登入Setelah dipakai sekarang, memang terbukti sangat cepat.Begitu rambut Elina benar-benar kering, Silvar menyimpan pengering rambut itu. Baru kemudian, telapak tangannya menyentuh tengkuk Elina.Dia memberi sedikit tekanan, tetapi tidak sampai membuat Elina merasa tidak nyaman. Elina pun menatapnya dengan bingung. "Ada apa?"Baru saja selesai mandi, matanya masih tampak basah berkilau. Di punggungnya juga masih ada bekas tetesan air dari rambutnya.Suara Silvar terdengar agak serak. "Waktu kamu mandi, ada orang bernama Richie telepon kamu. Aku yang angkat.""Oh. Dia bilang apa?"Silvar menatap Elina, seolah-olah ingin mencari emosi lain di wajahnya. "Dia bahas soal pabrik. Katanya besok kamu dan Kak Luna bisa datang lihat, lalu tanda tangan kontrak."Silvar bertanya, "Kenapa nggak mau pabrik milikku, tapi milih punya orang lain?"Pabrik miliknya memang awalnya juga hendak dijual. Namun, Elina lebih memilih milik orang lain daripada miliknya. Apa membeli pabrik darinya akan membuat Elina
Setelah makan malam, Richie mengantar Elina pulang dengan mobilnya.Di perjalanan pulang, hujan turun. Di Kota Andara jarang hujan, tetapi sekali turun, pasti deras mengguyur tanpa ampun.Richie menyerahkan mantel panjangnya kepada Elina. "Pakai ini buat berteduh. Aku nggak punya payung di mobil."Elina baru saja hendak berkata tidak perlu, mantel itu sudah diselipkan ke tangannya. Kemudian, mobil Richie menghilang di balik tirai hujan.Elina memegang mantel itu dan sesaat terdiam. Besok saja dia kembalikan saat menandatangani kontrak.Sambil memikirkan itu, Elina tidak berani menaruh mantel itu di atas kepalanya. Dia berlari menerobos hujan menuju apartemennya dan masuk ke gedung.Namun tak disangka, lampu rumahnya menyala. Saat membuka pintu, Silvar sedang duduk di sofa tunggal miliknya. Dengan kacamata berbingkai emas di wajahnya, dia menunduk menatap laptop yang berada di pangkuannya.Sejak datang ke sini sebelumnya, Elina sudah memberikan kode akses rumahnya kepada Silvar. Sesekal
Hal itulah yang membuat Casya merasa janggal. Belum lagi cara Richie memandang Elina, yang membuat orang merasa geli sekaligus tidak nyaman.Saat mengikuti Sarah di pegunungan dulu, Casya pernah melihat biji tanaman liar yang mudah menempel di pakaian. Sekali menempel, susah sekali dilepaskan. Richie memberinya kesan yang sama."Menurutmu, aku perlu telepon Kak Silvar nggak?" tanya Casya.Sarah juga tidak yakin. "Tapi ini 'kan cuma urusan pekerjaan. Kalau kamu bilang ke Pak Silvar, terus dia salah paham, gimana?"Setelah dipikir-pikir, Casya merasa itu masuk akal. "Elina juga bukan orang bodoh. Nanti malam aku hubungi dia lagi. Kalau sampai larut malam dia belum pulang, baru aku suruh Kak Silvar jemput dia."Casya memutar setir. "Mau makan apa? Mau sekalian ajak adikmu nggak?""Makan apa saja boleh. Setelah kelas tambahan, adikku masih ada bimbingan belajar, nggak sempat ikut." Begitu memikirkan adiknya, rasa lelah Sarah berkurang banyak.Mereka semua berpendidikan tinggi. Namun anehny
Orang yang menelepon Elina adalah rekan kerja sama yang pernah makan bersama mereka sebelumnya. Richie.Di saat seperti ini, bisa langsung menemukan sebuah pabrik dengan peralatan yang sesuai jelas merupakan kejutan yang menyenangkan."Ada peralatannya?""Tersedia mesin ukir CNC, mesin pengecoran vakum, dan mesin pengecoran sentrifugal. Hanya saja skalanya nggak terlalu besar, begitu juga pabriknya. Dulu tempat ini direncanakan untuk bangun merek independen, tapi akhirnya nggak berhasil."Richie berbicara terus terang, "Kamu juga tahu sendiri, peralatan kami memang nggak bisa dibandingkan dengan milik merek kalian. Tapi kalau untuk dipakai sementara, sudah lebih dari cukup. Soal harga juga masih bisa dibicarakan."Elina langsung berdiri dari tempat duduknya. Matanya seketika berbinar-binar. "Di mana alamatnya? Apa kami bisa langsung datang untuk melihat sekarang?"Richie menyebutkan sebuah alamat.Begitu Elina memberi tahu dua orang di sampingnya, ekspresi gembira langsung muncul di wa
Tamara yang berdiri di samping berkata dengan hati-hati, "Kalau begitu ... bisa nggak kami tetap tinggal di sini? Elina, Ibu sudah tinggal di sini seumur hidup. Pasti akan sulit untuk beradaptasi jika harus pindah ke tempat lain."Elina menjawab tanpa ragu, "Nggak bisa. Aku sudah siapkan apartemen tiga kamar untuk kalian. Kalau mau tinggal, silakan. Kalau nggak mau, cari cara lain sendiri. Vila itu sudah kujual. Kalian harus pindah secepatnya."Apa yang baru saja dia katakan? Dia menjual vila ini? Tamara refleks ingin memakinya, tetapi segera dihentikan oleh Sutan.Setelah menutup telepon, Sutan memandang Tamara. "Kamu nggak sadar sifat Elina sebenarnya mirip kakeknya? Selama ini dia cuma pura-pura patuh di rumah!""Kalau kamu benar-benar buat dia marah, jangankan apartemen tiga kamar, tempat tinggal pun belum tentu dia kasih!""Untuk sekarang kita ngalah dulu. Cari cara untuk keluarkan Alfie terlebih dulu. Soal lainnya, nanti kita pikirkan lagi."Sutan menyalakan sebatang rokok. Di da
Di seberang telepon, tangisan Sutan terdengar begitu memilukan. Alfie telah menjual seluruh saham miliknya secara diam-diam. Bahkan saham milik Tamara dan Sutan pun dijual olehnya.Semua itu dilakukan untuk menutup kerugian. Pabrik-pabrik yang berada di bawah kendalinya menyimpan terlalu banyak rahasia yang tidak boleh diketahui publik.Setelah bersusah payah menutup semua lubang dan masalah, Alfie mengira Keluarga Sankara tetap akan terus berjaya, meskipun dirinya jatuh. Siapa sangka, kehancuran Keluarga Sankara dan kebangkrutannya sendiri akan datang secara beruntun.Sutan bahkan tidak memiliki waktu untuk mencerna semuanya. Sambil menangis tersedu-sedu, dia berkata, "Elina! Tolong bantu keluarga kita!"Semalam Elina tidak tidur. Dia dan Casya berkeliling mencari pabrik yang bisa memberikan bantuan kepada mereka untuk sementara ini.Namun, seperti yang dikatakan Casya sebelumnya, jumlahnya sangat sedikit. Hanya merek-merek besar yang memiliki kemampuan seperti itu.Casya dan para pem







