Share

Pernah Mengalami

Penulis: YuRa
last update Tanggal publikasi: 2025-12-02 13:47:23

“Sekarang aku malah merasa kosong. Marah ada, tapi lebih banyak sedihnya.” Dennis berkata dengan pelan sambil memijat pelipisnya.

“Aku cuma nggak ngerti, dimana salahku sampai dia bisa sejauh itu,” lanjut Dennis.

Saras merasakan ada getaran di suaranya, getaran yang hanya muncul pada seseorang yang benar-benar disakiti.

Saras menunduk, suaranya lembut.

“Kadang pengkhianatan bukan karena kita kurang baik. Tapi karena orang itu yang nggak mampu menghargai kesetiaan.”

Dennis menatapnya lama. Ada s
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Ketika Takdir Menyapa   Terlambat

    Setelah perbincangan panjang yang cukup menguras pikiran, akhirnya Dennis memilih melanjutkan perjalanan. Tangannya kembali mantap di setir, sementara suasana di dalam mobil perlahan berubah menjadi lebih tenang. Di sampingnya, Saras masih terdiam, seolah memikirkan banyak hal.Mobil melaju membelah jalanan pagi yang mulai ramai, hingga akhirnya berhenti tepat di depan gedung kantor Saras. Saras menghela napas panjang sebelum membuka suara.“Aku telat, Mas, pasti bakal kena teguran,” katanya pelan, nada khawatir tak bisa ia sembunyikan.Dennis melirik sekilas, lalu tersenyum santai, seolah hal itu bukan masalah besar.“Sekali-kali nggak apa-apa. Lagipula, nanti kalau sudah menikah kamu pindah saja kerja di kantorku,” ujarnya ringan. Saras langsung menoleh, menaikkan alis dengan ekspresi setengah tidak percaya.“Itu namanya nepotisme, Mas.”Dennis tertawa kecil. Suara tawanya hangat, membuat suasana yang sempat tegang menjadi cair kembali.Saras pun ikut tersenyum tipis. Ia meraih gag

  • Ketika Takdir Menyapa   Mencoba Lagi

    Pagi itu terasa berbeda. Udara masih segar, tapi hati Saras justru terasa berat. Baru saja ia membuka pintu untuk berangkat kerja, langkahnya terhenti. Sebuah mobil sudah terparkir tepat di depan rumahnya, mobil yang sangat ia kenal.Saras menghela napas panjang.Seolah sudah menduga, tapi tetap saja belum siap menghadapinya.Pintu mobil terbuka.“Ayo, aku antar,” suara Dennis terdengar tenang, namun tak memberi ruang untuk penolakan.Saras menggeleng pelan.“Nggak usah, Mas, aku bisa berangkat sendiri,” jawabnya, berusaha terdengar biasa.Namun Dennis tidak bergerak mundur sedikit pun.“Aku tidak menerima penolakan.”Tanpa menunggu jawaban, ia meraih tangan Saras dan menggandengnya menuju mobil. Saras tidak melawan.Bukan karena setuju, tapi karena terlalu lelah untuk berdebat. Dennis membukakan pintu untuknya dengan hati-hati, lalu berputar ke sisi kemudi.Sementara itu, dari balik jendela,Gayatri memperhatikan semuanya dalam diam. Ia berdiri di sana cukup lama, matanya mengikuti s

  • Ketika Takdir Menyapa   Tanpa Nafsu?

    “Oke, Ma, kita bahas lagi nanti.” Dennis akhirnya berkata, memilih mundur untuk saat ini.Ia melangkah mundur, suaranya kembali tegas.“Sekarang aku mau mengantarkan Saras pulang.”Tanpa menunggu jawaban, Dennis berbalik dan melangkah keluar dari ruangan itu.Di luar, Saras masih berdiri di tempat yang sama. Menunggu dengan hati yang belum juga tenang.Sepanjang perjalanan, mobil melaju dalam diam. Diam yang penuh pikiran, penuh luka yang belum sempat diucapkan. Saras menatap ke luar jendela. Kendaraan lalu lalang di jalanan berpendar samar, terlihat kabur di matanya yang mulai dipenuhi air.Dennis melirik sekilas. Dadanya terasa sesak.“Saras, aku minta maaf atas sikap Mama tadi,” suaranya pelan, hati-hati.Tak ada jawaban sejenak. Hanya napas Saras yang terdengar sedikit bergetar.“Mamanya Mas nggak salah, aku yang nggak tahu diri,” akhirnya Saras Saras bicara, suaranya lirih, namun penuh kepahitan yang ditahan.Kalimat itu seperti menusuk langsung ke dada Dennis. Tanpa berpikir pan

  • Ketika Takdir Menyapa   Minta Restu

    “Alvin masuk dulu ya? Papa mau bicara dengan Opa dan Oma,” ujar Dennis lembut, meski ada ketegangan tersembunyi dalam suaranya.Alvin mengangguk, seolah mengerti situasi yang tak sepenuhnya bisa ia pahami.“Baik, Pa. Bye, Tante, nanti kita ngobrol lagi ya?” katanya sambil melambaikan tangan pada Saras.Saras membalas lambaian itu dengan senyum hangat, meski hatinya tak setenang wajahnya.Gerak kecil itu tak luput dari pengamatan dua pasang mata, Handika dan Irsa, yang sejak tadi memperhatikan dengan penuh makna.Sejenak, hanya suara detak jam yang terdengar, seolah ikut menghitung waktu menuju sesuatu yang penting. Dennis menarik napas dalam-dalam, lalu menatap kedua orang tuanya dengan mantap.“Pa, Ma, kami datang untuk meminta restu.” Ia berhenti sejenak, seolah mengumpulkan keberanian terakhir.“Kami ingin menikah.”Kalimat itu jatuh begitu saja, namun dampaknya terasa berat di ruangan itu.“Kapan?” tanya Handika, suaranya tenang namun tajam.“Sesegera mungkin, minggu depan. Setela

  • Ketika Takdir Menyapa   Momen Canggung

    “Seseorang?” Irsa mengernyitkan dahi, tatapannya penuh tanya.Dennis menatap mamanya lurus.“Calon istriku.”Deg! Kalimat itu jatuh begitu saja, tapi dampaknya langsung terasa.“Mama nggak setuju!” potong Irsa cepat, tanpa memberi ruang sedikit pun.Suasana langsung menegang. Dennis menghela napas panjang, berusaha tetap tenang meski jelas ia sudah menduga reaksi itu.“Ma,” suaranya lebih dalam sekarang, penuh keseriusan, “aku sudah dewasa. Sangat dewasa. Biarkan aku memilih sendiri.”Ia menatap mamanya tanpa menghindar. Namun Irsa tetap bergeming. Wajahnya mengeras, jelas tidak ingin kalah. Dan sebelum perdebatan itu semakin memanas,“Ada apa ini?” Suara berat itu datang dari arah belakang.Pak Handika,ia berjalan masuk bersama Alvin, matanya bergantian menatap Dennis dan Irsa, mencoba membaca situasi yang terasa tidak biasa.Ruangan itu kembali hening sejenak.Namun Dennis tidak ingin berlama-lama di situasi itu. Ia langsung mengalihkan pandangannya ke Alvin.“Alvin,” katanya, nada

  • Ketika Takdir Menyapa   Mengenalkan Seseorang

    “Aku takut bertemu dengan orang tuamu, Mas.”Suara Saras pelan, hampir seperti bisikan yang terbawa angin. Tangannya saling menggenggam, mencoba menenangkan kegelisahan yang sejak tadi tak kunjung reda.Hari ini ia akan melangkah lebih jauh ke dalam kehidupan Dennis. Namun alih-alih tenang, dadanya justru dipenuhi berbagai kemungkinan buruk yang terus berputar di kepalanya.“Bagaimana kalau mereka tidak menyukaiku?” lanjutnya lirih.Bayangan masa lalu kembali muncul, penolakan, luka, dan rasa tidak diterima yang pernah ia rasakan.Ia menoleh, lalu tersenyum lembut. Senyum yang selalu berhasil meruntuhkan kegelisahan Saras, sedikit demi sedikit.“Nggak apa-apa, kan ada aku,” katanya tenang.Ia meraih tangan Saras, menggenggamnya hangat.Saras menatapnya, hatinya perlahan menghangat. Degup jantungnya masih cepat, tapi kini tidak lagi sepenuhnya karena takut.Ada rasa aman yang perlahan tumbuh.“Lagipula kamu kan sudah kenal Papa,” ucap Dennis santai, berusaha menenangkan.Saras langsung

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status