Share

Bab 5

Penulis: Bella Amara
Herman menatapnya tajam.

“Kamu habis buat salah apa?”

Bos besar tiba-tiba sebut namanya untuk menghadap, nggak cuma Joana yang kaget, seluruh orang di kantor, termasuk Herman, atasan langsungnya juga nggak nyangka.

Joana mengedip polos.

“Aku juga nggak tahu.”

Telapak tangannya basah oleh keringat dingin. Hatinya gelisah, nggak bisa tenang sedikit pun.

Semakin ingin menghindar, semakin nggak bisa lepas.

Herman peringatkan dengan keras, “Kalau memang kamu buat salah, tanggung sendiri! Jangan seret-seret aku, ngerti?”

Herman adalah orang kepercayaan ibu tirinya.

Dua tahun terakhir, Joana ditempatkan kerja di bawahnya.

Herman turuti perintah Denina, ibu tirinya untuk persulit hidup Joana, kasih dia pekerjaan paling merepotkan, tekan dia dengan berbagai cara.

Sekarang, di hari pertama Bos Besar datang, ia justru melangkahi struktur organisasi dan langsung panggil Joana.

Dalam pikiran Herman, sudah pasti Joana telah lakukan sesuatu yang nyinggung Bos Besar.

Jadi, kalau Joana benar-benar dapat hukuman, justru itu akan memudahkan Herman untuk kasih laporan ke Denina, Nyonya besar Keluarga Widodo.

Ia memang diperintahkan untuk cari cara agar Joana lakukan kesalahan.

Sayangnya, dua tahun ini gadis itu selalu berhati-hati dan nggak pernah terpeleset.

Ia sedang pusing pikirkan cara “ciptakan” kesalahan untuk Joana, ketika tiba-tiba Joana sendiri buat masalah sampai ke telinga Bos Besar.

Waktunya tepat sekali. Semakin besar masalah yang Joana buat, Denina akan semakin puas.

Tentu saja, sebelum itu ia harus bersihkan namanya sendiri, agar nggak ikut terseret.

“Baik, Pak Herman,” jawab Joana sambil menunduk.

Joana hendak pergi, namun Herman tiba-tiba tarik dia dan berbisik ngancam di telinganya, “Ingat! Kalau kamu berani bicara sembarangan di depan Bos Besar, jangan harap kamu bisa hidup enak lagi di bawahku!”

Joana meliriknya sinis.

Herman bilang seperti itu, seolah-olah dua tahun ini ia pernah hidup enak di bawah pria itu saja.

Tekanan, penindasan, perundungan di tempat kerja, apa lagi yang belum ia rasakan?

Sekarang pria itu jelas sedang ketakutan.

Takut Joana ngadu ke Bos Besar, jadi sebelum ia naik ke kantor presiden, ia sudah diperingatkan lebih dulu.

Padahal sebetulnya Herman mikir terlalu jauh.

Joana punya hal yang jauh lebih penting untuk dipastikan.

Ngapain repot-repot sebut nama orang se-tidak penting dirinya?

Diam-diam Joana memutar bola matanya, lepaskan tangan Herman, lalu jalan menuju lift.

Lift bawa dia ke lantai teratas, wilayah eksklusif presiden direktur.

Dua tahun kerja di perusahaan ini, ia belum pernah injak lantai di atas lantai dua belas, apalagi lantai puncak.

Sekretaris antar Joana ke depan pintu kantor presiden dan ketuk pintunya.

“Masuk.”

Suara pria itu terdengar rendah dan dingin dari dalam.

Joana hembuskan napas panjang.

Poni rambut di dahinya terangkat lalu jatuh kembali.

Ia tenangkan diri dan melangkah masuk.

Kantor presiden didominasi warna hitam dan putih yang kaku, garis-garis tegasnya cerminkan pemiliknya yang sulit didekati.

Sekilas ia lihat pria tinggi di balik meja kerja. Kepalanya tertunduk, baca dokumen.

Wajahnya belum terlihat jelas, namun aura yang terpancar terasa begitu familiar.

Anehnya, ia seolah lupa kalau Joana ada di sana. Sejak ia masuk, pria itu nggak pernah turunkan berkasnya ataupun menoleh.

Pikiran Joana mulai dipenuhi bayangan yang nggak seharusnya muncul.

Hari itu di ruang periksa … di ranjang pemeriksaan … saat ia bantu Joana lakukan pemeriksaan .…

Astaga! Kenapa ia malah ingat hal itu?

Di tengah rasa jengkel pada dirinya sendiri, tiba-tiba Joana rasakan tatapan tajam dan dalam yang ikat tubuhnya.

Joana tersentak sadar.

Entah sejak kapan pria di depannya sudah angkat kepala. Sepasang mata hitamnya yang dalam menatap Joana cukup lama.

Tatapan mereka bertemu.

Hanya satu detik, namun tekanan yang terasa seolah menghantam langsung ke dada. Jantungnya berdetak cepat.

“Kamu kelihatannya kaget lihat aku.”

Sudut bibir Surya terangkat bentuk senyum samar yang sulit ditebak, senyum yang nggak pernah benar-benar sampai ke matanya.

Urat di pelipis Joana berdenyut.

“Maaf. Aku cuma terpesona dengan wibawamu, jadi nggak sadar kalau menatap terlalu lama.”

Alis pria itu terangkat sebelah, tatapannya semakin dalam.

“Gitu? Jadi Nona Joana suka aku?”

“Mana berani? Aku cuma pegawai biasa di bawahmu. Nggak mungkin punya pikiran yang aneh-aneh. Kalau pun ada, cuma rasa kagum saja!” jawabnya tergesa.

Pria itu berdiri di hadapannya dengan aura yang begitu kuat hingga sulit diabaikan.

Mata hitamnya yang tajam menelusuri Joana tanpa berkedip.

Seperti pemburu yang tengah menilai mangsanya.

Beberapa saat kemudian, ia akhirnya tanya pelan, “Badanmu sudah enakan?”

Joana kembali tertegun.

Tatapan mereka bersinggungan, dan jantungnya seperti terlewat satu detak.

Kalimat itu sama saja dengan pengakuan kalau pria yang periksa Joana hari itu memang dirinya.

“Sudah … sedikit .…”

Wajahnya memerah, jawab dengan nada canggung.

Joana nggak berani menatapnya lagi.

Dengan nada penuh arti, Surya berkata, “Penyakitmu nggak gampang sembuhnya. Kalau perlu, bisa kapan saja datang cari aku.”

Tubuh Joana bergetar.

Apa maksudnya ‘bisa kapan saja datang cari aku?’

Apa itu artinya kalau ia lagi ingin ‘itu’, pria itu bisa bantu puaskan?

Nggak heran Joana pikir sejauh itu.

Sejak lihat Surya, tubuhnya sudah bereaksi tanpa diminta.

Sekarang ada di satu ruangan yang sama dengannya, keinginan dalam diri Joana terasa semakin kuat.

Celaka! Gejalanya sepertinya kambuh lagi!

“Makasih atas perhatiannya. Kalau nggak ada hal lain, aku kembali kerja dulu .…”

Tanpa sadar Joana rapatkan kedua pahanya, bicara dengan cepat.

Joana nggak ingin kehilangan kendali di hadapannya.

Saat ini ia benar-benar butuh ke toilet untuk tenangkan diri.

Joana bergegas menuju pintu.

“Emang aku sudah izinkan kamu pergi?”

Suara berat pria itu terdengar lagi dari belakang. Langkahnya terhenti.

“Ada lagi yang bisa aku bantu?”

Tatapan pria itu tetap panas dan nggak teralihkan.

Ia bangkit dari kursi besar dan melangkah perlahan mendekati Joana.

Tubuhnya tinggi tegap, bahu lebar dan pinggang ramping, proporsi sempurna.

Celana jas hitam bungkus kakinya yang panjang dan lurus.

Pria ini memang ganteng tanpa cela.

Gimana rasanya jika benar-benar tidur dengannya?

Pikiran itu melintas liar di benak Joana.

Tenggorokannya terasa kering.

Semakin dipikirkan, tubuhnya semakin nggak nyaman.

“Lagi mikirin apa?” tanya Surya tiba-tiba, mendekat ke telinganya.

“Aku mau dengan kamu lakukan ….”

Nyaris saja isi hatinya terucap.

Untung ia berhenti di tengah kalimat dan buru-buru ubah itu.

“Lakukan pekerjaan. Belajar cara kerja yang baik dari kamu!”

Saat Joana angkat kepalanya, ia terkejut.

Pria itu sudah berdiri tepat di hadapannya.

Jarak mereka begitu dekat.

Aroma maskulin dari tubuhnya hampir sepenuhnya selubungi Joana.

Pikirannya sejenak kosong. Semakin cium aroma itu, semakin kuat hasratnya.

Keinginan kaburkan nalar.

Joana hampir saja benar-benar ucapkan isi hatinya.

Surya menatapnya dari atas dengan sorot mata yang sulit ditebak.

Joana menunduk, hatinya berdebar nggak karuan.

Baru saja Joana dengan berani inginkan tubuhnya. Ia pasti marah.

Joana sempat pikir, mungkin pria itu bisa marah besar dan langsung pecat dia.

Namun yang Surya katakan cuma, “Aku lagi butuh asisten. Mulai besok, kamu akan jadi asisten sementara presiden direktur.”
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kita Sudah Pisah Ranjang, Mengapa Kamu Baru Menyesal?   Bab 50

    Mata hitam Surya menatapnya lurus tanpa berkedip.“Kalau malam ini aku suruh kamu ke rumahku, kamu bakal datang nggak?”Kepala Joana berdengung keras, rasanya mau meledak.Surya minta dia datang ke rumahnya malam ini?Apa maksudnya?Bibir merahnya terkatup terbuka, hendak katakan sesuatu.Tiba-tiba HP Surya berdering.Ia tekan tombol jawab. Dari seberang terdengar suara pria yang familiar.“Malam ini ada pesta kapal pesiar, jangan lupa datang!”“Nggak.” Surya langsung tolak tanpa berpikir.Yusin terdengar kesal.“Nggak mau lagi? Serius? Belakangan ini sudah sepuluh kali lebih aku ajak kamu, kamu selalu nolak. Kenapa sih?”“Aku lagi sibuk urusan perusahaan, nggak ada waktu. Lagian, kamu kan baru saja nikah. Sebaiknya kamu juga tahan diri,” jawab Surya tenang.Yusin mendengus nggak peduli.“Pernikahan itu bukan kemauanku. Lagian aku benar-benar nggak cocok dengan Diana itu! Kalau dia nggak tahan, lebih baik dia sendiri yang minta cerai.”Karena jarak mereka begitu dekat, hampir semua per

  • Kita Sudah Pisah Ranjang, Mengapa Kamu Baru Menyesal?   Bab 49

    Tatapannya begitu tajam, seakan mampu tembus kulit dan tulang, buat udara di sekitar mereka terasa menipis.Joana tiba-tiba merasa napasnya nggak stabil lagi.Ia buru-buru alihkan pandangan.Nggak nyangka, justru Surya datang mendekat.Tubuhnya yang tinggi tegap berhenti tepat di hadapan Joana. Tangannya terangkat, jemarinya mengait lembut dagu Joana.“Kenapa kamu kok menghindar?”Jarak mereka sekarang begitu dekat, napas pun saling berbaur.Mata indah Joana berkilat, suaranya tersendat.“Aku takut kamu tenggelam dalam pesonaku dan nggak bisa keluar lagi ….”Alis Surya terangkat tipis.“Kalau aku yang tenggelam, ngapain kamu yang takut?”Joana terdiam.“Takut aku makan kamu?”Wajah tampannya hanya sejengkal dari Joana, napasnya melingkari tubuh Joana seperti kabut hangat.Suhu di dalam kantor perlahan naik.Pikiran Joana mulai melayang ke arah yang nggak bisa dijelaskan lagi dengan kata-kata.Wajahnya memerah hingga terasa terbakar.Napasnya berubah jadi hembusan panas.Tubuhnya seolah

  • Kita Sudah Pisah Ranjang, Mengapa Kamu Baru Menyesal?   Bab 48

    Joana sama sekali nggak nyangka, pembalasan akan datang secepat ini.Dulu, meski ia telah nikah dengan Fajar, kakaknya tetap berhubungan dengan Fajar, juga sering main semalaman dan nggak pulang.Sekarang, baru saja nikah, Yusin, suami kakaknya, justru menghilang.Akhirnya ia juga rasakan gimana rasanya ditinggalkan suami.Namun ibunya, Julia, jelas nggak bisa terima kenyataan itu. Sepanjang telepon, ia terus-menerus cerca Yusin.Malam itu, Diana diabaikan suami barunya. Sementara suaminya sendiri, Fajar, juga nggak pulang semalaman.Ibunya gelisah nggak bisa tidur, nangis terus sampai matanya sembap.Keesokan paginya, begitu bangun, Joana sudah lihat berita di internet, laporan tentang gimana Diana dipermalukan Yusin di pesta pernikahan semalam.Ada warganet yang marah, bilang Yusin nggak punya kesadaran sebagai suami, baru nikah sudah tinggalkan istrinya.Namun nggak sedikit juga yang ejek Diana.Internet nggak pernah lupa, orang-orang masih ingat skandal ciumannya dengan Fajar yang

  • Kita Sudah Pisah Ranjang, Mengapa Kamu Baru Menyesal?   Bab 47

    Joana cepat-cepat dorong pintu mobil dan turun.Lihat Joana kabur seperti itu, mata Surya jadi semakin gelap.Di telapak tangannya seakan masih tertinggal kelembutan kulit di pinggang Joana.Beberapa waktu belakangan ini, hampir setiap malam ia mimpi cengkeram pinggangnya Joana, tindih dia di atas ranjang.Setiap kali terbangun, ia hanya bisa masuk ke kamar mandi untuk mandi air dingin. Kadang mandi pun nggak banyak bantu.Sering kali ia nggak bisa tidur semalaman, pikirannya dipenuhi bayangan tentang Joana.Terutama beberapa hari ini ketika Joana nggak masuk kerja.Nggak bisa lihat Joana buat rasa kangen itu semakin besar.Tatapan Surya jatuh pada jas yang tadi ia selimutkan pada Joana, kini tergeletak di lantai mobil.Ia ulurkan tangannya, ambil jas itu dan bawa mendekat. Di sana masih tertinggal aroma tubuh Joana.Ia tarik napas dalam-dalam. Hasrat di dasar matanya nyaris meluap.…Baru saja Joana sampai di rumah, telepon dari ibunya, Julia, kembali masuk.Joana pun jelaskan kalau i

  • Kita Sudah Pisah Ranjang, Mengapa Kamu Baru Menyesal?   Bab 46

    Surya angkat pandangannya, lihat wajah Joana dengan tatapan dalam.“Enak pegangnya?”Joana seketika tarik tangannya seolah tersengat listrik.Wajah cantiknya memerah panas.“Ma … maaf!”Tatapan Surya menggelap saat menatapnya, sikapnya justru tampak santai.“Kamu yang curi kesempatan untuk pegang-pegang aku, aku saja nggak malu. Kenapa malah kamu yang jadi merah?”Kepala Joana berdengung.“Aku nggak sengaja pegang kamu!” bantahnya tergesa.Ia tadi hanya ingin segera bangkit dari pangkuan pria itu.Siapa sangka makin panik justru makin kacau.Nggak sengaja pegang bagian itu.Alis Surya terangkat tipis, sorot matanya penuh arti.“Lagian ini bukan pertama kalinya kamu pegang aku. Meskipun sengaja juga nggak masalah kok.”Kata-kata itu diucapkannya sambil nyaris nempel di telinga Joana, napas panasnya menyapu kulit Joana.Tubuhnya gemetar.Seperti kucing kecil yang terkejut, ia melonjak dari pangkuan Surya.Jantungnya belum sepenuhnya tenang. Gimana ia bisa tahan godaan seperti ini?Namun

  • Kita Sudah Pisah Ranjang, Mengapa Kamu Baru Menyesal?   Bab 45

    Untuk apa ia masih berdiri di sini dan basa-basi dengannya?Surya tahu ia seharusnya segera pergi.Namun anehnya, kakinya nggak mau melangkah sedikit pun.Sebaliknya, ia justru bilang, “Ayo, aku antar kau pulang.”Joana spontan langsung nolak.“Nggak perlu repot-repot. Aku bisa naik taksi sendiri.”Walau ia nggak kembali ke dalam dan jalan ke jebakan, untuk pulang pun ia nggak perlu diantar.Tatapan Surya yang gelap jatuh ke dia, wajahnya tegang.“Kamu yakin dengan baju seperti itu bisa naik taksi sendirian?”Joana hampir saja balas, memangnya kenapa dengan bajunya?Namun saat ia menunduk, napasnya tercekat.Kerah kebayanya telah robek lebar gara-gara Lukas.Kain itu nggak lagi mampu menutup tubuhnya dengan layak, lekuk indah di baliknya nyaris tersingkap sepenuhnya.Wajahnya langsung memanas.Ia buru-buru silangkan kedua tangan di dada, tutupi bagian yang terbuka.“Baru sekarang kepikiran untuk nutupin itu? Yang seharusnya aku lihat atau nggak, sudah aku lihat,” ujar Surya pelan, seul

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status