Share

Bab 4

Author: Peachy
Aku memaksakan diri untuk mengabaikan ekspresi rasa bersalah Luki yang menjijikkan.

Pesta setelahnya diadakan di sebuah griya tawang mewah.

Alkohol membuat udara di ruangan terasa berbahaya dan mencekam.

"Ayo main game!" teriak Johan, seorang pewaris muda dari keluarga lain. "Vodka Rulet!"

Semua orang berkumpul.

"Aturannya sederhana," kata Johan sambil mengangkat sebotol vodka. "Kita putar rodanya. Siapa pun yang ditunjuk roda harus melakukan tantangan. Kalau menolak, harus menghabiskan segelas penuh."

Roda pun mulai berputar.

Putaran pertama, kena istri seorang bankir. Dia harus berjalan di atas tali di pagar balkon tanpa mengenakan sepatu hak tinggi. Saat dia berhasil, semua orang bersorak.

Putaran kedua. Roda semakin melambat.

Dan, berhenti di namaku.

"Lisa Bramantyo!" teriak Johan. "Tantanganmu adalah ... menari Tango dengan Luki Mortario!"

Suasana menjadi hening.

Tari Tango, itu artinya kami harus berdekatan.

Semua mata tertuju padaku, Luki, dan Derry.

Ini seperti bom waktu.

Luki menatap Shelly yang wajahnya mulai berubah kaku.

"Aku ...." Luki tampak ragu-ragu. "Sepertinya itu bukan ide yang bagus."

Dia khawatir dengan perasaan Shelly.

Sempurna.

Pengkhianatannya bersih dan sempurna.

Aku berdiri, meletakkan gelasku dengan bunyi klik lembut. "Kau benar," kataku dengan suara selembut sutra. "Aku tidak ingin membuat siapa pun kecewa. Aku menyerah."

Aku mengambil botol vodka dan menuangkan segelas besar tanpa ragu.

"Lisa, tunggu ...." Derry mengulurkan tangan untuk menghentikanku.

"Tidak apa-apa, Sayang." Aku memberinya senyum manis. Lalu, menenggak minuman keras itu sekaligus.

Rasanya membakar tenggorokan, tapi aku tidak batuk.

Terdengar tepuk tangan, tetapi wajah Luki malah semakin muram.

"Kau tidak perlu melakukan itu," katanya dengan nada kesal. "Aku bisa melakukannya."

"Melakukan apa?" Aku berkedip, pura-pura bingung. "Tapi itu bisa membuat Derry marah."

Aku menoleh ke arah Derry, suaraku terdengar manis. "Benar kan, Sayang? Kau benci kalau aku berdansa dengan pria lain."

Tatapan Derry menjadi tajam. "Kalau kau tidak mau, kau tidak perlu melakukannya."

"Lihat itu?" Aku kembali menoleh ke Luki. "Tunanganku tidak setuju. Maaf ya, Luki."

Aku mendesah saat menyebut kata tunangan, lalu menepuk dada Derry dengan posesif.

Api menyala di sorot mata Luki.

"Derry." Suaranya rendah dan berbahaya. "Apa kita bisa bicara sebentar di teras?"

Kedua pria itu berjalan keluar ke teras.

Aku berpura-pura mengobrol dengan tamu lain. Padahal sebenarnya aku tetap mendengarkan mereka.

"Apa yang kau lakukan?" Suara Luki penuh amarah.

"Aku sedang menjaga tunanganku," jawab Derry dengan tenang.

"Tunangan?" Luki mencibir. "Jangan lupa ini hanya permainan, Derry. Dia itu seperti kertas kosong yang tidak ingat apa pun."

"Mungkin itu yang terbaik."

"Apa maksudmu?"

"Maksudku, mungkin dia tidak perlu mengingat hal-hal yang menyakitinya."

"Derry, aku peringatkan," ancam Luki. "Jauhi dia. Kau itu sepupuku. Jangan terlalu serius dengan permainan ini."

"Dan kau?" balas Derry. "Apa yang kau lakukan?"

Keheningan menyelimuti mereka berdua. Aku memalingkan wajah.

Mereka kembali beberapa menit kemudian.

Wajah Luki muram, sedangkan Derry tampak sedang berpikir.

Tengah malam, kami akhirnya kembali ke kediaman Derry.

Alkohol membuatku sedikit pusing, tapi pikiranku masih tetap tajam.

"Kau minum terlalu banyak," kata Derry sambil membantuku menaiki tangga.

"Aku baik-baik saja," gumamku. "Hanya sedikit ... panas."

Kami berhenti di depan pintu kamar tidurku.

"Istirahatlah," kata Derry, lalu berbalik pergi.

Namun, aku meraih pergelangan tangannya.

"Jangan pergi," kataku sembari menatap matanya. "Aku sedikit ... kesepian."

Dia berhenti, lalu berbalik menghadapku.

Wajahnya dinaungi cahaya bulan yang menerobos masuk melalui jendela.

"Lisa ...." Suaranya serak.

Aku menarik pergelangan tangannya dengan keras.

Lalu, membiarkan diriku terhuyung, dan jatuh tepat dalam pelukannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kisah Di Balik Medali Pelindung Suci   Bab 12

    Tiga bulan kemudian, pernikahan kami diadakan di kediaman pribadi Derry.Aku berjalan melewati lautan mawar putih, mengenakan gaun rancangan khusus, menuju altar.Derry berdiri di sana mengenakan setelan tuksedo berwarna hitam, matanya hanya tertuju padaku.“Kau sangat cantik sampai-sampai membuat hatiku terasa sakit,” bisiknya sambil menggenggam tanganku.Pendeta mulai mengucapkan sumpah.Tiba-tiba, pintu di belakang aula terbuka lebar.Luki tersandung, masuk dengan terhuyung, jasnya berantakan, sorot matanya liar.“Lisa!” teriaknya. “Kau tidak boleh menikah dengannya!”Semua tamu menoleh, suasana menjadi hening.“Orang yang kau cintai itu aku!” teriaknya. “Kau tahu itu! Kita punya sejarah!”Dua orang suruhan Derry langsung menghampiri Luki dan mencengkeram lengannya.“Lepaskan aku!” Luki meronta. “Lisa, lihat aku! Kau tahu aku masih di hatimu!”Aku menatapnya tanpa ekspresi.Derry melepaskan tanganku dan berjalan perlahan ke arah Luki.“Luki Mortario.” Suaranya terdengar dingin seola

  • Kisah Di Balik Medali Pelindung Suci   Bab 11

    Medali itu bersinar di telapak tanganku. Kenangan-kenangan itu kembali membanjiri pikiranku.Pada suatu malam di musim panas, lima tahun yang lalu.Aku mabuk di sebuah pesta kapal pesiar. Aku terpeleset di dek dan jatuh ke lautan.Laut dingin menelanku. Kupikir aku akan mati.Lalu, seorang pria menyelam.Dia tinggi dan kuat. Dia menarikku ke arah pantai dalam kegelapan.Hal terakhir yang kuingat sebelum kegelapan menelanku adalah sepasang mata yang dalam dan tajam.“Itu kau?” bisikku sambil menatap Derry.“Iya, itu aku,” Dia mengangguk cepat. “Tapi ketika kau bangun keesokan harinya, Luki malah memberitahumu bahwa dialah yang sudah menyelamatkanmu.”“Jadi, aku ....”“Jadi, kau memberikan hatimu padanya.” Suara Derry serak karena rasa sakit akut. “Kau berpikir sudah berutang nyawa padanya.”Semuanya tiba-tiba menjadi masuk akal.Apa yang kurasakan untuk Luki … itu bukanlah cinta. Itu adalah balas budi.Sedangkan, Derry ....“Jadi, itu sebabnya,” bisikku sambil terus menatapnya. “Mengapa

  • Kisah Di Balik Medali Pelindung Suci   Bab 10

    Pengakuan Luki menciptakan keheningan di tengah dek.Setiap mata melirik ke arah kami bertiga. Udara dipenuhi aroma garam dan pengkhianatan.Aku perlahan berdiri dan menatap pria yang menangis di lantai itu.“Jadi, kau tunanganku?” Suaraku terdengar sangat tenang.“Iya, benar!” Luki mengangguk panik. “Selama dua tahun!”“Kalau begitu katakan padaku, Tunanganku.” Aku mendekat, setiap kata terasa tajam seperti silet. “Lalu, kenapa kau mendorongku ke pelukan Derry di depan seluruh keluarga?”Mulut Luki hanya terbuka dan tertutup, namun tidak ada kata yang keluar.“Karena kau merasa bosan denganku, kan?” Aku mendesaknya. “Karena kau menginginkan kebebasan, kau ingin bermain-main dengan wanita lain, jadi kau menggunakan amnesiaku untuk melemparkanku kepada Derry seperti sampah?”“Bukan begitu ... aku hanya ....”“Kau hanya apa?” Aku mencibir. “Kau ingin mengabaikan tunanganmu, sementara kau berselingkuh. Gitu?”Wajah Luki tampak pucat pasi.“Lalu, sekarang kau melihatku dan Derry bahagia, d

  • Kisah Di Balik Medali Pelindung Suci   Bab 9

    Keesokan harinya, Luki kembali ke kapal pesiar.Penampilannya sangat buruk, terdapat lingkaran hitam di bawah matanya, serta janggut tipis di dagunya."Lisa. Kita perlu bicara." Dia langsung berjalan ke arahku dan Derry.Shelly mengikutinya, wajahnya muram. "Luki, apa yang kau lakukan?""Aku ingin mengatakan yang sebenarnya," kata Luki, matanya terus tertuju padaku. "Yang sebenarnya tentang kita."Semua orang berkumpul di sekitar mereka. Suasana menjadi tegang."Luki, jangan buat keributan." Derry memperingatkan."Tidak!" Luki tiba-tiba berlutut di depanku. "Lisa, aku yang salah. Aku bersalah."Air mata mengalir di wajahnya, suaranya bergetar. "Aku seharusnya tidak memperlakukanmu seperti itu. Aku seharusnya tidak menjauhkanmu. Aku menyesalinya."Aku menatapnya, wajahku dingin dan kaku seperti topeng es."Apa maksudmu? Aku tidak mengerti.""Kau harus ingat," isak Luki dengan suara bergetar. "Apa yang kau katakan semalam ... kau pasti sudah ingat. Kau harus ingat.""Aku hanya ingat bahw

  • Kisah Di Balik Medali Pelindung Suci   Bab 8

    Aku menyelinap kembali ke dek bawah. Derry sudah menungguku di sana.Wajahnya terlihat muram. Aku melihatnya berkedip, sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya. Sebuah keraguan.“Apa yang Shelly katakan padamu?” tanyanya hati-hati.“Tidak ada yang penting.” Aku menggenggam tangannya. “Hanya obrolan perempuan.”Derry terdiam sejenak, memilih kata-katanya.“Lisa ... kalau ada yang memberitahumu ... bahwa kau dan Luki pernah dekat ... bagaimana perasaanmu?”Suaranya lembut, tetapi aku mendengar kekhawatiran di baliknya.Aku menatap wajahnya yang tegang, gelombang kehangatan tiba-tiba menyelimutiku.“Luki?” Aku mengerutkan kening, seolah mencoba mengingatnya. “Kenapa aku harus tertarik pada sepupu tunanganku?”Derry tampak rileks.“Kau tunanganku, kan?” Aku berjinjit, lalu mencium sudut bibirnya. “Kau satu-satunya.”Dia pun menarikku dan memelukku erat.“Apa pun yang orang katakan, kau harus ingat ini,” bisiknya di telingaku. “Kau itu milikku.”Makan malam saat itu terasa seperti mimpi

  • Kisah Di Balik Medali Pelindung Suci   Bab 7

    “Biar kuberitahu sebuah rahasia kecil.” Sorot mata Shelly sedingin es. “Tunangan Luki itu ... kau.”Aku tetap tersenyum. “Aku tidak mengerti.”“Jangan pura-pura bodoh,” cibirnya. “Luki sudah menceritakan semuanya padaku. Kalian sudah bertunangan selama dua tahun. Dia bosan karena kau terus menempel padanya. Jadi, dia mengarang cerita amnesia ini dan menyerahkanmu kepada Derry seperti sebuah paket.”Angin mengibaskan rokku, tetapi suaraku tetap tenang. “Lalu kenapa?”“Lalu kenapa?” Mata Shelly melebar. “Apa kau tidak marah? Apa kau tidak sakit hati?”“Kalau dia tidak mencintaiku, kenapa aku harus mencintainya?” Aku berbalik menghadap ke arah laut.“Tapi kau harus menjauh darinya!” Suara Shelly menjadi melengking. “Dia milikku sekarang! Keluargaku bisa memberi Luki uang dan kekuasaan yang sesungguhnya. Bukan keluarga tak dikenal seperti keluargamu.”Aku berbalik menghadapnya, sorot mataku menyala-nyala.“Keluarga tak dikenal?” Aku tertawa singkat dan dingin. “Shelly, apa kau mengenal Luk

  • Kisah Di Balik Medali Pelindung Suci   Bab 5

    Aku jatuh ke pelukan Derry. Lengannya langsung melingkari tubuhku.“Ups,” kataku sambil mendongak menatapnya. Wajah kami begitu dekat hingga aku bisa merasakan napasnya.“Kau mabuk,” katanya dengan suara berat dan serak.“Tidak,” kataku. Tanganku menyentuh dadanya dan merasakan jantungnya berdebar k

  • Kisah Di Balik Medali Pelindung Suci   Bab 3

    Aku tidur nyenyak sekali, padahal baru saja tertembak.Keesokan paginya, aku kembali berperan sebagai tunangan Sang Ketua Mafia yang amnesia.“Ada jamuan acara amal malam ini,” kata Derry saat sarapan. “Apa kau mau ikut denganku?”Aku meletakkan cangkir kopiku. “Apa harus? Tapi kondisiku masih seper

  • Kisah Di Balik Medali Pelindung Suci   Bab 2

    Kediaman Derry bagaikan sebuah benteng.Sebuah mobil Rolls-Royce hitam mengantar kami melewati gerbang yang dijaga ketat. Aku melihat beberapa pria bersenjata berpatroli di sekitar pekarangan."Kau aman di sini," kata Derry singkat.Dia membawaku ke sebuah kamar tidur yang mewah.Dekorasinya berwarn

  • Kisah Di Balik Medali Pelindung Suci   Bab 1

    Aku menghadang tembakan demi Luki, pacarku yang merupakan seorang mafia, saat diserang oleh keluarga musuh. Saat aku tersadar, dia mengira aku terkena amnesia. Jadi, dia bilang bahwa aku adalah tunangan sepupunya. Dan sepupunya yang bernama Derry adalah Sang Ketua, bos mafia."Bella? Kau sudah sadar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status