Home / Romansa / Ketika Takdir Menyapa / Menuduh Selingkuh

Share

Menuduh Selingkuh

Author: YuRa
last update publish date: 2025-11-18 14:47:55

Dennis baru pulang dari kantor ketika ia mendapati Clarissa, istrinya, sedang duduk di ruang tamu bersama Wike, ibunya Clarissa, yang tampak menunggunya sejak tadi.

“Baru pulang kamu, Dennis?” tanya Wike dengan nada yang sulit ditebak.

“Iya, Ma. Banyak kerjaan di kantor,” jawab Dennis sambil melepas dasinya.

“Oya? Banyak kerjaan… atau banyak yang lain?” Wike menyelipkan sindiran halus yang terasa lebih seperti tamparan.

Dennis tahu persis apa yang dimaksud. Wike membicarakan kebersamaannya deng
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Fa-oel Irawan
mamam tuh risa
goodnovel comment avatar
Yuli Faith
tarik ulur bang......biar bikin sport jantung......toh dia g salah
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Ketika Takdir Menyapa   Detik-detik

    Begitu mobil berhenti di depan lobi rumah sakit, petugas medis langsung sigap menyambut mereka. Saras sudah tidak sanggup lagi menopang tubuhnya sendiri. Setiap langkah terasa seperti duri yang menusuk punggung bawahnya. Dennis dengan sigap membantu istrinya pindah ke kursi roda, lalu mendorongnya dengan hati-hati namun cepat menuju ruang persalinan.Di dalam ruangan yang beraroma antiseptik itu, tim perawat dan bidan sudah bersiap. Dokter keluarga mereka, dr. Setiawan, kebetulan sedang bertugas pagi itu dan menyambut mereka dengan senyum tenang yang sedikit mengurangi ketegangan."Pak Dennis mau menemani prosesnya di dalam, kan?" tanya dokter itu sambil mengenakan sarung tangan medis.Dennis terdiam sejenak. Ia menatap wajah Saras yang kini dibanjiri peluh. Istrinya meringis, mencengkeram sisi tempat tidur dengan buku jari yang memutih. Melihat Saras dalam kondisi seperti itu, hati Dennis terasa seperti diremas. Ia tidak tega, ada rasa ngeri sekaligus cemas yang hebat menghantam dada

  • Ketika Takdir Menyapa   Kontraksi Palsu

    Sembilan bulan berlalu, dan perut Saras kini sudah terasa begitu berat. Hari-hari penantian terasa mendebarkan, namun kehadiran Dennis sebagai suami siaga benar-benar menjadi kekuatannya. Bukan hanya Dennis, Alvin dan Althaf pun tak kalah antusias, mereka sering mengelus perut Saras, tak sabar menyambut anggota keluarga baru.Langkah Dennis terhenti saat melihat wajah Saras tiba-tiba berubah pias. "Kenapa, Sayang?" tanyanya sigap, tangannya langsung memeluk bahu sang istri.Saras meremas lengan Dennis, matanya terpejam sesaat. "Perutku mules sekali.""Apa sudah waktunya? Kita ke rumah sakit sekarang?" Suara Dennis terdengar panik, matanya menyiratkan kekhawatiran yang besar.Saras menarik napas panjang, mencoba mengatur ritme jantungnya sampai rasa nyeri itu perlahan memudar. "Sepertinya hanya kontraksi palsu. Sekarang sudah hilang," ucapnya sambil mengembuskan napas lega."Benar tidak apa-apa?" Dennis memastikan, jemarinya mengusap keringat dingin di dahi Saras."Iya, nanti saja k

  • Ketika Takdir Menyapa   Menyenangkan Anak

    Meninggalkan meja kantor yang selama bertahun-tahun menjadi dunianya bukan hal mudah bagi Saras. Namun, setiap kali rasa mual itu menghantam atau saat ia merasakan denyut kehidupan baru di rahimnya, ia tahu keputusannya sudah tepat. Ia ingin memberikan yang terbaik bagi calon buah hatinya, juga bagi Alvin dan Althaf yang kini menjadi prioritas utamanya.Namun, pengunduran diri Saras ternyata menjadi "lampu hijau" bagi Dennis untuk memperketat penjagaannya."Mas, aku hanya ingin ke taman depan sebentar dengan anak-anak. Kenapa harus dijaga Bik Wati dan supir juga?" protes Saras suatu sore ketika ia sudah rapi dengan daster hamil yang cantik.Dennis yang baru saja pulang kantor, bahkan belum sempat melepas dasinya, langsung menghampiri Saras. Ia berlutut di depan istrinya yang sedang duduk di sofa, mengusap perut Saras yang mulai membuncit dengan saksama."Taman itu licin kalau habis hujan, Sayang. Kalau kamu pusing dan tidak ada yang memegangi bagaimana?" ujar Dennis dengan nada rendah

  • Ketika Takdir Menyapa   Positif

    Dennis mengerutkan kening saat tangannya hanya meraba sisi ranjang yang dingin. Kesadaran sepenuhnya pulih saat pendengarannya menangkap suara gemericik air dari balik pintu kaca yang buram."Mungkin dia sedang mandi," gumamnya dengan suara serak khas bangun tidur.Tak lama, pintu terbuka. Uap hangat tipis merayap keluar, membawa serta aroma sabun yang sangat ia kenali. Dennis tersenyum lebar, bersandar pada bantalnya dengan tatapan memuja."Wanginya istriku," goda Dennis, matanya mengikuti gerak-gerik Saras yang tampak terburu-buru meraih handuk kering.Namun, senyum Dennis perlahan memudar. Saras hanya membalas dengan senyum tipis yang tampak dipaksakan, wajahnya terlihat jauh lebih pucat dari biasanya. Gerakannya saat mengenakan pakaian pun tampak gontai, seolah seluruh energinya telah terkuras habis di dalam kamar mandi tadi."Sayang, kamu sakit?" Dennis langsung beranjak dari tempat tidur. Rasa kantuknya hilang seketika, berganti dengan kekhawatiran yang mendesak.Saras menggele

  • Ketika Takdir Menyapa   Keluarga Sempurna

    Begitu pintu utama terbuka, kesunyian rumah yang megah itu langsung pecah oleh suara langkah kaki kecil yang berlari di atas lantai kayu."Bunda!" seru Althaf. Bocah kecil itu menghambur, memeluk kaki Saras dengan erat hingga membuat Saras hampir kehilangan keseimbangan jika Dennis tidak sigap menahan pinggangnya dari belakang.Saras berlutut, menyambut pelukan hangat Althaf. Aroma sabun bayi yang segar langsung tercium. "Sudah mandi ya? Kok harum sekali anak Bunda," ucap Saras sambil menghujani wajah Althaf dengan ciuman gemas. Althaf tertawa cekikikan, sebuah suara yang seketika menghapus lelahnya kegiatan yang dilakukannya bersama Dennis tadi siang.Alvin berjalan menyusul di belakang adiknya dengan langkah yang lebih tenang, namun matanya memancarkan kelegaan melihat kepulangan mereka."Sudah, Bun. Tadi Alvin yang mandiin Althaf," sahut Alvin bangga, sambil menyalami tangan Dennis dan Saras bergantian.Dennis melepas jasnya, tampak sedikit terkejut namun ada binar bangga yang t

  • Ketika Takdir Menyapa   Mencapai Puncak

    Begitu pintu apartemen tertutup dan terkunci otomatis, keheningan mewah langsung menyelimuti mereka. Dennis tidak membuang waktu. Ia melangkah masuk ke dalam kamar utama, melempar kunci mobil ke atas nakas, dan langsung menyalakan AC.Dennis melepas dasinya dengan satu tangan, menariknya kasar hingga kancing teratas kemejanya terbuka, memberikan kesan berantakan yang justru terlihat sangat maskulin. Saras masih berdiri mematung di ambang pintu kamar. Ia memperhatikan punggung lebar Dennis yang membelakanginya. Di bawah cahaya lampu kamar yang temaram, suasana terasa sangat berbeda dengan di rumah utama. Di sini, tidak ada suara tawa Althaf atau celoteh Alvin. Hanya ada mereka berdua.Dennis berbalik, mendapati Saras yang masih tampak ragu. Ia berjalan perlahan mendekat, setiap langkahnya terasa penuh intimidasi yang menggoda."Kenapa masih di sana?" suara Dennis terdengar lebih rendah, bergema di ruangan yang mulai mendingin itu.Ia berhenti tepat di depan Saras, menutup jarak hingga

  • Ketika Takdir Menyapa   Terlalu Jauh

    Mobil berhenti di depan rumah sederhana yang diterangi cahaya lampu teras. Udara sore terasa lebih hangat di tempat itu, jauh berbeda dengan kesunyian apartemen tadi.Dennis ikut turun dari mobil, membuka bagasi, dan mengangkat kantong-kantong belanjaan.“Lho, Pak, untuk apa dikeluarkan?” tanya Sar

  • Ketika Takdir Menyapa   Ingin Hidup Tenang

    Begitu pintu apartemen terbuka, aroma lembut kayu dan kopi langsung menyambut mereka. Ruangan itu luas, rapi, dengan pencahayaan hangat dan sentuhan modern minimalis.Saras tak bisa menyembunyikan kekagumannya. “Tempatnya indah sekali,” gumamnya tanpa sadar.Dennis menatapnya dengan senyum samar.

  • Ketika Takdir Menyapa   Terlihat Kuat

    Mobil Dennis berhenti di depan sebuah supermarket yang masih ramai meski sore mulai meredup. Lampu-lampu di dalamnya berpendar hangat menembus kaca depan mobil.“Ayo turun,” kata Dennis pelan.Saras menoleh cepat. “Saya mau langsung ke kantor, Pak. Nanti dimarahi Bu Dita.”Dennis tersenyum tenang.

  • Ketika Takdir Menyapa   Ikut Terjebak

    Suasana restoran siang itu awalnya terasa canggung. Hanya denting sendok dan musik lembut yang terdengar di antara mereka bertiga, Dennis, Saras, dan tentu saja Aldo.Namun perlahan, percakapan ringan mulai mencairkan udara. Saras berusaha menata nada suaranya, menahan debar yang tak mau tenang set

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status