Share

Rencana Ririn

Author: Takehiro
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-24 09:10:42

Suatu sore, saat Ririn sedang menyusun ulang jadwal minggu depan, Baskara tiba-tiba bersandar di tepi mejanya.

“Ririn,” Seru Baskara membuat Ririn menoleh ke arahnya,

"Iya, pak ada yang bisa saya bantu," Sahut Ririn merendahkan nada suaranya.

“Eh Rin, menurut kamu cara buat putus sama mereka gimana ya, ?” Celetuk Baskara tiba-tiba, nada suaranya terdengar santai, terlalu santai untuk membahas perasaan tiga orang perempuan.Seketika hati Ririn mencelos mendengar ucapan Baskara.

“Putus, Pak?” Tanya Ririn memastikan.

“Iya,” jawab Baskara ringan. “Putus dengan mereka semua,” lanjut Baskara datar.

Ekspresi wajah Ririn jelas terkejut, dia pun teringat ucapan Dewi, "Pak Baskara hanya bisa tahan tiga bulan dengan para gadis itu." Suara itu terngiang di benaknya sekarang.

“Anna, Rosie, sama Rika,” lanjut Baskara seolah sedang membicarakan tiga ekor binatang peliharaan. “Kayaknya udah cukup.” Ririn menelan ludah lalu menunduk, wajahnya memerah bukan tersipu tapi muak dengan topik pembicaraan itu.

“Maksud Bapak?” kata-kata itu lolos keluar dari mulut Ririn, Baskara tersenyum kecil masih menatap Ririn.

“Ya, Bosan.” ucap Baskara Ringan, senyuman angkuh terlihat dari raut wajahnya seolah ingin menunjukan bahwa dia bisa mendapatkan wanita manapun dan bisa membuangnya kapan Saja.

Ririn menarik napas panjang, mencoba mengatur mimik wajahnya agar terlihat netral, walau sorot matanya tak bisa berbohong, Ririn marah sangat marah namun dia harus tetap berpura-pura.

"Terus, rencana Bapak bagaimana?” suara Ririn tercekat.

"Em, makannya saya nanya sama kamu," Sahut Baskara menatap lurus kerarah Ririn.

"Saya tak punya solusi untuk itu," Jawab Ririn cepat. Baskara nampak berpikir sejenak.

“Gimana kalau kita pacaran," ucap Baskara tiba-tiba, dunia Ririn seperti berhenti berputar hatinya mengutuk Baskara dengan umpatan kasar.

"Bajingan brengsek, mati saja, masuk neraka." Teriak Ririn dalam hati.

“Pacaran?” suara Ririn nyaris tak keluar.

“Iya Kamu mau kan jadi pacar saya,” kata Baskara lagi santai, terlalu santai seolah semua ini hanya permainan. Ririn membeku jantungnya berdegup keras.

"gila,dia gila," Teriak Ririn lagi dalam hati tangannya mengepal kuat menahan amarah.

"Pak saya,” Ririn menghentikan ucapannya, dia tahu bantahan di depan Baskara hanya akan jadi bumerang buat dirinya sendiri.

"Gimana aman kan, kamu mau jadi pacar saya?"

"Hanya pura-pura,” lanjut Baskara.

" Enak aja, "maki Ririn dalam hati.

"dia mau numbalin gue! ketiga perempuan itu pasti bakal nyerang gue habis habisan." Ririn membatin tangannya masih mengepal kuat di bawah meja.

"Banyak lho yang mau jadi pacar saya," celetuk Baskara sambil tesenyum.

Mata Ririn bergetar dia hampir tak bisa menahan amarahnya, namun wajahnya kembali tenang, senyum kecil yang sudah Ririn kuasai selama tiga bulan terakhir kembali terpasang.

“Baik pak,” kata Ririn akhirnya. “Kalau itu maunya Bapak.” lanjut Ririn sambil menelan ludah. Baskara mengangguk puas masih memasang senyum yang menyebalkan.

“Bagus. Aku tahu kamu bisa diandalkan” katanya sambil menepuk bahu Ririn.

Baskara pun kembali ke dalam ruangannya, Ririn masih duduk diam tangannya masih mengepal di bawah meja, jadi pacar pura-pura yang benar saja." Ucap Ririn pelan.

Kepalanya langsung dipenuhi bayangan ketiga gadis itu, tatapan marah, suara tinggi, tuduhan, drama yang pasti akan menimpanya.

"Oke, Baskara, mau cuci tangan kan," Ucap Ririn dingin, Senyum tipis muncul di wajah Ririn, senyum seseorang yang baru saja menemukan ide.

"Enak aja mau numbalin gue."

"Kalau lu mau putus, ya putus aja,jangan bikin gue jadi tumbal." ungkap Ririn masih melampiaskan kemarahannya.

Ririn menyandarkan punggung ke kursi, menatap kalender di layar laptopnya jadwal yang selama tiga bulan ini dia susun rapi.

"Gue bikin bentrok aja sekalian biar lu yang babak belur." Dan tentu saja, itu semua hanya Ririn simpan rapat-rapat di dalam pikirannya.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Kontrak Kerja Dengan Mantan   Si Tampan Yang Baik Hati

    Sepulang dari kantor, Ririn duduk sendiri di trotoar sambil memainkan ponselnya. Tiba-tiba terdengar suara yang familiar di telinganya. "Eh Rin," Seru Iqbal. Ririn menatap ke depan sedikit terkejut melihat Iqbal, dia menghentikan sepeda motornya persis di hadapan Ririn. “Ngapain, Rin?” tanya Iqbal, sambil tersenyum menatap Ririn. “Oh ini, lagi pesan ojek online,” jawab Ririn Kikiuk. Iqbal memanfaatkan kesempatan itu untuk mendekati Ririn. “Mau pulang? Ayo, aku antar.” kata Iqbal. Ririn menahan napas sejenak, sedikit ragu tapi dalam hatinya dia sangat senang dengan tawaran Iqbal itu. “Eh, tapi, aku mau ambil laundry bosku dulu,” katanya pelan, Iqbal sedikit mengerutkan keningnya. “Hah, punya Mas Baskara?” tanya Iqbal, heran sekaligus terkejut. Ririn hanya mengangguk pelan, wajahnya merah dia merasa malu karena harus mengerjakan pekerjaan seperti itu, Iqbal tersenyum hangat, men

  • Kontrak Kerja Dengan Mantan   Bertemu Dengan Teman Lama

    Setelah keributan dengan Anna, Rosie, dan Rika, beberapa hari yang lalu, suasana kantor terasa semakin tegang. "Rin, kamu tidak melakukan itu dengan sengaja kan?" Tanya Baskara matanya menatap Ririn penuh intimidasi. "Saya, tidak mungkin berani pak," Jawab Ririn gelagapan sambil meremas ujung roknya. "Oya, selama tiga bulan ini kamu berhasil mengecoh mereka," Baskara terdiam sejenak matanya menatap lurus ke arah Ririn. "Tapi, kenapa hari itu, mereka datang bersamaan," lanjut Baskara masih menatap Ririn penuh curiga. "Maaf pak saya memang salah, tapi saya tidak bermaksud seperti itu," Ririn mencoba meyakinkan walaupun sepertinya Baskara tidak percaya dengan ucapanya. "Kamu seneng ya," Celetuk Baskara membuat Ririn gelagapan. "Tidak pak, saya prihatin dengan bapak," jawab Ririn cepat. Baskara rersenyum jahil sekarang menatap Ririn. "Kamu naksir ya sama saya," celetuk Baskara tiba-tiba membuat Mata Ririn membelalak ke arahnya. "Hah, Saya pak," Ririn menujuk dirinya s

  • Kontrak Kerja Dengan Mantan   Aku Tak Ingin Berbohong Lagi

    Dalam beberapa hari ini Ririn tetap terlihat sebagai asisten yang patuh, tetap Ririn yang selalu berkata "iya pak," "siap pak, laksankan." Sementara di dalam benaknya, sebuah skenario sedang Ririn susun. Dan sore itu, Ririn akhirnya memainkan rencananya. "Sebetar lagi," Ucap Ririn sambil melirik jam tangannya. Jam menunjukkan hampir pukul lima ketika pintu ruang kerja Baskara tertutup rapat. "Mas, Kamu nakal," Suara Manja Anna terdengar dari dalam, disusul tawa kecil Baskara. "Kamu memang paling pinter bikin aku seneng," Suara rendah Baskara kemudian terdengar. Ririn duduk di meja resepsionis berjaga seperti biasa, wajahnya terlihat tenang. Tangannya sibuk merapikan berkas padahal pikirannya tajam menghitung detik. "Tak, tak, Tak," Langkah sepatu hak terdengar mendekat kearah Ririn, Ririn tersenyum licik. “Mbak Ririn,” kata Rosie dengan senyum tipis. “Mas Baskara ada di dalam?” Tanya Rosie sedikit basa basi. Ririn tersenyum menyambutnya seperti biasa, di titik ini,

  • Kontrak Kerja Dengan Mantan   Rencana Ririn

    Suatu sore, saat Ririn sedang menyusun ulang jadwal minggu depan, Baskara tiba-tiba bersandar di tepi mejanya. “Ririn,” Seru Baskara membuat Ririn menoleh ke arahnya, "Iya, pak ada yang bisa saya bantu," Sahut Ririn merendahkan nada suaranya. “Eh Rin, menurut kamu cara buat putus sama mereka gimana ya, ?” Celetuk Baskara tiba-tiba, nada suaranya terdengar santai, terlalu santai untuk membahas perasaan tiga orang perempuan.Seketika hati Ririn mencelos mendengar ucapan Baskara. “Putus, Pak?” Tanya Ririn memastikan. “Iya,” jawab Baskara ringan. “Putus dengan mereka semua,” lanjut Baskara datar. Ekspresi wajah Ririn jelas terkejut, dia pun teringat ucapan Dewi, "Pak Baskara hanya bisa tahan tiga bulan dengan para gadis itu." Suara itu terngiang di benaknya sekarang. “Anna, Rosie, sama Rika,” lanjut Baskara seolah sedang membicarakan tiga ekor binatang peliharaan. “Kayaknya udah cukup.” Ririn menelan ludah lalu menunduk, wajahnya memerah bukan tersipu tapi muak dengan topik

  • Kontrak Kerja Dengan Mantan   Aku Mantan Baskara

    Sore itu, apartemen Anggie mendadak ramai. Pintu terbuka Dewi masuk sambil menenteng tas besar, diikuti Aryo, suaminya di belakang mereka, dua anak kembar Nadia dan Nadira langsung berlari masuk dengan riang. “Maaf ya, Gie,” kata Dewi sambil tersenyum. “Kakak sama Mas Aryo mau keluar sebentar boleh titip si kembar?” “Ya ampun, Kak santai aja,” jawab Anggie cepat. “Aku seneng ada si kembar rumah jadi rame.” Kata Anggie lagi sambil tersenyum lebar. Sedang Nadia dan Nadira langsung mendekati Ririn. “Tante Ririn!” seru mereka kompak. Ririn tersenyum lelah tapi hangat. “Hallo Cantik.” Kedua anak itu langsung sibuk dengan ponsel mereka masing masing, Dewi duduk di sofa dan menghela napas panjang. “Capek banget hari ini,” katanya sedikit mengeluh “Ngurusin urusan kantor.” kata Dewi lagi. Anggie langsung menyahut, “Ngomong-ngomong bos Kakak, gimana masih brengsek?” Dewi mendengus. “Masih dan makin parah.” Ririn yang sedari tadi diam akhirnya ikut duduk di antara mereka “Pa

  • Kontrak Kerja Dengan Mantan   Ketiga Gadis Baskara

    Setibanya di kantor Ririn mulai sibuk meminta bantuan supir kantor untuk mengurus keperluan bosnya. Sementara itu, dari balik kaca jendela kantornya, Baskara berdiri sambil menatap ke arah jalan. "Apa dia sanggup melakukannya," Ucap Baskara sambil tersenyum kecil. "Sampai kapan kamu akan bertahan," Ucapnya lagi. Baskara tahu persis apa yang dia lakukan, dia tahu Ririn kebingungan, dia tahu Ririn tersakiti. Dan senyum kecil itu kembali muncul di wajahnya. "Dulu kamu memilih diam saat ibumu menghancurkanku, sekarang rasakan diam yang sama." ucap Baskara tajam. Namun jauh di dalam dadanya, ada sesuatu yang mulai terasa asing bukan lega, bukan puas melainkan perih yang tak kunjung sembuh, meski dia terus mencoba melukai Ririn. Hari berikutnya, suasana kantor belum sepenuhnya ramai ketika Baskara memanggil Ririn masuk ke ruangannya. "Ada yang bisa saya bantu pak," ucap Ririn sambil berdiri di depan Baskara. Baskara berdiri membelakanginya , menatap layar ponselnya sebentar seb

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status