Share

Bab 4

Penulis: Bella Amara
Semalam suntuk, Joana nggak bisa pejamkan mata.

Kekosongan di tubuhnya dan pukulan di hatinya buat dia benar-benar nggak bisa tidur.

Syukurlah keesokan paginya ia nggak terlambat masuk kerja.

Namun saat Joana menguap kecil dan melangkah ke kantor, ia segera rasakan suasana yang aneh.

“Hari ini ada presiden direktur baru yang datang secara mendadak .…” Temannya, Lili Baskara bisikkan kabar besar itu ke Joana.

Jadi itu sebabnya.

Pantesan sejak tadi ia lihat rekan-rekan perempuannya sibuk ngaca dan rapikan riasan.

“Joana, kenapa kamu belum dandan?” Lili tarik Joana untuk duduk. “Riasanmu terlalu tipis. Biar aku bantu dandan lagi supaya lebih cantik.”

Joana buru-buru menghindar. “Presdir baru mau datang, memangnya apa hubungannya dengan aku? Aku masih banyak kerjaan.”

Sejak lulus kuliah, ia sudah diatur oleh ibu tirinya untuk masuk ke perusahaan ini.

Katanya, agar ia “mengasah pengalaman” di luar.

Padahal kenyataannya, agar Joana nggak masuk ke Grup Widodo dan duduki posisi penting.

Perusahaan keluarga itu memang disiapkan untuk diwariskan ke kakaknya, Jordan, dan kakak tirinya, Diana.

Ia, putri dari istri kedua yang nggak disukai, nggak punya hak untuk masuk ke sana.

Padahal sejak kecil nilai akademiknya selalu cemerlang, bahkan lebih rajin dan tekun dibanding kakak-kakaknya.

Namun ia bukan Jordan, satu-satunya pewaris laki-laki yang diagungkan.

Dan ia juga bukan Diana yang selalu dimanja.

Jadi begitu lulus, ia langsung tersingkir dari pintu Grup Widodo.

Ibu kandungnya pun nggak pernah belain dia.

Ketidakadilan semacam itu sudah terlalu sering Joana alami.

Ia tahu ibu tirinya nggak suka lihat dia menonjol, dan ibu kandungnya sendiri juga nggak pernah belain dia.

Karena itu dua tahun terakhir ia hidup tenang sebagai pegawai kecil yang nyaris nggak terlihat.

Nggak bersaing.

Nggak berebut.

Sebisa mungkin hindari konflik kepentingan dengan kakak-kakaknya.

Ia nggak berniat cari promosi, juga nggak butuh kenaikan gaji.

Jadi presdir baru yang datang mendadak ini sama sekali nggak ada hubungannya dengan dia.

Lili pun tekan Joana kembali duduk ke kursi dengan gemas. “Dengar presdir baru datang, kamu malah santai? Semua orang di perusahaan ini mati-matian dandan cantik supaya sejak pandangan pertama bisa tarik perhatiannya! Memang sih kamu cantik alami, tapi jangan sampai sia-sikan kesempatan! Katanya presdir baru ini muda dan ganteng, jelas nggak mungkin bikin kecewa .…”

Joana hampir ingin muntah darah. “Kalau gitu kamu saja yang dandan cantik. Aku beneran nggak perlu. Aku masih banyak kerjaan .…”

Lili nggak mau lepaskan Joana. “Kalau aku nggak kepilih, tapi kamu yang dipilih juga bagus! Di dunia kerja, selain kemampuan dan kerja keras, yang paling penting itu punya sandaran kuat! Kalau presdir baru ngelirik kita, siapa yang berani macam-macam nanti?”

...

Pukul sepuluh pagi.

Lobi perusahaan sudah dipenuhi orang.

Semua berdiri rapi dan hormat, menatap pintu masuk dengan penuh harap.

Lili susah payah seret Joana ke barisan paling depan.

“Terlalu depan .…” Joana hendak mundur.

Namun saat itu juga presdir baru tiba.

Belasan mobil pengawal iringi sebuah mobil Rolls-Royce supermewah yang berhenti tepat di depan gedung.

Pintu mobil terbuka.

Seorang pria berkacamata hitam dan berjas rapi turun perlahan.

Posturnya tegap dan dingin, auranya kuat seperti seorang raja.

Dikelilingi puluhan pengawal, ia melangkah masuk dengan wibawa yang begitu mencolok.

Pemandangan itu megah dan menggetarkan. Semua orang terpaku.

Aura dominannya benar-benar menekan hingga ke tulang.

Joana pun tanpa sadar mendongak menatap pria itu.

Dan seketika ia tertegun. ‘Gimana mungkin itu dia?’

Pupil matanya mengecil drastis, wajahnya dipenuhi rasa nggak percaya.

Presdir yang datang mendadak itu bukannya dokter pria yang periksa dia di rumah sakit?

‘Ini … nggak mungkin, kan? Bukannya dia dokter?’

Joana hampir kira dia berhalusinasi.

Ia cepat-cepat pejamkan mata dan menggeleng.

Saat ia buka mata kembali, pria itu sudah berhenti tepat di depannya.

Napas Joana nyaris terhenti.

Surya perlahan menoleh ke arahnya.

Dari jarak sedekat ini, mustahil ia salah mengenali.

Wajah setampan pahatan itu adalah pria yang semalam tanpa sengaja mengisi pikirannya.

‘Beneran dia. Astaga! Kok bisa begini?’

Kepalanya berdengung seperti meledak.

Tatapan Surya hanya berhenti kurang dari dua detik sebelum beralih, sedingin orang asing yang nggak pernah kenal dia.

Baru setelah itu semua orang seperti tersadar dan serempak berseru, “Presiden Direktur, hormat!”

Lihat punggungnya masuk ke lift khusus presdir, hati Joana terasa jatuh ke dasar jurang.

Ia diam-diam cubit dirinya keras-keras.

Sakit. Bukan mimpi.

Masih ada satu kemungkinan, presdir baru ini dan dokter hari itu cuma kebetulan punya wajah yang sama.

Dua orang berbeda.

Joana coba menghibur diri. Lili tarik lengannya dengan mata berbinar. “Joana, kamu kenal presdir baru kita?”

Joana tersentak. “Apa?”

“Aku lihat tadi dia berhenti dua detik lebih lama di depanmu! Jangan-jangan dia tertarik sama kamu?”

“Mana mungkin? Kamu pasti salah lihat!” jawab Joana cepat.

Joana segera lari ke toilet, basuh wajahnya dengan air dingin agar pikirannya jernih.

Sementara Lili berdiri terpaku, masih ragu.

Beneran ia cuma salah lihat?

……

Ketika Joana kembali ke kantor, rekan-rekannya sedang ramai bicarakan presdir baru.

“Kalian dengar nggak? Ibunya itu direktur Rumah Sakit Swasta Naroma. Ayahnya pejabat tinggi yang sering muncul di berita TV. Dia tumbuh besar di kompleks militer, lalu kuliah di luar negeri dan raih dua gelar master, kedokteran dan keuangan. Awalnya dia balik itu untuk ambil alih rumah sakit ibunya, nggak tahu kenapa malah datang ke perusahaan kita.”

Dengar itu, jantung Joana bergetar.

Rumah Sakit Swasta Naroma, bukannya itu rumah sakit tempat ia berobat?

Jadi ibunya adalah direktur di sana, dan dia sendiri memang belajar kedokteran.

Beneran selesai sudah.

Semua petunjuk mengarah ke satu jawaban, dia memang dokter yang periksa waktu kapan lalu itu.

Sungguh, apa yang ia takutkan justru terjadi.

Setelah pemeriksaan hari itu, Joana berharap nggak pernah ketemu dia lagi.

Siapa sangka pria itu justru datang ke kantornya sebagai presdir baru?

Untungnya Joana cuma pegawai kecil yang nggak berarti.

Seharusnya nggak bakal ada urusan apa pun di antara mereka.

Baru saja Joana selesai menghibur diri, Manajer Perusahaan itu, Herman Kaligis mendadak hampiri dia dan berkata tegas, “Joana, bos baru sebut namamu. Minta kamu pergi ke kantornya sekarang.”

Kelopak mata Joana berkedut.

Seluruh rekan kantor sontak menoleh padanya dengan tatapan terkejut.

Sementara ia tarik napas tajam.

Hatinya langsung tenggelam ke dasar.

Ya ampun, tetap nggak bisa menghindar?
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kita Sudah Pisah Ranjang, Mengapa Kamu Baru Menyesal?   Bab 50

    Mata hitam Surya menatapnya lurus tanpa berkedip.“Kalau malam ini aku suruh kamu ke rumahku, kamu bakal datang nggak?”Kepala Joana berdengung keras, rasanya mau meledak.Surya minta dia datang ke rumahnya malam ini?Apa maksudnya?Bibir merahnya terkatup terbuka, hendak katakan sesuatu.Tiba-tiba HP Surya berdering.Ia tekan tombol jawab. Dari seberang terdengar suara pria yang familiar.“Malam ini ada pesta kapal pesiar, jangan lupa datang!”“Nggak.” Surya langsung tolak tanpa berpikir.Yusin terdengar kesal.“Nggak mau lagi? Serius? Belakangan ini sudah sepuluh kali lebih aku ajak kamu, kamu selalu nolak. Kenapa sih?”“Aku lagi sibuk urusan perusahaan, nggak ada waktu. Lagian, kamu kan baru saja nikah. Sebaiknya kamu juga tahan diri,” jawab Surya tenang.Yusin mendengus nggak peduli.“Pernikahan itu bukan kemauanku. Lagian aku benar-benar nggak cocok dengan Diana itu! Kalau dia nggak tahan, lebih baik dia sendiri yang minta cerai.”Karena jarak mereka begitu dekat, hampir semua per

  • Kita Sudah Pisah Ranjang, Mengapa Kamu Baru Menyesal?   Bab 49

    Tatapannya begitu tajam, seakan mampu tembus kulit dan tulang, buat udara di sekitar mereka terasa menipis.Joana tiba-tiba merasa napasnya nggak stabil lagi.Ia buru-buru alihkan pandangan.Nggak nyangka, justru Surya datang mendekat.Tubuhnya yang tinggi tegap berhenti tepat di hadapan Joana. Tangannya terangkat, jemarinya mengait lembut dagu Joana.“Kenapa kamu kok menghindar?”Jarak mereka sekarang begitu dekat, napas pun saling berbaur.Mata indah Joana berkilat, suaranya tersendat.“Aku takut kamu tenggelam dalam pesonaku dan nggak bisa keluar lagi ….”Alis Surya terangkat tipis.“Kalau aku yang tenggelam, ngapain kamu yang takut?”Joana terdiam.“Takut aku makan kamu?”Wajah tampannya hanya sejengkal dari Joana, napasnya melingkari tubuh Joana seperti kabut hangat.Suhu di dalam kantor perlahan naik.Pikiran Joana mulai melayang ke arah yang nggak bisa dijelaskan lagi dengan kata-kata.Wajahnya memerah hingga terasa terbakar.Napasnya berubah jadi hembusan panas.Tubuhnya seolah

  • Kita Sudah Pisah Ranjang, Mengapa Kamu Baru Menyesal?   Bab 48

    Joana sama sekali nggak nyangka, pembalasan akan datang secepat ini.Dulu, meski ia telah nikah dengan Fajar, kakaknya tetap berhubungan dengan Fajar, juga sering main semalaman dan nggak pulang.Sekarang, baru saja nikah, Yusin, suami kakaknya, justru menghilang.Akhirnya ia juga rasakan gimana rasanya ditinggalkan suami.Namun ibunya, Julia, jelas nggak bisa terima kenyataan itu. Sepanjang telepon, ia terus-menerus cerca Yusin.Malam itu, Diana diabaikan suami barunya. Sementara suaminya sendiri, Fajar, juga nggak pulang semalaman.Ibunya gelisah nggak bisa tidur, nangis terus sampai matanya sembap.Keesokan paginya, begitu bangun, Joana sudah lihat berita di internet, laporan tentang gimana Diana dipermalukan Yusin di pesta pernikahan semalam.Ada warganet yang marah, bilang Yusin nggak punya kesadaran sebagai suami, baru nikah sudah tinggalkan istrinya.Namun nggak sedikit juga yang ejek Diana.Internet nggak pernah lupa, orang-orang masih ingat skandal ciumannya dengan Fajar yang

  • Kita Sudah Pisah Ranjang, Mengapa Kamu Baru Menyesal?   Bab 47

    Joana cepat-cepat dorong pintu mobil dan turun.Lihat Joana kabur seperti itu, mata Surya jadi semakin gelap.Di telapak tangannya seakan masih tertinggal kelembutan kulit di pinggang Joana.Beberapa waktu belakangan ini, hampir setiap malam ia mimpi cengkeram pinggangnya Joana, tindih dia di atas ranjang.Setiap kali terbangun, ia hanya bisa masuk ke kamar mandi untuk mandi air dingin. Kadang mandi pun nggak banyak bantu.Sering kali ia nggak bisa tidur semalaman, pikirannya dipenuhi bayangan tentang Joana.Terutama beberapa hari ini ketika Joana nggak masuk kerja.Nggak bisa lihat Joana buat rasa kangen itu semakin besar.Tatapan Surya jatuh pada jas yang tadi ia selimutkan pada Joana, kini tergeletak di lantai mobil.Ia ulurkan tangannya, ambil jas itu dan bawa mendekat. Di sana masih tertinggal aroma tubuh Joana.Ia tarik napas dalam-dalam. Hasrat di dasar matanya nyaris meluap.…Baru saja Joana sampai di rumah, telepon dari ibunya, Julia, kembali masuk.Joana pun jelaskan kalau i

  • Kita Sudah Pisah Ranjang, Mengapa Kamu Baru Menyesal?   Bab 46

    Surya angkat pandangannya, lihat wajah Joana dengan tatapan dalam.“Enak pegangnya?”Joana seketika tarik tangannya seolah tersengat listrik.Wajah cantiknya memerah panas.“Ma … maaf!”Tatapan Surya menggelap saat menatapnya, sikapnya justru tampak santai.“Kamu yang curi kesempatan untuk pegang-pegang aku, aku saja nggak malu. Kenapa malah kamu yang jadi merah?”Kepala Joana berdengung.“Aku nggak sengaja pegang kamu!” bantahnya tergesa.Ia tadi hanya ingin segera bangkit dari pangkuan pria itu.Siapa sangka makin panik justru makin kacau.Nggak sengaja pegang bagian itu.Alis Surya terangkat tipis, sorot matanya penuh arti.“Lagian ini bukan pertama kalinya kamu pegang aku. Meskipun sengaja juga nggak masalah kok.”Kata-kata itu diucapkannya sambil nyaris nempel di telinga Joana, napas panasnya menyapu kulit Joana.Tubuhnya gemetar.Seperti kucing kecil yang terkejut, ia melonjak dari pangkuan Surya.Jantungnya belum sepenuhnya tenang. Gimana ia bisa tahan godaan seperti ini?Namun

  • Kita Sudah Pisah Ranjang, Mengapa Kamu Baru Menyesal?   Bab 45

    Untuk apa ia masih berdiri di sini dan basa-basi dengannya?Surya tahu ia seharusnya segera pergi.Namun anehnya, kakinya nggak mau melangkah sedikit pun.Sebaliknya, ia justru bilang, “Ayo, aku antar kau pulang.”Joana spontan langsung nolak.“Nggak perlu repot-repot. Aku bisa naik taksi sendiri.”Walau ia nggak kembali ke dalam dan jalan ke jebakan, untuk pulang pun ia nggak perlu diantar.Tatapan Surya yang gelap jatuh ke dia, wajahnya tegang.“Kamu yakin dengan baju seperti itu bisa naik taksi sendirian?”Joana hampir saja balas, memangnya kenapa dengan bajunya?Namun saat ia menunduk, napasnya tercekat.Kerah kebayanya telah robek lebar gara-gara Lukas.Kain itu nggak lagi mampu menutup tubuhnya dengan layak, lekuk indah di baliknya nyaris tersingkap sepenuhnya.Wajahnya langsung memanas.Ia buru-buru silangkan kedua tangan di dada, tutupi bagian yang terbuka.“Baru sekarang kepikiran untuk nutupin itu? Yang seharusnya aku lihat atau nggak, sudah aku lihat,” ujar Surya pelan, seul

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status