Share

Bab 6

Author: Bella Amara
Kelopak mata Joana berkedut pelan.

Surya, beneran mau langsung angkat dia jadi asisten presiden direktur? Jangan-jangan ini cuma cara halus untuk jatuhkan dia?

“Aku belum pernah kerja sebagai asisten. Aku khawatir nggak mampu jalankan tugas itu .…” Refleks pertamanya adalah menolak.

Saat ini kepalanya justru dipenuhi pikiran-pikiran nggak pantas tentang Surya.

Kalau beneran jadi asisten presiden direktur dan harus setiap hari lihat Surya … gimana ia bisa tahan?

Tatapan dalam Surya menelusurinya.

“Nggak puas dengan kenaikan jabatan?”

Joana jilat bibirnya yang kemerahan.

“Aku rasa .…”

Joana langsung dipotong dengan tegas, “Kamu yang presiden direktur, atau aku?”

Senyumnya membeku.

“Tentu kamu.”

Dengan nada nggak terbantahkan, Surya kasih perintah, “Kembali dan serah terimakan kerjaanmu yang lama. Mulai besok kamu kerja di kantor presiden direktur.”

“Tapi .…” Joana gantungkan kalimatnya.

Apa Surya nggak takut ia inginkan tubuhnya? Gimana kalau suatu hari ia nggak mampu tahan diri dan benar-benar tidur dengan Surya?’

Ekspresi Surya tampak mulai nggak sabar.

“Kalau nggak mau kerja, silakan mengundurkan diri.”

Joana terdiam.

Ia menunduk sedikit. “Baik.”

Surya menatapnya sekilas, ia kira Joana telah terima tawaran itu, lalu kembali ke kursinya dan lanjutkan pekerjaan.

Namun Joana justru kembali ke ruangannya, abaikan sindiran Herman dan tatapan penasaran rekan-rekan kerjanya.

Begitu duduk, ia langsung nyalakan komputer dan mulai tulis surat pengunduran diri.

Aneh, api gelisah dalam tubuhnya sedikit mereda ketika ia putuskan untuk mengundurkan diri.

“Joana, kenapa Pak Surya panggil kamu sendirian ke kantornya? Jangan-jangan dia suka kamu?” Lili sodorkan kepalanya, matanya berbinar.

“Nggak mungkin deh. Dia itu presiden perusahaan. Mana mungkin tertarik ke orang biasa seperti aku?” jawab Joana sambil terus mengetik.

“Biasa? Bulan ini saja aku sudah bantu kamu buang lebih dari dua puluh buket bunga mawar! Dengan wajah dan tubuhmu, nggak aneh kok kalau Pak Surya jatuh cinta pada pandangan pertama!”

Jatuh cinta pada pandangan pertama?

Jari Joana terhenti sejenak.

Kalau memang gitu bukannya berarti ia punya kesempatan untuk benar-benar lakukan itu dengan Surya?

Tubuhnya tinggi, bahunya lebar, pinggangnya ramping, kakinya panjang, dalam urusan itu pasti luar biasa, bukan?

Astaga! Dia mikir apa sih?

Jangan-jangan penyakit anehnya kambuh lagi?

Wajahnya memerah. Ia cepat-cepat menggeleng.

“Nggak mungkin. Nggak usah mikir yang aneh-aneh. Kerja sana!”

Joana kembali fokus tulis surat pengunduran diri dan berhasil kirimkan itu ke email direktur HRD sebelum jam pulang.

Setelah itu Joana mulai bereskan barang-barangnya, bersiap bawa pulang semua miliknya.

Tiba-tiba Herman lempar setumpuk dokumen tebal ke mejanya, senyumnya palsu.

“Malam ini lembur. Ini semua tanggung jawabmu.”

Joana menatap tumpukan berkas itu.

Nggak perlu ditebak, lagi-lagi ia dipersulit.

Herman terima sogokan dari ibu tirinya untuk “mendidiknya”.

Selama dua tahun ini, lembur tanpa alasan sudah jadi makanan sehari-hari.

Terlebih hari ini ia dipanggil langsung oleh presiden direktur baru, jelas mancing rasa cemburu dan tidak senang di hati Herman.

Sayangnya, kali ini Joana nggak akan nurut lagi seperti dulu.

“Pak Herman, sudah jam pulang kerja. Maaf, aku mau pulang,” ucapnya dingin.

Herman menatap nggak percaya.

Joana yang biasanya nurut, sekarang berani membangkang?

“Jangan kira karena hari ini Pak Surya panggil kamu, terus kamu bisa nggak anggap aku! Di departemen proyek, aku yang berkuasa! Berani lawan atasan? Percaya atau nggak, aku bisa pecat kamu!” bentaknya marah.

Joana hanya meliriknya datar.

“Silakan saja.”

Joana angkat kotaknya dan pergi tanpa menoleh lagi.

Makian Herman terdengar di belakang, tapi Joana nggak peduli.

Ia nggak langsung pulang, melainkan jalan tanpa arah di jalanan.

Jam segini, suaminya, Fajar, pasti juga belum pulang rumah.

Selama setahun pernikahan, mereka nyaris hidup di dunia masing-masing.

Makan malam sama-sama pun jarang sekali.

Dulu ia cuma kira Fajar dingin dan belum terbiasa dengan kehidupan pernikahan.

Sekarang ia ngerti.

Bukannya nggak terbiasa, tapi hatinya Fajar memang nggak pernah tertuju ke dia.

Joana makan seadanya di luar dan pulang saat malam sudah larut.

Fajar belum pulang.

Biasanya, meskipun nggak pingin ketemu dengannya, sebelum jam sembilan malam Fajar pasti sudah di rumah.

Sekarang hampir pukul sebelas, tapi bayangannya pun nggak kelihatan.

Setelah lama bimbang di sofa, akhirnya Joana beranikan diri untuk telepon dia.

“Halo? Siapa ini?”

Telepon berdering lama sebelum diangkat.

“Ini aku.”

Wajah Joana menegang. Bahkan nomornya nggak disimpan.

Setahun menikah, suaminya nggak simpan nomor istrinya sendiri, sungguh ironis.

“Kenapa?” Begitu tahu itu dirinya, suara Fajar langsung berubah dingin.

“Sudah malam, kira-kira kamu pulang jam berapa?” tanyanya hati-hati.

Di seberang sana terdengar hening beberapa detik.

Lalu, dengan nada nggak sabar, ia hanya jawab, “Hmm.”

‘Hmm? Itu artinya apa?’

Joana hendak ulang pertanyaannya ketika terdengar nada putus.

Joana terdiam. Telepon sudah ditutup.

Ia genggam HP-nya, alisnya berkerut.

Sebagai istri, ia cuma ingin tahu kapan suaminya pulang. Tapi ia malah diperlakukan seolah itu gangguan.

Nggak tungguin Fajar lagi, Joana mandi air hangat lalu tidur.

Saat ia terlelap, Fajar belum juga pulang.

Sudah hampir tengah malam. Nggak heran tidurnya gelisah, dipenuhi mimpi buruk.

Sebentar Joana mimpi Herman jebak dia di kantor, sebentar mimpi Fajar ceraikan dia demi nikahi kakaknya, Diana.

Ia terbangun saat fajar menyingsing.

Ingat ia sudah mengundurkan diri dan hari ini nggak perlu kerja, ia kembali pejamkan mata.

Namun bayangan buruk semalam buat dia nggak bisa benar-benar tenang.

Lebih buruk lagi, gelombang panas aneh kembali merambat di tubuhnya.

Napasnya berubah cepat. Keinginan itu muncul lagi.

Joana berusaha tahan diri, bangkit untuk buat sarapan demi alihkan pikiran.

Namun ketika ia sadar kamar Fajar kosong, ia benar-benar nggak pulang semalaman, rasa nggak nyaman dalam tubuhnya justru semakin kuat.

Penyakit anehnya kambuh.

Joana pun kembali ke tempat tidur, tubuhnya bergeliat gelisah.

Pikirannya nggak bisa berhenti bayangkan alasan suaminya nggak pulang.

Apa semalam ia bersama Diana?

Semakin dipikir, semakin menyakitkan.

Nggak hanya secara batin, tubuhnya juga ikut tersiksa.

Semakin nggak tersentuh, semakin ingin memiliki.

Saat telepon dari Surya masuk, wajah Joana sedang memerah, dalam pergolakan yang nggak terkendali.

Awalnya Joana nggak niat untuk jawab panggilannya, tapi nggak sengaja jarinya sentuh layar HP.

Panggilan terhubung.

Surya baru hendak bicara ketika dari seberang terdengar napasnya yang terengah.

“Kamu lagi ngapain?”
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kita Sudah Pisah Ranjang, Mengapa Kamu Baru Menyesal?   Bab 50

    Mata hitam Surya menatapnya lurus tanpa berkedip.“Kalau malam ini aku suruh kamu ke rumahku, kamu bakal datang nggak?”Kepala Joana berdengung keras, rasanya mau meledak.Surya minta dia datang ke rumahnya malam ini?Apa maksudnya?Bibir merahnya terkatup terbuka, hendak katakan sesuatu.Tiba-tiba HP Surya berdering.Ia tekan tombol jawab. Dari seberang terdengar suara pria yang familiar.“Malam ini ada pesta kapal pesiar, jangan lupa datang!”“Nggak.” Surya langsung tolak tanpa berpikir.Yusin terdengar kesal.“Nggak mau lagi? Serius? Belakangan ini sudah sepuluh kali lebih aku ajak kamu, kamu selalu nolak. Kenapa sih?”“Aku lagi sibuk urusan perusahaan, nggak ada waktu. Lagian, kamu kan baru saja nikah. Sebaiknya kamu juga tahan diri,” jawab Surya tenang.Yusin mendengus nggak peduli.“Pernikahan itu bukan kemauanku. Lagian aku benar-benar nggak cocok dengan Diana itu! Kalau dia nggak tahan, lebih baik dia sendiri yang minta cerai.”Karena jarak mereka begitu dekat, hampir semua per

  • Kita Sudah Pisah Ranjang, Mengapa Kamu Baru Menyesal?   Bab 49

    Tatapannya begitu tajam, seakan mampu tembus kulit dan tulang, buat udara di sekitar mereka terasa menipis.Joana tiba-tiba merasa napasnya nggak stabil lagi.Ia buru-buru alihkan pandangan.Nggak nyangka, justru Surya datang mendekat.Tubuhnya yang tinggi tegap berhenti tepat di hadapan Joana. Tangannya terangkat, jemarinya mengait lembut dagu Joana.“Kenapa kamu kok menghindar?”Jarak mereka sekarang begitu dekat, napas pun saling berbaur.Mata indah Joana berkilat, suaranya tersendat.“Aku takut kamu tenggelam dalam pesonaku dan nggak bisa keluar lagi ….”Alis Surya terangkat tipis.“Kalau aku yang tenggelam, ngapain kamu yang takut?”Joana terdiam.“Takut aku makan kamu?”Wajah tampannya hanya sejengkal dari Joana, napasnya melingkari tubuh Joana seperti kabut hangat.Suhu di dalam kantor perlahan naik.Pikiran Joana mulai melayang ke arah yang nggak bisa dijelaskan lagi dengan kata-kata.Wajahnya memerah hingga terasa terbakar.Napasnya berubah jadi hembusan panas.Tubuhnya seolah

  • Kita Sudah Pisah Ranjang, Mengapa Kamu Baru Menyesal?   Bab 48

    Joana sama sekali nggak nyangka, pembalasan akan datang secepat ini.Dulu, meski ia telah nikah dengan Fajar, kakaknya tetap berhubungan dengan Fajar, juga sering main semalaman dan nggak pulang.Sekarang, baru saja nikah, Yusin, suami kakaknya, justru menghilang.Akhirnya ia juga rasakan gimana rasanya ditinggalkan suami.Namun ibunya, Julia, jelas nggak bisa terima kenyataan itu. Sepanjang telepon, ia terus-menerus cerca Yusin.Malam itu, Diana diabaikan suami barunya. Sementara suaminya sendiri, Fajar, juga nggak pulang semalaman.Ibunya gelisah nggak bisa tidur, nangis terus sampai matanya sembap.Keesokan paginya, begitu bangun, Joana sudah lihat berita di internet, laporan tentang gimana Diana dipermalukan Yusin di pesta pernikahan semalam.Ada warganet yang marah, bilang Yusin nggak punya kesadaran sebagai suami, baru nikah sudah tinggalkan istrinya.Namun nggak sedikit juga yang ejek Diana.Internet nggak pernah lupa, orang-orang masih ingat skandal ciumannya dengan Fajar yang

  • Kita Sudah Pisah Ranjang, Mengapa Kamu Baru Menyesal?   Bab 47

    Joana cepat-cepat dorong pintu mobil dan turun.Lihat Joana kabur seperti itu, mata Surya jadi semakin gelap.Di telapak tangannya seakan masih tertinggal kelembutan kulit di pinggang Joana.Beberapa waktu belakangan ini, hampir setiap malam ia mimpi cengkeram pinggangnya Joana, tindih dia di atas ranjang.Setiap kali terbangun, ia hanya bisa masuk ke kamar mandi untuk mandi air dingin. Kadang mandi pun nggak banyak bantu.Sering kali ia nggak bisa tidur semalaman, pikirannya dipenuhi bayangan tentang Joana.Terutama beberapa hari ini ketika Joana nggak masuk kerja.Nggak bisa lihat Joana buat rasa kangen itu semakin besar.Tatapan Surya jatuh pada jas yang tadi ia selimutkan pada Joana, kini tergeletak di lantai mobil.Ia ulurkan tangannya, ambil jas itu dan bawa mendekat. Di sana masih tertinggal aroma tubuh Joana.Ia tarik napas dalam-dalam. Hasrat di dasar matanya nyaris meluap.…Baru saja Joana sampai di rumah, telepon dari ibunya, Julia, kembali masuk.Joana pun jelaskan kalau i

  • Kita Sudah Pisah Ranjang, Mengapa Kamu Baru Menyesal?   Bab 46

    Surya angkat pandangannya, lihat wajah Joana dengan tatapan dalam.“Enak pegangnya?”Joana seketika tarik tangannya seolah tersengat listrik.Wajah cantiknya memerah panas.“Ma … maaf!”Tatapan Surya menggelap saat menatapnya, sikapnya justru tampak santai.“Kamu yang curi kesempatan untuk pegang-pegang aku, aku saja nggak malu. Kenapa malah kamu yang jadi merah?”Kepala Joana berdengung.“Aku nggak sengaja pegang kamu!” bantahnya tergesa.Ia tadi hanya ingin segera bangkit dari pangkuan pria itu.Siapa sangka makin panik justru makin kacau.Nggak sengaja pegang bagian itu.Alis Surya terangkat tipis, sorot matanya penuh arti.“Lagian ini bukan pertama kalinya kamu pegang aku. Meskipun sengaja juga nggak masalah kok.”Kata-kata itu diucapkannya sambil nyaris nempel di telinga Joana, napas panasnya menyapu kulit Joana.Tubuhnya gemetar.Seperti kucing kecil yang terkejut, ia melonjak dari pangkuan Surya.Jantungnya belum sepenuhnya tenang. Gimana ia bisa tahan godaan seperti ini?Namun

  • Kita Sudah Pisah Ranjang, Mengapa Kamu Baru Menyesal?   Bab 45

    Untuk apa ia masih berdiri di sini dan basa-basi dengannya?Surya tahu ia seharusnya segera pergi.Namun anehnya, kakinya nggak mau melangkah sedikit pun.Sebaliknya, ia justru bilang, “Ayo, aku antar kau pulang.”Joana spontan langsung nolak.“Nggak perlu repot-repot. Aku bisa naik taksi sendiri.”Walau ia nggak kembali ke dalam dan jalan ke jebakan, untuk pulang pun ia nggak perlu diantar.Tatapan Surya yang gelap jatuh ke dia, wajahnya tegang.“Kamu yakin dengan baju seperti itu bisa naik taksi sendirian?”Joana hampir saja balas, memangnya kenapa dengan bajunya?Namun saat ia menunduk, napasnya tercekat.Kerah kebayanya telah robek lebar gara-gara Lukas.Kain itu nggak lagi mampu menutup tubuhnya dengan layak, lekuk indah di baliknya nyaris tersingkap sepenuhnya.Wajahnya langsung memanas.Ia buru-buru silangkan kedua tangan di dada, tutupi bagian yang terbuka.“Baru sekarang kepikiran untuk nutupin itu? Yang seharusnya aku lihat atau nggak, sudah aku lihat,” ujar Surya pelan, seul

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status