LOGINPanggilan terputus dengan bunyi klik keras, memotong kata-kata Arhan sebelum dia bisa menyelesaikan kalimatnya.
"Dia—"
Hanya bisa terdiam menatap layar ponsel di tanganku. Dia? Dia apa? Apa yang akan Arhan katakan? Apa yang—
Lift menutup tapi Rey tidak masuk, dia masih berdiri di lobi sambil menatapku dengan mata yang... bukan dingin, tatapannya terlalu hangat untuk kutahan.
"Pulanglah, juara dua," gumamnya, suaranya pecah sedikit.
Aku melangkah mendekat, marah, bingung, dan... sesuatu yang tidak mau kumengerti. "Juara dua? Kamu... kamu masih seperti dulu?"
Dia tertawa kecil, bukan senyum bahagia, tapi senyum orang yang menyimpan sesuatu terlalu lama. "Tentu saja, Aurel, momen-momen itu tidak pernah kulupakan."
"SD dulu—"
"Bukan SD," potongnya, suaranya turun. "SMA. Kelas sepuluh. Ujian matematika semester satu. kamu nangis di perpustakaan saat lihat nilai yang diumumkan. Aku juara satu, kamu juara dua. Beda satu angka yang membuatku bisa lihat kamu lebih dekat."
Tubuhku membeku. "Kamu... sengaja?"
"Tentu saja," katanya, dan kali ini matanya terbuka tapi terlihat terluka. "Aku selalu push diriku lebih keras saat kamu mulai mengejar. Karena saat marah, saat pipimu merah dan melihatku dengan benci... kamu tidak melihat orang lain. Hanya melihatku."
Napasku terhenti. "Kamu... gila, Rey."
"Mungkin memang gila," gumamnya, Rey melangkah mendekat, cukup dekat sampai bisa mencium parfum kayunya yang memabukan. "Tapi sekarang, setelah dua belas tahun aku lelah jadi juara satu sendirian. Aku lelah lihat kamu jadi juara dua, aku lelah lihat kamu selalu di posisi kedua dalam lomba, dalam hidup, dalam... melihatku."
"Rey—"
"Besok pagi datang ke Nexus Jam 08:00, bukan untuk interview." Rey berhenti, "Tapi untuk menandatangani kontrak yang sudah kutulis namamu di atasnya sebelum kamu sempat berkata tidak."
Aku ingin lari, tapi kakiku tidak bisa bergerak.
"Aurel," panggilnya, "Juara satu atau dua tidak penting lagi, yang penting mulai besok... bisa melihatmu setiap hari."
Aku berjalan keluar dengan kaki gemetar, tidak berani menoleh ke belakang. Rey tidak mengikutiku, tapi dia masih menatap dari dalam lobi.
Tangan masih memegang ponsel memikirkan ucapan Arhan, dua tahun sejak membatalkan tunangan kami lewat telepon, aku masih ingat suara datarnya malam itu. Dan sekarang? dia muncul lagi seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa?
"Aurel, aku di Jakarta, Kita harus bertemu." Kali ini pesan dari Arhan yang masuk.
Pikiranku terjebak di antara dua pria, Rey yang datang saat aku jatuh dan Arhan yang pergi saat aku cinta.
"Aurel?" Ibu membuka pintu lebar, matanya heran menelisik wajahku yang hancur. "Kenapa sayang?"
Aku masuk, melepas sepatu dengan gerakan otomatis, "Aku dapat pekerjaan baru, Bu. Dia... pemiliknya Reyhan Aditya anak tetangga kita dulu."
Ayah keluar dari dapur. "Reyhan? Anak Bu Sinta?"
"Iya, Yah."
"Bagus kalau begitu," Ayah tersenyum, garis kerutan berkerut, "Dulu dia sering bantu Ayah angkat karung beras, kalau Ayah mau bayar dia sudah pergi."
Ponselku bergetar, setelah kulihat ternyata nomor rumah sakit.
"Halo?"
"Selamat malam, Ibu Aurel," suara perempuan ramah. "Tagihan operasi Ibu Widyani sudah dilunasi. Penanggung Tn. R. Adityawardana."
Tanganku membeku. "Reyhan yang membayar? Delapan puluh juta?"
"Ya, Bu."
Layar gelap. Delapan puluh juta. Nama itu menggema—R. Adityawardana—bersama wajah pria yang tadi berdiri terlalu dekat, belum selesai memproses telepon rumah sakit ketika ponselku bergetar lagi, kali ini notifikasi transfer masuk.
Aku membuka aplikasi banking dengan jari gemetar. Rp50.000.000,00 di layar, keterangannya singkat "Untuk berobat Ibumu." Aku refresh berkali-kali tapi angka itu tidak menghilang. Jam masuknya menunjukkan pukul 16:42 ketika aku masih berada di Nexus.
Seratus tiga puluh juta yang membuat dadaku terasa sesak, ini bukan uang biasa, Ini pengakuan diam-diam yang tidak bisa kukembalikan.
"Aurel?" Ibu duduk di sampingku, tangan hangatnya menemukan pundakku. "Kamu menangis?"
Tanganku otomatis mengusap pipi, terkejut karena aku tidak sadar air mataku keluar. "Reyhan bayar tagihan operasi Ibu dan lima puluh juta lagi masuk ke rekeningku untuk berobat Ibu." Tawa getir terdengar seperti isak yang tertahan. "Semuanya sebelum aku menandatangani kontrak, dia sudah memastikan aku tidak punya jalan keluar lain."
Ibu meraih tanganku, "Reyhan? Dia yang melakukan ini?"
"Iya." Air mata mengaburkan penglihatan. "Yang kuingat hanya sikapnya di SMA, selalu mengalahkanku dan membuatku juara dua. Selalu..."
Aku berhenti. Sesuatu muncul di kepalaku seperti kabut pagi yang belum sepenuhnya hilang.
Ayah berdehem pelan, "Kamu tidak ingat, Sayang? Sebelum SMA? Sebelum dia jadi rivalmu?"
Aku mengernyit. "Maksud Ayah?"
"Kamu pernah telat pulang. Tiga kali ketinggalan bus karena mengaji dan tiga kali ada dia yang mengantarmu dengan payung hitam besar."
Payung hitam. Kata itu seperti kunci yang cocok dengan lubang berkarat dalam ingatanku: hujan deras, bau tanah basah, bayangan tinggi di sampingku.
"Reyhan?"
"Dia mengantarmu pulang tiga kali," Ibu melanjutkan. "Ayah yang lihat dari toko, terakhir kamu demam, dia datang bawa sup tapi tidak mau masuk, hanya menitipkan ke Ayah dan pergi."
Ayah mengangguk. "Dia selalu begitu. Membantu lalu pergi."
Aku menatap Ibu, jantungku berdetak kencang. Mengapa dia menghilang dua belas tahun lalu, dan kembali sekarang dengan cara yang membuatku bingung antara marah dan...
Ibu menyentuh pipiku, jari-jarinya menekan jejak air mata yang masih basah. "Mungkin karena dia sudah cukup lama menunggu, sayang. Dua belas tahun itu lama untuk seseorang yang mencintai dalam diam."
Aku menatap Ibu, suaraku serak. "Dengan cara menatapku angkuh dan selalu mengalahkanku?"
"Bukan angkuh, sayang." Ibu tersenyum lembut, "Mungkin itu caranya melihatmu. Caranya memastikan kamu tidak melupakannya, meski kamu selalu melihat yang lain."
Napasku sesak, terlalu banyak informasi yang bertabrakan di kepala—Arhan, Rey, dua belas tahun, juara dua. Aku membuka jendela untuk mencari udara dan dia ada di sana. Rey, bersandar di motor hitamnya di depan gerbang, jaket leather terbuka menampakkan kemeja hitam di baliknya, menatap ke arah jendela seolah tahu aku akan muncul.
Dia berdiri dan berjalan mendekat, berhenti tepat di bawah jendelaku. Angin meniup rambutnya, membuatnya terlihat lebih nyata.
"Aurel." Suaranya naik dari jalan, tanpa bantuan alat. "Keluar atau aku masuk lewat sini."
Jantung berdegup. Untuk pertama kalinya aku melihat dengan jelas—bukan rival yang selalu mengalahkanku di podium, bukan bos yang mengontrol dengan dingin, tapi anak laki-laki yang berjalan tiga kilometer dalam hujan demi mengantarku pulang, menunggu selama dua belas tahun meski aku terlalu sibuk melihat yang lain.
"Rey, aku—"
Kaca mobil hitam pekat seperti kuburan. Kami bergerak menyusuri Jakarta yang masih ramai, tengah malam. Tapi di dalam, segalanya telah mati.Aku menempel di pintu sejauh mungkin dari Rey yang duduk di sebelahku. Bahu kami berjarak tiga jari yang terasa seperti jurang, Kevin mengemudi di depan, diam seperti patung. Bahkan dia yang selalu cerewet tahu bahwa suara apa pun saat ini bisa memicu ledakan.Hujan mulai turun.Rintik-rintik memukul kaca dengan lembut, mengaburkan dunia luar, membuat kami terjebak dalam gelembung kaca yang akan segera pecah.Aku menatap lurus ke depan, rahang mengencang, tanganku terkunci di pangkuan sampai kuku menekan telapak dan meninggalkan bekas merah.Tiga menit. Lima menit. Tujuh menit tanpa suara. Hanya deru mesin yang halus dan napas Rey yang semakin memburu di sebelahku. Dia bergerak tidak nyaman, jari-jarinya membuka dan menutup kerah kemeja seolah udara di dalam mobil ini telah habis."Aku bisa jelaskan."Suaranya pecah di tengah sunyi, parau, berat.
Aku tahu seharusnya aku tidak mengikutinya. Tapi ketika melihatnya berdandan dengan setelan Armani abu-abu tengah malam, hatiku berkata bahwa sesuatu akan terjadi. Sesuatu yang akan menghancurkanku.Rey bilang ada meeting mendadak, tapi rahangnya mengencang saat berkata, jarinya sengaja menghindar dari kulitku saat melewati sofa. Dia berbohong. Dan sekarang aku berdiri di balik pilar marmer Kempinski, menatap punggungnya yang menjauh.Jam menunjukkan 22:47.Klik. Klik. Klik.Sepatunya berderap teratur, dia berhenti di concierge, berbicara pelan, mengangguk. Sebuah kartu kunci diberikan. Lantai dua puluh dua.Kukuku menekan telapak hingga sakit. Lima puluh miliar. Apakah dia akan menukarku dengan bayaran itu?Pintu lift membuka memantulkan bayangannya yang tegap. Saat pintu menutup, aku melihat wajahnya di kaca, tidak ada jejak pria yang pagi tadi mencium leherku dengan obsesi. Tidak ada lagi biarkan dunia tahu kamu milikku.Lift menutup, aku berlari dari balik pilar menekan tombol lif
Aku terbangun bukan karena alarm, melainkan karena sesuatu yang lebih tajam.Sesuatu yang menusuk leher bagian kiriku, tepat di bawah tulang rahang, di tempat yang paling sensitif. Rasanya seperti terbakar dan dingin secara bersamaan, denyut yang mengirimkan sinyal ke seluruh tubuhku bahwa aku telah berubah.Cermin di lemari pakaian memantulkan bayangan wanita yang tidak kukenali.Rambut berantakan menutupi bahu, mata bengkak karena tidur terlalu lelap, dan di leherku terdapat bekas merah tua yang kontras dengan kulit pucatku. Tanda kepemilikan yang vulgar dan indah secara bersamaan."Jangan ditutupi."Suara itu datang dari belakangku parau masih terbalut sisa-sisa tidur. Aku berbalik perlahan, selimut terpeleset dari dada telanjangku, membuatku sadar bahwa aku hanya mengenakan celana dalam yang terlalu kecil milikku dan tidak ada yang lain.Rey duduk di tepi tempat tidur, punggungnya telanjang, otot-otot punggung bergerak-gerak saat dia mengulurkan tangannya ke arahku. Rambutnya bera
Tubuhku sudah menjawab sebelum bibirku sempat bergerak. Aku terbakar, basah karena ingin. Aku menggesekkan paha mencoba menghilangkan tekanan yang mengganggu di sana, tapi hanya membuatku semakin menyadari kekosongan yang memanggil-manggil.Aku memikirkan dia. Rey. Di kamar sebelah mungkin telanjang dada, mungkin juga terjaga sambil memikirkan hal yang sama.Aku bangkit, kaki telanjangku menyentuh lantai kayu yang dingin, tapi kulitku terbakar. Piyama katunku yang tipis menempel di payudaraku, menggesekkan puting yang sudah mengeras sejak tadi. Aku berjalan ke koridor, menuju cahaya yang menyala.Pintu kamarnya sedikit terbuka.Rey duduk di tepi tempat tidur tlanjang dada, kulitnya berkilauan di cahaya lampu oranye, otot perutnya yang keras naik turun dengan napasnya yang berat. Dia tidak pakai kacamata.Matanya langsung menatapku, turun dari wajahku ke dada, ke paha, kembali ke mataku. Dia menelan ludah."Aku tahu kamu akan datang," katanya
Pikiranku masih terjebak di balkon semalam, di kata-katanya yang menggantung seperti kabut tebal, bayangan Arhan, dan aku tidak mengerti apa maksudnya sampai sekarang."Kamu pilih," kata Rey, suaranya datar sengaja, matanya menatap layar yang gelap.Aku menggulir daftar film dengan jari yang gemetar, tapi mataku berhenti di satu judul yang familiar, film tentang kereta api dan dua orang asing yang bertemu dan jatuh cinta dalam satu malam di Wina. Film yang kutonton dengan Arhan. Film yang kupikir romantis, tapi berakhir dengan kepergian tanpa kepastian, seperti kami, seperti semua yang pernah kumiliki dan hilang."Ini," kataku, menekan tombol putar tanpa berpikir panjang, seolah dengan memutar ulang kenangan yang salah aku bisa mengubahnya menjadi benar.Rey tidak protes.Dia hanya mengangguk, bersandar di sudut sofa dengan lengan di sandaran dan kaki terentang santai, tapi aku melihat bahunya tegang, seolah setiap detik film ini adalah detik yang
"Kamu benar-benar melakukan itu," suaraku parau dan pecah di tengah keheningan balkon yang dingin. "Kamu masuk ke kamarku, menyentuhku, memohon pernikahan saat aku tidak sadar."Rey masih berlutut di antara abu foto-foto yang baru saja kami bakar. "Aku serius, Aurel. Setiap kata yang aku ucapkan di video itu. Bahkan saat kamu tidak sadar, terutama saat kamu tidak sadar, karena aku akhirnya bisa mengatakannya tanpa takut melihat kamu menatapku dengan benci atau melihat kamu pergi.""Dan kamu pikir itu lebih baik?" suaraku naik sedikit. "Kamu pikir melihatku tidur dalam keadaan lemah, tidak sadar, lalu memohon pernikahan seperti itu lebih baik daripada mengatakan saat aku sadar?"Rey menggeleng, "Aku tidak memohon, Aurel. Aku menjanjikan. Aku berjanji pada diriku sendiri bahwa suatu hari, meski kamu tidak pernah tahu apa yang terjadi malam itu, aku akan membuatmu menjadi milikku secara sah. Bukan dengan menguntit, bukan dengan foto-foto tersembunyi, tapi dengan ci







