. Itu istrimu sendiri, ya kamu yang bujuk.""Kamu bicara apa sih? Sepertinya selama ini kami benar-benar terlalu manjain kamu! Memangnya kamu bilang apa lagi sama ibumu sampai bikin dia marah begini?""Nggak ada. Aku tutup. Aku nggak akan pulang."Setelah mengatakan itu, Silvar langsung memutus panggilan.Ayahnya kembali menelepon beberapa kali, tetapi tidak satu pun dia angkat.Silvar sudah memutuskan untuk tidak memedulikannya. Dia menyalakan sebatang rokok di dalam mobil. Sebenarnya belakangan ini dia sudah berhenti merokok. Namun sekarang, rasa kesal di dalam hatinya seperti menyesaki dada hingga membuatnya sulit bernapas.Setelah menghabiskan sebatang rokok, barulah Silvar menyalakan mobil dan pulang.....Beberapa hari kemudian, Lunara melangkah masuk ke àl'aube dengan sepatu hak tinggi. Orang-orang di perusahaan terkejut sekaligus

  • Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda   Bab 952

    Silvar sendiri tidak tahu bagaimana dia bisa menuruni gunung dengan langkah sempoyongan.Setelah dia pergi, lampu kuil dipadamkan dan pintunya ditutup. Tidak ada penerangan di gunung, tetapi anak tangga batu membentang hingga ke kaki gunung. Selama mengikuti anak tangga itu, dia akan sampai di bawah.Silvar duduk di dalam mobil dan berusaha menenangkan napasnya.Sebenarnya, kedatangannya kali ini telah menjawab sebagian keraguan dan kebingungan yang selama ini mengganjal di hatinya.Mungkin karena dia sendiri berada di tengah-tengah semua itu, justru banyak kebenaran yang selama ini tidak mampu dia lihat dengan jelas.Telepon dari ibunya masuk. Nada dering menggema di dalam mobil. Silvar tersadar dari lamunannya. Dia menatap layar ponsel, lalu menerima panggilan itu."Silvar, kamu pergi ke mana? Tadi kita sedang makan baik-baik, kenapa tiba-tiba kamu pergi di tengah acara? Menurutmu teman-teman Ibu akan memandang Ibu seperti apa?"Silvar mengangkat tangan dan memijat keningnya. Pelipis

  • Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda   Bab 951

    Hanya keluarga mereka yang berbeda. Dari tiga bersaudara, tidak ada satu pun yang sudah menikah. Bahkan sekarang, ketiganya sama-sama lajang.Ibu Silvar terus mendesak mereka agar segera menikah, tetapi sampai sekarang tidak pernah ada kelanjutannya.Dulu Silvar mengira itu hanya karena mereka belum menemukan seseorang yang benar-benar membuat mereka jatuh hati dan ingin menikah.Namun, setelah dipikir-pikir lagi sekarang. Sikap ibunya terhadap pernikahan anak-anaknya memang selalu terasa aneh. Dia sering mengatakan kepada mereka, "Jangan terlalu pemilih. Meskipun kalian semua punya kondisi yang sangat baik, pernikahan bukan transaksi jual beli di pasar.""Selama kalian menyukainya, bawa pulang saja. Keluarga nggak akan mempermasalahkannya, apa pun yang terjadi."Sebelumnya, kakak laki-laki dan kakak perempuan Silvar juga pernah membawa pasangan mereka pulang untuk diperkenalkan kepada keluarga. Namun pada akhirnya, hubungan mereka semua kandas begitu saja.Silvar merasa sangat bingung

  • Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda   Bab 950

    Saat mengingat kejadian hari ini, reaksi pertama Silvar ternyata adalah datang ke tempat ini. Dia ingin tahu apakah masalah ini masih memiliki jalan keluar.Namun, setelah mendengar perkataan pendeta tua itu, perasaan Silvar menjadi sangat rumit.Tentu saja dia sudah mengerti bahwa semua ini bersumber dari ibunya. Namun, dia masih tidak mengerti sebenarnya apa masalah yang ada pada ibunya."Maksud Guru, sekalipun orang yang bersamaku bukan Elina, ibuku tetap akan mencari segala cara untuk memisahkan kami?""Benar. Ini adalah proses yang memang harus Pak Silvar lalui dalam urusan percintaan."Silvar menjilat bibirnya yang kering. Dia mengangkat cangkir teh di hadapannya dan langsung meneguknya sampai habis. Teh yang sangat pahit itu mengalir masuk ke perutnya, membuatnya merasakan kepahitan hingga ke dasar hati.Seolah-olah secangkir teh itu begitu pahit sampai rasanya meresap ke dalam hatinya.Setiap kali teringat perkataan ibunya kepada Elina, juga sikapnya sendiri yang refleks membel

  • Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda   Bab 949

    Namun, dalam hati dia tetap menggerutu. Sudah selarut ini, jalan menuju gunung juga semakin sulit dilalui. Kenapa masih ada orang yang naik pada jam seperti ini?Saat itu.Di tangga di bawah sana, muncul cahaya senter. Sorotannya yang terang menyapu permukaan jalan hingga membuat mata pendeta muda itu silau.Mata pendeta muda itu langsung membelalak."Guru, sepertinya orang yang Guru tunggu sudah naik!""Ya, biarkan dia kemari."Orang yang sedang mendaki gunung itu terlihat sangat terburu-buru.Hampir setiap langkahnya melewati tiga anak tangga sekaligus, seolah ingin berlari menaiki deretan tangga panjang itu.Begitu sampai di depan pintu, dia terengah-engah. Keringat deras terus menetes dari dahinya.Pendeta kecil itu menunjuk ke dalam."Guru sudah menunggumu sejak bangun pagi. Akhirnya kamu datang juga."Silvar terengah-engah. Dia merasa dadanya sangat sesak. Tadi dia naik terlalu terburu-buru hingga rasanya seluruh udara di paru-parunya sudah terkuras habis. Dia tidak sempat memedu

  • Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda   Bab 948

    Keesokan harinya, saat cahaya pagi baru menyingsing.Kayden pergi ke gunung seorang diri. Pakainya yang rapi dan berkualitas sudah dibasahi embun. Namun, dia tidak berhenti dan terus melangkah cepat mendaki gunung. Tepat ketika kuil baru membuka pintunya, dia menjadi orang pertama yang masuk.Seorang pendeta muda melihat kedatangannya dan merapatkan kedua telapak tangan di depan dada."Pak Kayden, Guru bilang Anda akan datang. Beliau sudah menunggu."Kayden mengangguk kecil. Dia mengikuti pendeta muda itu masuk. Pendeta tua sedang duduk di bawah pohon dengan senyum ramah dan wajah penuh kebajikan."Pak Kayden, sepertinya keinginan Anda sudah terkabul. Selamat.""Terima kasih. Kali ini aku datang untuk meminta jimat keselamatan bagi anakku yang baru lahir."Pendeta tua mengambil sebuah kantong kecil berwarna biru yang berada di sampingnya."Sudah disiapkan sejak lama. Pak Kayden nggak perlu khawatir."Kayden duduk di sampingnya."Bagaimana Guru tahu aku akan datang?"Pendeta tua mengelu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status