Share

Bab 2

Author: Surana
Selama beberapa hari masa pemulihan di rumah sakit, Gilang dan Haris sama sekali tidak peduli, bahkan tidak menanyakan kabar lukanya sedikit pun.

Akan tetapi, setiap hari Vanya justru harus melihat foto-foto yang dipamerkan di media sosial Joanna.

Dalam foto itu, Gilang tampak gagah dengan setelan jasnya di sebuah restoran mewah. Haris bersandar manja di kaki ayahnya, sementara Joanna yang mengenakan gaun putih panjang berdiri dengan anggun di samping Gilang. Mereka bertiga tersenyum ke arah kamera, terlihat sangat serasi, persis seperti sebuah keluarga kecil yang bahagia.

Keterangan fotonya tertulis: [Makan malam bareng orang-orang tersayang. Bahagia itu sesederhana ini.]

Hanya dengan satu kedipan, Vanya pun segera menutup aplikasi itu dalam diam.

Dia akan segera pergi dan semua kemesraan itu takkan lagi ada hubungannya dengan dia.

Di hari Vanya keluar dari rumah sakit, dia mengurus semua prosedurnya sendirian. Dengan kaki yang belum sembuh total, dia menyeret langkahnya yang pincang untuk pulang ke rumah Keluarga Mahesa.

Vila itu terasa kosong melompong. Gilang dan Haris sedang tidak ada di rumah.

Dalam keheningan, dia kembali ke kamarnya dan mulai mengemasi barang-barang.

Sebenarnya, tidak banyak yang perlu dikemas. Barang miliknya sangat sedikit, selain beberapa potong pakaian ganti, hanya ada perlengkapan harian yang sederhana.

Dia menarik laci, lalu mengeluarkan sebuah kotak kayu dari dasar yang paling dalam. Di dalamnya tersimpan uang yang dia tabung diam-diam selama ini, beserta dokumen-dokumen pentingnya.

Sebentar lagi. Tinggal setengah bulan lagi dan dia akan benar-benar bebas dari tempat ini.

Baru saja dia selesai merapikan setengah barang-barangnya, tiba-tiba pintu kamar didorong terbuka.

Haris berdiri di ambang pintu, menatapnya dengan dingin. Suaranya terdengar penuh ketidaksabaran. "Sedang apa kamu?"

Jari-jemari Vanya terhenti sejenak. Dengan tenang, dia menjawab, "Lagi beresin barang."

Haris mengernyit. Dia seolah tidak peduli dengan apa pun yang dilakukan wanita itu, dia hanya memberi perintah, "Musim hujan mau datang. Ayah suruh kamu beresin semua barang peninggalan ibuku, jangan sampai jamuran."

Ujung jari Vanya sedikit menegang. Dia pun menjawab pelan, "Iya."

Haris berbalik hendak pergi, tetapi seolah teringat sesuatu, dia menoleh lagi dan menambahkan, "Oh iya, sebentar lagi ulang tahunku tiba. Kamu siapin saja semuanya kayak tahun-tahun lalu."

Vanya menundukkan pandangan, lalu menyanggupi dengan suara rendah, "Hm."

Haris mendengus remeh. Baginya, sikap Vanya yang selalu pasrah dan penurut itu sangat membosankan. Dia pun berbalik dan pergi begitu saja.

Vanya menghabiskan waktu tiga hari untuk mempersiapkan sebuah pesta besar.

Setengah jam sebelum pesta dimulai, Vanya baru saja hendak berganti pakaian dengan gaun pestanya.

Akan tetapi, saat pintu lemari dibuka, dia mendapati seluruh gaun miliknya telah digunting-gunting hingga hancur berantakan.

Baru saja Vanya hendak bertanya pada asisten rumah tangga, Haris sudah berdiri di ambang pintu.

Tangannya memegang sebuah gunting sambil tertawa mengejek, seolah sedang menonton pertunjukan yang sangat lucu, "Nggak punya gaun buat dipakai, rasain deh bakal malu banget nanti!"

Haris menjulurkan lidah sambil memasang muka mengejek, lalu segera berlari turun ke lantai bawah dengan cepat.

Melihat potongan-potongan kain yang berserakan di lantai, Vanya hanya bisa menghela napas panjang.

Sudah tidak sempat lagi kalau harus membeli gaun baru. Di saat dia sedang kebingungan harus berbuat apa, tiba-tiba Joanna datang berkunjung.

Begitu mengetahui bahwa semua pakaian Vanya telah digunting-gunting oleh Haris, dia berkata dengan nada sok baik, "Vanya, pestanya bakal segera dimulai. Aku bisa pinjamin kamu satu gaun, nanti balikin ke aku saja kalau acaranya sudah selesai."

Wanita itu tersenyum dengan sangat lembut seolah tanpa dosa. Vanya memperhatikannya lekat-lekat untuk waktu yang lama, tetapi Vanya tidak menangkap adanya tanda-tanda niat jahat.

Karena tidak ada cara lain untuk mendapatkan gaun baru dalam waktu singkat, Vanya akhirnya terpaksa setuju.

Tak lama kemudian, Joanna membawakan gaunnya.

Gaun model duyung berwarna biru muda itu tampak berkilauan saat terkena cahaya, dihiasi dengan taburan berlian kecil yang sangat memukau.

Aula pesta kini telah terang benderang oleh cahaya lampu kristal yang megah.

Begitu Vanya muncul mengenakan gaun pemberian Joanna, seluruh ruangan pesta mendadak hening seketika.

Tatap mata semua orang tertuju padanya, menyiratkan rasa terkejut, penuh selidik, bahkan ada kesan aneh yang sulit dijelaskan.

Vanya mulai merasa ada yang tidak beres, tetapi sebelum dia sempat bereaksi, Haris sudah menerjang ke arahnya dengan wajah kecil yang tampak murka.

"Vanya, siapa yang kasih izin kamu pakai baju ibuku?"

Vanya tersentak. Dia menunduk menatap gaun yang melekat di tubuhnya dan baru menyadari sesuatu.

Gaun yang diberikan Joanna padanya bukanlah gaun pesta biasa. Itu adalah gaun kesayangan mendiang kakaknya, Laili, semasa hidup!

Dia mendongak dengan cepat, menatap ke arah Joanna yang berdiri tak jauh darinya.

Joanna melemparkan senyum tipis ke arahnya, tetapi di balik tatapan itu tersirat kilatan kemenangan yang licik.

Detik berikutnya, Haris sudah mendorongnya dengan sangat keras!

"Jangan mimpi bisa gantiin posisi ibuku cuma gara-gara pakai gaun ini! Ibuku cuma satu, mati saja kamu!"

Vanya tersentak tak siap, seluruh tubuhnya terhuyung ke belakang dan langsung jatuh terperosok ke dalam kolam renang di belakangnya!

Byurr!

Air yang sedingin es seketika menenggelamkan mulut dan hidungnya. Vanya tidak bisa berenang. Dia meronta-ronta berusaha muncul ke permukaan, tetapi gaun yang dia kenakan menyerap air dan menjadi sangat berat, menariknya terus tenggelam ke dasar.

Tepat saat dia hampir kehilangan kesadaran, barulah pengawal menariknya ke atas.

Vanya terkapar di tepi kolam sambil terbatuk-batuk hebat. Belum sempat dia mengatur napas, suara dingin Haris sudah terdengar menyalak, "Lucuti bajunya! Dia nggak pantas pakai baju ibuku!"

Begitu perintah itu keluar, pengawal itu langsung merobek gaunnya dengan kasar.

"Ah!"

Vanya menjerit tertahan, secara naluriah dia meringkuk untuk menutupi tubuhnya, tetapi semua sudah terlambat.

Kain satin berwarna putih mutiara itu tercabik-cabik menjadi potongan-potongan kecil. Seketika, Vanya merasakan embusan angin dingin yang menusuk kulitnya. Di bawah tatapan ratusan pasang mata, dia ditelanjangi hingga hanya menyisakan pakaian dalam, terekspos begitu saja dalam kondisi yang sangat memilukan.

Haris berdiri di sampingnya dengan gigi terkatup rapat karena dendam. "Kamu nggak pantas pakai baju ibuku!"

Tepi kolam renang itu penuh sesak oleh para tamu undangan. Vanya gemetaran hebat, meringkuk seperti bola yang tak berdaya.

Tatapan mata orang-orang yang tertuju padanya terasa tajam bagaikan pisau, menyayat harga dirinya satu demi satu.

Tepat saat itu, sesosok tubuh tegap membelah kerumunan dan melangkah mendekat.

Gilang melepas jas luarnya lalu menyampirkannya ke bahu Vanya. Alisnya berkerut saat bertanya, "Ada apa ini?"

Haris segera mengadu, "Ayah! Dia sengaja curi baju Ibu buat dipakai! Dia mau gantiin posisi Ibu sepenuhnya!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kini, Aku Belajar Melepasmu   Bab 26

    "Jangan begitu. Sekarang, kamu dan Haris harus segera pergi," tolak Vanya tanpa ragu sedikit pun.Ketika seorang pria mulai merasa penasaran terhadap seorang wanita, itulah awal dari sebuah perasaan.Akan tetapi, Vanya tahu bahwa di dalam hati Gilang akan selalu ada tempat bagi mendiang Laili, posisi yang tidak akan pernah bisa digoyahkan oleh siapa pun.Orang yang masih hidup tidak akan pernah bisa menang melawan orang yang sudah mati. Vanya sudah membuktikan hal itu sekali dan dia benar-benar lelah. Dia tidak ingin mencobanya lagi.Kondisinya yang sekarang sudah sangat baik. Dia tidak butuh mereka untuk bisa hidup bahagia.Gilang merasa sangat tidak berdaya, dia berkata dengan perlahan, "Vanya, percaya atau nggak, aku sebenarnya mulai menyukaimu. Meski belum bisa menandingi perasaanku pada Laili, tapi berikan aku waktu, aku akan mencintaimu. Cinta ini nggak ada hubungannya dengan Laili. Aku tahu aku harus belajar merelakannya."Mendengar itu, Vanya merasa sangat jijik seolah melihat

  • Kini, Aku Belajar Melepasmu   Bab 25

    "Anak durhaka? Kamu bahkan nggak pantas kusebut sebagai Ayah. Nggak pernah menafkahiku sehari pun, tapi masih berharap aku berbakti padamu?""Selama enam tahun ini, bukannya sudah cukup banyak keuntungan yang kamu peras dari Keluarga Mahesa? Masih belum menyerah juga? Kamu pikir aku akan tetap menurut padamu seperti dulu? Jangan mimpi!"Dulu, dia sudah terlalu lama bersabar dan mengalah saat berada di kediaman Mahesa. Sekarang, dia tidak akan pernah membiarkan dirinya ditindas lagi.Mendengar ucapan itu, wajah ayahnya berubah pucat pasi lalu merah padam. Merasa orang-orang di sekitar mulai berbisik-bisik dan menunjuk-nunjuk ke arahnya, rasa malunya berubah menjadi kemurkaan yang meledak."Vanya, kamu benar-benar sudah berani sekarang! Kalau bukan karena aku, ibumu pasti sudah lama mati karena sakit! Kamu juga nggak akan mungkin bisa masuk ke lingkaran Keluarga Mahesa dan mencicipi hidup mewah sebagai nyonya besar!""Kamu itu berutang pada Keluarga Baskara, berutang pada kakakmu, Laili!

  • Kini, Aku Belajar Melepasmu   Bab 24

    Saat membuka mata, Haris menyadari dirinya berada dalam dekapan yang hangat.Ibunya Vanya, Linda, sedang memeluknya. Melihat Haris sudah siuman, dia dengan telaten menyuapinya bubur, meski nada bicaranya tetap terdengar sangat dingin."Lain kali, jangan pernah lagi gunakan taktik melukai diri sendiri seperti ini. Kalau sekali lagi kamu sengaja membuat dirimu kelaparan sampai pingsan cuma untuk mencari Vanya, aku nggak akan segan-segan menyerahkanmu ke kantor polisi."Haris menelan sesendok bubur, matanya tertunduk lesu. "Maafkan aku ...."Linda langsung memotong permintaan maafnya dengan cepat. "Nggak perlu lagi mengucapkan kata maaf. Luka yang kamu torehkan pada Vanya nggak akan pernah bisa dimaafkan. Kalau bukan karena kamu masih anak-anak, aku pasti akan mempertaruhkan nyawaku sendiri untuk memastikan kamu merasakan setiap penderitaan yang pernah dia rasakan!""Tapi, aku benar-benar tahu aku salah. Aku bisa tinggal di sini untuk menebus dosaku, tolong jangan usir aku, ya?"Air mata

  • Kini, Aku Belajar Melepasmu   Bab 23

    Haris juga menggigit bibirnya dengan raut wajah yang sangat sedih. "Ayah, apa Ibu benar-benar sudah nggak menginginkanku lagi?""Nggak mungkin. Selama kita berusaha keras memohon pengampunannya, suatu hari nanti dia pasti akan melihat ketulusan hati kita."Gilang tidak ingin membuat putranya bersedih dan dirinya sendiri pun belum mau menyerah.Mendengar ucapan itu, suasana hati Haris sedikit membaik. Dia mengangguk mantap. "Aku pasti akan berusaha keras!"Setelah pergi ke rumah sakit untuk mengobati luka mereka, ayah dan anak itu membeli sebuah rumah di dekat penginapan Vanya dan menetap di sana untuk sementara waktu.Suatu hari, Haris melihat Arum sedang duduk di depan pintu, menikmati masakan buatan Vanya sambil tersenyum lebar hingga matanya menyipit bahagia.Seketika, rasa iri dan cemburu yang amat sangat bergejolak di dalam hati Haris.Dulu, hanya dialah satu-satunya anak yang mendapatkan perawatan istimewa seperti itu dari Vanya.Hanya dia yang boleh memanggil Vanya Ibu.Akan tet

  • Kini, Aku Belajar Melepasmu   Bab 22

    Belum sempat kata-kata penjelasan itu selesai terucap, Vanya sudah memotongnya dengan tidak sabar, "Sudahlah. Nggak perlu lagi membicarakan hal-hal nggak berguna seperti itu. Dulu, aku memang sangat berharap kalian bisa menyukaiku. Tapi, sekarang, aku sudah punya cinta dari banyak orang. Aku nggak butuh kalian lagi."Baru saja dia hendak melanjutkan kalimatnya, tiba-tiba sebuah papan reklame di atas kepala mereka terlepas dan jatuh menghantam ke arahnya."Vanya!""Ibu!"Dalam sekejap mata, Gilang dan Haris secara bersamaan menerjang ke arah Vanya sambil berteriak panik.Vanya hanya sempat melangkah mundur satu langkah. Dia sama sekali tidak terluka, tetapi papan reklame itu justru menghantam dan menembus bahu Gilang.Darah segar terus mengalir deras dari bahunya. Gilang meringis menahan sakit yang luar biasa, tetapi dia sekuat tenaga tidak mengeluarkan satu pun keluhan.Sebaliknya, hal pertama yang dia lakukan adalah memastikan keadaan Vanya."Vanya, kamu nggak apa-apa? Apa ada yang lu

  • Kini, Aku Belajar Melepasmu   Bab 21

    Gilang dan Haris terpaku menatap pintu yang tertutup rapat itu. Mereka merasa sangat tidak berdaya dan kehilangan arah."Ayah, aku sudah minta maaf, tapi kenapa Ibu nggak mau memaafkanku? Apa kontrak itu sebegitu pentingnya? Apa selama bertahun-tahun ini dia sama sekali nggak punya perasaan pada kita? Bagaimana bisa dia melepaskan semuanya begitu saja?""Padahal meskipun aku membencinya, di dalam hatiku aku masih mencintainya diam-diam. Aku benar-benar tahu aku salah sekarang."Haris terisak dengan suara lirih.Air mata sebesar biji jagung jatuh membasahi tanah, tak terbendung lagi.Kali ini, dia benar-benar menangis dengan tulus.Dia sungguh tidak mengerti, mengapa Vanya bisa bersikap begitu baik pada gadis kecil yang baru dikenalnya beberapa hari, tetapi bisa dengan begitu cepat menghapus mereka dari hatinya.Di sampingnya, tinju Gilang yang mengepal di sisi kaki mulai mengeluarkan tetesan darah, yang perlahan mengalir dari sela jari dan jatuh ke tanah."Mungkin karena kita sudah ben

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status