Home / Romansa / Ketika Takdir Menyapa / Menuduh Selingkuh

Share

Menuduh Selingkuh

Author: YuRa
last update Petsa ng paglalathala: 2025-11-18 14:47:55

Dennis baru pulang dari kantor ketika ia mendapati Clarissa, istrinya, sedang duduk di ruang tamu bersama Wike, ibunya Clarissa, yang tampak menunggunya sejak tadi.

“Baru pulang kamu, Dennis?” tanya Wike dengan nada yang sulit ditebak.

“Iya, Ma. Banyak kerjaan di kantor,” jawab Dennis sambil melepas dasinya.

“Oya? Banyak kerjaan… atau banyak yang lain?” Wike menyelipkan sindiran halus yang terasa lebih seperti tamparan.

Dennis tahu persis apa yang dimaksud. Wike membicarakan kebersamaannya deng
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (2)
goodnovel comment avatar
Fa-oel Irawan
mamam tuh risa
goodnovel comment avatar
Yuli Faith
tarik ulur bang......biar bikin sport jantung......toh dia g salah
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Ketika Takdir Menyapa   Bukan Kebetulan

    Benny berjalan menuju sebuah mobil hitam yang terparkir rapi, lalu membukakan pintu belakang.“Silakan,” ucapnya sopan.Saras sempat ragu sepersekian detik, tapi akhirnya ia masuk tanpa banyak bertanya. Benny menyusul duduk di depan, memberi isyarat pada sopir untuk segera berangkat.Mobil melaju perlahan meninggalkan area kantor.Sepanjang perjalanan, Saras hanya diam. Pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan, tentang pekerjaan, tentang kesalahan yang mungkin ia buat, bahkan hal-hal yang tidak masuk akal sekalipun.Sesekali ia melirik ke arah Benny.Pria itu tampak serius menatap gadget di tangannya, sesekali mengetik sesuatu. Wajahnya datar, sulit ditebak.“Mau ke mana sebenarnya,” batin Saras.Ia ingin bertanya, tapi entah kenapa urung. Perjalanan terasa lebih lama dari biasanya. Hingga akhirnya mobil melambat dan berhenti di depan sebuah hotel mewah.Saras mengerjap pelan, memastikan apa yang ia lihat.“Hotel?” kata Saras dalam hati.Keningnya berkerut. Jantungnya kembali berdetak

  • Ketika Takdir Menyapa   Mempersiapkan Sesuatu

    “Mamanya belum memberikan restu,” suara Saras pelan, seolah setiap kata yang keluar terasa berat. “Mas Dennis pernah bilang, dia akan menikahi aku, dengan atau tanpa restu mamanya.”Saras berhenti sejenak. Ia menatap kosong ke depan, pikirannya seperti kembali ke masa lalu.“Tapi aku nggak mau kalau tidak ada restu dari mamanya,” lanjutnya, kali ini lebih tegas, meski suaranya sedikit bergetar. “Aku nggak mau kisah lalu terulang lagi.”Ruangan terasa hening di antara mereka. Sinta tidak langsung menanggapi. Ia bisa merasakan bahwa ini bukan sekadar keraguan biasa, ini luka lama yang belum sepenuhnya sembuh.Saras menarik napas panjang.“Aku pernah ada di posisi itu, Mbak, memaksakan hubungan yang nggak direstui.” Ia tersenyum tipis, pahit. Sinta mengangguk pelan, matanya penuh pengertian.“Makanya sekarang aku takut,” bisik Saras. “Bukan takut kehilangan dia, tapi takut mengulang kesalahan yang sama.”Sinta meraih tangan Saras, menggenggamnya pelan.“Kalau memang hubungan ini tidak

  • Ketika Takdir Menyapa   Mulai Lelah

    Hubungan Saras dan Dennis masih berjalan tenang, terlalu tenang, bahkan. Hari demi hari berlalu tanpa perubahan yang berarti, seolah waktu ikut berhenti bersama mereka. Tidak ada langkah maju, tapi juga tidak benar-benar mundur. Hanya diam di tempat.Di balik ketenangan itu, Saras mulai merasakan sesuatu yang mengganjal. Restu dari Irsa, mamanya Dennis, masih belum terlihat jelas. Sikapnya tetap sama, tidak menolak, tapi juga tidak benar-benar menerima. Dan justru itu yang membuat Saras semakin tidak tenang.Malam-malamnya kini tak lagi sesederhana dulu. Ia sering terjaga lebih lama, memikirkan hal-hal yang sebelumnya berusaha ia abaikan. Tentang masa depan. Tentang kepastian. Tentang dirinya sendiri di dalam hidup Dennis.Saras menghela napas panjang.Ia lelah menebak-nebak.“Apa aku harus terus nunggu?” gumamnya pelan.Perasaannya pada Dennis tidak berubah. Justru semakin dalam. Tapi bersamaan dengan itu, muncul juga keraguan yang perlahan mengikis keyakinannya. Saras mulai goyah.B

  • Ketika Takdir Menyapa   Takut Khilaf

    Selesai mengantarkan kedua orang tuanya pulang, Dennis kembali memutar setir mobilnya, kali ini menuju rumah Saras, perempuan yang mungkin sebentar lagi akan menjadi pendamping hidupnya. Perjuangan belum selesai.Jalanan sore itu lengang. Sesekali Dennis melirik ke arah Saras yang duduk di sampingnya, diam dengan pikiran yang entah ke mana.“Apa yang kalian bicarakan tadi?” tanya Dennis, suaranya lembut meski matanya tetap fokus menatap jalan.Saras tersenyum tipis, namun tidak sepenuhnya menyembunyikan kegelisahan di wajahnya.“Macam-macam, Mas.”Dennis menghela napas pelan.“Ada yang bikin kamu kesal?”Saras menggeleng cepat.“Enggak ada.”Mobil terus melaju, tapi suasana di dalamnya terasa sedikit berat. Dennis mencoba mencairkan suasana.“Aku lihat, hati Mama mulai luluh,” katanya dengan nada penuh harap. “Mudah-mudahan restu itu segera kita dapat. Aku pengin kita menikah tanpa beban.”Saras menunduk, jemarinya saling bertaut di pangkuannya.“Kalau seandainya tetap nggak dapat res

  • Ketika Takdir Menyapa   Interogasi Halus 2

    “Tidak, Bu,” jawabnya cepat, suaranya sedikit bergetar namun tegas. “Kami hanya beberapa kali bertemu. Tidak ada hubungan apa-apa.”Irsa tidak langsung menanggapi. Ia hanya menatap lurus ke depan, wajahnya sulit ditebak.Sementara Saras menggenggam keranjang belanja lebih erat, mencoba menenangkan dirinya. Ia tahu, satu jawaban saja yang salah, bisa mengubah segalanya. Kini sedang diuji.“Jawab dengan jujur, apa yang kamu inginkan dari Dennis?”Pertanyaan itu jatuh begitu saja, dingin, tajam, dan tak terduga.Glek! Saras menelan ludahnya. Tenggorokannya terasa kering. Untuk sesaat, ia hanya bisa diam, mencoba mengumpulkan keberanian yang tercecer. Ia menarik napas pelan.“Saya memang berasal dari keluarga sederhana, Bu, bahkan bisa dibilang sangat sederhana,” ucapnya akhirnya, suaranya pelan namun berusaha tetap teguh. “Dan saya juga punya keinginan yang sederhana.”Irsa tidak menyela. Tatapannya lurus, menunggu.“Saya hanya ingin hidup tenang dan damai, bersama ibu dan anak saya.”

  • Ketika Takdir Menyapa   Interogasi Halus

    Makan siang akhirnya usai. Sesuai keinginannya, Alvin langsung mengajak Althaf menuju area permainan. Dengan langkah ringan dan penuh semangat, mereka berdua berjalan meninggalkan tempat makan, menuju deretan wahana anak yang dipenuhi tawa dan warna-warni ceria.Namun, tidak semua suasana terasa menyenangkan. Saras masih diliputi rasa canggung. Tatapan Irsa yang sejak tadi terasa dingin dan sinis, seolah terus mengikutinya. Meski langkahnya tetap maju, ada kegelisahan yang diam-diam ia pendam di dalam hati.“Mama mau ke supermarket dulu, ada yang perlu dibeli,” ujar Irsa singkat.Saras segera menoleh. “Boleh saya temani, Bu?” tawarnya hati-hati. Senyum tetap ia pasang, meski dadanya terasa penuh oleh kegugupan yang sulit ia redam.“Boleh.” Jawaban Irsa datar, tanpa banyak ekspresi.Dennis dan Pak Handika saling berpandangan, jelas terkejut melihat Irsa menerima tawaran itu tanpa penolakan.“Kalian tunggu saja anak-anak. Biar kami yang ke supermarket,” lanjut Irsa, lalu langsung mela

  • Ketika Takdir Menyapa   Mencoba Lagi

    Pagi itu terasa berbeda. Udara masih segar, tapi hati Saras justru terasa berat. Baru saja ia membuka pintu untuk berangkat kerja, langkahnya terhenti. Sebuah mobil sudah terparkir tepat di depan rumahnya, mobil yang sangat ia kenal.Saras menghela napas panjang.Seolah sudah menduga, tapi tetap sa

  • Ketika Takdir Menyapa   Tanpa Nafsu?

    “Oke, Ma, kita bahas lagi nanti.” Dennis akhirnya berkata, memilih mundur untuk saat ini.Ia melangkah mundur, suaranya kembali tegas.“Sekarang aku mau mengantarkan Saras pulang.”Tanpa menunggu jawaban, Dennis berbalik dan melangkah keluar dari ruangan itu.Di luar, Saras masih berdiri di tempat

  • Ketika Takdir Menyapa   Minta Restu

    “Alvin masuk dulu ya? Papa mau bicara dengan Opa dan Oma,” ujar Dennis lembut, meski ada ketegangan tersembunyi dalam suaranya.Alvin mengangguk, seolah mengerti situasi yang tak sepenuhnya bisa ia pahami.“Baik, Pa. Bye, Tante, nanti kita ngobrol lagi ya?” katanya sambil melambaikan tangan pada Sa

  • Ketika Takdir Menyapa   Momen Canggung

    “Seseorang?” Irsa mengernyitkan dahi, tatapannya penuh tanya.Dennis menatap mamanya lurus.“Calon istriku.”Deg! Kalimat itu jatuh begitu saja, tapi dampaknya langsung terasa.“Mama nggak setuju!” potong Irsa cepat, tanpa memberi ruang sedikit pun.Suasana langsung menegang. Dennis menghela napas

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status