LOGINJam 03:47 pagi. Surat itu masih terasa berat di saku robe, seperti batu yang menekan tulang rusukku. Aku terbaring di tempat tidur, menatap langit-langit yang gelap, memikirkan kata-katanya yang terakhir selamanya dan apa artinya bagi seseorang yang hanya punya kontrak enam bulan.
Ketukan pelan di pintu membuatku terduduk.
Aku berjalan ke pintu, membukanya. Rey berdiri di sana, box coklat pudar di tangan kirinya, matanya merah, bukan karena menangis, tapi karena begadang.<
Jam 03:47 pagi. Surat itu masih terasa berat di saku robe, seperti batu yang menekan tulang rusukku. Aku terbaring di tempat tidur, menatap langit-langit yang gelap, memikirkan kata-katanya yang terakhir selamanya dan apa artinya bagi seseorang yang hanya punya kontrak enam bulan.Ketukan pelan di pintu membuatku terduduk.Aku berjalan ke pintu, membukanya. Rey berdiri di sana, box coklat pudar di tangan kirinya, matanya merah, bukan karena menangis, tapi karena begadang."Kita bakar semua ini," kata Rey, suaranya serak, hampir tidak kedengaran di tengah sunyi koridor. "Malam ini."Aku tidak bertanya apa yang dimaksudnya. Aku tahu. Box itu. Foto-foto itu. Dua belas tahun pengamatan yang terekam dalam kertas-kertas yang sudah menguning.Aku mengangguk, mengambil jaket tipis dari gantungan, dan mengikutinya ke balkon. Udara Jakarta pagi masih lembap, bau polusi yang tidak pernah benar-benar hilang meski masih pagi buta. Rey meletakkan box di la
Tangan ku terlipat di pangkuan, jari-jari saling mencengkeram sampai kuku menekan telapak. Di depan rak kayu sudut kamar yang selama ini kukira hanya untuk novel dan bisnis, Rey berdiri dengan box kecil di tangan. Coklat pudar. Stiker gold mengelupas di sudut."Ini yang terakhir," katanya, suaranya nyaris tidak kedengaran di bawah desiran AC.Box diletakkan di tempat tidur, di antara kami, di atas sprei yang masih berkerut dari tidurku semalam yang gelisah. Rey duduk, jaraknya dekat. Terlalu dekat. Bau parfum kayunya yang selama dua belas tahun kuhirup dari jauh sekarang menusuk hidungku dengan kekuatan yang membuat kepala berat."Buka," katanya.Engsel berkarat berdecit ketika tutup terangkat. Foto-foto. Mungkin dua puluh lembar. Semua dari belakangku. Aku di koridor Nexus, tangan memegang kopi. Aku di balkon apartemen lama, sebelum aku tahu ada yang memperhatikan. Tapi di bawah tumpukan itu ada kertas terlipat rapi yang sudah menguning. Tulisan tangan yang kukenali."Apa ini?" Tanga
Aku tidak pernah berpikir akan menghabiskan Selasa pagi jam enam di supermarket.Tapi Rey mengemudikan mobilnya, sedan hitam yang tidak mencolok, bukan yang biasa dia pakai ke kantor. Parkiran depan supermarket 24 jam yang baru buka. Matahari masih malu-malu, sinarnya tipis di antara gedung-gedung pencakar langit."Kamu butuh sereal," kata Rey, matikan mesin. "Dan aku butuh... belajar apa yang kamu suka."Aku menatapnya. Dia menatap lurus ke depan, rahang sedikit mengencang, seolah baru saja mengakukan sesuatu yang memalukan."Belajar?"Dia mengangguk, tangan sudah di gagang pintu. "Aku tidak tahu apa yang kamu suka. Makanan. Sabun. Shampoo. Aku..." Dia berhenti, menggeleng. "Aku ingin tahu."Aku turun dari mobil, bingung tapi ikut. Rey berjalan di sampingku, jaraknya dekat tapi tidak menyentuh. Pintu supermarket otomatis membuka dengan bunyi halus. Udara ber-AC menyambut kami, bau lantai yang baru saja dilap dan aroma roti dari bakery di su
Aku terbangun karena bau.Bukan bau parfum Rey atau aroma kopi yang biasa mengisi apartemen ini. Ini bau... gosong. Seperti kertas terbakar campur sesuatu yang berminyak dan salah.Aku duduk di tempat tidur. Kamarku masih gelap, tapi celah tirai menunjukkan matahari baru saja muncul. Pagi buta. Jam di nakas menunjukkan 06:28.Dia sudah bangun?Aku berdiri, mengambil kaos besar dari koper yang belum kubuka. Piyama oversize milik Rey yang kutemukan digantung di lemari semalam. Aku memakainya, lengan panjang melorot ke jari-jariku, bau deterjen dan sesuatu yang distinctly Rey menyelimuti kain.Bau gosong semakin kuat saat aku membuka pintu.Aku berjalan ke dapur, langkah kaki telanjangku nyaris tak bersuara di lantai marmer dingin. Suara seseorang terdengar pelan. Bukan suara bicara. Tapi suara... video?Aku berhenti di ambang dapur.Rey berdiri di depan kompor. Kaos putih yang sama dari semalam, celana jeans yang sama. Rambutnya
Rey berdiri di sana. Kemeja putih longgar dengan tiga kancing terbuka, celana training abu-abu yang sedikit melorot di pinggang, rambut berantakan seperti baru saja diacak-acak berkali-kali. Dia memegang spatula seperti benda asing yang baru pertama kali dilihat."Kamu masak?"Spatula berhenti bergerak. Dia berbalik, punggungnya menegang seolah kaget. Mata bagian bawahnya memiliki kantung hitam yang tampak dalam."Telur," katanya, suaranya serak. "Aku... mencoba. Aku tidak tahu kamu suka apa sebenarnya."Dia berhenti tiba-tiba, rahangnya mengencang."Telur oke," kataku cepat, berusaha mengisi keheningan yang canggung.Dia mengangguk cepat. Aku duduk di stool bar, permukaan kayu meja yang dingin menyentuh sikuku."Kita perlu bicara," kataku, suaraku lebih keras dari yang kuinginkan.Spatula berhenti lagi. Bahunya menegang seperti busur yang direntangkan."Tentang kontrak," kataku, memaksa diriku terdengar tenang. "A
Dia berdiri di sana, setelan yang sama dari semalam, tapi sekarang berantakan. Kemeja lepas dari celana. Rambut basah keringat. Dia memegang sesuatu. Map. Bukan map bisnis. Map lama. Warna coklat pudar, sudut rusak, stiker gold yang mengelupas."Maaf," katanya. Suaranya parau. Bukan parau charming, tapi parau orang yang baru selesis menangis. "Aku perlu ambil ini. Dari safe deposit box. Di bank. Sejak ayahku meninggal."Dia tidak menunggu undangan.Aku tutup pintu. Klik."Foto Lisa," aku mulai. "Harvard. Kalian—""Bukan itu." Dia meletakkan map di meja kayu. "Lebih buruk, lebih... lebih gelap."Dia tidak duduk. Dia berdiri di sana menatap jendela. Jakarta pagi. Macet. Berisik. Dunia luar berjalan normal. Padahal di sini sesuatu akan runtuh."Ayahku." Suaranya pecah. Dia berhenti. Menarik napas. Dua kali. "Dia meninggal bukan karena serangan jantung."Aku membeku."Dia bunuh diri."Tiga kata yang seperti bom."Tahun kedua Harvard." Rey masih memunggungi aku seolah tidak sanggup lihat m







