ログイン“Jika seandainya Dennis dibuang keluarga hanya karena memilihmu, apakah kamu masih mau bersamanya?”Pertanyaan Pak Handika kali ini jauh lebih berat. Bukan sekadar menguji perasaan tapi masa depan.Saras terdiam sesaat. Ia tampak berpikir. Mencerna setiap kata dan segala kemungkinan yang menyertainya. Wajahnya perlahan menunduk, namun bukan karena takut, melainkan karena ia sedang menimbang sesuatu yang benar-benar penting.Perlahan, Saras menarik napas dalam. Lalu mengangkat wajahnya kembali.“Dennis tidak akan menyerah begitu saja, Pak.” Suaranya lembut namun jelas.“Ia akan tetap berusaha memperjuangkan restu itu,” lanjutnya. “Itu yang ia ucapkan pada saya.”“Dan saya percaya perjuangan itu bukan hanya dari satu pihak,” tambahnya pelan. “Kalau memang kami harus menghadapi itu.”Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan keyakinan yang perlahan menguat.“Maka kami akan menghadapinya bersama.”Kalimat itu sederhana. Namun cukup untuk menjelaskan segalanya.Beberapa detik berlalu d
“Pak Handika sudah menunggumu, Saras.”Suara Benny terdengar tenang, namun justru itulah yang membuat suasana terasa semakin menekan. Tidak ada senyum, tidak ada basa-basi,.hanya pernyataan yang terasa seperti penegasan bahwa ini bukan hal sepele.Saras menelan ludah pelan.“Iya, Pak,” jawabnya singkat, disertai anggukan kecil.Namun di dalam dirinya, kegelisahan semakin membesar. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, seolah memberi peringatan akan sesuatu yang belum ia ketahui.Dengan gerakan sopan, Benny membuka pintu ruangan Pak Handika. Tempat yang selama ini terasa jauh dan kini, harus ia masuki.Saras melangkah perlahan. Satu langkah, dua langkah, hingga akhirnya ia melewati ambang pintu.Udara di dalam ruangan terasa berbeda. Lebih dingin dan sedikit menakutkan bagi Saras. Belum sempat ia sepenuhnya menyesuaikan diri.Klik.Pintu di belakangnya tertutup. Benny menutupnya dari luar. Suara kecil itu terdengar sederhana, namun cukup untuk membuat Saras merasa seperti bera
Setelah perbincangan panjang yang cukup menguras pikiran, akhirnya Dennis memilih melanjutkan perjalanan. Tangannya kembali mantap di setir, sementara suasana di dalam mobil perlahan berubah menjadi lebih tenang. Di sampingnya, Saras masih terdiam, seolah memikirkan banyak hal.Mobil melaju membelah jalanan pagi yang mulai ramai, hingga akhirnya berhenti tepat di depan gedung kantor Saras. Saras menghela napas panjang sebelum membuka suara.“Aku telat, Mas, pasti bakal kena teguran,” katanya pelan, nada khawatir tak bisa ia sembunyikan.Dennis melirik sekilas, lalu tersenyum santai, seolah hal itu bukan masalah besar.“Sekali-kali nggak apa-apa. Lagipula, nanti kalau sudah menikah kamu pindah saja kerja di kantorku,” ujarnya ringan. Saras langsung menoleh, menaikkan alis dengan ekspresi setengah tidak percaya.“Itu namanya nepotisme, Mas.”Dennis tertawa kecil. Suara tawanya hangat, membuat suasana yang sempat tegang menjadi cair kembali.Saras pun ikut tersenyum tipis. Ia meraih gag
Pagi itu terasa berbeda. Udara masih segar, tapi hati Saras justru terasa berat. Baru saja ia membuka pintu untuk berangkat kerja, langkahnya terhenti. Sebuah mobil sudah terparkir tepat di depan rumahnya, mobil yang sangat ia kenal.Saras menghela napas panjang.Seolah sudah menduga, tapi tetap saja belum siap menghadapinya.Pintu mobil terbuka.“Ayo, aku antar,” suara Dennis terdengar tenang, namun tak memberi ruang untuk penolakan.Saras menggeleng pelan.“Nggak usah, Mas, aku bisa berangkat sendiri,” jawabnya, berusaha terdengar biasa.Namun Dennis tidak bergerak mundur sedikit pun.“Aku tidak menerima penolakan.”Tanpa menunggu jawaban, ia meraih tangan Saras dan menggandengnya menuju mobil. Saras tidak melawan.Bukan karena setuju, tapi karena terlalu lelah untuk berdebat. Dennis membukakan pintu untuknya dengan hati-hati, lalu berputar ke sisi kemudi.Sementara itu, dari balik jendela,Gayatri memperhatikan semuanya dalam diam. Ia berdiri di sana cukup lama, matanya mengikuti s
“Oke, Ma, kita bahas lagi nanti.” Dennis akhirnya berkata, memilih mundur untuk saat ini.Ia melangkah mundur, suaranya kembali tegas.“Sekarang aku mau mengantarkan Saras pulang.”Tanpa menunggu jawaban, Dennis berbalik dan melangkah keluar dari ruangan itu.Di luar, Saras masih berdiri di tempat yang sama. Menunggu dengan hati yang belum juga tenang.Sepanjang perjalanan, mobil melaju dalam diam. Diam yang penuh pikiran, penuh luka yang belum sempat diucapkan. Saras menatap ke luar jendela. Kendaraan lalu lalang di jalanan berpendar samar, terlihat kabur di matanya yang mulai dipenuhi air.Dennis melirik sekilas. Dadanya terasa sesak.“Saras, aku minta maaf atas sikap Mama tadi,” suaranya pelan, hati-hati.Tak ada jawaban sejenak. Hanya napas Saras yang terdengar sedikit bergetar.“Mamanya Mas nggak salah, aku yang nggak tahu diri,” akhirnya Saras Saras bicara, suaranya lirih, namun penuh kepahitan yang ditahan.Kalimat itu seperti menusuk langsung ke dada Dennis. Tanpa berpikir pan
“Alvin masuk dulu ya? Papa mau bicara dengan Opa dan Oma,” ujar Dennis lembut, meski ada ketegangan tersembunyi dalam suaranya.Alvin mengangguk, seolah mengerti situasi yang tak sepenuhnya bisa ia pahami.“Baik, Pa. Bye, Tante, nanti kita ngobrol lagi ya?” katanya sambil melambaikan tangan pada Saras.Saras membalas lambaian itu dengan senyum hangat, meski hatinya tak setenang wajahnya.Gerak kecil itu tak luput dari pengamatan dua pasang mata, Handika dan Irsa, yang sejak tadi memperhatikan dengan penuh makna.Sejenak, hanya suara detak jam yang terdengar, seolah ikut menghitung waktu menuju sesuatu yang penting. Dennis menarik napas dalam-dalam, lalu menatap kedua orang tuanya dengan mantap.“Pa, Ma, kami datang untuk meminta restu.” Ia berhenti sejenak, seolah mengumpulkan keberanian terakhir.“Kami ingin menikah.”Kalimat itu jatuh begitu saja, namun dampaknya terasa berat di ruangan itu.“Kapan?” tanya Handika, suaranya tenang namun tajam.“Sesegera mungkin, minggu depan. Setela







