ログインSemuanya terasa aneh sejak awal Baskara memanggil Ririn ke ruangannya, Wajah Baskara dingin tanpa ekspresi.
“Kamu ikut saya,” kata Baskara tiba-tiba, sambil meraih kunci mobil. “Kemana, Pak?” tanya Ririn heran. “Belanja,” jawab Baskara singkat. “Untuk teman perempuan saya.” lanjut Baskara sengaja menekankan kalimatnya, berharap mendapat reaksi dari Ririn. "Oh, baik pak,"Jawab Ririn singkat, membuat wajah Baskara berkerut jelas bukan reaksi seperti itu yang Baskara harapkan. Baskara sengaja melakukannya, Ririn menyadari akan hal itu, dia berusaha membuat ekspresinya tetap tenang sambil mengikuti langkah Baskara dari belakang. Di dalam mobil, suasana tak kalah hening, Ririn duduk kaku, tangannya saling menggenggam di pangkuan. Tak lama Mereka tiba di sebuah butik mahal, begitu masuk kedalam butik itu udara dingin AC langsung menyergap. Baskara langsung menunjuk deretan gaun, mata Ririn refleks melirik harga di balik label gaun-gaun itu angka yang membuatnya menelan ludah. “Coba yang ini, terus yang itu, yang sebelahnya juga,” perintah Baskara seraya menunjuk gaun-gaun itu. Ririn menatap Baskara tak percaya. “Maksud Bapak saya?” “Iya, kamu coba semua,” sahut Baskara menegaskan. Tak ada waktu untuk membantah, akhirnya Ririn masuk ke kamar ganti, gaun pertama terasa berat, terasa tak nyaman di tubuhnya. Saat Riri keluar, Baskara berdiri dengan tangan di saku jas, menatapnya dari ujung kepala sampai ujung kaki sedikit menahan tawa. “Kebesaran.” Ucap Baskara sambil tersenyum tipis. Ririn mengangguk, dia kembali masuk lalu mencoba gaun kedua. “Terlalu biasa.” kata Baskara kali ini memperhatikan lebih serius. “Nggak cocok.” lanjut Baskara dingin, nyaris tanpa emosi namun bibirnya terlihat menahan senyum. Setiap kali keluar dari kamar ganti, Ririn memaksakan senyum kecil, senyum yang terasa kaku di wajahnya, kakinya mulai pegal, bahunya terasa berat, tapi dia tetap berdiri tegak melaksanakan tugas konyol itu. "Gue ini karyawan, bukan manekin," batin Ririn kesal, "tapi kalau gue ngelawan gue bisa kehilangan pekerjaan," ungkap Ririn lagi dalam batinnya, sambil berputar putar mengikuti intruksi dari Baskara. "Coba putar kekanan," Baskara tampak mengamati seolah semua itu seperti permainan baginya. "Bukan,putar ke kiri," lanjut Baskara. Baskara sangat menikmati momen itu, senyum tipis tersungging di sudut bibirnya, senyum kecil penuh kepuasan melihat Ririn bertahan dalam diam. Setelah entah berapa kali bolak-balik kamar ganti, Baskara akhirnya bersuara. “Yang ini,” kata Baskara akhirnya. “Ambil.” Ririn mengangguk, napasnya terasa berat. “Baik, Pak.” Kata Ririn nampak lega senyumnya terlihat lepas, namun senyuman itu tak betahan lama. "Kita sekarang beli sepatu," Ungkap Baskara melangkah dengan santai membiarkan Ririn sibuk dengan beberapa paperbag di tangannya. Mereka berada toko sepatu sekarang, Ririn duduk di samping Baskara membuka dan mengenakan satu per satu sepatu dengan hak tinggi. "Coba jalan," Ungkap Baskara membuat Ririn tercekat. "Hah, apa? Baskara hanya mengakat alisnya, membuat Ririn menuruti kemauannya. "Ba,baik pak," Sahut Ririn kikuk. sepatu pertama membuat pergelangan kakinya sedikit gemetar mungkin haknya terlalu tinggi, kali ini Baskara terang terangan tertawa. "hahaha, kamu lucu sekali," ungkap Baskara masih meperhatikan kaki Ririn yang gemetar. Hak kedua lebih tinggi lagi, Kali ini benar-benar menyiksa, Baskara dengan tenang masih terlihat menikmati penderitaan Ririn. "Akh, aduh." Ririn hampir terjatuh, Baskara dengan sigap menangkap tubuhnya masih dengan raut wajah terhibur. “Ambil sepatu yang ini, yang tadi juga," katanya masih menahan tubuh Ririn, wajah Baskara tampak berseri entah kepuasan apa yang dia rasakan. Ririn tersenyum tipis senyum sopan senyum terpaksa, "kalau gue tadi jatuh mungkin dia bakalan ketawa" gumam Ririn dalam hati. "Pak maaf," Ucap Ririn membuat Baskara melepaskan Ririn. "hmm," gumam Baskara mencoba terlihat tenang. "Masih ada satu hal lagi," celetuk Baskara, membuat mata Ririn membulat. "Eh, ada lagi," kali ini Ririn tak bisa menyembunyikan wajah terkejutnya. "Kenapa kamu nggak mau," ungkap Baskara kali ini nada suaranya nampak dingin dan penuh intimidasi. "Nggak bukan begitu pak," Sahut Ririn sambil menunduk. "Bagus, Ayo," Setelah itu mereka pergi ketoko perhiasan, lampu-lampu etalase memantulkan kilau kalung dan cincin mahal. Baskara mengambil satu kalung, lalu tanpa bertanya mendekatkannya ke leher Ririn, seolah sedang menilai. Deg Ririn menahan napas "ini kelewatan,"Ririn membatin. Tapi bibirnya tetap tertutup, Baskara menatap Ririn lama, lalu mengangguk kecil. “Cantik,” kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulut Baskara. "Eh," Ririn tak sengaja bergumam. "Kalungnya cantik," Ungkap Baskara nadanya terdengar datar. "Iya pak saya tau," sahut Ririn, membuat mata mereka bertemu. "Menurut mu juga begitu?" Baskara bertanya balik membuat suasana jadi kikuk. "Iya pak," Jawab Ririn lagi. Baskara memalingkan pandangannya, lalu dia memilih beberapa perhiasan, pelayan mengemasnya dengan hati-hati, lalu Baskara menyerahkan kartu ke kasir, sekilas dia menoleh ke arah Ririn. “Terima kasih,” katanya datar. “Sudah jadi manakin hidup hari ini.” lajut Baskara. Ririn tersenyum, senyum yang terasa sakit di pipinya senyum yang menyembunyikan lelah, jengkel, dan harga diri yang terinjak. “Sama-sama, Pak,” jawabnya pelan “Bawa semua belanjaan itu,” lanjutnya sambil melangkah pergi. Ririn mengangguk lagi tangannya penuh kantong belanjaan. Bahunya terasa berat, bukan hanya karena beban barang, tapi karena beban perasaan yang dia pikul sendirian. Baskara melihat jelas kelelahan dari langkah Ririn. dia tahu Ririn marah dia tahu Ririn tersiksa dan entah kenapa itu memberinya kepuasan. " Sedikit lagi," batin Baskara berbisik, "sedikit lagi sampai luka ini terasa seimbang." Dan Ririn, dengan senyum yang masih terpasang, tidak tau sampai kapan dia bisa terus berpura-pura tersenyum.Beberapa hari kemudian, koper Ririn sudah berjajar rapi di ruang tamu apartemen kecil itu.Ririn berdiri menghadap Anggie dan Dewi, menarik napas sebelum bicara.“Gue pamit ya, Gie. Makasih.”Anggie menyilangkan tangan. “Akhirnya pindah juga.”“Aku pindah ya, Kak Dewi,” kata Ririn kali ini sambil menatap Dewi.Dewi menyeringai tipis. “Ke apartemen baru yang disewain Pak Bos?”Ririn mengangguk. “Iya, Kak.”Dewi mengangkat alis. Nada suaranya sengaja dibuat menggoda.“Pak bos emang playboy, tapi nggak ada lho cewek yang pernah dia ajak ke apartemennya. Apalagi sampai tinggal bareng.”Ririn langsung bereaksi. Dia sedikit panik mendengar ucapan Dewi.“Eh, bukan tinggal bareng, Kak Dewi,” katanya cepat. “Kita tetanggaan. Apartemennya depan-depanan.”Anggie terkekeh kecil.“Lagipula,” lanjut Ririn, sedikit defensif, “itu juga karena dia butuh aku buat ngerjain ini itu, biar gampang koordinasi. Gajinya juga lumayan banget.”Dewi dan Anggie saling pandang, lalu sama-sama tersenyum. Senyum yan
Sejak pulang dari perjalan dinas beberapa hari yang lalu rutinitas mereka nyaris tak ada berubah tugas Ririn tetap aneh tak berkurang tak dipermudah.Mengurus hal-hal kecil yang seharusnya bukan bagian dari pekerjaan seorang asisten, semuanya masih dia lakukan bedanya hanya satu.Makan siang dan makan malam, makan bersama Baskara kini menjadi rutinitas tambahan hampir setiap hari. Kadang di restoran, kadang dibungkus dan dimakan di mobil, kadang di apartemen.Dan satu hal lain yang tak bisa Ririn abaikan Baskara sudah tak lagi main-main dengan perempuan.Tak ada lagi jadwal rahasia tak ada lagi nama-nama di kalender tak ada lagi kebohongan yang harus dia susun.Suatu malam, di sela makan malam yang berlangsung tenang, Baskara berkata tanpa menatap Ririn.“Oh iya Rin, Saya sudah sewa apartemen.” Ungkap Baskara memecah keheningan.Ririn berhenti mengunyah. “Apartemen, buat siapa Pak?”"Buat kamu," sahut Baskara singkat.Ririn melongo kaget, dia hampir tak percaya dengan apa yang di deng
Demi menjauhkan Ririn dari Iqbal, Baskara membuat alasan perjalanan dinas ke luar kota. Namun, siapa sangka perjalanan itu justru terasa seperti liburan terselubung.“Berapa hari, Pak?” tanya Ririn, sedikit terkejut.“Empat hari, Rin,” jawab Baskara sambil tersenyum nakal.“Kok… sama saya, Pak?” Ririn menatapnya heran, ragu-ragu.Baskara mencondongkan tubuh ke arah Ririn. Matanya menatap tajam, tetapi tetap tenang.“Kan kamu memang asisten saya. Kamu yang mengurus semua jadwal, mencatat ide-ide saya, dan memantau banyak hal. Jadi, logis saja kalau kamu ikut.”Ririn menelan ludah, bingung bagaimana cara menolak perintah bosnya.“Lagipula, saya memang butuh kamu biar semua urusan saya lancar,” kata Baskara lagi.Ririn kembali menelan ludah, pasrah. Seperti biasa, dia tidak bisa membantah.“Baiklah, kalau begitu,” ucap Ririn lemas.Baskara tersenyum puas. Senyum tipis, tetapi penuh kemenangan. Ada riakan kecil kebahagiaan di hatinya.“Besok kita berangkat. Aku jemput kamu di tempatmu, ya
Baskara semakin sering memperhatikan Ririn diam-diam, ada sesuatu yang mengusik pikirannya. Dulu Ririn berkecukupan.Sekarang, dia bekerja sebagai asisten, bahkan Ririn mengerjakan hal-hal yang jelas tak masuk akal, dan tetap menuruti semuanya tanpa banyak bicara. Itu bukan sikap Ririn yang dia kenal dulu, rasa penasaran itu akhirnya membuat Baskara memanggil Dewi, “Dewi, ke ruangan saya sekarang.” kata Baskara, tak lama dia meletakan telpon itu keasalnya. Tak butuh waktu lama, Dewi ada di depan runagan Baskara, Dewi mengetuk pintu berlahan lalu masuk. "Masuk,"Dewi kemudian menghampiri Baskara, lalu berkata “Ada yang bisa saya bantu Pak?” Baskara menutup berkas di mejanya menujukan gestur agar Dewi duduk, Dewi pun duduk persis di depan meja kerja Baskara."Wie ada yang mau saya tanya.” Ungkap Baskara dengan nada yang cukup serius."Soal Ririn," Lajut Baskara. Dewi sedikit terkejut. “Ririn? Baskara mengangguk bersandar di kursin
Sabotase pertama Baskara dimulai ketika Iqbal seperti biasa menjemput Ririn pulang kerja. Tiba-tiba, dari dalam mobil mewahnya, Baskara membuka kaca dan membunyikan klakson. “Tin-tin!” Ririn menoleh, matanya tertuju pada tangan Baskara yang melambai memanggilnya. Dia menatap Iqbal sebentar, lalu tersenyum meminta maaf. “Maaf, yah… bos manggil,” ucap Ririn sambil melangkah mendekat ke mobil Baskara. Iqbal hanya bisa menghela napas, merasa kesal dengan tingkah Baskara. Ririn mendekat ke mobil Baskara. "Ada apa pak?" tanyanya sopan. “Rin, ayo naik, temenin saya. Ada yang mau saya omongin,” kata Baskara santai tapi tegas. dia ingin menunjukkan kekuasaannya sebagai atasan Ririn. Ririn menarik napas panjang. dia merasa tidak enak dengan Iqbal, tapi diajuga tidak bisa menolak permintaan Baskara. “Tapi, kan, jam kerja saya sudah…” ucap Ririn ragu-ragu. Ririn terdiam saat matanya mulai ciut melihat wajah Baskara yang mengeras. Ririn tahu dia tida
Baskara tiba-tiba nongkrong di kafe milik Iqbal. Iqbal, yang sedang sibuk menyiapkan kopi pesanan pelanggan, menoleh dan sedikit terkejut melihat kehadiran seniornya itu. “Tumben bos, mau ngopi di tempat gue,” sahut Iqbal sambil tersenyum ramah, mencoba mencairkan suasana. Baskara tidak membalas senyuman Iqbal. dia justru menatap Iqbal dengan tatapan menusuk, mengisyaratkan permusuhan yang jelas. “Gue cuma mau bilang, jauhin karyawan gue.” kata Baskara dengan nada dingin dan tegas. Iqbal terkekeh pelan, menatap seniornya itu dia sudah bisa menebak maksud kedatangan Baskara. “Ririn maksudnya, ya?” tanya Iqbal, sengaja memancing reaksi Baskara. Baskara mengangguk tipis, raut wajahnya kaku dan terlihat tidak bersahabat. “Hmm… kenapa? Kalau boleh tau,” tanya Iqbal, penasaran menanggapi pernyataan Baskara dengan santai. dia ingin tahu alasan Baskara melarangnya mendekati Ririn. “Ganggu kinerja,” kata Baskara singkat, seolah itu adalah alasan yang
Langkah Baskara terhenti di depan kafetaria kantor. Awalnya dia hanya berniat mengambil kopi, sampai pandangannya tertuju pada satu sosok di sudut ruangan. "Jam Istirahat tinggal 5 menit lagi," Ucap Basakara sambil melirik jam tangannya. "Bukannya langsung naik," Gerutu Baskara masih memperhati
Dua hari berselang, Ririn ikut Anggie ke sebuah gedung perkantoran di pusat kota. Jantung Ririn berdebar sejak mereka turun dari mobil. Di loby, seorang perempuan berpenampilan rapi melambaikan tangan ke arah mereka. "Itu kakak gue,” bisik Anggie. Perempuan itu tersenyum ramah saat Anggie dan
Ririn hanya bisa terdiam menatap rumah yang sebentar lagi harus dia tinggalkan, rumah itu menyimpan terlalu banyak kenangan. Di sana ada tawa mamah dan papahnya, suara panggilan makan malam, obrolan kecil yang dulu terasa biasa saja, tetapi kini begitu dirindukan. Ririn menunduk sebentar, menahan
Suatu sore, saat Ririn sedang menyusun ulang jadwal minggu depan, Baskara tiba-tiba bersandar di tepi mejanya. “Ririn,” Seru Baskara membuat Ririn menoleh ke arahnya, "Iya, pak ada yang bisa saya bantu," Sahut Ririn merendahkan nada suaranya. “Eh Rin, menurut kamu cara buat putus sama merek







