Masuk
Brukk!
Kotak susu bayi itu jatuh, menggelinding pelan sebelum terhenti di bawah rak biskuit. Suara kecilnya cukup untuk membuat beberapa kepala menoleh, sekilas, penuh rasa ingin tahu. Saras membungkuk cepat, jantungnya berdegup kencang seperti genderang perang. Tangan kirinya masih perih akibat senggolan tadi. Jemarinya bergetar saat meraih kotak susu itu, lalu, mata mereka bertemu. “Maaf, Pak. Saya… saya tidak sengaja,” ucap Saras gugup. Suaranya hampir tak terdengar, terseret napas yang tak teratur. Lelaki itu berdiri tegak. Kemeja putihnya rapi tanpa cela, seolah tiap serat kainnya dipilih dengan teliti. Arloji berkilau di pergelangan tangannya, pantulan cahaya lampu toko memantulkan wibawa yang tak terbantahkan. Namun, bukan itu yang membuat Saras tercekat, melainkan tatapannya. Tatapan dingin, menelusuri dirinya dari atas hingga bawah. Bukan sekadar melihat, tapi menilai. Membuat setiap helai baju murah yang melekat di tubuhnya terasa seperti noda yang tak layak berada di sana. Saras menelan ludah. Kotak susu di tangannya digenggam begitu erat, seakan benda kecil itu bisa melindunginya dari rasa malu yang mendadak menghujam dada. Lalu, tak… tak… tak. Suara sepatu hak menghentak lantai. Seorang wanita muncul, cantik menawan dengan riasan sempurna, langkahnya penuh percaya diri. Gaunnya berkelas, setiap lipatan jatuh anggun, dan di sisi tangannya, seorang anak laki-laki kecil berjalan patuh, menempel erat seperti bayangan. Udara seolah berubah. Kehadiran mereka membuat Saras merasa semakin asing, kecil, tak terlihat. “Ada apa, Pa?” suara wanita itu terdengar lembut, namun ada sesuatu di baliknya, ketegangan halus, semacam kewaspadaan. Pria itu, Dennis, menggeleng tipis. “Nggak apa-apa. Lain kali hati-hati ya kalau berjalan,” katanya. Tenang. Namun ketenangan itu dingin, tajam, membuat bulu kuduk Saras berdiri. Saras menunduk dalam, menekan dadanya yang riuh dengan detak jantung. “Sekali lagi, maaf, Pak,” bisiknya. Tanpa berani menunggu balasan, ia melangkah cepat menjauh. Tapi sebelum benar-benar pergi, matanya sempat menangkap sesuatu dari sudut pandang samar. Tatapan wanita itu tajam dan sinis. Seperti bilah pisau yang menyayat pelan, meninggalkan jejak dingin di hati Saras. "Perempuan itu menatapku seolah aku baru saja melakukan dosa besar. Padahal aku hanya tidak sengaja bersenggolan dengan suaminya. Kenapa rasanya seperti aku sudah merebut sesuatu yang bukan milikku?" pikir Saras, dadanya sesak oleh rasa malu yang tak bisa ia jelaskan. Saras buru-buru beralih ke rak lain, berusaha menenangkan dirinya dengan berpura-pura sibuk memilih barang. Tangannya bergerak asal, seakan-akan ia benar-benar memperhatikan label harga, padahal pikirannya masih kacau. “Belanjaanku tidak banyak. Ambil secukupnya saja, lalu cepat pulang,” batinnya. Setelah merasa cukup, ia menarik napas panjang dan mendorong troli kecil menuju kasir. Hatinya mulai tenang, sampai langkahnya terhenti. Di dekat kasir, berdiri laki-laki itu. Laki-laki yang tadi ditabraknya. Saras tercekat, tenggorokannya kering. Jari-jarinya refleks menggenggam kotak susu bayi lebih erat, seolah benda kecil itu bisa menyamarkan kegugupannya. Ia berharap Dennis tidak memperhatikan, tapi pria itu sekilas menoleh, tatapannya dingin, singkat, namun cukup untuk membuat jantung Saras berdebar lebih keras. Saras berdiri di antrean, jantungnya berdebar tak keruan. Ia menunduk, pura-pura sibuk menata barang belanjaannya di meja kasir. Namun suara bariton itu membuat langkah tangannya membeku. “Belanja untuk siapa?” tanya Dennis tiba-tiba. Suaranya tenang, tapi ada sesuatu yang mengandung tekanan. Saras menoleh cepat, matanya melebar. “Eh… a-anu, untuk… rumah,” jawabnya gugup, tak yakin apakah alasannya terdengar masuk akal. “Sepertinya saya pernah melihatmu, tapi di mana ya?” tanya Dennis, dahinya berkerut tipis. Tatapannya tak lepas dari wajah Saras, membuat udara di sekitar terasa lebih berat. Saras tersenyum kaku, buru-buru mengalihkan pandangan ke arah kasir yang sedang menghitung belanjaannya. “Wajah saya pasaran, Pak. Wajar kalau Bapak merasa pernah melihat saya di mana-mana.” Suaranya bergetar halus, berusaha terdengar ringan, meski dadanya bergemuruh. Dennis tidak langsung menjawab. Matanya menyipit, seolah sedang berusaha menembus tirai yang coba Saras pasang. Lalu, perlahan, ia mengangguk kecil, meski ekspresinya tak menunjukkan benar-benar percaya. “Entahlah,” ucap Dennis akhirnya, nada suaranya rendah, seperti berbicara pada dirinya sendiri. “Tapi saya yakin pernah melihatmu di suatu tempat. Dan bukan sekadar sekilas.” Saras tercekat. Jemarinya mencengkram tas belanja erat-erat, seolah mencari pegangan. Ia buru-buru menunduk, menghindari tatapan itu. Kasir menyerahkan plastik belanjaan. Saras segera meraih dan mengangguk cepat. “Permisi, Pak.” Ia melangkah pergi, namun tiba-tiba. “Ayo, Pa. Mama sudah selesai belanjanya,” suara anak laki-laki itu terdengar jernih, polos. Namun bagi Saras, kalimat sederhana itu terasa seperti paku yang menancap dalam. Anak itu menggenggam tangan perempuan bergaun anggun, wanita yang tadi menatapnya tajam. Tatapan yang masih sama, menusuk, seolah Saras sudah melakukan kesalahan besar hanya karena senggolan kecil tadi. Dennis menoleh sebentar ke arah keluarganya, lalu kembali melirik Saras sebelum akhirnya melangkah pergi bersama mereka. Saras berdiri kaku, tubuhnya serasa membeku di depan pintu keluar supermarket. Ada perasaan asing yang menyesakkan, campuran malu, rendah diri, sekaligus rasa penasaran yang tak bisa ia jelaskan. "Kenapa laki-laki itu? Aneh. Padahal aku belum pernah bertemu dengannya," gumam Saras dalam hati, langkah kakinya terasa berat saat meninggalkan supermarket. Saras berjalan menelusuri trotoar. Tas belanjaan bergoyang di genggaman, namun pikirannya masih tertinggal di dalam toko, bersama tatapan dingin Dennis dan sinisnya sorot mata sang istri. * Sampai di rumah, Saras langsung menuju kamar mandi. Hari ini melelahkan, baik fisik maupun batin. Setelah membasuh wajah dan tubuhnya dengan air dingin, ia merasa sedikit lebih segar. Begitu keluar, ia langsung menggendong anaknya yang sejak tadi diam di kasur. "Althaf... anak Bunda, nggak rewel kan tadi?" bisiknya lembut, menciumi pipi kecil yang masih hangat itu. Althaf tertawa-tawa tanpa memahami apa pun. Matanya yang bening menatap Saras penuh cinta, seolah dunia ini hanya mereka berdua. "Makanlah dulu, Ras. Taruh dulu Althaf di kasur," suara ibunya, Gayatri, memecah keheningan. Saras mengangguk, lalu dengan hati-hati meletakkan bayinya. Ia duduk di meja makan, mengambil nasi dan lauk sederhana yang disiapkan ibunya. "Bagaimana pekerjaanmu hari ini?" "Alhamdulillah, Bu. Lumayan capek. Ada dua mobil terjual hari ini," jawab Saras sambil menyendokkan nasi ke mulutnya. Ibunya tersenyum. "Alhamdulillah. Semoga rezekimu berkah, Nak." "Amin.” Tapi dalam hati, Saras merasa hampa. Ia berusaha tersenyum, tapi pikirannya melayang jauh. "Seandainya hidupnya tak seperti ini. Seandainya ia masih punya suami yang menyayanginya. Seandainya Gavin tak menghancurkan segalanya."Begitu mobil berhenti di depan lobi rumah sakit, petugas medis langsung sigap menyambut mereka. Saras sudah tidak sanggup lagi menopang tubuhnya sendiri. Setiap langkah terasa seperti duri yang menusuk punggung bawahnya. Dennis dengan sigap membantu istrinya pindah ke kursi roda, lalu mendorongnya dengan hati-hati namun cepat menuju ruang persalinan.Di dalam ruangan yang beraroma antiseptik itu, tim perawat dan bidan sudah bersiap. Dokter keluarga mereka, dr. Setiawan, kebetulan sedang bertugas pagi itu dan menyambut mereka dengan senyum tenang yang sedikit mengurangi ketegangan."Pak Dennis mau menemani prosesnya di dalam, kan?" tanya dokter itu sambil mengenakan sarung tangan medis.Dennis terdiam sejenak. Ia menatap wajah Saras yang kini dibanjiri peluh. Istrinya meringis, mencengkeram sisi tempat tidur dengan buku jari yang memutih. Melihat Saras dalam kondisi seperti itu, hati Dennis terasa seperti diremas. Ia tidak tega, ada rasa ngeri sekaligus cemas yang hebat menghantam dada
Sembilan bulan berlalu, dan perut Saras kini sudah terasa begitu berat. Hari-hari penantian terasa mendebarkan, namun kehadiran Dennis sebagai suami siaga benar-benar menjadi kekuatannya. Bukan hanya Dennis, Alvin dan Althaf pun tak kalah antusias, mereka sering mengelus perut Saras, tak sabar menyambut anggota keluarga baru.Langkah Dennis terhenti saat melihat wajah Saras tiba-tiba berubah pias. "Kenapa, Sayang?" tanyanya sigap, tangannya langsung memeluk bahu sang istri.Saras meremas lengan Dennis, matanya terpejam sesaat. "Perutku mules sekali.""Apa sudah waktunya? Kita ke rumah sakit sekarang?" Suara Dennis terdengar panik, matanya menyiratkan kekhawatiran yang besar.Saras menarik napas panjang, mencoba mengatur ritme jantungnya sampai rasa nyeri itu perlahan memudar. "Sepertinya hanya kontraksi palsu. Sekarang sudah hilang," ucapnya sambil mengembuskan napas lega."Benar tidak apa-apa?" Dennis memastikan, jemarinya mengusap keringat dingin di dahi Saras."Iya, nanti saja k
Meninggalkan meja kantor yang selama bertahun-tahun menjadi dunianya bukan hal mudah bagi Saras. Namun, setiap kali rasa mual itu menghantam atau saat ia merasakan denyut kehidupan baru di rahimnya, ia tahu keputusannya sudah tepat. Ia ingin memberikan yang terbaik bagi calon buah hatinya, juga bagi Alvin dan Althaf yang kini menjadi prioritas utamanya.Namun, pengunduran diri Saras ternyata menjadi "lampu hijau" bagi Dennis untuk memperketat penjagaannya."Mas, aku hanya ingin ke taman depan sebentar dengan anak-anak. Kenapa harus dijaga Bik Wati dan supir juga?" protes Saras suatu sore ketika ia sudah rapi dengan daster hamil yang cantik.Dennis yang baru saja pulang kantor, bahkan belum sempat melepas dasinya, langsung menghampiri Saras. Ia berlutut di depan istrinya yang sedang duduk di sofa, mengusap perut Saras yang mulai membuncit dengan saksama."Taman itu licin kalau habis hujan, Sayang. Kalau kamu pusing dan tidak ada yang memegangi bagaimana?" ujar Dennis dengan nada rendah
Dennis mengerutkan kening saat tangannya hanya meraba sisi ranjang yang dingin. Kesadaran sepenuhnya pulih saat pendengarannya menangkap suara gemericik air dari balik pintu kaca yang buram."Mungkin dia sedang mandi," gumamnya dengan suara serak khas bangun tidur.Tak lama, pintu terbuka. Uap hangat tipis merayap keluar, membawa serta aroma sabun yang sangat ia kenali. Dennis tersenyum lebar, bersandar pada bantalnya dengan tatapan memuja."Wanginya istriku," goda Dennis, matanya mengikuti gerak-gerik Saras yang tampak terburu-buru meraih handuk kering.Namun, senyum Dennis perlahan memudar. Saras hanya membalas dengan senyum tipis yang tampak dipaksakan, wajahnya terlihat jauh lebih pucat dari biasanya. Gerakannya saat mengenakan pakaian pun tampak gontai, seolah seluruh energinya telah terkuras habis di dalam kamar mandi tadi."Sayang, kamu sakit?" Dennis langsung beranjak dari tempat tidur. Rasa kantuknya hilang seketika, berganti dengan kekhawatiran yang mendesak.Saras menggele
Begitu pintu utama terbuka, kesunyian rumah yang megah itu langsung pecah oleh suara langkah kaki kecil yang berlari di atas lantai kayu."Bunda!" seru Althaf. Bocah kecil itu menghambur, memeluk kaki Saras dengan erat hingga membuat Saras hampir kehilangan keseimbangan jika Dennis tidak sigap menahan pinggangnya dari belakang.Saras berlutut, menyambut pelukan hangat Althaf. Aroma sabun bayi yang segar langsung tercium. "Sudah mandi ya? Kok harum sekali anak Bunda," ucap Saras sambil menghujani wajah Althaf dengan ciuman gemas. Althaf tertawa cekikikan, sebuah suara yang seketika menghapus lelahnya kegiatan yang dilakukannya bersama Dennis tadi siang.Alvin berjalan menyusul di belakang adiknya dengan langkah yang lebih tenang, namun matanya memancarkan kelegaan melihat kepulangan mereka."Sudah, Bun. Tadi Alvin yang mandiin Althaf," sahut Alvin bangga, sambil menyalami tangan Dennis dan Saras bergantian.Dennis melepas jasnya, tampak sedikit terkejut namun ada binar bangga yang t
Begitu pintu apartemen tertutup dan terkunci otomatis, keheningan mewah langsung menyelimuti mereka. Dennis tidak membuang waktu. Ia melangkah masuk ke dalam kamar utama, melempar kunci mobil ke atas nakas, dan langsung menyalakan AC.Dennis melepas dasinya dengan satu tangan, menariknya kasar hingga kancing teratas kemejanya terbuka, memberikan kesan berantakan yang justru terlihat sangat maskulin. Saras masih berdiri mematung di ambang pintu kamar. Ia memperhatikan punggung lebar Dennis yang membelakanginya. Di bawah cahaya lampu kamar yang temaram, suasana terasa sangat berbeda dengan di rumah utama. Di sini, tidak ada suara tawa Althaf atau celoteh Alvin. Hanya ada mereka berdua.Dennis berbalik, mendapati Saras yang masih tampak ragu. Ia berjalan perlahan mendekat, setiap langkahnya terasa penuh intimidasi yang menggoda."Kenapa masih di sana?" suara Dennis terdengar lebih rendah, bergema di ruangan yang mulai mendingin itu.Ia berhenti tepat di depan Saras, menutup jarak hingga
Di dalam ruang kerjanya yang remang, Gavin berdiri di depan jendela besar. Kota terlihat berkilau di bawah sana, namun pikirannya sama sekali tidak tertuju pada pemandangan itu. Pikirannya hanya satu. Saras dan anak itu.Ia berbalik, lalu meraih ponselnya.“Satria,” ucapnya singkat saat panggilan t
“Kamu nggak bisa menghindar dariku lagi, Saras.”Suara itu terdengar berat dan tegas di belakangnya. Langkah Saras langsung terhenti. Tubuhnya menegang.Perlahan, ia menoleh. Dan seperti yang ia duga, Gavin berdiri beberapa langkah di belakangnya. Jantung Saras berdetak kencang, seolah ingin melonc
“Akhir-akhir ini aku lihat Pak Dennis sering ke sini, ya?” ujar Sinta di sela-sela mengetik di depan komputernya.Saras yang sedang merapikan berkas langsung terdiam sejenak.Jantungnya berdegup lebih cepat saat mendengar nama itu disebut.Namun, ia berusaha tetap terlihat santai.“Wajar lah, Mbak,
“Saras, kamu sakit?”Suara Gayatri membuat Saras sedikit tersentak. Sejak tadi, sang ibu memang memperhatikannya dengan cemas. Sepulang kerja, Saras terlihat lebih banyak diam, sering melamun, seolah pikirannya berada di tempat lain.Padahal sekarang, ia sedang menemani Althaf bermain di ruang teng







