共有

Gavin Datang

作者: YuRa
last update 公開日: 2026-02-18 20:50:14

Sinta tertegun. Kata-katanya menggantung di udara, terasa hambar sekaligus tajam. Ia bisa melihat kilatan samar di mata Saras sebelum perempuan itu memalingkan wajah.

"Maafkan aku, Saras," bisik Sinta tulus. "Aku tidak bermaksud mengorek luka lama."

Saras memaksakan senyum tipis, jemarinya sibuk memainkan pinggiran cangkir teh yang sudah mendingin.

"Tidak apa-apa, Mbak. Aku sudah mulai berdamai dengan keadaan. Setidaknya, itu yang kukatakan pada diriku setiap pagi."

Saras mulai bercerita. Nada
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Ketika Takdir Menyapa   Saling Bersaing

    “Althaf pulang kok nggak ngasih tahu Ayah?” tanya Gavin, nada suaranya terdengar sedikit menyindir, matanya menatap Saras dengan sorot cemas tapi terselip cemburu.Saras menelan napas, sadar Gavin pasti mengira Althaf pulang bersama Dennis. Ia tersenyum tipis, mencoba menenangkan situasi. “Kami tadi pulang naik taksi, nggak mau merepotkan kalian berdua,” jawabnya lembut tapi tegas.“Tapi aku kan ayahnya,” kilah Gavin, suaranya terdengar sedikit terselip kecewa.Saras menatap Gavin lama, menekankan kata-katanya dengan penuh perhatian. “Aku nggak mau kalau kalian berdua saling bersaing. Aku ingin kalian tetap akur, demi aku dan Althaf,” ucapnya pelan tapi mantap, matanya menatap kedua pria itu.Gavin menunduk sejenak, perlahan menarik napas panjang. Ia sadar, Saras tidak salah, yang paling penting adalah Althaf dan hubungan mereka tetap harmonis. Ketegangan di dadanya sedikit mereda, digantikan rasa lega dan tanggung jawab.Dennis, yang berdiri di samping, tersenyum samar, hatinya sed

  • Ketika Takdir Menyapa   Cemburu dan Kesal

    “Dennis, nanti temani Mama ya?” pinta Irsa, matanya berbinar penuh harap.“Kemana, Ma?” tanya Dennis, nada suaranya setengah waspada.“Arisan,” jawab Irsa santai, tapi ada senyum licik di wajahnya.Dennis terdiam sejenak, matanya menatap ibunya curiga. Ia tahu ada sesuatu yang sedang direncanakan.“Biasanya Mama pergi sendiri,” katanya hati-hati.“Sekali-kali minta antar kamu kan nggak apa-apa,” sahut Irsa dengan nada manis, seolah tak bisa menolak.Dennis mengernyit, menaruh tangan di pinggang. “Apa yang Mama rencanakan? Mau mengenalkanku dengan anaknya teman Mama? Ma, sudahlah, aku nggak mau.”Irsa tertawa pelan, matanya menatap Dennis dengan lembut tapi penuh tipu daya. “Dennis, maksud Mama baik.”Dennis menghela napas, setengah mengeluh tapi tak bisa menolak senyum ibunya. “Aku tahu maksud Mama itu baik, tapi aku nggak suka. Kok rasanya Mama selalu punya rencana rahasia untuk mengacak-acak hidupku ya?”Irsa hanya tersenyum nakal, menepuk bahu Dennis. “Santai saja, kamu akan me

  • Ketika Takdir Menyapa   Saatnya Jujur

    “Apa mentang-mentang aku belum bisa memberimu anak, terus kamu mengabaikan aku?!” Nora mendebat lagi, suaranya meninggi, mata berbinar marah dan kecewa.Gavin menatapnya sebentar, napasnya teratur, mencoba menahan amarah. “Itu pilihanmu sendiri, Nora. Aku sudah memintamu untuk hamil tapi kamu belum mau. Kamu lebih mementingkan karir daripada rumah tangga kita.”Nora menatapnya, bibirnya bergetar, campuran marah dan tersinggung.“Oh, jadi kamu sekarang menyalahkan ku?”“Tidak! Aku hanya ingin kamu lebih peduli dengan rumah tangga kita.”“Apa kamu juga peduli dengan rumah tangga kita? Kalau kamu benar-benar peduli, kau nggak akan melulu sibuk mengurusi mantan istrimu itu!”Gavin menghela napas panjang, suaranya tetap rendah tapi tegas.“Nora, dengarkan aku. Aku fokus ke Althaf karena dia butuh aku sekarang. Aku nggak mengabaikanmu, tapi kita nggak bisa membuat masalah lain saat anakku sedang sakit.”Nora terdiam sejenak, napasnya tersengal, menyadari bahwa meski marah, ada logika dalam

  • Ketika Takdir Menyapa   Bukan Ego

    Gavin menatap Dennis dengan mata menyingkapkan cemburu yang terkendali. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. “Aku tahu kamu peduli pada Saras dan Althaf. Tapi aku juga ayahnya. Anak ini butuh aku. Jadi jangan salah paham kalau aku tetap di sini.”Dennis menegakkan tubuh, memandang Gavin tanpa kata kasar, tapi sorot matanya menegaskan. “Aku tidak mengganggu, tapi aku ingin kita sama-sama menghormati ruang ini. Untuk Althaf dan Saras.”Gavin mengangguk pelan, menahan emosi yang mulai naik. “Baik, tapi jangan lupa, anak ini juga bagian dari hidupku.”“Dan aku tidak akan melupakan itu,” jawab Dennis singkat, tegas, tapi suaranya tetap halus.Keduanya saling menatap beberapa detik, keheningan memenuhi ruangan. Tidak ada kata-kata yang kasar, tapi ketegangan terasa, dua pria yang sama-sama peduli pada anak dan perempuan yang mereka cintai, saling mengukur, saling menahan ego, di tengah cahaya lampu rumah sakit yang temaram.Saras menunduk, menatap kedua pria itu dengan hat

  • Ketika Takdir Menyapa   Cemburu

    “Kak Alvin sekolah, Nak. Nanti kalau sudah Althaf, bisa main lagi dengan Kak Alvin,” kata Dennis sambil tersenyum hangat, menatap Althaf dengan penuh kasih.“Bener ya, Pa?” tanya Althaf dengan mata berbinar-binar, senyumnya merekah seperti matahari pagi.Dennis mengangguk, hatinya terasa meledak hangat. Ia merasakan kebahagiaan sederhana namun begitu mendalam, anak kecil itu memanggilnya “Papa” dan menaruh kepercayaan penuh padanya.“Bener banget, Nak. Papa janji,” Dennis menambahkan, suaranya lembut tapi penuh keyakinan, membuat hati Althaf terasa nyaman dan aman.Setelah cukup lama berada di ruangan, Dennis akhirnya menatap Althaf sekali lagi, tersenyum hangat.“Papa pamit dulu, Nak. Papa harus kerja sebentar.”Althaf menoleh, matanya sedikit berkaca, tapi ia mengangguk. “Terima kasih, Mas, sudah menemani Althaf,” suara Saras terdengar lembut, matanya menatap Dennis dengan hangat, penuh rasa terima kasih dan sedikit kerinduan.Sekilas senyum tipis menghiasi wajah Dennis, tapi Gavin

  • Ketika Takdir Menyapa   Tiga Hati

    “Halo, Sayang,” kata Gavin lembut sambil melangkah mendekati Althaf, menatap anaknya dengan mata yang hangat tapi penuh kewaspadaan.“Eh… Pak Dennis.” Gavin mengulurkan tangannya ke Dennis. Ia mencoba tersenyum, tapi hatinya dipenuhi cemburu saat melihat kedekatan Dennis dengan Saras.Dennis menatap uluran tangan itu sejenak, kemudian menggenggamnya dengan tegang.“Apa kabar, Pak Gavin?” jawab Dennis, nada suaranya datar, tapi matanya menaruh perasaan campur aduk, cemburu, waspada, dan sedikit menantang.“Kabar baik. Terima kasih sudah membantu menemani anak saya,” kata Gavin, menekankan kata “anak saya” dengan nada yang ringan tapi tegas, seolah menunjukkan dominasi dan haknya.“Sama-sama,” jawab Dennis singkat, menahan rasa panas di dadanya.Dennis kemudian melangkah menjauh dari ranjang Althaf, duduk di sofa yang ada di sudut ruangan. Ia memberi ruang bagi Gavin, tapi matanya tak lepas dari Saras dan anak itu. Setiap gerakan Gavin terasa seperti ujian yang membuat Dennis semakin w

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status