ログイン“Oke, Ma, kita bahas lagi nanti.” Dennis akhirnya berkata, memilih mundur untuk saat ini.Ia melangkah mundur, suaranya kembali tegas.“Sekarang aku mau mengantarkan Saras pulang.”Tanpa menunggu jawaban, Dennis berbalik dan melangkah keluar dari ruangan itu.Di luar, Saras masih berdiri di tempat yang sama. Menunggu dengan hati yang belum juga tenang.Sepanjang perjalanan, mobil melaju dalam diam. Diam yang penuh pikiran, penuh luka yang belum sempat diucapkan. Saras menatap ke luar jendela. Kendaraan lalu lalang di jalanan berpendar samar, terlihat kabur di matanya yang mulai dipenuhi air.Dennis melirik sekilas. Dadanya terasa sesak.“Saras, aku minta maaf atas sikap Mama tadi,” suaranya pelan, hati-hati.Tak ada jawaban sejenak. Hanya napas Saras yang terdengar sedikit bergetar.“Mamanya Mas nggak salah, aku yang nggak tahu diri,” akhirnya Saras Saras bicara, suaranya lirih, namun penuh kepahitan yang ditahan.Kalimat itu seperti menusuk langsung ke dada Dennis. Tanpa berpikir pan
“Alvin masuk dulu ya? Papa mau bicara dengan Opa dan Oma,” ujar Dennis lembut, meski ada ketegangan tersembunyi dalam suaranya.Alvin mengangguk, seolah mengerti situasi yang tak sepenuhnya bisa ia pahami.“Baik, Pa. Bye, Tante, nanti kita ngobrol lagi ya?” katanya sambil melambaikan tangan pada Saras.Saras membalas lambaian itu dengan senyum hangat, meski hatinya tak setenang wajahnya.Gerak kecil itu tak luput dari pengamatan dua pasang mata, Handika dan Irsa, yang sejak tadi memperhatikan dengan penuh makna.Sejenak, hanya suara detak jam yang terdengar, seolah ikut menghitung waktu menuju sesuatu yang penting. Dennis menarik napas dalam-dalam, lalu menatap kedua orang tuanya dengan mantap.“Pa, Ma, kami datang untuk meminta restu.” Ia berhenti sejenak, seolah mengumpulkan keberanian terakhir.“Kami ingin menikah.”Kalimat itu jatuh begitu saja, namun dampaknya terasa berat di ruangan itu.“Kapan?” tanya Handika, suaranya tenang namun tajam.“Sesegera mungkin, minggu depan. Setela
“Seseorang?” Irsa mengernyitkan dahi, tatapannya penuh tanya.Dennis menatap mamanya lurus.“Calon istriku.”Deg! Kalimat itu jatuh begitu saja, tapi dampaknya langsung terasa.“Mama nggak setuju!” potong Irsa cepat, tanpa memberi ruang sedikit pun.Suasana langsung menegang. Dennis menghela napas panjang, berusaha tetap tenang meski jelas ia sudah menduga reaksi itu.“Ma,” suaranya lebih dalam sekarang, penuh keseriusan, “aku sudah dewasa. Sangat dewasa. Biarkan aku memilih sendiri.”Ia menatap mamanya tanpa menghindar. Namun Irsa tetap bergeming. Wajahnya mengeras, jelas tidak ingin kalah. Dan sebelum perdebatan itu semakin memanas,“Ada apa ini?” Suara berat itu datang dari arah belakang.Pak Handika,ia berjalan masuk bersama Alvin, matanya bergantian menatap Dennis dan Irsa, mencoba membaca situasi yang terasa tidak biasa.Ruangan itu kembali hening sejenak.Namun Dennis tidak ingin berlama-lama di situasi itu. Ia langsung mengalihkan pandangannya ke Alvin.“Alvin,” katanya, nada
“Aku takut bertemu dengan orang tuamu, Mas.”Suara Saras pelan, hampir seperti bisikan yang terbawa angin. Tangannya saling menggenggam, mencoba menenangkan kegelisahan yang sejak tadi tak kunjung reda.Hari ini ia akan melangkah lebih jauh ke dalam kehidupan Dennis. Namun alih-alih tenang, dadanya justru dipenuhi berbagai kemungkinan buruk yang terus berputar di kepalanya.“Bagaimana kalau mereka tidak menyukaiku?” lanjutnya lirih.Bayangan masa lalu kembali muncul, penolakan, luka, dan rasa tidak diterima yang pernah ia rasakan.Ia menoleh, lalu tersenyum lembut. Senyum yang selalu berhasil meruntuhkan kegelisahan Saras, sedikit demi sedikit.“Nggak apa-apa, kan ada aku,” katanya tenang.Ia meraih tangan Saras, menggenggamnya hangat.Saras menatapnya, hatinya perlahan menghangat. Degup jantungnya masih cepat, tapi kini tidak lagi sepenuhnya karena takut.Ada rasa aman yang perlahan tumbuh.“Lagipula kamu kan sudah kenal Papa,” ucap Dennis santai, berusaha menenangkan.Saras langsung
Hari itu terasa berbeda. Saras tidak tahu pasti kenapa sejak pagi hatinya terasa lebih ringan. Seolah ada beban yang perlahan terangkat, meski ia belum benar-benar tahu jawabannya. Sampai akhirnya,Gavin datang membawa kabar itu.“Mami sudah membatalkan gugatannya.”Kalimat sederhana itu, seketika mengubah segalanya.Saras terdiam, beberapa detik. Seolah otaknya butuh waktu untuk mencerna apa yang baru saja ia dengar.“Benarkah?” suaranya hampir berbisik, takut kalau itu hanya harapan yang terlalu indah.Gavin mengangguk pelan.“Iya. Gugatan itu sudah ditarik.”Dan di detik itu dunia Saras yang sempat terasa sempit, kembali terbuka. Napasnya terlepas panjang, bahunya yang sejak lama tegang kini perlahan mengendur. Matanya mulai berkaca-kaca, tapi kali ini bukan karena takut. Melainkan, lega.Ia menutup mulutnya dengan tangan, mencoba menahan tangis yang akhirnya tetap jatuh juga. Althaf, anaknya, dunianya. Akhirnya tetap bersamanya.Tanpa sadar, Saras menoleh ke arah Althaf yang sedang
Robin menarik napas panjang, lalu menatap Saras dengan penuh keyakinan.“Ada satu hal lagi yang perlu kamu tahu.”Saras mengernyit pelan, jantungnya kembali berdebar, bukan karena takut, tapi karena menunggu.“Gugatan itu,” Robin berhenti sejenak, memastikan setiap kata yang ia ucapkan terdengar jelas, “cacat hukum.”Saras membeku sesaat. Ia tidak langsung mengerti, tapi dari cara Robin mengatakannya, ia tahu itu sesuatu yang penting.“Maksud Papi?” tanyanya pelan.Robin melanjutkan dengan tenang, namun penuh kepastian.“Secara hukum, gugatan itu lemah. Tidak punya dasar yang cukup kuat untuk mengambil hak asuh dari seorang ibu yang masih mampu dan layak merawat anaknya.”Saras menatapnya tak percaya.Seolah beban yang selama ini ia pikul, perlahan retak.“Pengacara yang Papi tunjuk sudah memeriksa semuanya,” lanjut Robin. “Dan kemungkinan besar, gugatan itu tidak akan diterima oleh pengadilan.”Deg! Kali ini bukan rasa takut yang memenuhi dada Saras. Tapi harapan. Air matanya kembali







