แชร์

Trauma

ผู้เขียน: YuRa
last update วันที่เผยแพร่: 2026-02-17 20:06:54

“Sudah, tidak usah terlalu dipikirkan,” ujar Dennis sambil tersenyum tipis. Ia berusaha terdengar santai, meski di dalam hatinya sendiri masih ada rasa khawatir. “Anggap saja ucapanku tadi cuma omong kosong.”

Saras mengangguk pelan, meski kecemasan di matanya belum sepenuhnya hilang.

“Semoga memang tidak pernah terjadi, ya, Pak,” katanya lirih. Ia mengepalkan jemarinya tanpa sadar. “Saya… saya akan berusaha sekuat tenaga untuk melindungi Althaf. Apapun risikonya.”

Dennis menatap Saras dengan pe
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Ketika Takdir Menyapa   Menjilat Ludah Sendiri

    “Mami, apa yang Mami lakukan? Kenapa Mami setega itu?!”Suara Gavin menggema di ruang tamu, penuh amarah yang selama ini ia tahan. Napasnya memburu, matanya menatap tajam ke arah sosok wanita yang berdiri tak jauh darinya.Stella yang sedang berbincang santai dengan suaminya langsung terdiam. Wajahnya berubah, terkejut dengan kedatangan Gavin yang tiba-tiba dan emosional.“Ada apa, Gavin?” tanya Robin, bangkit perlahan dari duduknya. Nada suaranya tenang, tapi sorot matanya penuh tanda tanya.Gavin melangkah mendekat, rahangnya mengeras.“Mami datang ke rumah Saras,dan mengancam akan mengambil Althaf,” katanya dengan suara tertahan.Ruangan itu seketika sunyi. Robin menoleh perlahan ke arah istrinya.“Benarkah itu, Mi?”Stella tidak menghindar. Ia justru mengangkat dagunya sedikit, menunjukkan keyakinannya.“Iya, cucuku tidak layak hidup di tempat seperti itu. Mami akan memperjuangkan hak asuhnya,” jawabnya tegas.Gavin mengepalkan tangannya. Emosi di dadanya seperti hampir meledak.

  • Ketika Takdir Menyapa   Menuntut Hak Asuh

    “Dia penerus keluarga Aleksander!” suara Stella menggema, penuh tekanan dan ambisi yang tak disembunyikan.“Saya akan menuntut hak asuh atas nama anak itu.”Kalimat itu jatuh seperti palu. Menghantam dan menghancurkan.Saras membeku sejenak. Namun detik berikutnya, ia menggeleng kuat, matanya mulai berkaca-kaca lagi, bukan karena lemah, tapi karena takut kehilangan.“Tidak,” suaranya serak, namun tegas. “Tidak akan ada yang mengambil Althaf dari saya.”Tangannya meraih Althaf, memeluknya erat, seolah dunia sedang berusaha merenggutnya pergi.Stella tersenyum tipis. Dingin. Penuh keyakinan.“Oh ya?” balasnya pelan, namun mengandung ancaman yang jelas.“Kita lihat saja nanti.”Ia berbalik dengan anggun, langkahnya mantap menuju mobilnya.“Sampai bertemu di pengadilan,” lanjutnya tanpa menoleh.“Bersiaplah untuk kalah.”Pintu mobil tertutup keras.Dan dalam sekejap, keheningan kembali menyelimuti halaman kecil itu. Bukan keheningan yang menenangkan. Melainkan yang menyesakkan.Pelukannya

  • Ketika Takdir Menyapa   Kedatangan Stella

    “Mami?” gumam Saras nyaris tak terdengar saat pintu kontrakannya terbuka perlahan.Tangannya masih menggenggam gagang pintu, kaku. Nafasnya tercekat seketika ketika sosok di hadapannya menjadi jelas.Stella, wanita itu berdiri tegak dengan aura dingin yang tak pernah berubah, mata tajamnya menelusuri wajah Saras, seolah sedang menilai sesuatu yang tak pernah cukup baik di matanya.Sekilas, waktu seperti berputar mundur. Semua luka lama yang sudah berusaha Saras kubur dalam-dalam, mendadak terasa hidup kembali.Tanpa permisi, Stella melangkah sedikit lebih dekat. Tatapannya beralih, menyapu bagian dalam kontrakan sederhana itu dengan ekspresi penuh hina.“Kamu tinggal di sini? Tempat seperti ini tidak pantas untuk cucu saya,” ucapnya dingin, lalu tersenyum tipis, senyum yang lebih mirip sindiran.Setiap kata terasa seperti tamparan.Jantung Saras berdegup semakin cepat, begitu keras hingga seolah bisa terdengar di telinganya sendiri. Tangannya tanpa sadar mengepal, mencoba menahan geme

  • Ketika Takdir Menyapa   Anak Kita

    Setelah berpikir semalaman, Gavin akhirnya menyadari satu hal, egonya tidak lagi penting. Yang terpenting sekarang hanyalah Althaf dan Saras.Ia duduk lama di tepi ranjang, menatap kosong, memikirkan semua kesalahan yang pernah ia lakukan.Rasa bersalah itu masih ada, tapi kini bercampur dengan tekad untuk memperbaiki semuanya.“Kalau aku terus keras kepala, aku hanya akan menyakiti mereka lagi,” gumamnya lirih.Perlahan, sebuah keputusan terbentuk di benaknya. Keputusan yang mungkin melukai harga dirinya, tapi menyelamatkan orang-orang yang ia cintai. Ia akan melibatkan Dennis.Meski berat, Gavin harus mengakui satu hal, Dennis adalah orang yang paling tulus menjaga Saras dan Althaf. Ia juga memiliki pengaruh dan kekuatan untuk menghadapi Stella.“Aku percaya, dia nggak akan membiarkan Saras dan Althaf disakiti,” ucap Gavin dalam hati.Pagi itu, dengan hati yang masih berdebar dan pikiran yang penuh kecemasan, Gavin bersiap. Ia mengenakan jasnya, menarik napas panjang, lalu melangkah

  • Ketika Takdir Menyapa   Saling Bersaing

    “Althaf pulang kok nggak ngasih tahu Ayah?” tanya Gavin, nada suaranya terdengar sedikit menyindir, matanya menatap Saras dengan sorot cemas tapi terselip cemburu.Saras menelan napas, sadar Gavin pasti mengira Althaf pulang bersama Dennis. Ia tersenyum tipis, mencoba menenangkan situasi. “Kami tadi pulang naik taksi, nggak mau merepotkan kalian berdua,” jawabnya lembut tapi tegas.“Tapi aku kan ayahnya,” kilah Gavin, suaranya terdengar sedikit terselip kecewa.Saras menatap Gavin lama, menekankan kata-katanya dengan penuh perhatian. “Aku nggak mau kalau kalian berdua saling bersaing. Aku ingin kalian tetap akur, demi aku dan Althaf,” ucapnya pelan tapi mantap, matanya menatap kedua pria itu.Gavin menunduk sejenak, perlahan menarik napas panjang. Ia sadar, Saras tidak salah, yang paling penting adalah Althaf dan hubungan mereka tetap harmonis. Ketegangan di dadanya sedikit mereda, digantikan rasa lega dan tanggung jawab.Dennis, yang berdiri di samping, tersenyum samar, hatinya sed

  • Ketika Takdir Menyapa   Cemburu dan Kesal

    “Dennis, nanti temani Mama ya?” pinta Irsa, matanya berbinar penuh harap.“Kemana, Ma?” tanya Dennis, nada suaranya setengah waspada.“Arisan,” jawab Irsa santai, tapi ada senyum licik di wajahnya.Dennis terdiam sejenak, matanya menatap ibunya curiga. Ia tahu ada sesuatu yang sedang direncanakan.“Biasanya Mama pergi sendiri,” katanya hati-hati.“Sekali-kali minta antar kamu kan nggak apa-apa,” sahut Irsa dengan nada manis, seolah tak bisa menolak.Dennis mengernyit, menaruh tangan di pinggang. “Apa yang Mama rencanakan? Mau mengenalkanku dengan anaknya teman Mama? Ma, sudahlah, aku nggak mau.”Irsa tertawa pelan, matanya menatap Dennis dengan lembut tapi penuh tipu daya. “Dennis, maksud Mama baik.”Dennis menghela napas, setengah mengeluh tapi tak bisa menolak senyum ibunya. “Aku tahu maksud Mama itu baik, tapi aku nggak suka. Kok rasanya Mama selalu punya rencana rahasia untuk mengacak-acak hidupku ya?”Irsa hanya tersenyum nakal, menepuk bahu Dennis. “Santai saja, kamu akan me

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status