Share

Bab 2

Author: Ivy
Keesokan paginya, aku cetak surat perceraian.

Aku tandatangani namaku tanpa ragu sedikit pun.

Dengan hati-hati, aku letakkan itu ke dalam kotak beludru yang elegan lalu ikat itu dengan pita yang indah.

Aku pura-pura baru kembali dari bisnis perdagangan senjata di Mojoro, aku seret koper masuk ke ruang tamu rumah

Andi berdiri di sana.

Penjahit pribadi keluarga sedang ukur tubuhnya untuk setelan baru.

Begitu lihat aku, wajahnya langsung berbinar oleh rasa terkejut.

Ia bergegas hampiri aku dan tarik aku ke dalam pelukannya.

“Sinta sayang, akhirnya kamu kembali.”

Ia peluk pinggangku erat. Dagunya bersandar di lekuk leherku.

Suaranya rendah, dengan nada manja seperti anak kecil.

“Kali ini kamu pergi seminggu penuh urus masalah senjata. Nggak ada kamu, udara di Sidolang rasanya jadi sesak. Kamu tahu kemarin itu ulang tahun pernikahan kita, kan? Aku harus gimana hukum kamu?”

Aku berdiri kaku dalam pelukannya. Aku bisa cium aroma parfum di tubuhnya.

Itu bukan merek yang biasa aku pakai.

“Ada sedikit masalah, jadi tertunda,” kataku tenang.

“Ayo, bantu aku pilihkan dasi.”

Ia genggam tanganku dan bawa aku ke penjahit.

“Selera fashion-mu kan bagus.”

Dengan penuh hormat, penjahit buka kancing kerah kemeja Andi untuk ganti itu dengan dasi yang pas.

Sebuah anting mutiara kecil terlepas dari kerahnya dan jatuh ke atas karpet Persia.

Itu model yang sama persis dengan yang dipakai Intan kemarin.

Aku ingat itu dengan jelas.

Udara seakan membeku. Penjahit tahan napasnya.

Para pengawal di sekitar kami tundukkan kepalanya.

Ekspresi Andi nggak berubah sedikit pun.

Ia membungkuk, pungut anting itu, lalu lemparkan itu dengan santai ke salah satu pengawal.

“Pasti pelayan jatuhkan itu saat setrika baju. Nanti bereskan.”

Ia rangkul pinggangku. Hembusan napas hangatnya yang menggelitik telingaku.

“Nanti aku ajak kamu belanja di Amari Mall. Kita rayakan ulang tahun pernikahan kita dengan meriah.”

Aku menatap wajahnya yang tampan dan penuh kasih itu.

Rasa perih menjalar di dadaku.

“Ketua, setelan barumu akan segera selesai,” kata penjahit.

Ia rapikan peralatannya lalu membungkuk hormat sebelum pergi.

Andi sadar dengan sikapku yang dingin.

Ia sentuh pipiku dengan khawatir.

“Sayang, kamu kelihatannya lagi nggak enak badan. Apa urusan senjata kali ini terlalu bikin kamu capek?”

“Cuma sedikit capek,” jawabku ringan.

“Kalau gitu, lain kali nggak usah pergi lagi. Biar aku yang akan urus semua urusan keluarga. Kamu tinggal di rumah saja, temani aku. Selama kamu di sisiku, aku sudah puas.”

Ia peluk aku dengan perhatian yang tampak tulus.

Aku tersenyum dingin dalam pelukannya.

Tinggal di rumah dengan damai, sementara ia bersenang-senang dengan sekretarisnya di kantor?

“Nggak akan ada lain kali,” bisikku.

Memang benar, nggak akan ada lain kali.

Aku dengan tenang serahkan kotak berisi surat perceraian itu ke Andi.

“Ini untuk kamu.”

Mata Andi berbinar senang.

“Hadiah ulang tahun pernikahan? Sinta-ku memang selalu perhatian.”

Aku tersenyum dan mengangguk.

Dengan antusias ia hendak buka pitanya, tetapi aku tahan tangannya.

“Nggak boleh buka sekarang, Andi. Janji ke aku kamu harus tunggu empat hari sebelum buka itu.”

Ia angkat alis dengan bingung.

“Kenapa? Hadiah apa yang harus tunggu sampai empat hari?”

Aku menatap matanya lurus-lurus.

“Ini telah diberkati Tuhan. Kalau buka itu terlalu cepat akan bawa sial.”

Andi tampak ragu, namun tersenyum memanjakanku.

Ia kecup keningku. Suaranya lembut.

“Oke. Kalau itu perintah istriku, aku pasti dengerin.”

Keesokan paginya, Andi batalkan semua urusan keluarga dan antar aku sendiri ke mall.

Ia bertingkah seperti suami yang sempurna.

Di dalam mobil, ia sangat perhatian ke aku. Dengan tangannya sendiri, ia buka bungkus cokelat untukku.

Saat itu, HP-ku bergetar.

Sebuah pesan masuk dari nomor Intan.

Isinya foto-foto mereka sedang bercinta di kantor kemarin.

Teks di bawahnya berbunyi:

[Sinta sayang, ini hadiah ulang tahun pernikahan ketiga dari Ketua untuk kamu. Suka nggak?]

Saat itu, ujung jariku terasa sedingin es.

“Kenapa? Sinta, wajahmu kok pucat banget.”

Andi sadar dengan hal itu.

Dengan satu tangan kendalikan setir, tangan lainnya terulur sentuh keningku penuh cemas.

Aku refleks palingkan wajah dari sentuhannya.

“Nggak apa-apa kok. Aku cuma kurang tidur tadi malam.”

Aku tutup layar HP tanpa ekspresi dan menatap keluar jendela.

Ia mengumpat pelan, seolah salahkan dirinya karena nggak jaga aku dengan cukup baik. Lalu ia mulai berceloteh tentang tas desainer mana yang akan kami beli nanti.

Aku menatap pria munafik itu di kaca spion.

Hatiku terasa seperti tanah tandus.

Nggak apa-apa. Tinggal tiga hari lagi.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ketua Mafia Memohon Kesempatan Kedua   Bab 20

    Sudut Pandang Andi.Setelah tiga hari tiga malam nggak sadarkan diri, akhirnya aku berhasil lolos dari cengkeraman maut.Kesadaranku perlahan kembali, dan rasa sakit yang tajam tembus dadaku.Aku buka mata dengan susah payah.Ruang rumah sakit itu begitu sunyi.Aku menoleh dan lihat Sinta duduk di samping ranjangku.Ia duduk di kursi, sebuah buku berada di tangannya.Rambutnya diikat longgar, wajahnya tenang dan begitu cantik.Rasa bahagia langsung meledak di mata kelabuku.Dia jagain aku. Dia benar-benar jagain aku!Apa ini berarti peluru yang aku terima akhirnya berhasil rebut hatinya lagi?Aku ulurkan tangan gemetar, ingin sentuh ujung jarinya.“Sinta, kamu jagain aku. Apa itu artinya aku masih punya tempat di hatimu?” Suaraku parau dan pecah.Jantungku berdegup kencang penuh harap.Mungkin … mungkin kami masih punya kesempatan. Mungkin dia akan maafkan aku.Mungkin peluru itu benar-benar bisa tebus semua dosaku.Sinta hindari sentuhanku tanpa ekspresi. Ia tutup bukunya dan menatapk

  • Ketua Mafia Memohon Kesempatan Kedua   Bab 19

    Sudut Pandang Andi.Aku menerobos lantai paling atas menara jam itu dan lihat Sinta terikat di sebuah kursi.Intan berdiri di belakangnya, genggam detonator di tangannya.Doni tiba hampir bersamaan, dan mata kami saling bertaut sesaat.Intan menatap kami berdua lalu tertawa histeris.“Haha! Lihat ini! Dua pria terkuat di dunia ini sama-sama pertaruhkan nyawa demi satu wanita!”Ia jambak rambut Sinta dengan kasar dan tekan detonator ke dadanya.Sinta meringis kesakitan, tetapi nggak keluarkan suara.Di matanya nggak ada ketakutan, hanya ketenangan yang tegar.Hatiku terasa diremas keras.Dia masih setegar itu, masih secantik itu.“Andi, bukannya demi dia kamu ingin bunuh aku? Sekarang aku kasih kamu kesempatan. Datang ke sini dan tukar nyawamu dengan nyawanya.” Intan tertawa gila.Suara hitung mundur bergema di seluruh gedung.“Sepuluh menit … sembilan menit lima puluh sembilan detik … sembilan menit lima puluh delapan detik ….”Titik-titik cahaya merah menari di wajah kami.Udara teras

  • Ketua Mafia Memohon Kesempatan Kedua   Bab 18

    Sudut Pandang Sinta.Ruang ganti gaun pengantin bermandikan cahaya keemasan.Doni telah terbangkan para penjahit paling bergengsi di dunia hanya untuk momen ini.Mereka bantu aku kenakan gaun pengantin yang bertabur sepuluh ribu berlian.Gaun ini butuh waktu enam bulan untuk diselesaikan.Setiap berlian dipilih satu per satu dan ditempatkan dengan sempurna.Aku berdiri di depan cermin setinggi lantai, menatap bayanganku.Sutra putih itu membalut lekuk tubuhku dengan sempurna.Kilau berlian memantul di bawah cahaya, memukau hingga buat napas tertahan.Doni berdiri di belakangku, betulkan kerudungku dengan sangat hati-hati.Gerakannya lembut dan teliti.“Kamu akan jadi pengantin tercantik di dunia,” bisiknya.Ia kecup dahiku dengan penuh kasih.Aku menatap pantulan kehidupan damai di cermin, hatiku terasa tenang.Akhirnya, mimpi buruk itu berakhir.Besok aku akan jadi istri Doni.“Aku harus terima telepon penting, lima menit lagi aku akan kembali,” kata Doni dengan nada minta maaf.“Ngga

  • Ketua Mafia Memohon Kesempatan Kedua   Bab 17

    Sudut Pandang Sinta.Doni menerobos masuk ke dalam ruangan dengan bau mesiu yang menyengat.Pakaiannya berlumuran darah, dan matanya dipenuhi niat membunuh.Begitu lihat aku dirantai di ranjang, wajahnya langsung berubah murka.“Bajingan terkutuk!”Ia hantam dinding hingga buku-buku jarinya pecah dan berdarah.Namun ia nggak peduli dengan rasa sakit itu. Tangannya gemetar saat buka rantai di pergelangan tanganku.Dengan suara tajam, rantai itu terlepas.Aku bebas.“Sinta, sayangku ….”Matanya memerah saat ia periksa aku berulang kali, pastikan nggak ada luka.“Dia sentuh kamu? Dia sakitin kamu?”Suaranya serak karena ketakutan.“Maaf. Aku gagal lindungi kamu. Ini nggak akan pernah terjadi lagi.”Aku menatap pria yang hampir korbankan segalanya demi selamatkan aku.Ia kerahkan seluruh pasukan tentara bayarannya, hancurkan setengah Sidolang, semuanya hanya demi selamatkan aku.Cinta ini begitu dalam dan membara.“Aku nggak apa-apa kok. Bawa aku pulang.”Doni sembunyikan wajahnya di lekuk

  • Ketua Mafia Memohon Kesempatan Kedua   Bab 16

    Sudut Pandang Sinta.Selama beberapa hari berikutnya, Andi penuhi semua kebutuhanku.Setiap pagi ia muncul tepat waktu di kamarku.Bantu aku cuci wajah, ganti pakaian.Gerakannya sangat hati-hati, seolah takut sedikit saja bisa lukai aku.Namun aku tetap diam membisu.Ia masak sendiri hidangan penutup kesukaanku.Puding mangga, es teler, dan pai lemon yang paling aku suka.Lalu ia berlutut di samping ranjang dan suapi aku sedikit-sedikit.“Ayo, buka mulutmu, Sinta, Ini pai lemon kesukaanmu,” katanya lembut.Aku rapatkan bibir, tolak untuk makan.Ia tunggu dengan sabar, sendok itu tetap menggantung di depan bibirku.“Kalau kamu nggak mau makan, nanti kamu sakit.”Aku tiba-tiba buka mulut, bukan untuk makan. Aku gigit jarinya sekuat tenaga.“Ah!” Andi berseru kesakitan.Darah mengalir dari ujung jarinya.Namun ia nggak tarik tangannya, hanya mengernyit pelan.“Sinta, nggak apa-apa kalau kamu mau gigit aku, asal itu bisa buat lega.”Aku lepaskan jarinya dan menatapnya dingin.Ia mengelap

  • Ketua Mafia Memohon Kesempatan Kedua   Bab 15

    Sudut Pandang Sinta.Sebulan kemudian, hari pertunangan itu pun semakin dekat.Aku berdiri di ruang ganti, menatap bayanganku di cermin, mengenakan gaun putih.Gaun itu Doni yang pilih sendiri untuk aku.Sederhana, anggun, tepat seperti seleraku.Besok aku akan jadi tunangannya.Pikirkan itu, hatiku terasa tenang.Dibandingkan pernikahanku yang menyakitkan dengan Andi, pilihan ini terasa begitu benar.Doni cinta aku, hormati aku, dan nggak akan pernah khianati aku.Saat aku hendak lepas gaun itu, pintu ruang ganti tiba-tiba terbuka.Andi masuk.Ia tampak seperti orang yang bukan lagi manusia.Wajahnya cekung, janggutnya nggak terurus. Jelas ia sudah lama nggak tidur nyenyak.“Gimana kamu bisa masuk ke sini? Di mana penjaga keamanannya?” tanyaku waspada.Andi nggak jawab.Ia justru berlutut di hadapan ujung gaun putihku yang bersih.Dengan rendah diri, ia raih kedua tanganku.“Sinta, aku telah hancurkan segalanya di Sidolang. Aku cuma mohon satu hal, kembali ke aku. Ayo kita mulai dari

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status