แชร์

Bab 473

ผู้เขียน: Fitri
"Terima kasih."

Silvar menjelaskan, "Di rumah masih ada anggota keluarga lain, jadi aku nggak mengajakmu masuk."

Dia adalah anak keenam di keluarganya. Masih ada saudara-saudara lain tinggal di rumah itu. Kayden datang tengah malam untuk meminjam orang-orang dari kelompok mafia, jelas bukan hal yang pantas dibicarakan di dalam rumah.

Untungnya hubungan mereka memang selalu dekat. Saat mereka bilang ingin keluar jalan-jalan, keluarga hanya merasa heran sedikit dan tidak bertanya lebih jauh.

Siapa
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda   Bab 476

    Saat Lili pergi ke sana, Lunara sudah bangun dan duduk di kursi roda sambil berjemur.Begitu melihat Lili datang dan mendengar urusannya, Lunara tertawa kecil. Lili langsung merasa, nyonya muda ini benar-benar cantik.Ada orang yang cantiknya hanya di wajah, ada juga yang kecantikannya terpancar dari aura dan pembawaannya.Wajah Lunara membawa senyuman lembut, ditambah cahaya matahari hangat menyinarinya. Seketika, Lili teringat pada Saphira saat muda dulu.Waktu itu, Saphira juga secantik dan semenggoda itu, begitu indah sampai sulit digambarkan. Namun, pada diri Lunara ada keteguhan yang berbeda.Lunara menyuruh Lili kembali dan mengatakan kalau Kayden masih beristirahat, lalu meminta Saphira mencari Zafran untuk menegakkan keadilan.Lili langsung tercerahkan. Memang benar, urusan pernikahan itu sejak awal diputuskan sepenuhnya oleh Zafran sebagai kepala keluarga. Lagi pula, Eden juga bukan anak kandung Saphira. Apa pun yang dia katakan pasti bisa dipelintir menjadi salah.Sebelum pe

  • Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda   Bab 475

    "Kamu tidur di sini?""Mm. Aku khawatir kamu bangun tengah malam dan mencari seseorang."Lunara menepuk sisi kosong di sampingnya. "Naik sini saja. Tidur di sini lebih enak daripada di ranjang lipat."Kayden melirik tempat tidur itu. "Nggak usah. Nanti aku malah buat kamu sempit.""Ayo, dong. Aku sudah murah hati bagi setengah tempat tidurku buat kamu."Setelah minum air, bibir Lunara terlihat lembap. Tidurnya yang nyenyak tadi juga membuat wajahnya kembali merona. Kayden akhirnya kalah. Dia naik ke tempat tidur, lalu memeluk Lunara sambil memejamkan mata.Dengan suara pelan dia berkata, "Apa yang dulu kamu bilang memang benar.""Benar soal apa?""Kalau aku ketemu kamu sejak SMA, mungkin aku akan jatuh cinta padamu jauh lebih cepat."Lunara langsung terpaku. Dia sebenarnya ingin bertanya dari mana tiba-tiba muncul ucapan seperti itu. Namun, Kayden sudah memejamkan mata lagi. Lingkar hitam samar di bawah matanya jelas menunjukkan rasa lelah.Akhirnya, Lunara hanya bisa menahan diri dan

  • Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda   Bab 474

    Setelah kembali ke vila kecil, Kayden berkata, "Kamu mau menginap di sini malam ini?""Boleh juga. Aku juga malas pulang. Aku ke ruang kerjamu saja dulu."Pintu ruang kerja terus terbuka dan tertutup sampai fajar mulai menyingsing. Silvar menguap lebar, lalu pergi tidur ke kamar tamu. Setelah mandi dan bersiap, Kayden masuk ke kamar perawatan Lunara.Di dalam kamar dipenuhi berbagai alat medis, sampai tidak ada lagi tempat yang cukup untuk Kayden berbaring dengan nyaman. Dia memandangi Lunara beberapa saat, lalu berbaring di ranjang lipat kecil di samping tempat tidur.Melihat hal itu, salah satu tenaga medis merasa tidak tega."Pak Kayden, Anda naik ke lantai atas saja untuk istirahat. Kami ada di sini. Kalau Nyonya membutuhkan sesuatu, kami akan langsung memanggil Anda.""Nggak perlu. Aku di sini saja. Kalian pergi istirahat."Kayden memejamkan mata dengan selimut tipis menutupi tubuhnya. Tidur di ranjang lipat sempit seperti itu tentu tidak nyaman.Akan tetapi, dia tidak peduli. Yan

  • Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda   Bab 473

    "Terima kasih."Silvar menjelaskan, "Di rumah masih ada anggota keluarga lain, jadi aku nggak mengajakmu masuk."Dia adalah anak keenam di keluarganya. Masih ada saudara-saudara lain tinggal di rumah itu. Kayden datang tengah malam untuk meminjam orang-orang dari kelompok mafia, jelas bukan hal yang pantas dibicarakan di dalam rumah.Untungnya hubungan mereka memang selalu dekat. Saat mereka bilang ingin keluar jalan-jalan, keluarga hanya merasa heran sedikit dan tidak bertanya lebih jauh.Siapa juga yang jalan-jalan di cuaca di bawah nol derajat seperti ini?Langkah Kayden tiba-tiba berhenti. Tatapannya terangkat menuju cahaya dari salah satu kamar di lantai dua vila keluarga cabang kedua. Di jendela lantai dua, Hilda mengenakan piyama merah tua berpotongan rendah. Dia tersenyum genit ke arah Kayden.Bibir merahnya sedikit bergerak, seolah tanpa suara memanggil, "Kakak."Tatapan Kayden langsung beralih, lalu ditarik kembali tanpa minat sedikit pun.Silvar juga melihat Hilda. Dia langs

  • Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda   Bab 472

    Saat pintu ruang kerja ditutup, hari sudah larut malam. Vila kecil itu sangat sunyi. Hanya kamar Lunara yang masih menyala karena tenaga medis yang diundang terus berjaga memantau kondisinya.Kayden berdiri di depan pintu kamar Lunara. Ponsel di saku celana rumahnya tiba-tiba menyala.Pesan dari Ignas masuk. Setelah Moana dibawa pergi, dia tetap tidak mengakui apa pun.Jari Kayden mengait pada gagang pintu kamar. Dia mencari sudut yang tidak terlihat dari dalam, lalu berbalik berjalan menuju balkon.Angin dingin bertiup kencang. Di halaman, pohon apel itu tumbuh sangat baik. Ranting dan daunnya tampak subur, tertutup lapisan salju tipis. Begitu panggilan tersambung, suara Kayden terdengar rendah dan dingin."Tekan pihak atasan sampai mereka memberiku jawaban. Gedung investasi Grup Narasoma juga bisa langsung ditarik dananya.""Baik, saya mengerti."Jendela terbuka sedikit celah, angin musim dingin yang tajam menyusup masuk dari sana, membuat wajah Kayden terasa dingin membeku."Dalam t

  • Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda   Bab 471

    Eden mengangkat tangan, lalu menyentuh luka di wajahnya. "Kak, kalau memang harus mukul wajahku, nanti waktu aku ketemu Kakak Ipar lagi, bakal susah dijelaskan.""Jauhi dia!"Eden melirik Kayden dari sudut matanya, lalu tersenyum tipis. "Dia juga dari awal nggak pernah melihatku. Jadi Kakak takut apa sebenarnya?"Kayden langsung mencengkeram kerah baju Eden dan menatapnya tajam. Dia mengucapkan beberapa kata dengan sinis, "Kamu pikir kamu pantas membuatku takut?"Kayden bukan takut. Dia hanya merasa muak. Wanita yang dia cintai, istrinya sendiri, ternyata diam-diam diinginkan dan diperhatikan oleh adiknya sendiri. Perasaan itu seperti menyulut api amarah di dalam hati Kayden. Sampai-sampai dia ingin membakar Eden menjadi abu bersama api itu.Namun, Eden tidak takut. Sebaliknya, dia malah tertawa pelan dengan tenang."Kakak selalu seperti ini."Kayden melepaskan cengkeramannya, lalu melempar Eden ke samping. Seolah baru menyentuh sesuatu yang kotor, dia langsung menarik tisu dan mengusa

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status