Share

Bab 4

Author: Ivy
Keesokan paginya, sekelompok pelayan bawa berbagai kotak gaun mewah ke dalam kamar tidur kami.

“Sinta, ayo pilih gaun untuk pesta kapal pesiar malam ini,” kata Andi dengan antusias.

“Aku pesan semuanya khusus untuk kamu.”

Aku buka kotak-kotak itu.

Di dalamnya hanya ada gaun-gaun panjang yang tertutup rapat, berkerah tinggi hingga leher, bahkan tutupi lengan sepenuhnya.

“Aku suka betapa anggun dan terhormatnya dirimu,” kata Andi sambil menatapku penuh kasih, matanya dipenuhi rasa memiliki.

“Aku nggak suka pria lain lihat tubuhmu.”

Ia keluarkan sebuah kotak perhiasan beludru dari sakunya.

“Dan ini, untuk istriku yang paling cantik.”

Di dalamnya terlihat sebuah kalung safir yang nggak ternilai harganya, setiap batunya sebesar telur merpati.

Ia mengalungkannya dengan lembut di leherku lalu kecup leherku perlahan.

“Hanya ini yang pantas untuk kamu.”

Saat itu juga, Instagram-ku kirim notifikasi.

Intan unggah sembilan foto, semuanya pakai gaun-gaun super seksi, leher V yang dalam, punggung terbuka, belahan tinggi hingga paha, kain sutra yang tipis.

Keterangannya berbunyi: [Bingung harus pilih yang mana. Suamiku bilang gaya anggun dan bermartabat terlalu bikin bosan. Katanya malam ini, mendingan tampil seksi saja.”

Aku menatap layar HP, lalu menatap deretan gaun tertutup seperti milik seorang biarawati di hadapanku.

Betapa ironisnya.

...

Malam itu, pesta kapal pesiar resmi dimulai.

Kapal pesiar raksasa itu berlayar tinggalkan pantai Sidolang.

Andi genggam tanganku saat kami buka malam dengan dansa waltz yang anggun.

Tangannya nggak pernah lepas dari pinggangku, seolah lindungi aku.

Setiap kali pemimpin keluarga lain mendekat untuk bersulang denganku, ia selalu cegah itu.

“Istriku nggak suka minum alkohol. Biar aku yang gantikan dia.”

Para tamu angkat gelas sampanye mereka, lontarkan pujian penuh sanjungan.

“Kesetiaan Ketua ke istrinya benar-benar nggak tergoyahkan padahal sudah bertahun-tahun.”

“Dicintai Ketua sampai sedalam itu, Sinta benar-benar permata Sidolang.”

Andi rangkul pinggangku, menatapku penuh cinta di hadapan semua orang.

“Sinta adalah satu-satunya wanita dalam hidupku.”

Di tengah pesta, seorang pengawal mendekat dan berbisik ke Andi.

Andi menoleh ke aku.

“Sayang, ada urusan mendesak yang harus aku urus di ruang kerja pribadi di atas. Aku akan segera balik.”

“Pergi saja,” kataku sambil tersenyum dan mengangguk.

Dua puluh menit kemudian, aku pamit dari kerumunan orang dengan alasan sedikit mabuk laut dan ingin hirup udara segar.

Sebelum sempat capai pagar dek untuk nikmati angin laut, terdengar erangan napas yang aku kenal dari balik bayangan di bawah jembatan kapal.

Itu Andi, yang seharusnya ada di ruang kerja.

Ia tekan Intan di dek kapal.

Gaunnya terangkat sampai pinggang, dan kakinya melingkar erat di tubuh si pria.

“Ya Tuhan, Andi … di sini? Di dek ini?” Intan terengah, kepalanya mundur ke belakang.

“Para tamu ada di dalam, gimana kalau ada yang keluar ngerokok?”

“Nggak akan ada yang berani. Aku sudah suruh para penjaga tutup pintunya. Nggak ada seorang pun yang boleh keluar. Lihat laut itu … teriaklah saja sesukamu, ombak akan telan itu,” geram Andi.

“Aku lebih buat kamu tergila-gila dibanding istrimu, kan?” desah Intan.

“Jangan sebut istriku! Ini cuma nafsu! Jangan salah paham!” bentak Andi.

Aku berdiri di dek selama satu jam penuh, saksikan pemandangan menjijikkan itu.

Hatiku sudah mati rasa sepenuhnya.

Aku paksa diri berpaling dan jalan kembali ke aula dansa.

Saat hampir sampai di pintu masuk, seorang tamu mabuk terhuyung keluar.

Ia nggak sadar dengan keberadaanku di bayang-bayang.

Ia melangkah lurus ke arah “pertunjukan” itu.

Tiga detik kemudian, “PERGI!” raung Andi menggelegar.

Tamu itu langsung mundur dengan wajah pucat.

Andi keluar dari kegelapan sambil kancingkan kemejanya.

“Kalau istriku sampai dengar satu kata pun tentang apa yang kamu lihat malam ini, seluruh keluargamu akan lenyap dari Sidolang sebelum matahari terbit. Ngerti?” desis Andir.

“Ya! Ya, Ketua! Aku nggak lihat apa pun! Sumpah!” Tamu itu gemetar hebat.

Ia bergegas kembali ke aula, namun tiba-tiba membeku ketika lihat pintu masuk.

Aku berdiri di sana, tenang dan anggun. Kengerian penuhi matanya.

Ia sadar aku pasti telah lihat segalanya. Ia tahu bahwa aku tahu.

Ia menatapku penuh ketakutan, khawatir aku akan bicara.

Aku hanya kasih dia senyum tipis yang penuh makna.

Sebelum Andi kembali, aku berbalik dan kembali ke suite mewah di dek.

Baru saja aku sampai balkon, HP-ku berdering.

“Nona Sinta, semuanya sudah diatur.” Suara serak terdengar dari seberang.

“Oke, sampai jumpa besok,” jawabku pelan.

Baru saja aku tutup telepon, Andi dorong pintu untuk masuk.

Sepertinya ia dengar sesuatu.

“Sinta, tadi kamu bilang ‘sampai jumpa besok’? Emangnya kamu mau ke mana?” tanyanya dengan bingung.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ketua Mafia Memohon Kesempatan Kedua   Bab 20

    Sudut Pandang Andi.Setelah tiga hari tiga malam nggak sadarkan diri, akhirnya aku berhasil lolos dari cengkeraman maut.Kesadaranku perlahan kembali, dan rasa sakit yang tajam tembus dadaku.Aku buka mata dengan susah payah.Ruang rumah sakit itu begitu sunyi.Aku menoleh dan lihat Sinta duduk di samping ranjangku.Ia duduk di kursi, sebuah buku berada di tangannya.Rambutnya diikat longgar, wajahnya tenang dan begitu cantik.Rasa bahagia langsung meledak di mata kelabuku.Dia jagain aku. Dia benar-benar jagain aku!Apa ini berarti peluru yang aku terima akhirnya berhasil rebut hatinya lagi?Aku ulurkan tangan gemetar, ingin sentuh ujung jarinya.“Sinta, kamu jagain aku. Apa itu artinya aku masih punya tempat di hatimu?” Suaraku parau dan pecah.Jantungku berdegup kencang penuh harap.Mungkin … mungkin kami masih punya kesempatan. Mungkin dia akan maafkan aku.Mungkin peluru itu benar-benar bisa tebus semua dosaku.Sinta hindari sentuhanku tanpa ekspresi. Ia tutup bukunya dan menatapk

  • Ketua Mafia Memohon Kesempatan Kedua   Bab 19

    Sudut Pandang Andi.Aku menerobos lantai paling atas menara jam itu dan lihat Sinta terikat di sebuah kursi.Intan berdiri di belakangnya, genggam detonator di tangannya.Doni tiba hampir bersamaan, dan mata kami saling bertaut sesaat.Intan menatap kami berdua lalu tertawa histeris.“Haha! Lihat ini! Dua pria terkuat di dunia ini sama-sama pertaruhkan nyawa demi satu wanita!”Ia jambak rambut Sinta dengan kasar dan tekan detonator ke dadanya.Sinta meringis kesakitan, tetapi nggak keluarkan suara.Di matanya nggak ada ketakutan, hanya ketenangan yang tegar.Hatiku terasa diremas keras.Dia masih setegar itu, masih secantik itu.“Andi, bukannya demi dia kamu ingin bunuh aku? Sekarang aku kasih kamu kesempatan. Datang ke sini dan tukar nyawamu dengan nyawanya.” Intan tertawa gila.Suara hitung mundur bergema di seluruh gedung.“Sepuluh menit … sembilan menit lima puluh sembilan detik … sembilan menit lima puluh delapan detik ….”Titik-titik cahaya merah menari di wajah kami.Udara teras

  • Ketua Mafia Memohon Kesempatan Kedua   Bab 18

    Sudut Pandang Sinta.Ruang ganti gaun pengantin bermandikan cahaya keemasan.Doni telah terbangkan para penjahit paling bergengsi di dunia hanya untuk momen ini.Mereka bantu aku kenakan gaun pengantin yang bertabur sepuluh ribu berlian.Gaun ini butuh waktu enam bulan untuk diselesaikan.Setiap berlian dipilih satu per satu dan ditempatkan dengan sempurna.Aku berdiri di depan cermin setinggi lantai, menatap bayanganku.Sutra putih itu membalut lekuk tubuhku dengan sempurna.Kilau berlian memantul di bawah cahaya, memukau hingga buat napas tertahan.Doni berdiri di belakangku, betulkan kerudungku dengan sangat hati-hati.Gerakannya lembut dan teliti.“Kamu akan jadi pengantin tercantik di dunia,” bisiknya.Ia kecup dahiku dengan penuh kasih.Aku menatap pantulan kehidupan damai di cermin, hatiku terasa tenang.Akhirnya, mimpi buruk itu berakhir.Besok aku akan jadi istri Doni.“Aku harus terima telepon penting, lima menit lagi aku akan kembali,” kata Doni dengan nada minta maaf.“Ngga

  • Ketua Mafia Memohon Kesempatan Kedua   Bab 17

    Sudut Pandang Sinta.Doni menerobos masuk ke dalam ruangan dengan bau mesiu yang menyengat.Pakaiannya berlumuran darah, dan matanya dipenuhi niat membunuh.Begitu lihat aku dirantai di ranjang, wajahnya langsung berubah murka.“Bajingan terkutuk!”Ia hantam dinding hingga buku-buku jarinya pecah dan berdarah.Namun ia nggak peduli dengan rasa sakit itu. Tangannya gemetar saat buka rantai di pergelangan tanganku.Dengan suara tajam, rantai itu terlepas.Aku bebas.“Sinta, sayangku ….”Matanya memerah saat ia periksa aku berulang kali, pastikan nggak ada luka.“Dia sentuh kamu? Dia sakitin kamu?”Suaranya serak karena ketakutan.“Maaf. Aku gagal lindungi kamu. Ini nggak akan pernah terjadi lagi.”Aku menatap pria yang hampir korbankan segalanya demi selamatkan aku.Ia kerahkan seluruh pasukan tentara bayarannya, hancurkan setengah Sidolang, semuanya hanya demi selamatkan aku.Cinta ini begitu dalam dan membara.“Aku nggak apa-apa kok. Bawa aku pulang.”Doni sembunyikan wajahnya di lekuk

  • Ketua Mafia Memohon Kesempatan Kedua   Bab 16

    Sudut Pandang Sinta.Selama beberapa hari berikutnya, Andi penuhi semua kebutuhanku.Setiap pagi ia muncul tepat waktu di kamarku.Bantu aku cuci wajah, ganti pakaian.Gerakannya sangat hati-hati, seolah takut sedikit saja bisa lukai aku.Namun aku tetap diam membisu.Ia masak sendiri hidangan penutup kesukaanku.Puding mangga, es teler, dan pai lemon yang paling aku suka.Lalu ia berlutut di samping ranjang dan suapi aku sedikit-sedikit.“Ayo, buka mulutmu, Sinta, Ini pai lemon kesukaanmu,” katanya lembut.Aku rapatkan bibir, tolak untuk makan.Ia tunggu dengan sabar, sendok itu tetap menggantung di depan bibirku.“Kalau kamu nggak mau makan, nanti kamu sakit.”Aku tiba-tiba buka mulut, bukan untuk makan. Aku gigit jarinya sekuat tenaga.“Ah!” Andi berseru kesakitan.Darah mengalir dari ujung jarinya.Namun ia nggak tarik tangannya, hanya mengernyit pelan.“Sinta, nggak apa-apa kalau kamu mau gigit aku, asal itu bisa buat lega.”Aku lepaskan jarinya dan menatapnya dingin.Ia mengelap

  • Ketua Mafia Memohon Kesempatan Kedua   Bab 15

    Sudut Pandang Sinta.Sebulan kemudian, hari pertunangan itu pun semakin dekat.Aku berdiri di ruang ganti, menatap bayanganku di cermin, mengenakan gaun putih.Gaun itu Doni yang pilih sendiri untuk aku.Sederhana, anggun, tepat seperti seleraku.Besok aku akan jadi tunangannya.Pikirkan itu, hatiku terasa tenang.Dibandingkan pernikahanku yang menyakitkan dengan Andi, pilihan ini terasa begitu benar.Doni cinta aku, hormati aku, dan nggak akan pernah khianati aku.Saat aku hendak lepas gaun itu, pintu ruang ganti tiba-tiba terbuka.Andi masuk.Ia tampak seperti orang yang bukan lagi manusia.Wajahnya cekung, janggutnya nggak terurus. Jelas ia sudah lama nggak tidur nyenyak.“Gimana kamu bisa masuk ke sini? Di mana penjaga keamanannya?” tanyaku waspada.Andi nggak jawab.Ia justru berlutut di hadapan ujung gaun putihku yang bersih.Dengan rendah diri, ia raih kedua tanganku.“Sinta, aku telah hancurkan segalanya di Sidolang. Aku cuma mohon satu hal, kembali ke aku. Ayo kita mulai dari

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status