Short
Cinta Suamiku Terbagi Untuk Wanita Lain

Cinta Suamiku Terbagi Untuk Wanita Lain

By:  KarenWCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
10Chapters
759views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Saat aku hamil tiga bulan, wanita yang disebut sebagai adik tiri dari suamiku, Ruby, muncul di depan pintuku. Dengan perut buncitnya, Ruby berkata, "Nyonya, karena hari perkiraan kelahiran anakku sudah sangat dekat, aku pikir kamu harus tahu ... pewaris Bos ada di dalam perutku." Ruby meletakkan semuanya di hadapanku mulai dari foto-foto intimnya dengan Kaleb, catatan transfer uang mingguan yang dikirim Kaleb padanya, dan bahkan akta dari sebuah vila. Tanggal paling awal dari semua ini terjadi adalah saat aku kehilangan bayi pertama kami dan dokter berkata aku akan sulit untuk bisa hamil lagi. Selama bertahun-tahun ini, aku terus menjalani program bayi tabung dan berusaha keras untuk bisa mengandung anak kami lagi. Sementara itu, Kaleb malah bermain-main dengan wanita yang disebut sebagai adik tirinya itu. Jika Kaleb memang sangat menginginkan wanita lain, aku akan membiarkannya memiliki wanita itu. Lagi pula, aku memang sudah tidak berniat untuk tinggal di sini lagi. Aku sudah merencanakan kepergianku.

View More

Chapter 1

Bab 1

Sudut pandang Lena:

Suamiku adalah seorang bos mafia. Adik tirinya datang menemuiku dan mengaku bahwa dirinya sedang mengandung anak suamiku. Aku tidak merasa hancur, melainkan hanya menatap matanya dan berkata, "Kamu ambil saja dia."

Lagi pula, aku memang tidak berniat bertahan dengan pria pembohong dan pengkhianat.

Ruby yang merupakan adik tiri Kaleb itu tersenyum angkuh dan matanya perlahan-lahan mengamati ekspresiku. "Kamu tahu nggak? Kaleb nggak ingin aku muncul di depanmu, tapi aku harus datang temui kamu. Dia bilang sekarang kamu lagi hamil ya?"

Dia menatap ke perutku dan melanjutkan dengan santai, "Sayang sekali, punyaku ini anak laki-laki dan hari lahirnya sudah sangat dekat."

Mataku tertuju pada foto-foto dan catatan transaksi yang tadi dilemparkan Ruby ke atas meja. Kaleb dan Ruby terlihat sangat dekat dan intim di setiap foto, seolah-olah mereka adalah pasangan suami istri yang sebenarnya. Aku mengumpulkan semuanya, lalu mulai membolak-balikkannya perlahan-lahan.

Tanggal terlama dari foto itu adalah tiga tahun yang lalu. Saat menatap tanggal itu, aku tahu aku tidak mungkin salah. Itu adalah hari saat aku kehilangan bayi pertamaku. Itu juga hari di mana Kaleb menghilang sepanjang hari, lalu berkata dia ada rapat mendesak.

Sebagai ketua dari Kediaman Sinarya, rapat mendesak adalah hal yang biasa bagi Kaleb. Bisnisnya gelap dan rumit, sehingga dia sering menghilang. Oleh karena itu, aku tidak pernah mempertanyakannya. Aku hanya tidak menyangka rapat mendesak yang dimaksudnya itu ternyata adalah menghabiskan sepanjang hari bersama Ruby, wanita yang disebut adik tirinya.

Menurut foto-foto itu, keseharian kedua orang itu sangat mewah. Pertama-tama, Kaleb akan membawa Ruby ke salah satu restoran paling mahal di pusat kota. Setelah itu, ada malam poker bersama beberapa teman-temannya. Jemariku mencengkeram foto itu makin erat karena keseharianku saat itu sangat berbeda jauh dibandingkan dengan mereka.

Dokter bilang saat itu bayiku seharusnya sudah stabil. Namun sore itu, kram tajam tiba-tiba memelintir perutku. Darah pun mengalir di sepanjang kakiku saat aku berteriak dan meminta pelayan untuk memanggil ambulans serta Kaleb.

Di dalam ambulans itu, aku benar-benar berpikir aku mungkin akan mati dan tidak akan pernah melihat Kaleb atau bertemu bayi kami lagi. Aku merasa sangat ketakutan dan putus asa.

Namun, saat aku berjuang demi Kaleb dan anak kami, ternyata dia malah menghabiskan malam-malamnya bersama Ruby. Saat aku terbaring di meja operasi dan menunggu dokter memulai prosedur untuk mengeluarkan bayi pertamaku dari tubuhku ... dia malah mengangkat gelas dan bersulang bersama Ruby. Mereka merayakan kemenangan mereka dalam permainan poker.

Mataku terasa perih, tetapi aku menarik kembali air mataku. Menangis di depan Ruby adalah hal terakhir yang akan aku izinkan. Lagi pula, bukan Kaleb atau pernikahan kami yang hancur yang membuat dadaku terasa sakit, melainkan kenangan saat kehilangan bayi pertamaku.

Aku terus membolak-balikkan foto-foto itu. Dalam salah satu foto itu, terlihat Kaleb berlutut dengan satu kaki dan memegang cincin berlian besar. Tanggal pada foto itu menarik perhatianku karena itu adalah hari ulang tahunku di tahun lalu.

Anehnya, aku tidak merasakan apa-apa lagi setelah melalui begitu banyak kejutan. Memikirkan Kaleb menghabiskan ulang tahunku dengan berlutut di depan Ruby dan memberinya cincin, aku bahkan tidak merasa terkejut lagi seperti seharusnya.

Ruby berkata dengan santai, "Jangan sedih, Lena. Kaleb selalu memastikan kamu nggak merasa lebih rendah dariku. Apa pun yang diberikannya padaku, dia pasti akan memberimu hal yang sama."

Dia tersenyum, lalu satu tangannya mengusap perutnya yang buncit. "Tapi sekarang, bayiku akan segera lahir. Aku benar-benar ingin gelar nyonya itu kembali, putraku pantas mendapatkan hak untuk mewarisi Keluarga Sinarya."

Saat mengatakan itu, jemari Ruby menyentuh kalung di lehernya.

Aku langsung mengenalinya. Kalung itu hampir sama dengan kalung yang diberikan Kaleb padaku untuk hari jadi kami tahun ini, tetapi hanya hampir sama. Kalung di leher Ruby bersinar lebih terang. Berlian-berliannya juga lebih besar, lebih banyak, dan jauh lebih berharga daripada kalung milikku.

"Nah, sekarang kamu sudah tahu semuanya. Aku harus kembali. Kaleb mungkin akan khawatir kalau dia nggak menemukanku di sana saat dia pulang," kata Ruby sambil berdiri dan merapikan gaunnya.

Kaleb memberitahuku bahwa dia harus terbang ke Ismania untuk mengurus bisnis kasino, tetapi dia tidak bilang dia sudah kembali.

Setelah Ruby pergi, aku masuk ke kamar dan mengeluarkan kalung yang diberikan Kaleb padaku. Aku menggenggamnya di telapak tanganku sambil menatapnya. Saat pertama kali menerimanya, aku merasa sangat bahagia karena aku sudah lama menginginkan perhiasan itu. Aku pikir Kaleb akhirnya ingat, tetapi sekarang perutku sudah terasa mual hanya dengan melihatnya saja.

Tidak sulit untuk menemukan media sosial Ruby karena dia sangat suka memamerkan kehidupan mewahnya. Sebelum hari ini, aku tidak terlalu memikirkan banyaknya kesamaan di antara kami. Dia adalah adik tirinya Kaleb, dia tentu saja memiliki banyak uang.

Namun, saat aku menelusuri foto-foto Ruby, kemiripan itu menjadi mustahil untuk diabaikan. Tas Chanel, sepatu hak tinggi Gucci dan cincin, semua modelnya sama dengan milikku. Hanya saja, miliknya selalu lebih langka, lebih mahal, dan lebih baik.

Aku terus menggulir beranda Ruby. Dia tidak pernah memperlihatkan wajah Kaleb di sana, mungkin karena Kaleb yang memintanya untuk tidak melakukannya. Namun, aku masih bisa melihat jejak Kaleb di mana-mana. Kadang-kadang hanya tangan yang bertumpu di meja, kadang-kadang berupa sepasang sepatu di samping miliknya.

Saat melihat ada salah satu posting Ruby yang dipasang paling atas di berandanya, aku membukanya. Dalam sekejap, terdengar suara Kaleb dari pengeras suara.

"Ruby, aku mencintaimu. Nggak ada seorang pun yang lebih kucintai daripada kamu."

Posting itu masih baru. Mungkin Ruby sengaja menyematkannya karena tahu aku pada akhirnya akan mencari media sosialnya. Aku tidak menghentikan videonya, sehingga suara Kaleb terus terdengar di latar belakang.

Aku perlahan-lahan berbaring di tempat tidur dan menatap pagar langit-langit di atas. Kini, suara Kaleb terdengar makin menjauh, suara paling keras di ruangan itu justru suara jantungku yang berdetak makin cepat di telingaku.

Jika Kaleb sangat mencintai Ruby, mengapa dia menikahiku? Atau mungkin jawabannya sederhana, hanya aku pilihan yang praktis. Seorang istri yang terlihat terhormat dan wanita yang bisa berdiri di sisinya sebagai nyonya. Aku juga bisa mengurus urusan keluarganya, menjadi tuan rumah pertemuan, dan tersenyum pada keluarga-keluarga lain.

Sementara itu, wanita yang benar-benar dicintai Kaleb yang bisa memilikinya tanpa harus memikul semua beban itu. Aku bahkan bukan pilihan kedua, aku hanya pengganti sementara.

Saat tadi menghadapi Ruby, aku kira aku bisa bersikap tenang. Namun sekarang, aku mengerti itu bukan perasaan tenang, aku hanya terlalu terkejut sampai pikiranku seolah-olah berhenti bekerja sejenak. Rasanya seperti aku keluar dari tubuhku sendiri dan menyaksikan diriku menjalani kehidupan milik orang lain.

Aku tetap merasa sedih, aku tidak bisa menyangkalnya. Meskipun merasa bodoh, aku mengaku aku masih memiliki perasaan pada Kaleb. Aku meletakkan tanganku di atas perutku dengan lembut, tetapi bayi ini masih terlalu kecil untuk bisa merasakan gerakannya. Aku berbisik dengan pelan, "Jangan salahkan aku, Sayang. Aku harus mengeluarkan kita dari sini."

Aku tidak berniat untuk menghadapi Kaleb. Sebagai bos, dia memiliki kekuatan yang lebih dari cukup untuk membuatku menghilang atau memaksaku tetap tinggal di tempat yang diinginkannya. Meninggalkan tempat yang dulu aku sebut rumah dan menghilang sepenuhnya dari kehidupannya adalah satu-satunya pilihan yang kumiliki. Mungkin juga yang paling aman.
Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
10 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status