로그인"Setiap malam aku selalu teringat saat di luar ruang gawat darurat. Kamu duduk di sana sendirian, meneleponku, sementara aku malah menyuruhmu jangan membesar-besarkan keadaan."Dia terdiam sejenak."Lani, aku datang bukan untuk memohon agar kita rujuk."Akhirnya aku menatapnya.Matanya memerah, tetapi dia tetap berusaha terlihat tenang."Aku datang untuk meminta maaf.""Maafkan aku."Ucapan itu sudah lama sekali kutunggu.Hingga akhirnya, saat kata-kata itu datang, semuanya sudah tidak berarti lagi.Aku berkata,"Aku sudah menerimanya."Nathan tampak seperti tertusuk oleh kalimat itu.Dia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tasnya lalu meletakkannya di tepi pagar."Cincinnya sudah kuubah. Tulisan yang terukir di bagian dalamnya juga sudah dihapus. Kalau kamu nggak menginginkannya, buang saja."Aku tidak mengambilnya."Nathan, jangan memberiku apa pun lagi."Jari-jarinya menegang.Aku berkata pelan,"Semua yang kamu lakukan sekarang hanyalah menambal celah dari masa lalu. Tapi aku suda
"Biarkan saja dia.""Kamu terlalu tenang.""Lalu aku harus bagaimana?"Aku menutup kotak obat."Yang dia inginkan bukan tanggapanku, melainkan Nathan yang menghiburnya."Sharon mencibir."Kalau begitu dia mungkin akan kecewa. Kudengar tadi malam Nathan dilaporkan dalam rapat rumah sakit."Tanganku berhenti sejenak."Pengaduan apa?""Seseorang melaporkan secara anonim bahwa selama ini dia menyalahgunakan ruang rawat pribadi dan sumber daya dokter spesialis untuk Widya, bahkan melampirkan catatan sebagai bukti. Sekarang pihak rumah sakit sedang menyelidikinya."Aku tidak berkata apa pun.Catatan itu memang kususun sebelum meninggalkan Kota Pelabuhan.Bukan untuk membalas dendam.Aku hanya tiba-tiba tidak ingin lagi membantu mereka mempertahankan kepura-puraan itu.Tak lama kemudian, Nathan menelepon.Nomor baru ini belum kublokir.Begitu tersambung, kalimat pertamanya adalah,"Kamukah yang melaporkannya?""Ya."Napasnya terdengar berat."Apa kamu tahu ini akan memengaruhi evaluasi jabata
"Undangannya dipilih oleh Bibi dan Widya. Biar saja Widya yang menjelaskannya ...."Bu Teresa terdiam sesaat."Jangan menyindir terus. Demi kamu, beberapa hari ini Nathan sampai mengubah jadwal operasinya. Dia juga kelihatan sangat lelah. Sudahlah, cepat kembali."Suaraku tetap tenang."Kalau dia lelah, suruh saja Widya yang menghiburnya.""Melani!"Bu Teresa menahan amarahnya."Dengan kondisi ayahmu sekarang, ke depannya masih banyak pengeluaran yang menunggu. Kalau kamu benar-benar putus dengan Nathan, siapa yang akan menanggungmu?"Tanganku berhenti.Jadi di matanya, aku menikahi Nathan hanya agar ada yang menanggung biaya pengobatan ayah."Nggak perlu Bibi mengkhawatirkannya.""Jangan sok kuat. Nanti kalau kamu sudah nggak sanggup, pada akhirnya kamu juga akan kembali memohon kepada kami."Aku menutup telepon.Tak lama kemudian, pengacara membalas pesanku."Nona Melani, tak ada hambatan hukum untuk membatalkan pertunangan. Biaya acara pertunangan dapat diselesaikan sesuai pembagian
"Selain orang yang datang menjenguk pasien, yang lain nggak diperbolehkan masuk ke sini."Seolah tidak mendengar perkataanku, tatapannya tetap tertuju pada wajahku."Kamu jadi lebih kurus."Dulu, mendengar kalimat itu mungkin membuat hatiku luluh.Sekarang, aku hanya merasa itu tidak perlu."Ada keperluan apa Dokter Nathan datang kemari?"Sapaan itu membuat alisnya sedikit menegang."Jangan memanggilku seperti itu.""Lalu harus kupanggil apa? Mantan tunangan?"Jakunnya bergerak pelan."Aku sudah meminta pernikahannya ditunda, bukan dibatalkan. Tenangkan dirimu beberapa hari, nanti kita bicarakan lagi."Aku melewatinya dan berjalan menuju kamar rawat.Dia mengulurkan tangan untuk menghalangiku. Gerakannya sangat terkendali, hanya sedikit menghalangi jalanku."Melani, aku mengakui hari itu aku memang nggak menanganinya dengan baik. Tapi kamu nggak bisa menjatuhkan hukuman mati kepadaku hanya dengan satu kalimat."Aku mengangkat kepala dan menatapnya."Saat aku menunggumu di luar ruang ga
Pukul lima lewat dua puluh dini hari, kabut tebal menyelimuti dermaga Kota Kabut.Saat aku mendorong kursi roda ayah naik ke feri, perawat pendamping mengikuti di belakang sambil membawa barang bawaan sederhana.Ayah masih belum tahu bahwa aku akan membawanya ke pusat rehabilitasi di luar kota.Dia bersandar di kursi roda. Ucapannya masih belum jelas saat bertanya,"Lani, kita mau ke mana?"Aku merapikan syal di lehernya."Kita pergi ke tempat yang lebih tenang supaya Ayah bisa memulihkan kesehatan."Di dalam kabin feri tidak banyak penumpang.Aku duduk di dekat jendela sambil memandangi lampu-lampu Kota Pelabuhan yang perlahan menjauh.Setelah ponsel dinyalakan, muncul daftar panggilan tak terjawab.Tiga puluh tujuh panggilan.Semuanya dari Nathan.Ada juga pesan dari Bu Teresa."Melani, kamu membawa ayahmu ke mana? Pernikahan tinggal tujuh hari lagi. Jangan bertindak gegabah."Widya juga mengirim satu pesan."Kak Lani, Nathan mencarimu semalaman. Dia sangat mengkhawatirkanmu. Cepatla
Pada hari ayah menjalani pemeriksaan ulang, Nathan berjanji akan menemaniku mendampingi ayah menjalani konsultasi pascaoperasi.Dia bilang pukul sepuluh pagi.Pukul sembilan lewat tiga puluh, aku sudah mendorong kursi roda ayah dan menunggu di depan Departemen Rehabilitasi.Kondisi ayah sedikit membaik. Dengan mulut yang masih agak mencong, dia bertanya,"Nathan pasti sangat sibuk, ya?"Aku menyelimuti lututnya dengan selimut."Ya, dia sibuk."Pukul sepuluh lewat lima, dia belum datang.Pukul sepuluh lewat dua puluh, dokter mulai memanggil nomor antrean.Aku menelepon Nathan. Panggilan pertama tidak dijawab, panggilan kedua langsung ditolak.Baru pada panggilan ketiga dia mengangkatnya.Suasana di seberang sangat sunyi, seperti berada di sebuah ruang rawat privat."Lani, aku sedang ada urusan."Aku memandang nomor antrean yang terus berkedip di depan ruang periksa."Dokter sudah menunggu. Berkas pemeriksaan ulang dibawa olehmu."Semalam dia bilang takut aku menghilangkannya, jadi dia s







