MasukFrans tidak ingin memedulikan pihak dewan direksi. Orang-orang tua itu hanya pintar mengkritik setelah semuanya terjadi. Sekarang mereka menyalahkannya pun tidak akan ada gunanya.Casya masih terlalu muda. Selain memiliki bakat dalam desain, di mata Frans, dia tidak punya kemampuan lain.Bahkan negosiasi bisnis yang sederhana pun bisa gagal hanya karena sifatnya yang manja sebagai putri keluarga kaya.Sedangkan bakat desain ... di mata Frans itu adalah sesuatu yang terlalu abstrak.Dia menyalakan sebatang rokok, lalu menginstruksi dengan suara berat, "Keluarkan uang lagi untuk pemasaran. Aku nggak percaya ada emas yang nggak bisa laku kalau dipromosikan dengan benar."Masalahnya hanya karena promosi mereka belum cukup gencar.Asistennya berkata dengan hati-hati, "Kita sudah mengeluarkan dana pemasaran yang sangat besar. Jumlahnya bahkan sudah melampaui anggaran proyek yang direncanakan. Takutnya orang di kantor pusat akan marah ...."Sebagai kapal raksasa, keuntungan tahunan Grup Naras
Casya sedang memilih dengan berani untuk melangkah ke dalam pernikahan. Itu bukan karena gegabah sesaat.Casya pun mencari alasan. "Ibunya bilang kondisi kakeknya sudah kritis dan nggak ingin kakeknya meninggalkan dunia dengan penyesalan.""Aku berpikir, kalau ibuku sakit parah dan ingin melihatku menikah, aku juga pasti akan memenuhi keinginannya."Dengan menempatkan dirinya di posisi orang lain, Casya bisa memahami perasaan seperti itu.Namun, Lunara tidak bersimpati soal itu. Dia langsung membongkar isi hati Casya. "Kamu ini nggak ingin kakeknya menyesal atau nggak tega lihat Eston hidup dalam penyesalan?"Casya langsung terbata-bata. Bahkan puzzle yang sedang dipegangnya pun dipasang di tempat yang salah.Daisy segera mengoreksinya. "Tante, salah. Potongan puzzle ini bukan di sini!"Casya menunduk melihatnya. Ternyata dia memang memaksa memasukkan kepingan puzzle yang bentuknya tidak cocok ke tempat yang salah.Dia mengeluarkannya lagi, lalu mencari cukup lama sebelum akhirnya mene
Ruangan itu menjadi sunyi. Mereka berdua hanya duduk diam.Untuk sesaat, tak satu pun tahu harus berkata apa.Eston bangkit, lalu duduk di samping Casya. Dengan suara pelan, dia berkata, "Kalau telepon dari ibuku membuatmu merasa tertekan ... aku minta maaf atas namanya."Casya menggigit ujung kukunya. Dia teringat, beberapa hari yang lalu dia baru menghabiskan waktu berjam-jam di salon kuku. Kalau bentuk kukunya rusak karena digigit, pasti tidak akan terlihat cantik lagi. Dia pun menurunkan tangannya.Namun setelah itu, dia malah tidak tahu harus meletakkan tangannya di mana. "Bukan salah Tante. Anggap saja begini ... kalau aku nggak menikah denganmu, aku juga nggak ingin pacaran denganmu."Eston memejamkan mata. Dia menghela napas pelan sambil tersenyum tak berdaya. "Casya ... pernikahan bukanlah sebuah proyek. Kalau proyek yang kamu kerjakan, tentu kamu ingin mulai mengerjakannya setelah kontraknya ditandatangani.""Tapi pernikahan berbeda."Dia menggenggam tangan Casya. Tangan itu
Begitu pula dalam urusan perasaan. Kalau seseorang tidak benar-benar menjadi miliknya, dia tidak menginginkannya.Meski hanya secara hukum, itu tetap merupakan sebuah bukti bahwa mulai saat itu, orang itu adalah miliknya.Casya melanjutkan, "Waktu itu Kakak menyuruhku jangan buat keributan. Aku juga tahu, kami memang nggak punya kesempatan untuk melawan."Sekalipun mereka melawan, tetap tidak akan ada yang membela mereka. Bagaimanapun juga, yang menghasilkan keuntungan adalah Grup Narasoma.Mereka sudah dianggap sangat beruntung karena seorang mahasiswa yang bahkan belum lulus dan bukan berasal dari jurusan desain perhiasan masih diberi kesempatan masuk ke divisi desain.Kalau masih menginginkan hak pencantuman nama, itu benar-benar hanya mimpi di siang bolong.Casya memeluk lengan Alden sambil bermanja. "Kak ... mengalah sedikit ya."Hati Alden langsung melunak. Dengan nada kesal karena sayang, dia berkata, "Bukannya dulu kamu bilang menikah itu ujung-ujungnya buat cerai?""Ya. Makany
Mereka berdua duduk berhadapan dengan Alden. Usia Alden memang beberapa tahun lebih muda daripada Eston. Namun, dalam situasi seperti ini, dialah pihak keluarga.Aura yang dipancarkannya justru terasa lebih berwibawa daripada Eston.Alden memasang wajah serius. "Eston, kamu tahu hari ini adikku mau mengajakmu ke mana?"Eston menoleh. Tatapannya bertemu dengan mata Casya yang berbinar. Dia mengeluarkan sarapan yang sedari tadi disimpannya di saku, lalu menyerahkannya kepada Casya."Makan dulu."Kemudian, dia menoleh kepada Alden. "Nggak tahu. Tapi aku punya beberapa perkiraan. Di Kota Andara, perpustakaan, museum, dan beberapa pameran seni memang mengharuskan pengunjung bawa kartu identitas."Alden sama sekali tidak percaya. "Kamu bahkan nggak bertanya dulu, tapi sudah langsung ikut pergi dengannya?"Di mata Alden sekarang, Eston hanyalah seorang pria tua yang telah mempermainkan perasaan Casya. Tatapannya kepada Eston penuh kewaspadaan dan ketidaksukaan.Casya menundukkan kepala sambil
Casya langsung melonjak bangun dari tempat tidur. Di ponselnya, ada pesan dari Eston.Dia mengatakan rapatnya sudah selesai dan sekarang sedang menunggu Casya di depan kompleks perumahannya. Pesan itu dikirim setengah jam yang lalu.Eston tahu Casya punya kebiasaan sulit diajak bicara begitu baru bangun tidur, jadi dia tidak mengganggunya.Justru hal seperti itulah yang diam-diam sangat disukai Casya.Dia bergegas masuk ke kamar mandi. Setelah mandi dan bersiap-siap, dia kembali ke kamar, membuka lemari pakaian, lalu mengambil satu setel baju.Dia mengangkatnya untuk diperlihatkan. "Kak, yang ini bagus nggak?"Gaun putih dengan bordiran hati berwarna merah di bagian kerah. Memang cantik.Namun, Alden melihatnya dengan tatapan aneh. "Bagus sih. Tapi terlalu putih. Kesannya seperti orang yang mau pergi daftar nikah."Casya langsung tersenyum puas. "Kakak nggak ngerti."Memang itu hasil yang dia inginkan. Dia membawa gaun itu ke kamar mandi untuk berganti pakaian.Setelah itu, Casya memil







