Share

Ada Sesuatu

Author: YuRa
last update publish date: 2025-10-04 21:41:28

Sementara itu, Denis sudah kembali ke kantornya. Langit di luar mulai mendung, cahaya keemasan perlahan tertutup awan kelabu. Dari jendela kaca besar di ruangannya, angin membawa hawa lembap yang menandakan hujan sebentar lagi turun. Tapi bukan langit yang menyita perhatiannya.

Di sisi kursinya, Alvin duduk santai dengan tablet di tangan. Headphone kecil menutupi telinganya, jemarinya lincah menekan layar, sementara kakinya bergoyang-goyang penuh irama. Sesekali, bocah itu melirik ke arah ayahnya, memastikan kehadiran sang pelindung tetap ada.

Denis menatapnya sejenak, bibirnya melunak. Namun momen itu terputus ketika pintu terbuka. Aldo masuk dengan ekspresi serius, membawa tumpukan berkas.

“Pak, maaf mengganggu. Klien dari Singapura minta jadwal meeting dimajukan. Mereka sudah menunggu di lantai dua.”

Denis menghela napas, nada suaranya tetap tenang.

“Baik. Siapkan semua berkasnya. Lima menit lagi saya turun.”

Aldo mengangguk cepat dan segera keluar.

Denis lalu berjongkok di depan Alvin, sejajar dengan mata kecil yang jernih itu.

“Papa harus kerja dulu, ya. Kamu bisa tunggu di sini. Main game-nya jangan sampai habis baterai.”

Alvin melepas headphone, menatap ayahnya.

“Papa, aku boleh gambar di whiteboard Papa nggak?”

Senyum tipis muncul di wajah Denis. “Boleh. Tapi jangan gambar monster, nanti Papa ditanyain kenapa ruangannya horor.”

Alvin terkikik, lalu mengangguk semangat.

“Oke, aku gambar pesawat aja.”

Denis mengusap kepala putranya dengan lembut sebelum berdiri. Ia merapikan jas, melangkah menuju pintu, namun berhenti sesaat. Tatapannya menerawang, seolah ada sesuatu yang tersisa dalam pikirannya.

Bukan rapat penting, bukan berkas-berkas menumpuk, melainkan sekelebat bayangan Saras di food court tadi. Senyum kikuknya, tatapan matanya yang lelah tapi jujur. Entah kenapa, bayangan itu menolak hilang, justru semakin mengganggu setiap kali Denis mencoba menepisnya.

Ia menghela napas panjang, menatap Alvin sekali lagi sebelum akhirnya melangkah keluar ruangan.

Samar-samar, wajah Saras kembali terlintas di benak Denis. Senyumnya yang kikuk, suaranya yang lembut, bahkan cara ia menunduk sopan ketika menolak tawaran makan siang. Ada sesuatu yang rapuh di balik tatapan itu, dan Denis tahu, rasa bersalah dalam dirinya belum benar-benar selesai.

Ia menarik napas panjang, meneguhkan hati.

Begitu pintu ruang rapat lantai dua terbuka, suasana formal langsung menyergap. Beberapa eksekutif dari Singapura duduk rapi, berkas-berkas terbuka di hadapan mereka. Tim lokal dari perusahaan Denis sudah siap siaga, menunggu komando.

Aldo berdiri di samping proyektor, wajahnya serius, remote presentasi di tangan.

Begitu Denis masuk, semua peserta rapat serempak berdiri memberi hormat.

“Mr. Denis, thank you for adjusting the time,” sapa Mr. Lee, perwakilan investor dengan logat khas.

“Pleasure is mine,” balas Denis dengan senyum tipis, lalu duduk di kursi utama, posisi strategis yang menandakan otoritas. “Let’s get straight to the point.”

Presentasi pun dimulai. Slide demi slide berganti, grafik naik turun diperlihatkan, angka-angka disorot sebagai bukti pertumbuhan. Diskusi mengalir cepat, strategi diperdebatkan dengan penuh semangat.

Denis ikut menanggapi, suaranya tegas, wibawanya tak terbantahkan. Namun dibalik itu semua, pikirannya terus saja melayang ke wajah Saras dan satu nama yang kembali mengusik batinnya, Gavin Alexander.

Hingga tiba-tiba, salah satu manajer lokal mengangkat suara.

“…dan untuk proyek cabang Surabaya, kami sudah menjalin komunikasi awal dengan salah satu mitra lama, Robin Alexander Group.”

Seperti tersambar petir, Denis menegakkan tubuhnya. Kedua matanya tajam menatap ke arah pembicara, meski ia berusaha tetap tenang di depan tamu asing.

Alexander.

Nama itu kembali bergaung, menimbulkan gema yang menyakitkan sekaligus membangkitkan rasa ingin tahu.

Apakah ini sekadar kebetulan? Atau takdir sedang memainkan permainan yang jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan?

Denis menoleh cepat, nadanya datar tapi tajam.

“Maaf? Bisa diulang?”

Pria itu, salah satu manajer lokal, mengangguk hati-hati.

“Iya, Pak. Robin Alexander Group. Mereka menyatakan minat untuk joint venture. Bahkan katanya Gavin Alexander akan langsung datang mewakili.”

Seisi ruangan tak menyadari perubahan halus di wajah Denis, yang tadinya tenang, kini mengeras. Rahangnya mengatup, tatapannya membeku. Tegang. Serius. Dan diam-diam, murka.

Aldo, yang berdiri di sudut ruangan, cepat-cepat menunduk. Ia paham betul bahasa tubuh bosnya. Ini bukan sekadar soal bisnis. Ada bara lain yang menyala di balik tatapan dingin itu.

“Baik,” ujar Denis akhirnya, suaranya tenang tapi dingin menusuk. “Tunda semua pembicaraan dengan pihak Robin Alexander. Sampai saya perintahkan lanjut.”

Keheningan seketika menyelimuti ruangan. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar jelas.

“Noted, Pak,” jawab pria itu pelan, nyaris gugup.

Rapat kembali berlanjut, meski atmosfer sudah berubah kaku. Satu jam kemudian, presentasi selesai. Satu per satu peserta rapat pamit keluar, meninggalkan ruangan dengan langkah hati-hati.

Hingga akhirnya, hanya Denis dan Aldo yang tertinggal. Aldo menatap bosnya, menimbang kata-kata sebelum berani membuka suara.

“Pak…” ia berhenti sejenak, lalu menunduk lagi. “Ini soal Gavin Alexander, ya?”

Denis menegakkan tubuh, kedua tangannya bertumpu di meja rapat yang kini kosong. Tatapannya gelap, seakan menembus sesuatu jauh di masa lalu.

“Bukan cuma soal dia,” ucapnya pelan, penuh tekanan. “Ini soal semua yang pernah mereka hancurkan.”

“Hubungi orang dalam Robin Alexander Group. Saya ingin tahu semua detail pergerakan mereka. Terutama tentang Gavin.”

Suara Denis terdengar tenang, tapi sarat dengan tekanan yang membuat udara seolah menegang.

Aldo menelan ludah, merasakan beban instruksi itu. “Siap, Pak.”

Denis berdiri perlahan, melangkah ke arah jendela besar. Dari sana, ia menatap Jakarta yang kini diguyur hujan. Butir-butir air beradu dengan kaca, menciptakan bayangan kabur gedung-gedung tinggi.

“Pasti kamu heran, kenapa aku begitu menggebu ingin tahu semua tentang Gavin.” Suaranya pelan, nyaris seperti bicara pada dirinya sendiri.

Aldo tetap menunduk.

“Iya, Pak.” Ia tidak berani menebak-nebak, hanya menunggu jika bosnya ingin berbagi.

Denis menarik napas panjang. “Aku masih ingat… waktu itu Saras bertengkar dengan Gavin di sebuah minimarket. Gavin bersama Nora. Aku nggak tahu masalah apa, dan tentu saja aku tidak bisa ikut campur. Tapi…” ia berhenti sejenak, suaranya mengeras, “...ada sesuatu di antara mereka yang tidak bisa aku abaikan.”

Hening kembali menguasai ruangan, hanya diiringi suara hujan yang semakin deras.

Aldo mendongak sedikit, ragu-ragu. “Pak, kalau saya boleh tanya, Saras yang Bapak maksud, perempuan yang tadi siang Bapak temui?”

Denis menutup matanya sebentar, lalu mengangguk pelan.

“Ya. Dia.”

Ada jeda panjang. Di balik tatapan Denis pada hujan, tersembunyi luka lama yang belum selesai, dan misteri yang baru saja terbuka kembali.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ketika Takdir Menyapa   Menagih Janji

    Hari itu terasa berbeda. Saras tidak tahu pasti kenapa sejak pagi hatinya terasa lebih ringan. Seolah ada beban yang perlahan terangkat, meski ia belum benar-benar tahu jawabannya. Sampai akhirnya,Gavin datang membawa kabar itu.“Mami sudah membatalkan gugatannya.”Kalimat sederhana itu, seketika mengubah segalanya.Saras terdiam, beberapa detik. Seolah otaknya butuh waktu untuk mencerna apa yang baru saja ia dengar.“Benarkah?” suaranya hampir berbisik, takut kalau itu hanya harapan yang terlalu indah.Gavin mengangguk pelan.“Iya. Gugatan itu sudah ditarik.”Dan di detik itu dunia Saras yang sempat terasa sempit, kembali terbuka. Napasnya terlepas panjang, bahunya yang sejak lama tegang kini perlahan mengendur. Matanya mulai berkaca-kaca, tapi kali ini bukan karena takut. Melainkan, lega.Ia menutup mulutnya dengan tangan, mencoba menahan tangis yang akhirnya tetap jatuh juga. Althaf, anaknya, dunianya. Akhirnya tetap bersamanya.Tanpa sadar, Saras menoleh ke arah Althaf yang sedang

  • Ketika Takdir Menyapa   Merasa Tersentuh

    Robin menarik napas panjang, lalu menatap Saras dengan penuh keyakinan.“Ada satu hal lagi yang perlu kamu tahu.”Saras mengernyit pelan, jantungnya kembali berdebar, bukan karena takut, tapi karena menunggu.“Gugatan itu,” Robin berhenti sejenak, memastikan setiap kata yang ia ucapkan terdengar jelas, “cacat hukum.”Saras membeku sesaat. Ia tidak langsung mengerti, tapi dari cara Robin mengatakannya, ia tahu itu sesuatu yang penting.“Maksud Papi?” tanyanya pelan.Robin melanjutkan dengan tenang, namun penuh kepastian.“Secara hukum, gugatan itu lemah. Tidak punya dasar yang cukup kuat untuk mengambil hak asuh dari seorang ibu yang masih mampu dan layak merawat anaknya.”Saras menatapnya tak percaya.Seolah beban yang selama ini ia pikul, perlahan retak.“Pengacara yang Papi tunjuk sudah memeriksa semuanya,” lanjut Robin. “Dan kemungkinan besar, gugatan itu tidak akan diterima oleh pengadilan.”Deg! Kali ini bukan rasa takut yang memenuhi dada Saras. Tapi harapan. Air matanya kembali

  • Ketika Takdir Menyapa   Jangan Pisahkan

    “Saras, ada yang ingin Papi bicarakan sama kamu.”Kalimat itu sederhana, tapi cukup untuk membuat dunia Saras seakan berhenti sejenak. Jantungnya berdegup lebih keras. Tidak nyaman dan tidak tenang.Ada sesuatu dalam nada suara Robin yang membuatnya bersiap, untuk kemungkinan terburuk.Ia menatap pria itu, berusaha tetap terlihat tenang, meski di dalam dirinya rasa takut mulai merayap perlahan.“Papi sudah tahu kalau Mami mengajukan hak asuh Althaf,” lanjut Robin pelan.Deg! Seperti ada sesuatu yang jatuh tepat di dadanya.“Papi minta maaf. Papi tahu itu pasti sangat menyakitimu.”Robin terdiam sejenak. Wajahnya menyiratkan penyesalan yang dalam, bukan hanya atas situasi ini, tapi mungkin juga atas banyak hal yang tidak pernah ia cegah sebelumnya.Saras tidak langsung menjawab.Detak jantungnya semakin cepat. Tangannya terasa dingin. Ia bahkan hampir tidak berani menebak apa kalimat berikutnya.“Kamu jangan khawatir,” suara Robin kembali terdengar, kali ini lebih tegas. “Gugatan itu t

  • Ketika Takdir Menyapa   Kedatangan Robin

    “Bun, ada orang,” suara kecil Althaf memecah keheningan siang itu, matanya menatap ke arah pintu yang diketuk pelan namun berulang.Saras yang sedang di dapur langsung menoleh. “Biar Bunda yang buka,” katanya lembut, meski ada sedikit rasa heran di hatinya, siapa yang datang tanpa kabar?Langkahnya cepat, tapi entah kenapa dadanya terasa sedikit berdebar. Tangannya meraih gagang pintu, lalu membukanya perlahan.Dan seketika tubuhnya membeku.“Assalamualaikum, Saras,” sapa seorang laki-laki setengah baya dengan suara tenang, namun penuh makna.Saras terpaku. Matanya membesar, napasnya tertahan. Wajah itu tidak asing. Sangat tidak asing.“P-Papi?” gumamnya nyaris tak terdengar.Robin, papinya Gavin, sosok yang sudah lama tidak ia temui, bahkan mungkin tidak pernah ia bayangkan akan berdiri di depan pintunya seperti ini.“Bun…” Althaf yang sudah berdiri di sampingnya menarik pelan tangan Saras, seolah menyadarkannya dari keterkejutan yang membekukan.“Wa… waalaikumsalam,” jawab Saras te

  • Ketika Takdir Menyapa   Butuh Seseorang

    “Aku memiliki segalanya.”Suara Dennis terdengar lebih pelan dari biasanya. Tatapannya terkunci pada Saras.“Kecuali kamu. Menikahlah denganku,” lanjut Dennis, suaranya nyaris seperti bisikan. “Aku serius.”Saras terdiam.“Aku,” suaranya pelan, tapi tidak lagi serapuh sebelumnya. “Aku sudah memikirkannya akhir-akhir ini.”Dennis menatapnya tanpa berkedip.“Ternyata aku memang butuh seseorang yang bisa melindungiku. Melindungi aku dan Althaf secara utuh.”Ia berhenti sejenak, menatap Dennis lebih dalam.“Selesaikan dulu masalah ini, dan aku siap menikah dengan Mas,” lanjutnya dengan nada yang lebih mantap.Dennis terpaku. Seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.“Coba ulangi lagi,” pintanya, hampir seperti tidak yakin ini nyata.Saras sedikit mengernyit.“Apanya?”“Yang tadi…”Saras tersenyum tipis, kali ini lebih tulus.“Aku mau menikah dengan Mas, setelah semua masalah ini selesai dengan baik.”Kalimat itu cukup untuk membuat dunia Dennis berubah. Tanpa ragu, ia lang

  • Ketika Takdir Menyapa   Menikahlah Denganku

    Langkah Saras terasa berat saat memasuki lobi gedung kantor yang megah itu. Lantai marmer yang mengilap, dinding kaca tinggi, dan suasana yang begitu rapi justru membuatnya semakin kecil. Ia sempat berhenti sejenak, menarik napas dalam, mencoba menguatkan dirinya sendiri.Namun kegugupan itu tetap ada.Dengan ragu, ia melangkah mendekati meja resepsionis.“Ada yang bisa saya bantu, Bu?” sapa resepsionis dengan senyum profesional.Saras menelan ludah sebelum menjawab.“Saya ingin bertemu dengan Pak Dennis,” ucapnya pelan, nyaris seperti takut suaranya terdengar terlalu keras di ruangan yang sunyi itu.“Apakah sudah membuat janji sebelumnya?”Saras menggeleng kecil.“Belum…”Resepsionis itu tetap tersenyum, meski kini tatapannya sedikit lebih menilai.“Baik, sebentar ya. Saya hubungi asisten beliau dulu.” Jemarinya mulai mengetik cepat di komputer. “Maaf, dengan siapa ya?”Saras sempat terdiam sepersekian detik. Seolah namanya sendiri terasa asing di tempat itu.“Saras,” jawabnya akhir

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status