分享

Kini, Aku Belajar Melepasmu
Kini, Aku Belajar Melepasmu
作者: Surana

Bab 1

作者: Surana
"Sakit?" Suara kekanakannya terdengar begitu tajam, menyimpan kekejaman yang tidak seharusnya dimiliki anak seusianya. "Saat hatimu yang busuk itu membunuh kucing peninggalan ibuku, apa kamu nggak pernah berpikir akan berakhir gini? Jangan harap karena kamu sudah menikah ke sini, kamu bisa menggantikan posisi ibuku. Vanya, setelah aku dewasa nanti, aku pasti akan mengusirmu dari Keluarga Mahesa!"

Tenggorokan Vanya terasa tercekat, suaranya keluar dengan parau dan lemah. "Kucing itu ... mati karena sudah tua, bukan aku yang membunuhnya."

"Bohong!" Haris menendang kandang besi itu dengan keras hingga bergetar hebat. Anjing-anjing di dalamnya terkejut dan makin ganas menerjang ke arah Vanya.

Vanya secara refleks mencoba menyusut ke belakang, tetapi punggungnya membentur jeruji besi yang dingin. Dia benar-benar tidak punya jalan keluar.

Seorang asisten rumah tangga yang tidak tega melihat adegan itu mencoba membujuk, "Tuan Muda, tolong jangan marah. Kami sudah memeriksanya, kucing itu memang sudah tua dan mati secara alami, ini sama sekali nggak ada hubungannya dengan Nyonya."

"Diam!" Haris menoleh dengan tatapan tajam. "Sekali pun mati karena tua, itu tetap karena dia nggak becus mengurusnya!"

Dia kembali menatap Vanya yang meringkuk di dalam kandang. "Tetap kurung dia di sana. Biarkan dia merenungi kesalahannya baik-baik."

Anjing Mastiff itu terus menggeram rendah sambil mendekat. Vanya memejamkan mata erat-erat, kuku-kukunya menancap dalam ke telapak tangan.

Sudah enam tahun.

Akan tetapi, di rumah ini, dia tetaplah bukan siapa-siapa.

Entah berapa lama waktu telah berlalu, suara derap langkah kaki terdengar mendekat dari kejauhan. Sebuah suara berat yang dingin dan menusuk terdengar dari arah pintu.

"Haris, kamu sedang apa?"

Gilang berdiri di ambang pintu, tampak berwibawa dengan setelan jas yang rapi, meski sorot matanya terlihat begitu tajam dan kaku.

Tatapannya menyapu ke arah Vanya yang bersimbah darah di dalam kandang. Pupil matanya sedikit menyusut, lalu dia berkata dengan suara berat, "Keluarkan dia."

Beberapa pengawal segera maju untuk membuka gemboknya.

Seluruh kekuatan Vanya seolah menguap. Saat seseorang membantunya keluar, kedua kakinya lemas dan dia nyaris jatuh berlutut di lantai.

Gilang mengulurkan tangan untuk memapahnya. Namun, tepat di saat jemari pria itu menyentuhnya, Vanya secara refleks menghindar.

Alisnya sedikit berkerut, tatapannya jatuh pada wajah pucat wanita itu. "Luka separah ini, kenapa nggak memanggil orang?"

Vanya menundukkan tatapannya, tidak menjawab.

Apa gunanya meminta bantuan?

Di rumah ini, siapa yang mau mendengarkan suaranya?

Gilang menatap kebisuan Vanya dengan kilatan ketidaksabaran di mata. Dia menoleh ke arah pengurus rumah dan berkata, "Bawa dia ke rumah sakit."

Di rumah sakit, aroma disinfektan terasa begitu menyengat.

Vanya berbaring di ranjang pasien. Mendengar deru kesibukan dokter yang sedang menangani lukanya, ujung jarinya gemetar hebat karena menahan sakit.

Pintu bangsal terbuka, Gilang melangkah masuk.

Jasnya sudah dilepas, dia hanya mengenakan kemeja dengan kerah yang sedikit terbuka, memperlihatkan bekas merah yang ambigu di tulang selangkangnya.

Tatapan Vanya sempat tertegun sejenak, tetapi dia segera memalingkan wajahnya.

Itu adalah bekas ciuman, tanda yang sudah sangat Vanya kenali.

Selama bertahun-tahun ini, Gilang dikelilingi banyak wanita. Masing-masing dari mereka memiliki wajah yang sangat mirip dengan kakak Vanya yang telah tiada, Laili.

Gilang tak pernah bisa melupakan Laili karena itulah Gilang terus-menerus mencari pengganti. Wanita simpanan terbarunya bernama Joanna, yang wajahnya begitu mirip mendiang kakaknya. Saking miripnya, dalam sebulan Gilang menghabiskan hampir 28 hari untuk tidur di tempat Joanna.

Sedangkan bagi Vanya, sebagai istri sah, dia bahkan tidak dianggap layak untuk sekadar menjadi pengganti.

Vanya hanyalah seorang anak haram dari Keluarga Baskara yang terbuang, yang sejak kecil hidup menderita demi merawat ibunya yang sakit parah.

Laili Baskara adalah kakaknya, tetapi mereka menjalani kehidupan yang bagaikan bumi dan langit.

Laili tumbuh besar dengan penuh kebahagiaan, dicintai oleh sang pewaris kaya Ibukota, Gilang Mahesa, dan dimanjakan layaknya permata yang paling berharga.

Hingga enam tahun yang lalu, Laili meninggal dunia saat berjuang melahirkan, meninggalkan Haris yang baru saja lahir ke dunia.

Keluarga Mahesa membutuhkan seorang wanita untuk merawat bayi Haris. Ayah Vanya yang licik dan tak ingin kehilangan koneksi bagus dengan Gilang, menggunakan biaya pengobatan ibunya sebagai ancaman. Dia memaksa Vanya menandatangani kontrak selama enam tahun, memaksanya menikah dan masuk ke Keluarga Mahesa demi mengurus Gilang dan Haris.

Vanya terpaksa menerimanya.

Selama enam tahun ini, Gilang selalu bersikap dingin pada Vanya, sementara pria itu terus mencari wanita demi wanita di luar sana hanya karena kemiripan mereka dengan kakaknya Vanya, Laili.

Haris pun membencinya, melakukan segala cara untuk mengusirnya dari kediaman Mahesa.

Lebih dari dua ribu hari dan malam telah berlalu, tetapi Vanya tetap tidak pernah berhasil membuat mereka menerimanya.

Lamunannya buyar saat Gilang membuka suara dengan nada datar. "Kucing itu mati dan itu memang karena kelalaianmu dalam mengurusnya. Haris cuma lagi emosi. Jadi, terima saja dulu, bersabarlah sedikit."

"Kondisi ibumu terus menurun setelah keluar dari rumah sakit, bahkan ada tanda-tanda awal demensia. Aku sudah mengatur panti jompo pribadi untuknya sebagai kompensasi atas kejadian ini."

Nada bicaranya begitu tenang, seolah-olah dia sedang membicarakan sebuah transaksi bisnis.

Vanya justru tertawa getir.

Sesaat kemudian, dia mendongak menatap pria itu dengan tatapan yang tak kalah tenang. "Nggak perlu. Dulu, kesepakatan antara kedua keluarga kita adalah aku menikah ke sini untuk merawat Haris selama enam tahun. Sekarang, hanya tersisa setengah bulan lagi. Setelah setengah bulan berlalu, aku akan pergi."

Gilang tertegun sejenak. Alisnya berkerut, matanya menyiratkan ketidaksabaran yang nyata. "Kamu ngambek apa lagi? Aku nggak punya waktu untuk melihatmu bertingkah. Anggap saja aku nggak pernah mendengar kalimatmu barusan. Urusan panti jompo sudah ada yang bereskan, jadi masalah ini selesai."

Setelah mengatakan itu, Gilang melangkah pergi dengan angkuh. Punggungnya terlihat dingin dan tak terjangkau.

Vanya menatap pintu yang tertutup rapat itu, lalu perlahan memejamkan matanya.

Dia tidak sedang mencari perhatian, juga tidak sedang ngambek.

Janji enam tahun adalah enam tahun. Tidak boleh lebih meski hanya satu hari.

Kali ini, dia benar-benar akan pergi.

Juga tidak akan pernah kembali lagi.

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Kini, Aku Belajar Melepasmu   Bab 26

    "Jangan begitu. Sekarang, kamu dan Haris harus segera pergi," tolak Vanya tanpa ragu sedikit pun.Ketika seorang pria mulai merasa penasaran terhadap seorang wanita, itulah awal dari sebuah perasaan.Akan tetapi, Vanya tahu bahwa di dalam hati Gilang akan selalu ada tempat bagi mendiang Laili, posisi yang tidak akan pernah bisa digoyahkan oleh siapa pun.Orang yang masih hidup tidak akan pernah bisa menang melawan orang yang sudah mati. Vanya sudah membuktikan hal itu sekali dan dia benar-benar lelah. Dia tidak ingin mencobanya lagi.Kondisinya yang sekarang sudah sangat baik. Dia tidak butuh mereka untuk bisa hidup bahagia.Gilang merasa sangat tidak berdaya, dia berkata dengan perlahan, "Vanya, percaya atau nggak, aku sebenarnya mulai menyukaimu. Meski belum bisa menandingi perasaanku pada Laili, tapi berikan aku waktu, aku akan mencintaimu. Cinta ini nggak ada hubungannya dengan Laili. Aku tahu aku harus belajar merelakannya."Mendengar itu, Vanya merasa sangat jijik seolah melihat

  • Kini, Aku Belajar Melepasmu   Bab 25

    "Anak durhaka? Kamu bahkan nggak pantas kusebut sebagai Ayah. Nggak pernah menafkahiku sehari pun, tapi masih berharap aku berbakti padamu?""Selama enam tahun ini, bukannya sudah cukup banyak keuntungan yang kamu peras dari Keluarga Mahesa? Masih belum menyerah juga? Kamu pikir aku akan tetap menurut padamu seperti dulu? Jangan mimpi!"Dulu, dia sudah terlalu lama bersabar dan mengalah saat berada di kediaman Mahesa. Sekarang, dia tidak akan pernah membiarkan dirinya ditindas lagi.Mendengar ucapan itu, wajah ayahnya berubah pucat pasi lalu merah padam. Merasa orang-orang di sekitar mulai berbisik-bisik dan menunjuk-nunjuk ke arahnya, rasa malunya berubah menjadi kemurkaan yang meledak."Vanya, kamu benar-benar sudah berani sekarang! Kalau bukan karena aku, ibumu pasti sudah lama mati karena sakit! Kamu juga nggak akan mungkin bisa masuk ke lingkaran Keluarga Mahesa dan mencicipi hidup mewah sebagai nyonya besar!""Kamu itu berutang pada Keluarga Baskara, berutang pada kakakmu, Laili!

  • Kini, Aku Belajar Melepasmu   Bab 24

    Saat membuka mata, Haris menyadari dirinya berada dalam dekapan yang hangat.Ibunya Vanya, Linda, sedang memeluknya. Melihat Haris sudah siuman, dia dengan telaten menyuapinya bubur, meski nada bicaranya tetap terdengar sangat dingin."Lain kali, jangan pernah lagi gunakan taktik melukai diri sendiri seperti ini. Kalau sekali lagi kamu sengaja membuat dirimu kelaparan sampai pingsan cuma untuk mencari Vanya, aku nggak akan segan-segan menyerahkanmu ke kantor polisi."Haris menelan sesendok bubur, matanya tertunduk lesu. "Maafkan aku ...."Linda langsung memotong permintaan maafnya dengan cepat. "Nggak perlu lagi mengucapkan kata maaf. Luka yang kamu torehkan pada Vanya nggak akan pernah bisa dimaafkan. Kalau bukan karena kamu masih anak-anak, aku pasti akan mempertaruhkan nyawaku sendiri untuk memastikan kamu merasakan setiap penderitaan yang pernah dia rasakan!""Tapi, aku benar-benar tahu aku salah. Aku bisa tinggal di sini untuk menebus dosaku, tolong jangan usir aku, ya?"Air mata

  • Kini, Aku Belajar Melepasmu   Bab 23

    Haris juga menggigit bibirnya dengan raut wajah yang sangat sedih. "Ayah, apa Ibu benar-benar sudah nggak menginginkanku lagi?""Nggak mungkin. Selama kita berusaha keras memohon pengampunannya, suatu hari nanti dia pasti akan melihat ketulusan hati kita."Gilang tidak ingin membuat putranya bersedih dan dirinya sendiri pun belum mau menyerah.Mendengar ucapan itu, suasana hati Haris sedikit membaik. Dia mengangguk mantap. "Aku pasti akan berusaha keras!"Setelah pergi ke rumah sakit untuk mengobati luka mereka, ayah dan anak itu membeli sebuah rumah di dekat penginapan Vanya dan menetap di sana untuk sementara waktu.Suatu hari, Haris melihat Arum sedang duduk di depan pintu, menikmati masakan buatan Vanya sambil tersenyum lebar hingga matanya menyipit bahagia.Seketika, rasa iri dan cemburu yang amat sangat bergejolak di dalam hati Haris.Dulu, hanya dialah satu-satunya anak yang mendapatkan perawatan istimewa seperti itu dari Vanya.Hanya dia yang boleh memanggil Vanya Ibu.Akan tet

  • Kini, Aku Belajar Melepasmu   Bab 22

    Belum sempat kata-kata penjelasan itu selesai terucap, Vanya sudah memotongnya dengan tidak sabar, "Sudahlah. Nggak perlu lagi membicarakan hal-hal nggak berguna seperti itu. Dulu, aku memang sangat berharap kalian bisa menyukaiku. Tapi, sekarang, aku sudah punya cinta dari banyak orang. Aku nggak butuh kalian lagi."Baru saja dia hendak melanjutkan kalimatnya, tiba-tiba sebuah papan reklame di atas kepala mereka terlepas dan jatuh menghantam ke arahnya."Vanya!""Ibu!"Dalam sekejap mata, Gilang dan Haris secara bersamaan menerjang ke arah Vanya sambil berteriak panik.Vanya hanya sempat melangkah mundur satu langkah. Dia sama sekali tidak terluka, tetapi papan reklame itu justru menghantam dan menembus bahu Gilang.Darah segar terus mengalir deras dari bahunya. Gilang meringis menahan sakit yang luar biasa, tetapi dia sekuat tenaga tidak mengeluarkan satu pun keluhan.Sebaliknya, hal pertama yang dia lakukan adalah memastikan keadaan Vanya."Vanya, kamu nggak apa-apa? Apa ada yang lu

  • Kini, Aku Belajar Melepasmu   Bab 21

    Gilang dan Haris terpaku menatap pintu yang tertutup rapat itu. Mereka merasa sangat tidak berdaya dan kehilangan arah."Ayah, aku sudah minta maaf, tapi kenapa Ibu nggak mau memaafkanku? Apa kontrak itu sebegitu pentingnya? Apa selama bertahun-tahun ini dia sama sekali nggak punya perasaan pada kita? Bagaimana bisa dia melepaskan semuanya begitu saja?""Padahal meskipun aku membencinya, di dalam hatiku aku masih mencintainya diam-diam. Aku benar-benar tahu aku salah sekarang."Haris terisak dengan suara lirih.Air mata sebesar biji jagung jatuh membasahi tanah, tak terbendung lagi.Kali ini, dia benar-benar menangis dengan tulus.Dia sungguh tidak mengerti, mengapa Vanya bisa bersikap begitu baik pada gadis kecil yang baru dikenalnya beberapa hari, tetapi bisa dengan begitu cepat menghapus mereka dari hatinya.Di sampingnya, tinju Gilang yang mengepal di sisi kaki mulai mengeluarkan tetesan darah, yang perlahan mengalir dari sela jari dan jatuh ke tanah."Mungkin karena kita sudah ben

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status