LOGINMenjelang berlangsungnya pameran perhiasan Keluarga Narasoma, Lunara menerima sebuah telepon.Saat mengangkatnya dan mendengar suara di seberang sana, Lunara sempat tidak bereaksi."Lunara, ini Moana. Aku ingin bertemu denganmu. Perusahaanmu juga ikut pameran perhiasan kali ini, 'kan? Kalau kamu nggak datang, kamu pasti akan nyesal."Jantung Lunara langsung menegang.Moana sudah lebih dulu menutup telepon.Lunara memegang ponsel dan berdiri di dalam pabrik. Awalnya dia tidak berniat memedulikan telepon Moana dan menganggapnya cuma lelucon.Namun beberapa saat kemudian, dia menerima pesan baru. Begitu dibuka, itu foto seorang pria dengan tahi lalat di dagu yang dikirim Moana.Lunara pun mengernyit dan memanggil Aaron. "Apa ini pria yang sebelumnya menghubungimu?"Aaron menjulurkan kepala ingin melihat lebih jelas, tetapi teringat tangannya masih penuh oli dari perawatan mesin, dia buru-buru mengusap tangan ke bajunya dan menarik diri kembali."Ya, dia! Dia orangnya! Beberapa hari ini ak
Tulang pipi dan garis rahangnya sangat tegas.Dulu saat bosan, Lunara pernah ikut neneknya membaca beberapa buku. Dia tahu wajah seperti Kayden menandakan hubungan dengan orang tua di masa muda tidak terlalu harmonis. Meskipun lahir di keluarga kaya, dia tetap harus melewati banyak kesulitan.Hubungan dengan saudara juga kurang baik, para orang tua di keluarga sangat dominan, dan sejak kecil dia tidak terlalu dimanja.Hanya bagian pernikahannya yang sangat baik. Hubungan suami istrinya harmonis dan dia akan mendapatkan banyak kasih sayang dari istrinya.Sifat lembut hatinya juga terlihat jelas di wajahnya.Hati Lunara ikut menghangat. Dia mendekat ke arah Kayden, hampir seluruh tubuhnya masuk ke mantel pria itu.Kayden menunduk menatapnya. Di matanya penuh kelembutan dan senyuman hangat. "Dingin?""Bukan. Aku cuma penasaran, kenapa Om Hardi begitu menoleransi mantan istrinya?"Toleransi Hardi terhadap Fresia sudah bisa dibilang berlebihan. Mulai dari dulu saat Fresia berselingkuh dan p
Lunara menoleh. Tatapannya langsung bertemu dengan mata Kayden yang dalam dan gelap.Tubuhnya masih membawa hawa dingin dari luar. Dia berdiri di sana seperti patung. Di lengannya tersampir mantel yang tadi siang dipilihkan Lunara untuknya.Begitu tahu Fresia datang, Eden buru-buru menyusul ke sini. Saat sampai di depan pintu, dia melihat Kayden yang terus berdiri di sana tanpa masuk. Baru saja melangkah masuk, dia mendengar Lunara mempertanyakan apakah dulu Fresia pernah memikirkan anak-anaknya.Dia menutup pintu, menahan hawa dingin di luar sana, sambil mengulang-ulang kalimat itu dalam benaknya. Namun, wajahnya tidak menunjukkan perubahan apa pun."Kenapa nggak masuk?"Kayden menggumam pelan, "Aku baru sampai."Dia melangkah masuk dengan kaki panjangnya, menyerahkan mantel kepada pelayan, lalu duduk di sebelah Lunara dengan santai. Tangannya terulur menyentuh punggung tangan Lunara."Dingin nggak? Kenapa nggak pakai pakaian yang lebih tebal?""Di rumah ada pemanas, mana mungkin ding
Dalam suasana seperti itu saja Lunara masih bisa bekerja, apalagi cuma mendengar tangisan Fresia yang putus-putus begitu.Kalau didengar lama-lama, kualitas suaranya malah lumayan bagus. Bagaimanapun, dulu dia adalah penyanyi opera terkenal.Fresia berdiri, lalu menepuk-nepuk roknya sebelum duduk di sofa sebelah Lunara. "Kamu lumayan pintar juga. Kamu kira setelah menyuruh Saphira pergi, kamu bisa mengorek rahasia dariku?"Lunara tampak bingung. "Memangnya aku perlu tahu rahasia apa?"Dia tidak tertarik pada urusan Keluarga Narasoma. Lagi pula, kalau ada sesuatu, apa yang tidak bisa langsung dia tanyakan kepada Kayden?Fresia sama sekali tidak percaya pada sikap Lunara itu. Dia sudah melihat banyak wanita yang masuk ke Keluarga Narasoma, juga banyak wanita yang ingin masuk ke keluarga itu.Bahkan di keluarga lain yang statusnya setara dengan Keluarga Narasoma, wanita-wanita yang masuk ke Keluarga Narasoma juga sama saja.Saphira sendiri tidak bisa mengatakan dirinya sama sekali tidak t
Keluarga Narasoma tidak akan meninggalkan darah daging mereka sendiri. Namun, Shaka dan Floryn sampai sekarang masih ditempatkan di rumah peristirahatan dan belum dibawa kembali.Fresia juga tahu soal itu. Katanya dirawat baik-baik, tetapi sebenarnya itu sama saja seperti dikurung.Dalam keadaan seperti itu, bisa hidup tenang saja sudah bagus, mana sempat memikirkan harta Keluarga Narasoma.Bibir Fresia tanpa sadar gemetar. "Ka ... kalian ... kejam sekali! Eden dan Frans juga adik Kayden! Kamu wanita berhati ular!"Volume suaranya tanpa sadar mengecil, karena dia melihat Lunara sama sekali tidak tampak sedang bercanda.Fresia berbalik, lalu jatuh terduduk di lantai, menangis dan meraung-raung."Seluruh Keluarga Narasoma sudah menyakitiku! Kalau dulu bukan karena Pak Zafran, aku nggak akan masuk ke sini! Hubungan baikku dihancurkan keluarga kalian, Keluarga Narasoma harus bayar dengan nyawa!"Bicaranya kacau, emosinya benar-benar runtuh.Lunara mengangguk ringan ke arah pelayan, memberi
"Anak dan menantuku hidup dengan baik, tapi kalian semua entah kenapa merasa nggak puas, sampai harus datang menginjak mereka!"Yang dimaksud tentu saja ucapan Fresia di depan media sebelumnya. Meskipun Keluarga Narasoma sudah menanganinya dengan cara keras, di internet masih ada banyak unggahan terkait hal itu.Fresia merasa bersalah, segera memikirkan alasan. "Aku nggak bermaksud begitu. Kak, jangan marah. Aku cuma mau tanya sebenarnya maksud Pak Zafran itu apa? Masa Frans dan Eden nggak dapat apa-apa?"Saphira mencibir dingin. "Suruh saja anakmu pergi berjuang di luar! Kalau mau sesuatu, rebut sendiri! Kalau berhasil merebut dari orang luar, itu namanya punya kemampuan. Tapi kalau direbut dari anakku, itu namanya nggak tahu malu!"Maksudnya sangat jelas, Fresia memang tidak tahu malu sampai datang mencari masalah ke Keluarga Narasoma."Apa maksudmu? Siapa yang nggak tahu malu?""Kamu sendiri pasti tahu maksudku. Aku nggak mungkin membiarkan anak perempuanku jadi simpanan mantan suam







