LOGINBeberapa hari kemudian, koper Ririn sudah berjajar rapi di ruang tamu apartemen kecil itu.Ririn berdiri menghadap Anggie dan Dewi, menarik napas sebelum bicara.“Gue pamit ya, Gie. Makasih.”Anggie menyilangkan tangan. “Akhirnya pindah juga.”“Aku pindah ya, Kak Dewi,” kata Ririn kali ini sambil menatap Dewi.Dewi menyeringai tipis. “Ke apartemen baru yang disewain Pak Bos?”Ririn mengangguk. “Iya, Kak.”Dewi mengangkat alis. Nada suaranya sengaja dibuat menggoda.“Pak bos emang playboy, tapi nggak ada lho cewek yang pernah dia ajak ke apartemennya. Apalagi sampai tinggal bareng.”Ririn langsung bereaksi. Dia sedikit panik mendengar ucapan Dewi.“Eh, bukan tinggal bareng, Kak Dewi,” katanya cepat. “Kita tetanggaan. Apartemennya depan-depanan.”Anggie terkekeh kecil.“Lagipula,” lanjut Ririn, sedikit defensif, “itu juga karena dia butuh aku buat ngerjain ini itu, biar gampang koordinasi. Gajinya juga lumayan banget.”Dewi dan Anggie saling pandang, lalu sama-sama tersenyum. Senyum yan
Sejak pulang dari perjalan dinas beberapa hari yang lalu rutinitas mereka nyaris tak ada berubah tugas Ririn tetap aneh tak berkurang tak dipermudah.Mengurus hal-hal kecil yang seharusnya bukan bagian dari pekerjaan seorang asisten, semuanya masih dia lakukan bedanya hanya satu.Makan siang dan makan malam, makan bersama Baskara kini menjadi rutinitas tambahan hampir setiap hari. Kadang di restoran, kadang dibungkus dan dimakan di mobil, kadang di apartemen.Dan satu hal lain yang tak bisa Ririn abaikan Baskara sudah tak lagi main-main dengan perempuan.Tak ada lagi jadwal rahasia tak ada lagi nama-nama di kalender tak ada lagi kebohongan yang harus dia susun.Suatu malam, di sela makan malam yang berlangsung tenang, Baskara berkata tanpa menatap Ririn.“Oh iya Rin, Saya sudah sewa apartemen.” Ungkap Baskara memecah keheningan.Ririn berhenti mengunyah. “Apartemen, buat siapa Pak?”"Buat kamu," sahut Baskara singkat.Ririn melongo kaget, dia hampir tak percaya dengan apa yang di deng
Demi menjauhkan Ririn dari Iqbal, Baskara membuat alasan perjalanan dinas ke luar kota. Namun, siapa sangka perjalanan itu justru terasa seperti liburan terselubung.“Berapa hari, Pak?” tanya Ririn, sedikit terkejut.“Empat hari, Rin,” jawab Baskara sambil tersenyum nakal.“Kok… sama saya, Pak?” Ririn menatapnya heran, ragu-ragu.Baskara mencondongkan tubuh ke arah Ririn. Matanya menatap tajam, tetapi tetap tenang.“Kan kamu memang asisten saya. Kamu yang mengurus semua jadwal, mencatat ide-ide saya, dan memantau banyak hal. Jadi, logis saja kalau kamu ikut.”Ririn menelan ludah, bingung bagaimana cara menolak perintah bosnya.“Lagipula, saya memang butuh kamu biar semua urusan saya lancar,” kata Baskara lagi.Ririn kembali menelan ludah, pasrah. Seperti biasa, dia tidak bisa membantah.“Baiklah, kalau begitu,” ucap Ririn lemas.Baskara tersenyum puas. Senyum tipis, tetapi penuh kemenangan. Ada riakan kecil kebahagiaan di hatinya.“Besok kita berangkat. Aku jemput kamu di tempatmu, ya
Baskara semakin sering memperhatikan Ririn diam-diam, ada sesuatu yang mengusik pikirannya. Dulu Ririn berkecukupan.Sekarang, dia bekerja sebagai asisten, bahkan Ririn mengerjakan hal-hal yang jelas tak masuk akal, dan tetap menuruti semuanya tanpa banyak bicara. Itu bukan sikap Ririn yang dia kenal dulu, rasa penasaran itu akhirnya membuat Baskara memanggil Dewi, “Dewi, ke ruangan saya sekarang.” kata Baskara, tak lama dia meletakan telpon itu keasalnya. Tak butuh waktu lama, Dewi ada di depan runagan Baskara, Dewi mengetuk pintu berlahan lalu masuk. "Masuk,"Dewi kemudian menghampiri Baskara, lalu berkata “Ada yang bisa saya bantu Pak?” Baskara menutup berkas di mejanya menujukan gestur agar Dewi duduk, Dewi pun duduk persis di depan meja kerja Baskara."Wie ada yang mau saya tanya.” Ungkap Baskara dengan nada yang cukup serius."Soal Ririn," Lajut Baskara. Dewi sedikit terkejut. “Ririn? Baskara mengangguk bersandar di kursin
Sabotase pertama Baskara dimulai ketika Iqbal seperti biasa menjemput Ririn pulang kerja. Tiba-tiba, dari dalam mobil mewahnya, Baskara membuka kaca dan membunyikan klakson. “Tin-tin!” Ririn menoleh, matanya tertuju pada tangan Baskara yang melambai memanggilnya. Dia menatap Iqbal sebentar, lalu tersenyum meminta maaf. “Maaf, yah… bos manggil,” ucap Ririn sambil melangkah mendekat ke mobil Baskara. Iqbal hanya bisa menghela napas, merasa kesal dengan tingkah Baskara. Ririn mendekat ke mobil Baskara. "Ada apa pak?" tanyanya sopan. “Rin, ayo naik, temenin saya. Ada yang mau saya omongin,” kata Baskara santai tapi tegas. dia ingin menunjukkan kekuasaannya sebagai atasan Ririn. Ririn menarik napas panjang. dia merasa tidak enak dengan Iqbal, tapi diajuga tidak bisa menolak permintaan Baskara. “Tapi, kan, jam kerja saya sudah…” ucap Ririn ragu-ragu. Ririn terdiam saat matanya mulai ciut melihat wajah Baskara yang mengeras. Ririn tahu dia tida
Baskara tiba-tiba nongkrong di kafe milik Iqbal. Iqbal, yang sedang sibuk menyiapkan kopi pesanan pelanggan, menoleh dan sedikit terkejut melihat kehadiran seniornya itu. “Tumben bos, mau ngopi di tempat gue,” sahut Iqbal sambil tersenyum ramah, mencoba mencairkan suasana. Baskara tidak membalas senyuman Iqbal. dia justru menatap Iqbal dengan tatapan menusuk, mengisyaratkan permusuhan yang jelas. “Gue cuma mau bilang, jauhin karyawan gue.” kata Baskara dengan nada dingin dan tegas. Iqbal terkekeh pelan, menatap seniornya itu dia sudah bisa menebak maksud kedatangan Baskara. “Ririn maksudnya, ya?” tanya Iqbal, sengaja memancing reaksi Baskara. Baskara mengangguk tipis, raut wajahnya kaku dan terlihat tidak bersahabat. “Hmm… kenapa? Kalau boleh tau,” tanya Iqbal, penasaran menanggapi pernyataan Baskara dengan santai. dia ingin tahu alasan Baskara melarangnya mendekati Ririn. “Ganggu kinerja,” kata Baskara singkat, seolah itu adalah alasan yang







