Share

Tentang Kamu

Penulis: YuRa
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-25 09:59:34

Kemarin di minimarket. Saras ingat betul tatapan itu, tatapan yang membuatnya merasa dihakimi hanya karena sekotak susu bayi. Saat itu, Saras berusaha tak peduli, tak ingin berurusan. Tapi kini, di tempat ini, di hadapannya, kehadiran pria itu terasa jauh lebih mengancam.

Pria itu menoleh, dan mata mereka bertemu. Sesaat, waktu seperti berhenti. Udara seolah menipis. Saras ingin segera berpaling, namun tatapan tajam pria itu menahan langkahnya, seperti belenggu tak kasat mata. Ada sesuatu di balik sorot matanya, entah pengenalan, entah kecurigaan, yang membuat bulu kuduk Saras meremang.

Pria itu melangkah mendekat. Satu langkah, dua langkah. Setiap jarak yang terpangkas membuat jantung Saras berdetak semakin keras.

Saras menelan ludah, tangannya refleks menggenggam katalog di meja, seakan itu bisa menenangkan dirinya. Tapi semakin dekat pria itu berjalan, semakin ia merasa tidak kebetulan berada di sini.

“Kamu yang kemarin di minimarket, kan? Kerja di sini rupanya?” suara pria itu terdengar datar, tapi tajam, seperti pisau yang menyusup perlahan.

“Iya, Pak,” jawab Saras singkat. Ia menunduk sedikit, menjaga sopan santun meski detak jantungnya terasa kacau.

Dennis menyilangkan tangan di depan dada, sorot matanya menusuk dengan ekspresi yang sulit ditebak. “Menarik,” gumamnya pelan, nyaris seperti berbicara pada diri sendiri. “Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu lagi di sini.”

Saras menghela napas tipis, lalu berusaha menegakkan sikap profesionalnya.

“Ada yang bisa saya bantu, Pak?” tanyanya dengan nada datar, seakan ingin segera memotong suasana yang tidak nyaman itu.

Senyum miring tersungging di bibir Dennis, senyum yang lebih terasa seperti tantangan daripada keramahan.

“Saya sedang mencari mobil baru,” katanya santai. “Mungkin kamu bisa bantu aku memilih yang terbaik?”

Saras mengangguk cepat. “Tentu, Pak. Anda mencari jenis kendaraan seperti apa? SUV, sedan, atau…”

“Tergantung.” Dennis memotong, kali ini tatapannya tidak lepas dari wajah Saras. “Kamu lebih suka aku pakai yang mana?”

Saras tercekat. Ada jeda sesaat, jeda yang terasa terlalu panjang. Pertanyaan itu terdengar ringan, tapi caranya mengucapkannya membuat hawa dingin merayap di punggungnya.

“Apapun pilihan Anda,” akhirnya Saras berkata, suaranya setenang mungkin, meski tangannya meremas katalog dengan erat, “saya akan memberikan rekomendasi terbaik.”

Dennis tertawa kecil, tawa pendek yang justru terdengar menekan. “Baiklah,” ucapnya, seakan menikmati kegugupan Saras. “Kalau begitu, tunjukkan pilihan terbaikmu.”

Saras mengangguk, lalu mulai berjalan menuju deretan mobil yang berkilau di bawah lampu showroom. Langkahnya berusaha mantap, namun di dalam hati, ia hanya ingin menjauh secepat mungkin.

Tapi ia tahu, meski tak menoleh, tatapan Dennis masih menempel pada punggungnya. Tajam dan mengawasi. Seakan menunggu celah untuk menembus pertahanan yang berusaha keras ia pertahankan.

Ada sesuatu yang aneh. Sesuatu yang membuat bulu kuduk Saras berdiri.

Siapa sebenarnya Dennis? Apakah pertemuan ini sekadar kebetulan, atau justru ada alasan lain yang lebih gelap mengapa pria itu muncul kembali dalam hidupnya?

Saras menelan ludah, berusaha menyingkirkan firasat buruk yang perlahan menyusup ke relung pikirannya.

“Sudah lama bekerja di sini?” tanya Dennis santai, meski sorot matanya sama sekali tidak santai.

“Belum, Pak. Baru beberapa bulan,” jawab Saras dengan sopan.

Dennis mengangguk pelan, matanya tak lepas dari wajahnya.

“Menarik. Saya sering ke sini, tapi sepertinya baru pertama kali melihatmu.”

Saras tersenyum kecil, mencoba terdengar ringan.

“Mungkin kita memang belum pernah bertemu sebelumnya, Pak.”

Tapi tatapan Dennis tidak berubah. Masih menelisik, seakan berusaha menembus lapisan luar untuk membaca sesuatu yang berusaha Saras sembunyikan.

“Kemarin, di minimarket kamu terlihat terburu-buru. Ada urusan penting?” tanyanya lagi, nadanya samar-samar mengandung ujian.

Saras menegang sesaat. Ia bisa merasakan tubuhnya kaku, tapi dengan cepat ia memaksa senyum kembali.

“Tidak, hanya belanja kebutuhan sehari-hari, Pak.”

Dennis menyunggingkan senyum tipis. Senyum yang entah kenapa lebih mirip ancaman daripada keramahan.

“Aku lihat kamu waktu itu, sepertinya kaget saat melihatku.”

Jantung Saras berdentum kencang. Pertanyaan itu terdengar sederhana, tapi nuansanya menusuk. Apakah pria ini hanya menguji reaksinya? Atau dia benar-benar menyadari sesuatu?

Belum sempat Saras menjawab, suara Rina terdengar dari belakang.

“Saras, ada pelanggan lain butuh informasi.”

Saras menoleh cepat, merasa seolah ditarik keluar dari jerat.

“Silakan lihat-lihat dulu, Pak. Jika butuh bantuan, saya atau rekan saya bisa membantu,” ujarnya dan Dennis, nada suaranya kembali datar, formal.

Dennis menatapnya beberapa detik lebih lama, tatapannya berat dan sulit diartikan. Lalu, perlahan, ia tersenyum.

“Baiklah, Saras. Saya akan mencari mobil yang cocok dan mungkin kita bisa mengobrol lagi nanti.”

Senyum itu membuat Saras merinding. Dan ketika ia berbalik pergi, satu pertanyaan terus berputar di kepala Saras, menghantui langkahnya.

Apakah semua ini benar-benar kebetulan? Atau pria itu punya alasan lain untuk mendekatiku?

Ia berusaha mengusir rasa resah dengan menyibukkan diri. Senyum profesionalnya kembali terpasang ketika ia melayani seorang pembeli lain, menjelaskan spesifikasi mobil dengan suara tenang. Tapi di balik ketenangan itu, dadanya bergemuruh tak karuan.

Rasa itu begitu nyata, perasaan bahwa dirinya sedang diperhatikan.

Dan benar saja. Saat tak tahan lagi, Saras menoleh sekilas. Pandangan matanya langsung bertabrakan dengan mata Dennis di seberang showroom.

Seketika jantungnya berdegup lebih kencang, hampir tak tertahankan. Tatapan pria itu masih sama, tajam, dalam, dan penuh teka-teki. Tidak ada senyum, tidak ada kata-kata, hanya sorot mata yang seolah mampu membongkar lapisan terdalam dalam dirinya.

Saras buru-buru mengalihkan pandangan, kembali fokus pada pelanggan di depannya. Ia mencoba meyakinkan diri bahwa ini hanya perasaan berlebihan.

Namun, setiap detik yang berlalu terasa berat. Rasa gelisah itu terus menempel, seperti bayangan yang tak bisa diusir.

Tapi kenapa hatinya berkata lain?

Selesai melayani pelanggan, Saras kembali ke meja resepsionis. Napasnya terasa berat, ia hanya ingin duduk sejenak, memberi ruang bagi pikirannya yang kalut. Namun baru saja ia hendak menarik kursi, suara berat itu kembali terdengar, tepat di belakangnya.

“Saras.”

Tubuhnya refleks menegang. Perlahan ia mendongak, dan di sana, Dennis sudah berdiri, terlalu dekat, menatapnya tanpa berkedip.

“Saya sudah menemukan mobil yang saya suka,” ucapnya santai, seolah-olah percakapan mereka hanyalah urusan biasa. Tapi nada suaranya menyimpan sesuatu yang sulit didefinisikan, tekanan, sekaligus rasa ingin tahu yang mendalam.

Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan.

“Tapi saya juga masih ingin tahu lebih banyak tentang kamu. Apakah kita pernah bertemu? Sepertinya wajahmu sangat familiar.”

Saras merasakan hawa dingin menjalar dari tengkuk hingga ke seluruh tubuhnya. Tangannya menggenggam ujung meja, berusaha menyembunyikan gemetar halus di jemarinya.

“Saya rasa kita tidak pernah bertemu, Pak,” jawabnya dengan sopan, suaranya sedikit bergetar meski ia berusaha terdengar tenang. “Sudah saya katakan, kalau wajah saya memang pasaran. Mungkin hanya mirip dengan orang yang Bapak maksud.”

Sesaat keheningan menggantung di antara mereka.

Lalu, perlahan, Dennis menyunggingkan senyum. Bukan senyum ramah, melainkan senyum samar yang penuh arti, seolah dia tahu lebih banyak dari yang Saras bayangkan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ketika Takdir Menyapa   Bertemu Dennis Lagi

    Saras berdiri di depan pantry, mengaduk kopi hitam di dalam cangkirnya perlahan. Sendok kecil itu beradu dengan dinding keramik, menghasilkan bunyi lirih yang terasa seirama dengan pikirannya yang kacau. Setelah yakin kopinya cukup hangat, ia membawanya ke meja kecil di sudut ruangan.Ia duduk, lalu terdiam. Matanya terpaku pada cairan hitam pekat di hadapannya, seolah di sanalah semua beban pikirannya berkumpul. Beberapa hari terakhir, tubuh dan jiwanya terasa lelah. Bukan karena pekerjaan semata, melainkan karena masa lalu yang tiba-tiba kembali menghantui.Kedatangan Gavin, mengoyak kembali rahasia yang selama ini ia simpan rapat-rapat. Rahasia yang ia kira sudah terkubur bersama luka lama. Kini, semuanya perlahan terkuak.Yang paling membuat hatinya bergetar adalah saat Gavin bertemu Althaf. Akhirnya Saras mengizinkan Gavin untuk menemui Althaf lagi, tapi harus sepengatahuan Saras. Ia tahu, pertemuan itu bisa menjadi awal dari banyak hal, entah penyembuhan, atau justru luka baru.

  • Ketika Takdir Menyapa   Jatuh Cinta

    Dennis duduk diam di kamarnya.Lampu meja menyala redup. Di tangannya, ponsel masih menyala.Menampilkan beberapa foto. Foto Gavin dan Saras. Berdiri berhadapan di depan gedung kantor.Wajah Saras terlihat tegang. Sementara Gavin tampak begitu serius. Dennis menatap layar itu lama. Rahangnya mengeras. Dadanya terasa sesak. “Jadi… kamu ketemu dia lagi,” gumamnya lirih.Ia menggeser layar. Foto berikutnya.Gavin terlihat sedikit condong ke arah Saras, seolah sedang berbicara dengan intens. Dari sudut pengambilan gambar, mereka tampak begitu dekat. Terlalu dekat.“Kenapa kamu nggak cerita sama aku…” bisik Dennis.Ponsel itu diletakkan di meja. Namun pandangannya masih terpaku ke sana. Ingatan tentang pesan-pesan Saras, tawa kecilnya, wajah lelahnya, dan caranya memanggil nama Althaf kembali memenuhi pikirannya.Ia mengepalkan tangan. Bukan karena marah pada Saras.Melainkan pada dirinya sendiri.Melihat Gavin kembali masuk ke hidup Saras, hatinya semakin gelisah.“Aku nggak boleh kehila

  • Ketika Takdir Menyapa   Penyesalan

    Di dalam ruang kerjanya yang remang, Gavin berdiri di depan jendela besar. Kota terlihat berkilau di bawah sana, namun pikirannya sama sekali tidak tertuju pada pemandangan itu. Pikirannya hanya satu. Saras dan anak itu.Ia berbalik, lalu meraih ponselnya.“Satria,” ucapnya singkat saat panggilan tersambung.“Bagaimana hasilnya?”Suara Satria terdengar di seberang.“Saya sudah melacak data lama Bu Saras, Pak. Tempat kerjanya, riwayat pindah rumah, dan beberapa kontak dekatnya.”Gavin menegakkan tubuh.“Lanjutkan.”“Sekarang dia tinggal di daerah Cempaka Indah,” kata Satria.“Rumah sederhana. Tinggal dengan ibunya dan seorang anak laki-laki.”Dada Gavin terasa bergetar.“Alamatnya,” katanya tegas.Satria menyebutkan satu per satu.Gavin langsung menyimpannya.Setelah telepon terputus, ruangan kembali sunyi. Ia duduk perlahan di kursinya.Menatap kosong ke depan.“Jadi selama ini kamu hidup sesederhana itu…” gumamnya.Bayangan Saras mengurus anaknya sendiri tanpa bantuan siapapun membua

  • Ketika Takdir Menyapa   Harus Kuat

    “Kamu nggak bisa menghindar dariku lagi, Saras.”Suara itu terdengar berat dan tegas di belakangnya. Langkah Saras langsung terhenti. Tubuhnya menegang.Perlahan, ia menoleh. Dan seperti yang ia duga, Gavin berdiri beberapa langkah di belakangnya. Jantung Saras berdetak kencang, seolah ingin meloncat keluar dari dadanya.“Mau apa kamu?” tanyanya.Suaranya bergetar, meski ia berusaha terdengar tegas.“Aku cuma mau bicara,” jawab Gavin pelan. Tatapannya lurus menatap wajah Saras. Nada suaranya tidak lagi dingin seperti dulu. Ada sesuatu yang berbeda di sana. Entah penyesalan atau penasaran.“Bicara?” Saras terkekeh kecil, hambar. “Kayaknya sudah nggak ada lagi yang perlu kita bicarakan.”Ia menarik napas, mencoba menguatkan diri.“Apa pun yang pernah ada di antara kita, sudah selesai,” lanjutnya.Gavin mengepalkan tangannya.“Belum,” katanya tegas. “Buat aku, belum selesai.”Saras menggeleng.“Kamu salah,” balasnya. “Semua itu selesai waktu kamu mengusir aku. Waktu kamu lebih percaya

  • Ketika Takdir Menyapa   Menghilang Sejenak

    “Akhir-akhir ini aku lihat Pak Dennis sering ke sini, ya?” ujar Sinta di sela-sela mengetik di depan komputernya.Saras yang sedang merapikan berkas langsung terdiam sejenak.Jantungnya berdegup lebih cepat saat mendengar nama itu disebut.Namun, ia berusaha tetap terlihat santai.“Wajar lah, Mbak,” jawabnya tanpa menoleh. “Ini kan kantor orang tuanya.”Sinta mengangguk kecil, lalu mendekat sedikit.“Iya sih…” katanya pelan. “Tapi dulu dia nggak sesering ini. Sekarang hampir tiap minggu muncul.”Ia menatap Saras dengan senyum penuh arti.“Mungkin lagi ada seseorang yang pengin dia dekatin.”Saras refleks tertawa kecil, meski hatinya sedikit terusik.“Hush, jangan bicara sembarangan, Mbak,” katanya cepat. “Pak Dennis kan punya istri. Masa mau poligami?”Nada suaranya terdengar ringan.Namun di dalam dadanya, ada perasaan asing yang tiba-tiba muncul. Gelisah dan takut, takut kalau ucapan Sinta ada benarnya.Saras kembali fokus pada pekerjaannya. Berusaha mengabaikan pikiran-pikiran yan

  • Ketika Takdir Menyapa   Berusaha Kuat

    “Saras, kamu sakit?”Suara Gayatri membuat Saras sedikit tersentak. Sejak tadi, sang ibu memang memperhatikannya dengan cemas. Sepulang kerja, Saras terlihat lebih banyak diam, sering melamun, seolah pikirannya berada di tempat lain.Padahal sekarang, ia sedang menemani Althaf bermain di ruang tengah. Namun tatapannya kosong.Mainan di tangannya terdiam.“Saras,” panggil Gayatri lagi, lebih lembut.“Bunda!”Teriakan kecil itu membuat Saras tersadar.“Eh… iya, Nak. Kenapa?” jawabnya gugup sambil tersenyum kecil.Althaf memandang ibunya dengan mata bulatnya.“Bunda marah sama Althaf, ya?” tanyanya dengan suara cadel, polos dan penuh kekhawatiran.Hati Saras langsung mencelos.“Enggak, sayang,” jawabnya cepat. Ia meraih tangan kecil anak itu.“Bunda nggak marah, kok.”“Tapi…” Althaf mengerucutkan bibirnya.“Kok Bunda diam aja dari tadi?”Saras terdiam. Ia menatap wajah kecil di hadapannya, wajah yang selama ini menjadi sumber kekuatannya. Ia memeluk Althaf erat.“Maaf ya,” bisiknya lembu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status