Beranda / Romansa / Kontrak Kerja Dengan Mantan / Perintah Bos Yang Semakin Absurd

Share

Perintah Bos Yang Semakin Absurd

Penulis: Takehiro
last update Tanggal publikasi: 2026-05-22 20:35:06

Belum sempat Ririn menarik napas lega setelah memasukkan semua belanjaan ke dalam bagasi, Baskara sudah berdiri di samping mobil sambil mengecek ponselnya.

“Oh ya,” katanya santai, seolah baru mengingat sesuatu yang sepele, “habis ini kamu antar semua,” Suara Baskara terdengar ringan, Ririn yang baru selesai menutup pintu bagasi, langsung menoleh cepat.

“Semua, Pak?” tanyanya spontan, suaranya sedikit tercekat.

Baskara mengangkat kepala berlahan lalu menatap Ririn.

“Iya, semua." Berlahan dia menyimpan ponselnya di saku celan, lalu berdiri tegak menghadap Ririn.

“Gaun warna biru, sepatu silver, dan set perhiasan tadi antar ke apartemen Anna.” Nada suaranya terdengar datar. Seolah sedang membahas meeting kantor. Lalu sudut bibir Baskara bergerak tipis.

“Ingat.” Tatapannya turun ke wajah Ririn.

“Anna gadis ku nomor satu.”

Kalimat itu membuat tubuh Ririn sedikit membeku. Seolah ada sesuatu yang jatuh pelan di dalam dadanya.

"Gadis nomor satu?" Gumam Ririn, alisnya nyaris bergerak kalau saja dia tidak buru-buru menahan ekspresinya.

"Dia bicara seolah sedang membahas barang koleksi." ungkap Ririn dalam hati, dia memaksakan wajah yang netral walau pikirannya mulai berisik

"Ya ampun, ini orang sakit apa gimana sih?" Gerutu Ririn lagi dalam hati.

“Ririn.” Suara Baskara memotong lamunannya, menatap Ririn tajam.

“Kamu dengar?” Ririn langsung mengangguk cepat panik.

“Iya, Pak, saya dengar.” Jawab Ririn cepat.

"Bagus." Baskara melanjutkan tanpa jeda sedikit pun.

“Gaun warna hitam antar ke apartemen Rosie.” Nada suaranya tetap sama tenang dan dingin.

“Rosie gadis ku nomor dua,” kata Baskara lagi tanpa rasa malu.

Jari Ririn tanpa sadar menggenggam tali tas lebih erat.

Rahangnya terasa menegang, tapi dia masih tersenyum sopan atau setidaknya mencoba.

“Baik, Pak.”

Baskara kembali bicara sebelum Ririn sempat mencerna semuanya.

“Yang warna pink antar ke apartemen Rika.”

Tatapan Baskara sekilas beralih padanya.

“Gadis ku nomor tiga.”

Hening beberapa detik Ririn berdiri mematung, di kepalanya, kata-kata itu seperti pukulan kecil bertubi-tubi.

"Ya Tuhan, laki-laki ini benar-benar gila," Ririn menarik napas panjang dalam-dalam, lalu mengangguk kecil.

“Baik, Pak.”

Meski sebenarnya kepalanya mulai terasa pening. Baskara memicing tipis.

Baskara membuka pintu mobil. Ririn buru-buru mengikutinya dan duduk di samping Baskara, namun baru saja dia memasang sabuk pengamannya, Baskara tiba-tiba bicara.

“Oh ya.” ucap Baskara Spontan seolah baru ingat sesuatu. Ririn menoleh pelan.

“Jangan lupa karangan bunga.” otak Ririn mulai berfikir ekspresinya kosong beberapa detik.

“Karangan bunga?” tanya Ririn memastikan.

“Iya.” ucap Baskara sambil menyalakan mesin mobil.

“Masing-masing satu.” lanjut Baskara.

“Jangan lupa kartu ucapan.” Kata Baskara lagi, Ririn berkedip beberapa kali.

“Kartu ucapan, Pak?”

“Iya.” Baskara bahkan tidak menoleh. Ririn menarik napas perlahan.

"Oke tenang Ririn," Gumam Ririn dalam hati.

“Kartu ucapannya seperti apa, Pak?”

Baskara akhirnya melirik sekilas alisnya sedikit terangkat.

“Yang mesra.” Jawabnya singkat sama sekali tidak membantu. Ririn langsung terdiam.

"Mesra?" Gumamnya lagi.

Dia menatap Baskara seperti baru saja mendengar hal paling absurd hari ini.

“Pak, saya…” Ririn berhenti sejenak menahan frustrasi.

“Maksud saya, kata-katanya seperti apa?” Lanjut Ririn meminta petunjuk.

Baskara tampak sama sekali tidak tertarik menjelaskan.

“Cari tahu sendiri.” Jawaban itu membuat kepala Ririn terasa makin pening.

“Tapi, Pak,” Ririn mencoba bicara lagi dengan hati-hati menahan nada kesal. “Ini kan buat ”

“Ririn.” Suara Baskara memotong. Namun cukup untuk membuat suasana langsung membeku. Baskara akhirnya menoleh ke arah Ririn tatapannya dingin.

“Saya nggak mau tahu,” lanjut Baskara tanpa ekspresi. “Pokoknya saya mau terima beres,”

Hening seketika Ririn menggigit bagian dalam pipinya Dia Ingin memukul wajah bosnya, tapi yang keluar hanya senyum profesional paling palsu sedunia.

“Baik, Pak.” Ucap Ririn suaranya nyaris berbisik.

“Saya urus.” lajut Ririn, Baskara mengangguk puas.

“Bagus.”

Mobil mulai melaju kencang, Sepanjang perjalanan, suasana terasa aneh. Hanya suara AC dan mesin mobil yang terdengar samar.

Di samping Baskara tangan Ririn bertumpu di atas paha Sedikit gemetar pikirannya berisik. "Gue harus nulis apa coba,"

“Untuk gadis nomor satu tersayang, makasih udah jadi gadis ku yang no satu," Ungkap Ririn dalam hati.

"Masak gue harus nulis begitu," Gumam Ririn lagi dalam hati, kali ini dia menunduk menyembunyikan senyum gelinya.

Setiap nama perempuan itu terus berputar di kepalanya Anna,Rosie, dan Rika.

Dan yang paling menyebalkan Ririn bukan cuma mengantar barang. Dia sedang mengantar bukti bahwa bosnya ternyata laki-laki menyebalkan yang memperlakukan perempuan seperti daftar koleksi.

Lampu merah menyala mobil berhenti, Baskara diam menatap lurus ke depan, jemarinya mengetuk pelan setir seolah pikirannya berada di tempat lain.

Sementara di sebelahnya Ririn menoleh sekilas, lalu cepat-cepat memalingkan wajah.

Ada rasa aneh yang tiba-tiba menyesak Kesal dan marah.

Ririn menarik napas panjang, lalu bergumam lirih pada dirinya sendiri.

“Ini kerja, Ririn” Matanya turun ke tas di pangkuannya. “Cuma kerja.”

Namun entah kenapa, kalimat itu terasa semakin sulit dia yakini sendiri.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kontrak Kerja Dengan Mantan   Pindah

    Beberapa hari kemudian, koper Ririn sudah berjajar rapi di ruang tamu apartemen kecil itu.Ririn berdiri menghadap Anggie dan Dewi, menarik napas sebelum bicara.“Gue pamit ya, Gie. Makasih.”Anggie menyilangkan tangan. “Akhirnya pindah juga.”“Aku pindah ya, Kak Dewi,” kata Ririn kali ini sambil menatap Dewi.Dewi menyeringai tipis. “Ke apartemen baru yang disewain Pak Bos?”Ririn mengangguk. “Iya, Kak.”Dewi mengangkat alis. Nada suaranya sengaja dibuat menggoda.“Pak bos emang playboy, tapi nggak ada lho cewek yang pernah dia ajak ke apartemennya. Apalagi sampai tinggal bareng.”Ririn langsung bereaksi. Dia sedikit panik mendengar ucapan Dewi.“Eh, bukan tinggal bareng, Kak Dewi,” katanya cepat. “Kita tetanggaan. Apartemennya depan-depanan.”Anggie terkekeh kecil.“Lagipula,” lanjut Ririn, sedikit defensif, “itu juga karena dia butuh aku buat ngerjain ini itu, biar gampang koordinasi. Gajinya juga lumayan banget.”Dewi dan Anggie saling pandang, lalu sama-sama tersenyum. Senyum yan

  • Kontrak Kerja Dengan Mantan   Jarak Yang Semakin Dekat

    Sejak pulang dari perjalan dinas beberapa hari yang lalu rutinitas mereka nyaris tak ada berubah tugas Ririn tetap aneh tak berkurang tak dipermudah.Mengurus hal-hal kecil yang seharusnya bukan bagian dari pekerjaan seorang asisten, semuanya masih dia lakukan bedanya hanya satu.Makan siang dan makan malam, makan bersama Baskara kini menjadi rutinitas tambahan hampir setiap hari. Kadang di restoran, kadang dibungkus dan dimakan di mobil, kadang di apartemen.Dan satu hal lain yang tak bisa Ririn abaikan Baskara sudah tak lagi main-main dengan perempuan.Tak ada lagi jadwal rahasia tak ada lagi nama-nama di kalender tak ada lagi kebohongan yang harus dia susun.Suatu malam, di sela makan malam yang berlangsung tenang, Baskara berkata tanpa menatap Ririn.“Oh iya Rin, Saya sudah sewa apartemen.” Ungkap Baskara memecah keheningan.Ririn berhenti mengunyah. “Apartemen, buat siapa Pak?”"Buat kamu," sahut Baskara singkat.Ririn melongo kaget, dia hampir tak percaya dengan apa yang di deng

  • Kontrak Kerja Dengan Mantan   Liburan

    Demi menjauhkan Ririn dari Iqbal, Baskara membuat alasan perjalanan dinas ke luar kota. Namun, siapa sangka perjalanan itu justru terasa seperti liburan terselubung.“Berapa hari, Pak?” tanya Ririn, sedikit terkejut.“Empat hari, Rin,” jawab Baskara sambil tersenyum nakal.“Kok… sama saya, Pak?” Ririn menatapnya heran, ragu-ragu.Baskara mencondongkan tubuh ke arah Ririn. Matanya menatap tajam, tetapi tetap tenang.“Kan kamu memang asisten saya. Kamu yang mengurus semua jadwal, mencatat ide-ide saya, dan memantau banyak hal. Jadi, logis saja kalau kamu ikut.”Ririn menelan ludah, bingung bagaimana cara menolak perintah bosnya.“Lagipula, saya memang butuh kamu biar semua urusan saya lancar,” kata Baskara lagi.Ririn kembali menelan ludah, pasrah. Seperti biasa, dia tidak bisa membantah.“Baiklah, kalau begitu,” ucap Ririn lemas.Baskara tersenyum puas. Senyum tipis, tetapi penuh kemenangan. Ada riakan kecil kebahagiaan di hatinya.“Besok kita berangkat. Aku jemput kamu di tempatmu, ya

  • Kontrak Kerja Dengan Mantan   Dimulai Dari rasa Kasihan

    Baskara semakin sering memperhatikan Ririn diam-diam, ada sesuatu yang mengusik pikirannya. Dulu Ririn berkecukupan.Sekarang, dia bekerja sebagai asisten, bahkan Ririn mengerjakan hal-hal yang jelas tak masuk akal, dan tetap menuruti semuanya tanpa banyak bicara. Itu bukan sikap Ririn yang dia kenal dulu, rasa penasaran itu akhirnya membuat Baskara memanggil Dewi, “Dewi, ke ruangan saya sekarang.” kata Baskara, tak lama dia meletakan telpon itu keasalnya. Tak butuh waktu lama, Dewi ada di depan runagan Baskara, Dewi mengetuk pintu berlahan lalu masuk. "Masuk,"Dewi kemudian menghampiri Baskara, lalu berkata “Ada yang bisa saya bantu Pak?” Baskara menutup berkas di mejanya menujukan gestur agar Dewi duduk, Dewi pun duduk persis di depan meja kerja Baskara."Wie ada yang mau saya tanya.” Ungkap Baskara dengan nada yang cukup serius."Soal Ririn," Lajut Baskara. Dewi sedikit terkejut. “Ririn? Baskara mengangguk bersandar di kursin

  • Kontrak Kerja Dengan Mantan   Sabotase Pertama

    Sabotase pertama Baskara dimulai ketika Iqbal seperti biasa menjemput Ririn pulang kerja. Tiba-tiba, dari dalam mobil mewahnya, Baskara membuka kaca dan membunyikan klakson. “Tin-tin!” Ririn menoleh, matanya tertuju pada tangan Baskara yang melambai memanggilnya. Dia menatap Iqbal sebentar, lalu tersenyum meminta maaf. “Maaf, yah… bos manggil,” ucap Ririn sambil melangkah mendekat ke mobil Baskara. Iqbal hanya bisa menghela napas, merasa kesal dengan tingkah Baskara. Ririn mendekat ke mobil Baskara. "Ada apa pak?" tanyanya sopan. “Rin, ayo naik, temenin saya. Ada yang mau saya omongin,” kata Baskara santai tapi tegas. dia ingin menunjukkan kekuasaannya sebagai atasan Ririn. Ririn menarik napas panjang. dia merasa tidak enak dengan Iqbal, tapi diajuga tidak bisa menolak permintaan Baskara. “Tapi, kan, jam kerja saya sudah…” ucap Ririn ragu-ragu. Ririn terdiam saat matanya mulai ciut melihat wajah Baskara yang mengeras. Ririn tahu dia tida

  • Kontrak Kerja Dengan Mantan   Peringatan Untuk Iqbal

    Baskara tiba-tiba nongkrong di kafe milik Iqbal. Iqbal, yang sedang sibuk menyiapkan kopi pesanan pelanggan, menoleh dan sedikit terkejut melihat kehadiran seniornya itu. “Tumben bos, mau ngopi di tempat gue,” sahut Iqbal sambil tersenyum ramah, mencoba mencairkan suasana. Baskara tidak membalas senyuman Iqbal. dia justru menatap Iqbal dengan tatapan menusuk, mengisyaratkan permusuhan yang jelas. “Gue cuma mau bilang, jauhin karyawan gue.” kata Baskara dengan nada dingin dan tegas. Iqbal terkekeh pelan, menatap seniornya itu dia sudah bisa menebak maksud kedatangan Baskara. “Ririn maksudnya, ya?” tanya Iqbal, sengaja memancing reaksi Baskara. Baskara mengangguk tipis, raut wajahnya kaku dan terlihat tidak bersahabat. “Hmm… kenapa? Kalau boleh tau,” tanya Iqbal, penasaran menanggapi pernyataan Baskara dengan santai. dia ingin tahu alasan Baskara melarangnya mendekati Ririn. “Ganggu kinerja,” kata Baskara singkat, seolah itu adalah alasan yang

  • Kontrak Kerja Dengan Mantan   Rencana Ririn

    Suatu sore, saat Ririn sedang menyusun ulang jadwal minggu depan, Baskara tiba-tiba bersandar di tepi mejanya. “Ririn,” Seru Baskara membuat Ririn menoleh ke arahnya, "Iya, pak ada yang bisa saya bantu," Sahut Ririn merendahkan nada suaranya. “Eh Rin, menurut kamu cara buat putus sama merek

  • Kontrak Kerja Dengan Mantan   Luka yang masih ada

    Langkah Baskara terhenti di depan kafetaria kantor. Awalnya dia hanya berniat mengambil kopi, sampai pandangannya tertuju pada satu sosok di sudut ruangan. "Jam Istirahat tinggal 5 menit lagi," Ucap Basakara sambil melirik jam tangannya. "Bukannya langsung naik," Gerutu Baskara masih memperhati

  • Kontrak Kerja Dengan Mantan   Bertemu Dengannya

    Dua hari berselang, Ririn ikut Anggie ke sebuah gedung perkantoran di pusat kota. Jantung Ririn berdebar sejak mereka turun dari mobil. Di loby, seorang perempuan berpenampilan rapi melambaikan tangan ke arah mereka. "Itu kakak gue,” bisik Anggie. Perempuan itu tersenyum ramah saat Anggie dan

  • Kontrak Kerja Dengan Mantan   Saatnya Jadi Dewasa

    Ririn hanya bisa terdiam menatap rumah yang sebentar lagi harus dia tinggalkan, rumah itu menyimpan terlalu banyak kenangan. Di sana ada tawa mamah dan papahnya, suara panggilan makan malam, obrolan kecil yang dulu terasa biasa saja, tetapi kini begitu dirindukan. Ririn menunduk sebentar, menahan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status