Share

Bab 3

Author: Ivy
Begitu kami melangkah masuk ke mall paling mewah di Sidolang, Andi langsung sewa seluruh gedung dan kosongkan itu dari semua pengunjung.

“Ketua, ada yang bisa aku bantu?” Manajer mal lari tergopoh-gopoh, tubuhnya basah oleh keringat sambil membungkuk penuh hormat.

Andi sama sekali nggak anggap dia.

Jari-jarinya yang ramping menyusuri deretan rak yang tertata rapi.

“Bungkus semua yang berwarna biru, perhiasan, pakaian, tas, semuanya. Kirim ke rumahku. Itu warna favorit istriku.”

“Siap, Ketua!” Para pegawai toko segera sibuk bergerak.

Aku saksikan pemandangan yang begitu heboh itu dengan hati yang dingin, nggak tersentuh sama sekali.

Di bagian sepatu mewah, Andi tiba-tiba berlutut.

Di depan semua orang, ia jatuhkan satu lutut di hadapanku.

Ia genggam pergelangan kakiku dengan lembut dan ganti sepatuku dengan sepasang sepatu hak tinggi warna biru safir.

Gerakannya penuh perhatian dan kelembutan.

“Sinta, gimana menurutmu?”

Ia menatapku dengan mata yang tampak dalam dan penuh pengabdian.

Para pegawai toko berbisik-bisik dari kejauhan.

“Lihat betapa Ketua sangat manjakan istrinya!”

“Dia perlakukan istrinya seperti ratu Sidolang!”

“Ini baru cinta sejati!”

Aku menunduk menatap ubun-ubun kepalanya.

Bayangan betapa kasarnya ia perlakukan Intan di kantor dua hari lalu terlintas di benakku.

Perutku bergejolak.

Saat itu, Intan mendekat sambil bawa sebuah kotak hadiah beludru hitam yang mewah.

Wajah Andi berubah sesaat ketika lihat dia, namun ia segera berusaha jadi tenang, pura-pura nggak terjadi apa-apa.

Aku lihat semuanya, tetapi tetap diam.

“Ketua, ini hadiah yang kamu pesan untuk Sinta,” kata Intan sambil buka kotak itu di depan semua orang.

“Gaun untuk pesta ulang tahun pernikahan nanti.”

Di dalamnya terdapat satu set lingerie yang sangat vulgar, dengan rantai-rantai logam emas.

Kainnya nyaris nggak menutupi apa pun, dan ukurannya jelas terlalu kecil.

Udara seketika membeku. Kerumunan terdiam, lalu disusul bisik-bisik panik.

Intan tiba-tiba pucat dan jatuh berlutut.

“Maafkan aku! Aku salah ambil kotak! Ini kejutan untuk suamiku malam ini. Aku … aku berniat pakai itu untuk dia.”

Tatapan Andi menggelap. Sekilas gairah melintas di matanya.

Namun ia segera menekannya.

Ia bangkit berdiri, tendang kotak itu, dan teriak dengan marah, “Berani-beraninya kamu bawa sampah ini di depan istriku!”

“Ketua! Aku … aku nggak tahu! Aku nggak sengaja salah bawa!” Intan hampir menangis.

“Minta maaf ke istriku sekarang juga!” Suara Andi sedingin es.

“Sinta, aku beneran minta maaf! Perilakuku bener-bener nggak pantas!” Intan terisak.

Aku saksikan sandiwara itu dengan hati yang dingin dan sunyi.

Setelah perintahkan Intan keluar, Andi menoleh ke aku.

Ia genggam tanganku yang dingin dengan lembut, suaranya penuh penyesalan.

“Aku akan suruh mereka siapkan sesuatu yang sepuluh kali lipat lebih baik dari itu.”

Ia lalu persembahkan sebuah kalung berlian lain, dan aku terima itu tanpa ekspresi.

Lihat aku terima itu, Andi menghela napas lega.

Ia peluk aku, tepuk punggungku berusaha tenangkan.

“Sudahlah, jangan biarkan badut itu rusak hari kita. Ayo pulang. Aku sendiri yang akan masak untuk kamu.”

Kembali ke rumah, Andi nggak biarkan para pelayan untuk bantuin.

Ia sendiri masuk ke dapur, pakai celemek, dan mulai masak oseng jamur kesukaanku.

“Sinta, kamu istirahat dulu saja. Sebentar lagi aku akan bawain untuk kamu.”

Namun pikirannya tampak melayang, ia bahkan nggak sadar telah dua kali tuangkan saus kecap ke dalam supnya.

Nggak lama kemudian, ia bawa piring yang masih mengepul dan duduk di sampingku, suapi aku dengan sendok.

Tiba-tiba, HP-nya yang ada di atas meja bergetar.

Ia raih itu secepat kilat, tapi aku lebih cepat.

Aku lihat notifikasi di layarnya, foto Intan pakai lingerie berantai logam itu, buka kakinya ke arah kamera.

Di bawahnya tertulis: [Sudah kangen kamu. Aku di kantormu ….]

Wajah Andi nggak berubah sedikit pun.

Ia tutup HP-nya dan menghela napas seolah menyesal.

“Sayang, ada masalah mendesak dengan kiriman senjata di gudang. Aku harus urus itu. Makan dulu saja, nggak usah tungguin aku.”

“Nggak apa-apa. Pergi saja,” jawabku tenang.

Ia kecup keningku dengan penuh rasa bersalah lalu bergegas pergi.

Begitu ia pergi, aku buang oseng jamur itu ke tempat sampah.

Setengah jam kemudian, HP-ku bergetar.

Sebuah video dari Intan.

Di dalam video, Andi sudah berada di kantornya, baju tergeletak sembarangan.

Intan berlutut di antara kakinya, pakai lingerie rantai logam itu.

“Ngapain waktu di mall kamu bertingkah kayak gitu?” Suara Andi rendah dan serak, tangannya cengkeram rambut si wanita.

“Kamu hampir hancurin semuanya.”

“Tapi itu buat kamu tambah suka aku, kan?” Intan terkikik sambil gesekkan tubuhnya ke celananya.

“Bukannya kamu mau tidurin aku di depan istrimu yang kaku dan bosenin itu?”

Andi tertawa parau, cincin kawinnya berkilau saat ia tarik rantai itu.

“Dasar iblis kecil, untung aku nggak bisa tolak kamu.”

“Tapi tadi kamu bentak aku seperti itu!” Intan pura-pura tersinggung.

Andi terkekeh sambil belai dadanya.

“Nanti aku akan tebus itu.”

Intan cemberut.

“Kalau begitu, ajak aku ke pesta kapal pesiar besok. Aku ingin kamu tidurin aku di atas dek kapal.”

Andi mengernyit, ragu sejenak, namun Intan menunduk dan masukkan penisnya yang sudah tegang ke dalam mulutnya.

Andi menghela napas kenikmatan lalu mengangguk.

“Oke, dasar iblis kecil. Tapi kalau Sinta tanya, kamu hanya boleh bilang kamu sedang bantu aku urus urusan keluarga sebagai sekretarisku.”

Aku menatap layar itu lalu lari ke kamar mandi, muntah hebat ke dalam toilet.

Aku lalu seka mulutku, rasa mual masih naik, namun senyum dingin terukir di bibirku.

Sungguh sempurna Intan akan pergi ke pesta kapal pesiar itu, aku sempat khawatir nggak punya kesempatan untuk kabur.

Aku kirim pesan ke orang suruhanku.

[Besok lusa, di dekat pesta kapal pesiar di laut, apa mayat palsuku sudah siap?”

Ia balas: [Semuanya sudah siap.]

Aku hapus pesan itu dan untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, aku tersenyum.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ketua Mafia Memohon Kesempatan Kedua   Bab 20

    Sudut Pandang Andi.Setelah tiga hari tiga malam nggak sadarkan diri, akhirnya aku berhasil lolos dari cengkeraman maut.Kesadaranku perlahan kembali, dan rasa sakit yang tajam tembus dadaku.Aku buka mata dengan susah payah.Ruang rumah sakit itu begitu sunyi.Aku menoleh dan lihat Sinta duduk di samping ranjangku.Ia duduk di kursi, sebuah buku berada di tangannya.Rambutnya diikat longgar, wajahnya tenang dan begitu cantik.Rasa bahagia langsung meledak di mata kelabuku.Dia jagain aku. Dia benar-benar jagain aku!Apa ini berarti peluru yang aku terima akhirnya berhasil rebut hatinya lagi?Aku ulurkan tangan gemetar, ingin sentuh ujung jarinya.“Sinta, kamu jagain aku. Apa itu artinya aku masih punya tempat di hatimu?” Suaraku parau dan pecah.Jantungku berdegup kencang penuh harap.Mungkin … mungkin kami masih punya kesempatan. Mungkin dia akan maafkan aku.Mungkin peluru itu benar-benar bisa tebus semua dosaku.Sinta hindari sentuhanku tanpa ekspresi. Ia tutup bukunya dan menatapk

  • Ketua Mafia Memohon Kesempatan Kedua   Bab 19

    Sudut Pandang Andi.Aku menerobos lantai paling atas menara jam itu dan lihat Sinta terikat di sebuah kursi.Intan berdiri di belakangnya, genggam detonator di tangannya.Doni tiba hampir bersamaan, dan mata kami saling bertaut sesaat.Intan menatap kami berdua lalu tertawa histeris.“Haha! Lihat ini! Dua pria terkuat di dunia ini sama-sama pertaruhkan nyawa demi satu wanita!”Ia jambak rambut Sinta dengan kasar dan tekan detonator ke dadanya.Sinta meringis kesakitan, tetapi nggak keluarkan suara.Di matanya nggak ada ketakutan, hanya ketenangan yang tegar.Hatiku terasa diremas keras.Dia masih setegar itu, masih secantik itu.“Andi, bukannya demi dia kamu ingin bunuh aku? Sekarang aku kasih kamu kesempatan. Datang ke sini dan tukar nyawamu dengan nyawanya.” Intan tertawa gila.Suara hitung mundur bergema di seluruh gedung.“Sepuluh menit … sembilan menit lima puluh sembilan detik … sembilan menit lima puluh delapan detik ….”Titik-titik cahaya merah menari di wajah kami.Udara teras

  • Ketua Mafia Memohon Kesempatan Kedua   Bab 18

    Sudut Pandang Sinta.Ruang ganti gaun pengantin bermandikan cahaya keemasan.Doni telah terbangkan para penjahit paling bergengsi di dunia hanya untuk momen ini.Mereka bantu aku kenakan gaun pengantin yang bertabur sepuluh ribu berlian.Gaun ini butuh waktu enam bulan untuk diselesaikan.Setiap berlian dipilih satu per satu dan ditempatkan dengan sempurna.Aku berdiri di depan cermin setinggi lantai, menatap bayanganku.Sutra putih itu membalut lekuk tubuhku dengan sempurna.Kilau berlian memantul di bawah cahaya, memukau hingga buat napas tertahan.Doni berdiri di belakangku, betulkan kerudungku dengan sangat hati-hati.Gerakannya lembut dan teliti.“Kamu akan jadi pengantin tercantik di dunia,” bisiknya.Ia kecup dahiku dengan penuh kasih.Aku menatap pantulan kehidupan damai di cermin, hatiku terasa tenang.Akhirnya, mimpi buruk itu berakhir.Besok aku akan jadi istri Doni.“Aku harus terima telepon penting, lima menit lagi aku akan kembali,” kata Doni dengan nada minta maaf.“Ngga

  • Ketua Mafia Memohon Kesempatan Kedua   Bab 17

    Sudut Pandang Sinta.Doni menerobos masuk ke dalam ruangan dengan bau mesiu yang menyengat.Pakaiannya berlumuran darah, dan matanya dipenuhi niat membunuh.Begitu lihat aku dirantai di ranjang, wajahnya langsung berubah murka.“Bajingan terkutuk!”Ia hantam dinding hingga buku-buku jarinya pecah dan berdarah.Namun ia nggak peduli dengan rasa sakit itu. Tangannya gemetar saat buka rantai di pergelangan tanganku.Dengan suara tajam, rantai itu terlepas.Aku bebas.“Sinta, sayangku ….”Matanya memerah saat ia periksa aku berulang kali, pastikan nggak ada luka.“Dia sentuh kamu? Dia sakitin kamu?”Suaranya serak karena ketakutan.“Maaf. Aku gagal lindungi kamu. Ini nggak akan pernah terjadi lagi.”Aku menatap pria yang hampir korbankan segalanya demi selamatkan aku.Ia kerahkan seluruh pasukan tentara bayarannya, hancurkan setengah Sidolang, semuanya hanya demi selamatkan aku.Cinta ini begitu dalam dan membara.“Aku nggak apa-apa kok. Bawa aku pulang.”Doni sembunyikan wajahnya di lekuk

  • Ketua Mafia Memohon Kesempatan Kedua   Bab 16

    Sudut Pandang Sinta.Selama beberapa hari berikutnya, Andi penuhi semua kebutuhanku.Setiap pagi ia muncul tepat waktu di kamarku.Bantu aku cuci wajah, ganti pakaian.Gerakannya sangat hati-hati, seolah takut sedikit saja bisa lukai aku.Namun aku tetap diam membisu.Ia masak sendiri hidangan penutup kesukaanku.Puding mangga, es teler, dan pai lemon yang paling aku suka.Lalu ia berlutut di samping ranjang dan suapi aku sedikit-sedikit.“Ayo, buka mulutmu, Sinta, Ini pai lemon kesukaanmu,” katanya lembut.Aku rapatkan bibir, tolak untuk makan.Ia tunggu dengan sabar, sendok itu tetap menggantung di depan bibirku.“Kalau kamu nggak mau makan, nanti kamu sakit.”Aku tiba-tiba buka mulut, bukan untuk makan. Aku gigit jarinya sekuat tenaga.“Ah!” Andi berseru kesakitan.Darah mengalir dari ujung jarinya.Namun ia nggak tarik tangannya, hanya mengernyit pelan.“Sinta, nggak apa-apa kalau kamu mau gigit aku, asal itu bisa buat lega.”Aku lepaskan jarinya dan menatapnya dingin.Ia mengelap

  • Ketua Mafia Memohon Kesempatan Kedua   Bab 15

    Sudut Pandang Sinta.Sebulan kemudian, hari pertunangan itu pun semakin dekat.Aku berdiri di ruang ganti, menatap bayanganku di cermin, mengenakan gaun putih.Gaun itu Doni yang pilih sendiri untuk aku.Sederhana, anggun, tepat seperti seleraku.Besok aku akan jadi tunangannya.Pikirkan itu, hatiku terasa tenang.Dibandingkan pernikahanku yang menyakitkan dengan Andi, pilihan ini terasa begitu benar.Doni cinta aku, hormati aku, dan nggak akan pernah khianati aku.Saat aku hendak lepas gaun itu, pintu ruang ganti tiba-tiba terbuka.Andi masuk.Ia tampak seperti orang yang bukan lagi manusia.Wajahnya cekung, janggutnya nggak terurus. Jelas ia sudah lama nggak tidur nyenyak.“Gimana kamu bisa masuk ke sini? Di mana penjaga keamanannya?” tanyaku waspada.Andi nggak jawab.Ia justru berlutut di hadapan ujung gaun putihku yang bersih.Dengan rendah diri, ia raih kedua tanganku.“Sinta, aku telah hancurkan segalanya di Sidolang. Aku cuma mohon satu hal, kembali ke aku. Ayo kita mulai dari

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status