Share

Aku Mantan Baskara

Penulis: Takehiro
last update Tanggal publikasi: 2026-05-22 21:13:29

Sore itu, apartemen Anggie mendadak ramai. Pintu terbuka Dewi masuk sambil menenteng tas besar, diikuti Aryo, suaminya di belakang mereka, dua anak kembar Nadia dan Nadira langsung berlari masuk dengan riang.

“Maaf ya, Gie,” kata Dewi sambil tersenyum. “Kakak sama Mas Aryo mau keluar sebentar boleh titip si kembar?”

“Ya ampun, Kak santai aja,” jawab Anggie cepat. “Aku seneng ada si kembar rumah jadi rame.” Kata Anggie lagi sambil tersenyum lebar.

Sedang Nadia dan Nadira langsung mendekati Ririn.

“Tante Ririn!” seru mereka kompak. Ririn tersenyum lelah tapi hangat. “Hallo Cantik.”

Kedua anak itu langsung sibuk dengan ponsel mereka masing masing, Dewi duduk di sofa dan menghela napas panjang.

“Capek banget hari ini,” katanya sedikit mengeluh “Ngurusin urusan kantor.” kata Dewi lagi.

Anggie langsung menyahut, “Ngomong-ngomong bos Kakak, gimana masih brengsek?”

Dewi mendengus. “Masih dan makin parah.”

Ririn yang sedari tadi diam akhirnya ikut duduk di antara mereka

“Parah gimana, Kak?” tanya Anggie lagi penasaran Dewi menoleh kearah Anggie

“Playboy,” jawab Dewi tanpa ragu. “Dan Killer pastinya"

Ririn tersenyum mengangguk Ririn tau betul kelakuan bosnya itu.

"Gimana kerja sama bos?" tanya Dewi kali ini dia penasaran dengan kondisi Ririn selama jadi Asistennya Baskara.

"Ya di telen aja kak, mau gimana lagi," Jawan Ririn tampak pasrah.

"Sebelum kamu, dia udah ganti Asistennya empat kali kamu yang kelima,” Kata Dewi kembali membahas Baskara.

Anggie melirik Dewi kakanya. “Serius? Berapa orang?”

“Entah empat, lima, Ada yang cuma bertahan seminggu,” kata Dewi.

"Kok bisa, emang kenapa kak?" Tanya Ririn semakin penasaran.

“Nggak usah di tanya deh, bos mu itu psikopat, nggak ada yang kuat sama tugas-tugas aneh yang dia kasih,"

Ririn tersenyum tipis dan membatin pantesan...

“Bos kayak gitu bisa bikin perusahaan sukses aneh banget,” gumam Anggie terheran heran.

Aryo yang sejak tadi diam akhirnya bicara. “Kalian tau nggak, dulu Baskara nggak kayak gitu.”

Semua menoleh kearah Aryo penasaran dengan ucapannya.

“Hah?” Anggie mengerutkan dahi. “Maksudnya?”

Aryo tersenyum kecil. “Aku temen kuliahnya "

Anggi terkejut. “Serius?”

“Iya,” lanjut Aryo.

“Dulu Baskara anak yang pintar, rajin, fokus banget sama kampus.

"Yang bener mas?" Dewi tampak terkejut mendengar cerita suaminya.

"Hidup Baskara cuma kuliah, organisasi, belajar gitu gitu aja.”

“Dia pacaran nggak?” tanya Anggie tiba-tiba melontarkan pertanyaan random.

Ririn menelan ludah mendengar ucapan Anggie. Aryo berfikir sejenak lalu menggeleng sedikit kurang yakin.

“ Seingat aku nggak pernah, Eh tapi kayanya pernah." Aryo tampak berfikir keras, lagi-lagi Ririn menelan ludah mendengar pernyataan Aryo.

"Makanya aku heran waktu dia tiba-tiba berubah setelah lulus.” kata Aryo lagi sedikit mengingat detail yang mungkin terlewatkan.

Ririn terdiam tangannya saling menggenggam dadanya terasa aneh ketika Aryo membahas masa lalu Baskara.

“Apa dia nggak pernah cerita soal pacarnya?” tanya Ririn hati-hati.

“Kayanya pernah tapi aku lupa,” jawab Aryo ragu,

Ruangan mendadak hening seketika.

“Eh kayaknya…" Aryo mengingat sesuatu. " Dia pernah pacaran seingat aku, cinta pertama yang bikin dia patah hati dan trauma berat,”

Ririn menunduk jarinya saling menggenggam Ririn terdiam cukup lama, kata-kata Mas Aryo tentang Baskara yang dulu baik hati terus berputar di kepalanya, membuat dadanya terasa sesak.. Tanpa sadar, dia akhirnya bicara.

“Sebenarnya mantan pacarnya Baskara itu aku,”

Suasana ruang tamu langsung hening semua mata lansung tertuju kearah Ririn

Anggie menoleh cepat. “Kok gue nggak tau,”

"Itu waktu awal aku masuk kuliah, kita belumdeket," sahut Ririn mejelaskan mengingat Ririn dan Anggie mulai dekat waktu semester akhir.

Dewi membeku sejenak. “Maksud kamu… Kamu mantan pacar bos?”

Ririn mengangguk pelan. “Iya, kita pacaran dua tahun tapi waktu itu… entah kenapa dia ninggalin aku tiba-tiba, nggak ada penjelasan apa pun.”

Suaranya terdengar tenang, tapi matanya menyimpan kebingungan lama yang belum terjawab.

Aryo terkejut, dia menatap Ririn lebih lama dari yang lain. Potongan cerita itu langsung menyatu di kepalanya dia tahu kisah Baskara yang hancur setelah putus.

Dia tahu ada seseorang perempuan yang membuat sahabatnya jatuh sedalam itu, tapi dia tak pernah membayangkan perempuan itu adalah Ririn.

“Oh…” hanya itu yang keluar dari mulut Aryo.

Aryo mengangguk pelan, menyembunyikan keterkejutannya dia tahu lebih banyak dari yang dia ucapkan dan dia memilih untuk diam.

“Kadang hidup emang gitu ya,” katanya akhirnya, netral. “Banyak hal nggak pernah sempat dijelasin.”

Ririn tersenyum tipis. “Iya lagian itu masa lalu,”

Dewi melirik jam tangannya. “Aduh, kita harus berangkat nanti kita telat.”

Aryo berdiri dan mengambil jaketnya. “Makasih ya, Anggie Ririn udah mau jaga si kembar,”

“Iya, Mas santai aja.”

Dewi dan aryo pamit kepada Nadia dan Nadira dengan ceria, melambaikan tangan sebelum pintu tertutup.

Begitu mereka melangkah ke lorong apartemen, Dewi menoleh ke Aryo.

“Kamu kenapa kelihatan kaget?”

Aryo menarik napas panjang. “Aku tahu cerita mereka tapi.”

Dewi berhenti sejenak. “Tapi kenapa?”

“Aku nggak tau kalau perempuan yang buat Baskara patah hati itu… Ririn,” jawab Aryo lirih.

“Lebih baik kita diam itu bukan urusan kita,” kata Aryo lagi. Dewi terdiam, lalu mengangguk pelan.

Sementara itu, di dalam apartemen, Ririn duduk sendirian dia menatap kosong ke depan, perasaannya campur aduk.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kontrak Kerja Dengan Mantan   Pindah

    Beberapa hari kemudian, koper Ririn sudah berjajar rapi di ruang tamu apartemen kecil itu.Ririn berdiri menghadap Anggie dan Dewi, menarik napas sebelum bicara.“Gue pamit ya, Gie. Makasih.”Anggie menyilangkan tangan. “Akhirnya pindah juga.”“Aku pindah ya, Kak Dewi,” kata Ririn kali ini sambil menatap Dewi.Dewi menyeringai tipis. “Ke apartemen baru yang disewain Pak Bos?”Ririn mengangguk. “Iya, Kak.”Dewi mengangkat alis. Nada suaranya sengaja dibuat menggoda.“Pak bos emang playboy, tapi nggak ada lho cewek yang pernah dia ajak ke apartemennya. Apalagi sampai tinggal bareng.”Ririn langsung bereaksi. Dia sedikit panik mendengar ucapan Dewi.“Eh, bukan tinggal bareng, Kak Dewi,” katanya cepat. “Kita tetanggaan. Apartemennya depan-depanan.”Anggie terkekeh kecil.“Lagipula,” lanjut Ririn, sedikit defensif, “itu juga karena dia butuh aku buat ngerjain ini itu, biar gampang koordinasi. Gajinya juga lumayan banget.”Dewi dan Anggie saling pandang, lalu sama-sama tersenyum. Senyum yan

  • Kontrak Kerja Dengan Mantan   Jarak Yang Semakin Dekat

    Sejak pulang dari perjalan dinas beberapa hari yang lalu rutinitas mereka nyaris tak ada berubah tugas Ririn tetap aneh tak berkurang tak dipermudah.Mengurus hal-hal kecil yang seharusnya bukan bagian dari pekerjaan seorang asisten, semuanya masih dia lakukan bedanya hanya satu.Makan siang dan makan malam, makan bersama Baskara kini menjadi rutinitas tambahan hampir setiap hari. Kadang di restoran, kadang dibungkus dan dimakan di mobil, kadang di apartemen.Dan satu hal lain yang tak bisa Ririn abaikan Baskara sudah tak lagi main-main dengan perempuan.Tak ada lagi jadwal rahasia tak ada lagi nama-nama di kalender tak ada lagi kebohongan yang harus dia susun.Suatu malam, di sela makan malam yang berlangsung tenang, Baskara berkata tanpa menatap Ririn.“Oh iya Rin, Saya sudah sewa apartemen.” Ungkap Baskara memecah keheningan.Ririn berhenti mengunyah. “Apartemen, buat siapa Pak?”"Buat kamu," sahut Baskara singkat.Ririn melongo kaget, dia hampir tak percaya dengan apa yang di deng

  • Kontrak Kerja Dengan Mantan   Liburan

    Demi menjauhkan Ririn dari Iqbal, Baskara membuat alasan perjalanan dinas ke luar kota. Namun, siapa sangka perjalanan itu justru terasa seperti liburan terselubung.“Berapa hari, Pak?” tanya Ririn, sedikit terkejut.“Empat hari, Rin,” jawab Baskara sambil tersenyum nakal.“Kok… sama saya, Pak?” Ririn menatapnya heran, ragu-ragu.Baskara mencondongkan tubuh ke arah Ririn. Matanya menatap tajam, tetapi tetap tenang.“Kan kamu memang asisten saya. Kamu yang mengurus semua jadwal, mencatat ide-ide saya, dan memantau banyak hal. Jadi, logis saja kalau kamu ikut.”Ririn menelan ludah, bingung bagaimana cara menolak perintah bosnya.“Lagipula, saya memang butuh kamu biar semua urusan saya lancar,” kata Baskara lagi.Ririn kembali menelan ludah, pasrah. Seperti biasa, dia tidak bisa membantah.“Baiklah, kalau begitu,” ucap Ririn lemas.Baskara tersenyum puas. Senyum tipis, tetapi penuh kemenangan. Ada riakan kecil kebahagiaan di hatinya.“Besok kita berangkat. Aku jemput kamu di tempatmu, ya

  • Kontrak Kerja Dengan Mantan   Dimulai Dari rasa Kasihan

    Baskara semakin sering memperhatikan Ririn diam-diam, ada sesuatu yang mengusik pikirannya. Dulu Ririn berkecukupan.Sekarang, dia bekerja sebagai asisten, bahkan Ririn mengerjakan hal-hal yang jelas tak masuk akal, dan tetap menuruti semuanya tanpa banyak bicara. Itu bukan sikap Ririn yang dia kenal dulu, rasa penasaran itu akhirnya membuat Baskara memanggil Dewi, “Dewi, ke ruangan saya sekarang.” kata Baskara, tak lama dia meletakan telpon itu keasalnya. Tak butuh waktu lama, Dewi ada di depan runagan Baskara, Dewi mengetuk pintu berlahan lalu masuk. "Masuk,"Dewi kemudian menghampiri Baskara, lalu berkata “Ada yang bisa saya bantu Pak?” Baskara menutup berkas di mejanya menujukan gestur agar Dewi duduk, Dewi pun duduk persis di depan meja kerja Baskara."Wie ada yang mau saya tanya.” Ungkap Baskara dengan nada yang cukup serius."Soal Ririn," Lajut Baskara. Dewi sedikit terkejut. “Ririn? Baskara mengangguk bersandar di kursin

  • Kontrak Kerja Dengan Mantan   Sabotase Pertama

    Sabotase pertama Baskara dimulai ketika Iqbal seperti biasa menjemput Ririn pulang kerja. Tiba-tiba, dari dalam mobil mewahnya, Baskara membuka kaca dan membunyikan klakson. “Tin-tin!” Ririn menoleh, matanya tertuju pada tangan Baskara yang melambai memanggilnya. Dia menatap Iqbal sebentar, lalu tersenyum meminta maaf. “Maaf, yah… bos manggil,” ucap Ririn sambil melangkah mendekat ke mobil Baskara. Iqbal hanya bisa menghela napas, merasa kesal dengan tingkah Baskara. Ririn mendekat ke mobil Baskara. "Ada apa pak?" tanyanya sopan. “Rin, ayo naik, temenin saya. Ada yang mau saya omongin,” kata Baskara santai tapi tegas. dia ingin menunjukkan kekuasaannya sebagai atasan Ririn. Ririn menarik napas panjang. dia merasa tidak enak dengan Iqbal, tapi diajuga tidak bisa menolak permintaan Baskara. “Tapi, kan, jam kerja saya sudah…” ucap Ririn ragu-ragu. Ririn terdiam saat matanya mulai ciut melihat wajah Baskara yang mengeras. Ririn tahu dia tida

  • Kontrak Kerja Dengan Mantan   Peringatan Untuk Iqbal

    Baskara tiba-tiba nongkrong di kafe milik Iqbal. Iqbal, yang sedang sibuk menyiapkan kopi pesanan pelanggan, menoleh dan sedikit terkejut melihat kehadiran seniornya itu. “Tumben bos, mau ngopi di tempat gue,” sahut Iqbal sambil tersenyum ramah, mencoba mencairkan suasana. Baskara tidak membalas senyuman Iqbal. dia justru menatap Iqbal dengan tatapan menusuk, mengisyaratkan permusuhan yang jelas. “Gue cuma mau bilang, jauhin karyawan gue.” kata Baskara dengan nada dingin dan tegas. Iqbal terkekeh pelan, menatap seniornya itu dia sudah bisa menebak maksud kedatangan Baskara. “Ririn maksudnya, ya?” tanya Iqbal, sengaja memancing reaksi Baskara. Baskara mengangguk tipis, raut wajahnya kaku dan terlihat tidak bersahabat. “Hmm… kenapa? Kalau boleh tau,” tanya Iqbal, penasaran menanggapi pernyataan Baskara dengan santai. dia ingin tahu alasan Baskara melarangnya mendekati Ririn. “Ganggu kinerja,” kata Baskara singkat, seolah itu adalah alasan yang

  • Kontrak Kerja Dengan Mantan   Rencana Ririn

    Suatu sore, saat Ririn sedang menyusun ulang jadwal minggu depan, Baskara tiba-tiba bersandar di tepi mejanya. “Ririn,” Seru Baskara membuat Ririn menoleh ke arahnya, "Iya, pak ada yang bisa saya bantu," Sahut Ririn merendahkan nada suaranya. “Eh Rin, menurut kamu cara buat putus sama merek

  • Kontrak Kerja Dengan Mantan   Ketiga Gadis Baskara

    Setibanya di kantor Ririn mulai sibuk meminta bantuan supir kantor untuk mengurus keperluan bosnya. Sementara itu, dari balik kaca jendela kantornya, Baskara berdiri sambil menatap ke arah jalan. "Apa dia sanggup melakukannya," Ucap Baskara sambil tersenyum kecil. "Sampai kapan kamu akan bertaha

  • Kontrak Kerja Dengan Mantan   Perintah Bos Yang Semakin Absurd

    Belum sempat Ririn menarik napas lega setelah memasukkan semua belanjaan ke dalam bagasi, Baskara sudah berdiri di samping mobil sambil mengecek ponselnya. “Oh ya,” katanya santai, seolah baru mengingat sesuatu yang sepele, “habis ini kamu antar semua,” Suara Baskara terdengar ringan, Ririn yang

  • Kontrak Kerja Dengan Mantan   Manekin Hidup

    Semuanya terasa aneh sejak awal Baskara memanggil Ririn ke ruangannya, Wajah Baskara dingin tanpa ekspresi. “Kamu ikut saya,” kata Baskara tiba-tiba, sambil meraih kunci mobil. “Kemana, Pak?” tanya Ririn heran. “Belanja,” jawab Baskara singkat. “Untuk teman perempuan saya.” lanjut Baskara sen

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status