Share

Bab 3

Author: Bella Amara
Wajah cantik Joana seketika langsung membeku.

Fajar lihat kilasan kecewa yang melintas di dasar matanya. Namun bibir tipisnya tetap bergerak dingin. “Maaf. Aku sudah bilang berkali-kali, aku punya gangguan OCD.”

“Ta-tapi, Suamiku … aku .…” Joana bicara tergesa.

Ia sudah sakit. Ia sangat butuh seorang pria untuk bantu redakan gejolak dalam tubuhnya.

Ia nggak sanggup tahan lagi!

“Anggap saja tolong aku …. Suamiku … aku benar-benar butuh .…”

Ia gigit bibir bawahnya. Sepasang mata yang basah memandangnya dengan memelas. Napasnya semakin nggak teratur.

Joana benar-benar inginkan itu.

Pikirannya dipenuhi bayangan tentang itu.

Nggak bisa dihentikan.

Fajar mengernyit dalam.

Ia muak lihat Joana selalu tampilkan wajah penuh gairah di hadapannya.

Dengan suara dingin dan tajam, ia membentak, “Kalau kamu benar-benar nggak tahan dan ingin itu, cari cara sendiri untuk selesaikan!”

Kata-kata yang dingin dan meremehkan itu langsung hantam titik paling rapuh di hati Joana.

Namun ekspresi terluka di wajahnya seolah nggak terlihat oleh Fajar.

Dengan nada datar Fajar tambahkan, “Dan mulai sekarang, jangan pernah pakai pakaian seperti itu lagi di depanku.”

Mata Joana yang jernih seketika meredup.

Rasa perih menyebar luas di dadanya.

Suaminya tetap nggak mau sentuh dia.

“Aku ngerti,” jawabnya pelan, kepala tertunduk.

Suaranya begitu lemah.

“Dan mulai hari ini, kamu nggak perlu tidur sekamar denganku lagi.” Fajar kembali menatapnya dengan jijik.

Joana mendongak, tertegun. “Hah?”

Apa ini berarti mereka akan pisah kamar?

“Aku akan tidur di kamar sebelah. Kalau nggak ada izin dari aku, jangan masuk ke kamarku.”

Setelah peringatan dingin itu, ia turun dari ranjang dan pergi tanpa menoleh lagi.

Tinggalkan Joana berdiri terpaku sendiri.

Kabut tipis mulai menggenang di matanya.

Sudah setahun ia menikah dengan Fajar.

Karena lama nggak pernah berhubungan, ditambah sikap suaminya yang selalu sedingin es, ia sampai jatuh sakit.

Namun sebagai suami, Fajar nggak punya niatan untuk bantu dia, justru di saat seperti ini Fajar malah milih pisah kamar.

Bagi Joana, itu benar-benar pukulan bertubi-tubi.

Setelah Fajar pergi, kamar yang sempat sedikit hangat kembali terasa dingin membeku.

Namun bara dalam tubuh Joana nggak sedikit pun mereda. Justru semakin membara. Sikap dingin Fajar lukai dia.

Dan penyakitnya kembali kambuh.

Ia merasa seluruh tubuhnya nggak nyaman, gelisah, seolah nggak pernah terpuaskan.

“Uuh … nggak nyaman … aku pengen .…”

Pipinya panas. Tanpa sadar pikirannya melayang pada kejadian siang tadi di ruang periksa, di atas ranjang itu, bersama dokter pria itu .…

Astaga!

Ia buru-buru menggeleng.

Ngapain ia pikirkan dokter itu? Ia sudah nikah, punya suami. Gimana mungkin ia bayangkan pria lain? Sejak kapan ia jadi begitu berani?

Namun Fajar sama sekali nggak mau sentuh dia. Punya suami atau nggak, hampir nggak ada bedanya.

Pikirannya kembali terarah pada dokter pria itu.

Terutama saat di depan rumah sakit, ketika ia suruh Joana naik mobil.

Untuk pertama kalinya Joana lihat wajahnya sepenuhnya tanpa masker.

Ganteng banget. Lebih ganteng dari Fajar.

Gimana jika ia .…

Joana cepat-cepat hentikan pikiran liarnya.

Meski suaminya nggak mau sentuh dia, dia nggak boleh pikirkan pria lain.

Itu sama saja dengan selingkuh dalam hati.

Namun kali ini ia benar-benar nggak sanggup tahan lagi.

Tangannya yang gemetar buka laci meja di samping ranjang dan ambil benda di dalamnya.

Setahun terakhir, setiap kali Fajar tolak dia dan penyakitnya kambuh, ia selalu pikirkan suaminya lalu selesaikan itu sendiri.

Namun malam ini terasa beda. Bayangan di kepalanya bukan Fajar. Melainkan dokter itu .…

……

Butuh waktu lama sebelum Joana kembali tenang.

Di sudut bibirnya masih tersisa jejak samar.

Tubuhnya lemas seolah kehabisan tenaga.

Ia terengah-engah, sadar kalau gini terus bukanlah solusi yang baik.

Ia segera turun dari ranjang, buka tasnya, dan temukan obat yang diresepkan hari ini.

Air panas di kamar sudah habis.

Dengan asal Joana sampirkan mantel tipis, ia pun turun ke dapur untuk ambil air.

Saat lewati kamar sebelah, kamar Fajar, ia dengar suara erangan tertahan dari dalam.

Joana bukan lagi gadis polos. Ia tahu benar apa arti suara itu.

Tanpa sadar ia intip melalui celah pintu yang sedikit terbuka.

Dalam cahaya remang, Fajar duduk di tepi ranjang, pegang sebuah foto dan jakunnya bergerak naik turun, suaranya serak berulang kali panggil, “Diana … istriku … aku cuma mau kamu … cuma cinta kamu .…”

Bagaikan petir menyambar, kepala Joana berdengung keras.

Matanya membelalak nggak percaya.

Diana?

Putri ibu tirinya?

Nona sulung Keluarga Widodo, Diana Widodo.

Ayahnya, Wayne Widodo punya dua istri.

Istri pertama, Denina Suprapto, melahirkan satu putri: Diana Widodo.

Istri kedua, Julia Sasmita melahirkan seorang putra dan seorang putri.

Putra mereka, Jordan Widodo, sebagai satu-satunya pewaris laki-laki Keluarga Widodo, sejak lahir diadopsi jadi anak istri pertama.

Hanya Joana yang tumbuh di sisi ibu kandungnya sendiri.

Namun sejak kecil, ia nggak pernah benar-benar disukai.

Ibunya lebih sayang putranya dan Diana.

Urusan pernikahannya pun sepenuhnya diserahkan ke ayah dan ibu tirinya.

Sebelum menikah dengan Fajar, Joana diam-diam selidiki dan pastikan kalau pria itu suka dengan putri Keluarga Widodo, jadi ia pun menikah dengan Fajar.

Saat itu Joana kira yang dimaksud adalah dirinya.

Kini ia sadar betapa naifnya dia.

Orang di hati Fajar ternyata adalah kakaknya, Diana.

Karena statusnya sebagai anak haram buat dia nggak pantas untuk Diana, jadi ia pilih Joana sebagai pengganti.

Sepanjang pernikahan, ia selalu berdalih gangguan OCD untuk tolak sentuh Joana. Dan Joana percaya itu.

Baru malam ini ia sadar betapa bodohnya dia.

Fajar lebih pilih tangani hasratnya sendiri daripada sentuh dia sedikit pun.

Fajar jaga dirinya demi Diana.

Sejak kecil, seluruh Keluarga Widodo suka Diana.

Ayahnya anggap dia permata. Ibu tiri dan ibu kandungnya pun manjakan dia.

Hanya Joana yang selalu tersisih, yang nggak diinginkan.

Ia kira setelah nikah, ia bisa mulai hidup baru. Namun suaminya juga cinta kakaknya.

Sungguh ironis ....

Dengar suaminya panggil nama Diana berulang-ulang malam itu terasa seperti tamparan demi tamparan di wajahnya.

Dalam kebingungan, ia teringat dulu sebelum nikah, Fajar sering datang ke rumah Keluarga Widodo.

Ia lembut, sabar, seperti seorang pria terhormat. Setiap datang selalu bawa hadiah untuknya.

Karena itu ia punya kesan mendalam ke Fajar.

Sekarang Joana ngerti, sejak awal tujuan kedatangan Fajar ke Keluarga Widodo bukan untuk dia, melainkan untuk Diana.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kita Sudah Pisah Ranjang, Mengapa Kamu Baru Menyesal?   Bab 50

    Mata hitam Surya menatapnya lurus tanpa berkedip.“Kalau malam ini aku suruh kamu ke rumahku, kamu bakal datang nggak?”Kepala Joana berdengung keras, rasanya mau meledak.Surya minta dia datang ke rumahnya malam ini?Apa maksudnya?Bibir merahnya terkatup terbuka, hendak katakan sesuatu.Tiba-tiba HP Surya berdering.Ia tekan tombol jawab. Dari seberang terdengar suara pria yang familiar.“Malam ini ada pesta kapal pesiar, jangan lupa datang!”“Nggak.” Surya langsung tolak tanpa berpikir.Yusin terdengar kesal.“Nggak mau lagi? Serius? Belakangan ini sudah sepuluh kali lebih aku ajak kamu, kamu selalu nolak. Kenapa sih?”“Aku lagi sibuk urusan perusahaan, nggak ada waktu. Lagian, kamu kan baru saja nikah. Sebaiknya kamu juga tahan diri,” jawab Surya tenang.Yusin mendengus nggak peduli.“Pernikahan itu bukan kemauanku. Lagian aku benar-benar nggak cocok dengan Diana itu! Kalau dia nggak tahan, lebih baik dia sendiri yang minta cerai.”Karena jarak mereka begitu dekat, hampir semua per

  • Kita Sudah Pisah Ranjang, Mengapa Kamu Baru Menyesal?   Bab 49

    Tatapannya begitu tajam, seakan mampu tembus kulit dan tulang, buat udara di sekitar mereka terasa menipis.Joana tiba-tiba merasa napasnya nggak stabil lagi.Ia buru-buru alihkan pandangan.Nggak nyangka, justru Surya datang mendekat.Tubuhnya yang tinggi tegap berhenti tepat di hadapan Joana. Tangannya terangkat, jemarinya mengait lembut dagu Joana.“Kenapa kamu kok menghindar?”Jarak mereka sekarang begitu dekat, napas pun saling berbaur.Mata indah Joana berkilat, suaranya tersendat.“Aku takut kamu tenggelam dalam pesonaku dan nggak bisa keluar lagi ….”Alis Surya terangkat tipis.“Kalau aku yang tenggelam, ngapain kamu yang takut?”Joana terdiam.“Takut aku makan kamu?”Wajah tampannya hanya sejengkal dari Joana, napasnya melingkari tubuh Joana seperti kabut hangat.Suhu di dalam kantor perlahan naik.Pikiran Joana mulai melayang ke arah yang nggak bisa dijelaskan lagi dengan kata-kata.Wajahnya memerah hingga terasa terbakar.Napasnya berubah jadi hembusan panas.Tubuhnya seolah

  • Kita Sudah Pisah Ranjang, Mengapa Kamu Baru Menyesal?   Bab 48

    Joana sama sekali nggak nyangka, pembalasan akan datang secepat ini.Dulu, meski ia telah nikah dengan Fajar, kakaknya tetap berhubungan dengan Fajar, juga sering main semalaman dan nggak pulang.Sekarang, baru saja nikah, Yusin, suami kakaknya, justru menghilang.Akhirnya ia juga rasakan gimana rasanya ditinggalkan suami.Namun ibunya, Julia, jelas nggak bisa terima kenyataan itu. Sepanjang telepon, ia terus-menerus cerca Yusin.Malam itu, Diana diabaikan suami barunya. Sementara suaminya sendiri, Fajar, juga nggak pulang semalaman.Ibunya gelisah nggak bisa tidur, nangis terus sampai matanya sembap.Keesokan paginya, begitu bangun, Joana sudah lihat berita di internet, laporan tentang gimana Diana dipermalukan Yusin di pesta pernikahan semalam.Ada warganet yang marah, bilang Yusin nggak punya kesadaran sebagai suami, baru nikah sudah tinggalkan istrinya.Namun nggak sedikit juga yang ejek Diana.Internet nggak pernah lupa, orang-orang masih ingat skandal ciumannya dengan Fajar yang

  • Kita Sudah Pisah Ranjang, Mengapa Kamu Baru Menyesal?   Bab 47

    Joana cepat-cepat dorong pintu mobil dan turun.Lihat Joana kabur seperti itu, mata Surya jadi semakin gelap.Di telapak tangannya seakan masih tertinggal kelembutan kulit di pinggang Joana.Beberapa waktu belakangan ini, hampir setiap malam ia mimpi cengkeram pinggangnya Joana, tindih dia di atas ranjang.Setiap kali terbangun, ia hanya bisa masuk ke kamar mandi untuk mandi air dingin. Kadang mandi pun nggak banyak bantu.Sering kali ia nggak bisa tidur semalaman, pikirannya dipenuhi bayangan tentang Joana.Terutama beberapa hari ini ketika Joana nggak masuk kerja.Nggak bisa lihat Joana buat rasa kangen itu semakin besar.Tatapan Surya jatuh pada jas yang tadi ia selimutkan pada Joana, kini tergeletak di lantai mobil.Ia ulurkan tangannya, ambil jas itu dan bawa mendekat. Di sana masih tertinggal aroma tubuh Joana.Ia tarik napas dalam-dalam. Hasrat di dasar matanya nyaris meluap.…Baru saja Joana sampai di rumah, telepon dari ibunya, Julia, kembali masuk.Joana pun jelaskan kalau i

  • Kita Sudah Pisah Ranjang, Mengapa Kamu Baru Menyesal?   Bab 46

    Surya angkat pandangannya, lihat wajah Joana dengan tatapan dalam.“Enak pegangnya?”Joana seketika tarik tangannya seolah tersengat listrik.Wajah cantiknya memerah panas.“Ma … maaf!”Tatapan Surya menggelap saat menatapnya, sikapnya justru tampak santai.“Kamu yang curi kesempatan untuk pegang-pegang aku, aku saja nggak malu. Kenapa malah kamu yang jadi merah?”Kepala Joana berdengung.“Aku nggak sengaja pegang kamu!” bantahnya tergesa.Ia tadi hanya ingin segera bangkit dari pangkuan pria itu.Siapa sangka makin panik justru makin kacau.Nggak sengaja pegang bagian itu.Alis Surya terangkat tipis, sorot matanya penuh arti.“Lagian ini bukan pertama kalinya kamu pegang aku. Meskipun sengaja juga nggak masalah kok.”Kata-kata itu diucapkannya sambil nyaris nempel di telinga Joana, napas panasnya menyapu kulit Joana.Tubuhnya gemetar.Seperti kucing kecil yang terkejut, ia melonjak dari pangkuan Surya.Jantungnya belum sepenuhnya tenang. Gimana ia bisa tahan godaan seperti ini?Namun

  • Kita Sudah Pisah Ranjang, Mengapa Kamu Baru Menyesal?   Bab 45

    Untuk apa ia masih berdiri di sini dan basa-basi dengannya?Surya tahu ia seharusnya segera pergi.Namun anehnya, kakinya nggak mau melangkah sedikit pun.Sebaliknya, ia justru bilang, “Ayo, aku antar kau pulang.”Joana spontan langsung nolak.“Nggak perlu repot-repot. Aku bisa naik taksi sendiri.”Walau ia nggak kembali ke dalam dan jalan ke jebakan, untuk pulang pun ia nggak perlu diantar.Tatapan Surya yang gelap jatuh ke dia, wajahnya tegang.“Kamu yakin dengan baju seperti itu bisa naik taksi sendirian?”Joana hampir saja balas, memangnya kenapa dengan bajunya?Namun saat ia menunduk, napasnya tercekat.Kerah kebayanya telah robek lebar gara-gara Lukas.Kain itu nggak lagi mampu menutup tubuhnya dengan layak, lekuk indah di baliknya nyaris tersingkap sepenuhnya.Wajahnya langsung memanas.Ia buru-buru silangkan kedua tangan di dada, tutupi bagian yang terbuka.“Baru sekarang kepikiran untuk nutupin itu? Yang seharusnya aku lihat atau nggak, sudah aku lihat,” ujar Surya pelan, seul

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status