Share

Bertemu Dengannya

Author: Takehiro
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-21 19:37:30

Dua hari berselang, Ririn ikut Anggie ke sebuah gedung perkantoran di pusat kota. Jantung Ririn berdebar sejak mereka turun dari mobil.

Di loby, seorang perempuan berpenampilan rapi melambaikan tangan ke arah mereka.

"Itu kakak gue,” bisik Anggie.

Perempuan itu tersenyum ramah saat Anggie dan Ririn mendekat.

"Maaf Kak, tadi macet," Ungkap Aggie sedikit merasa tak enak karena datang terlambat.

"Eh, Nggak apa-apa kakak juga baru nyampek, kok." Sahut Perempuan itu tak lama matanya langsung tertuju ke arah Ririn.

“Hai, kamu Ririn ya? Aku Dewi, kakaknya Anggie.” Katanya lagi sambil mempersilahkan Anggi dan Ririn duduk.

"Iya kak, aku Ririn," jawab Ririn sedikit gugup sambil duduk berhadapan dengan Dewi. Dewi langsung bicara tanpa bertele-tele.

“Begini Rin, posisi asisten buat aku sebenernya udah ada,” kata Dewi jujur menatap Anggie dan Ririn secara bergantian.

Ririn sempat terdiam dadanya terasa agak sesak, dia sedikit kecewa tapi dia berusaha tetap tersenyum.

"Tapi,” lanjut Kak Dewi, “bos aku justru lagi butuh asisten.”

Ririn mengangkat wajahnya. “Asisten bos?”

“Iya, mengatur jadwal bos, mencatat ide-idenya, ngingetin meeting, hal-hal administratif gitu.” Ungkap Dewi menjelaskan.

Ririn sedikit terkejut. Pekerjaan itu jelas nggak ada hubungannya dengan latar belakangnya sebagai desain grafis dia menunduk, pikirannya berputar cepat.

Namun apa boleh buat dia butuh uang dan butuh kerja, sekarang bukan saatnya buat Ririn untuk pilih-pilih kerjaan.

“Jujur aja, Rin,” kata Dewi lagi, “ini bukan kerjaan desain tapi bos aku orangnya perfeksionis, butuh orang yang rapi, teliti, dan bisa dipercaya.”

Ririn menarik napas dalam. “Tapi, aku belum pernah jadi asisten, gimana, Kak?”

Dewi tersenyum tipis. “Semua orang juga mulai dari nol.”

Anggie yang sejak tadi diam akhirnya menyela, “Lu coba aja dulu,” kata Anggie memberikan semangat.

Ririn mengepalkan tangannya pelan di atas paha.

“Aku mau coba, Kak,” ucap Ririn pelan, “Aku mau kerja apa aja.” kata Ririn lagi kali ini terdengar mantap.

Dewi menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk. “Oke, aku kenalin kamu ke bos aku, kalau dia cocok, kamu bisa mulai secepatnya.”

Ririn tersenyum lega kali ini lebih tulus. Meski belum tau seperti apa bosnya nanti, satu hal yang dia yakini ini adalah langkah pertamanya untuk bertahan hidup.

Saat itu juga Dewi langsung membawanya menemui bosnya.

Ririn mengikuti langkah Kak Dewi menyusuri lorong kantor yang sunyi. mereka berhenti di depan sebuah pintu berwarna hitam doff.

“Kamu udah siap,” Tanya Dewi menatap ke arah Ririn sejenak, Ririn hanya mengangguk walau ketegangan nampak jelas di raut wajahnya, Dewi mengetuk pintu itu hati-hati.

"Ya masuk," Suara itu terdengar dari dalam ruangan.

Dewi masuk terlebih dahulu lalu di ikuti Ririn dari belakang.

Di dalam ruangan itu, seorang pria duduk di balik meja kerja posturnya tegap, jasnya rapi, wajahnya dingin. Seketika tatapan matanya langsung mengarah ke Ririn tajam, datar, tanpa kehangatan.

"Pak, ini kandidatnya,” Dewi memperkenalkan Ririn kepada bosnya.

Dan detik itu juga, dunia Ririn seperti berhenti berputar.

"BASKARA!!!" seru Ririn dalam hati.

Pria itu menyandarkan tubuhnya ke kursi. Sudut bibirnya terangkat sedikit, bukan senyum ramah, lebih seperti ejekan.

“Silakan duduk,” katanya datar.

Tangan Ririn sedikit gemetar saat dia menarik kursi dan duduk di hadapan meja Baskara, pikirannya kacau dari sekian banyak kantor, dari sekian banyak bos di kota ini kenapa harus dia.

Baskara menatapnya tanpa berkedip, seolah sedang menilai sesuatu yang dulu pernah membuatnya terjatuh dalam.

“Jadi,” ucap Baskara datar, “kamu melamar sebagai asisten?”

“Iya, Pak,” jawab Ririn, berusaha menjaga suaranya tetap stabil.

Satu kata itu terasa janggal sekaligus menyenangkan. Dewi berdiri di samping, sama sekali tak menyadari badai yang sedang berkecamuk di antara dua orang di ruangan itu.

“Background kamu desain, ya?” tanya Baskara sambil membuka berkas,

“Betul pak.” Jawab Ririn singkat.

“Dan sekarang kamu mau ngurus jadwal, nyatet ide, jadi asisten pribad saya?" Kata Baskara nada suaranya datar, tapi ada tekanan di tiap katanya.

Ririn menelan ludah. “Saya, butuh pekerjaan dan saya mau belajar.”

Baskara tersenyum tipis kali ini lebih jelas lebih dingin.

"Dulu Orang tua mu tolak aku mentah-mentah, sekarang kamu duduk di depan ku dan mengemis pekerjaan," pikir Baskara dalam batinnya.

“Orang tua kamu tahu kamu melamar kerja di sini?” tanya Baskara tiba-tiba membuat Riri terkejut, Ririn terdiam sepersekian detik.

“Tidak, Pak.” Jawab Ririn singkat, tentu saja tidak orang tua Ririn sudah meninggal.

Baskara mengangguk pelan, seolah jawaban itu sudah dia duga.

Keheningan menggantung Ririn ingin segara kabur dari tempat itu, Tapi kenyataan menahannya di kursi itu, dia tidak punya pilihan dia butuh pekerjaan dan dia butuh bertahan hidup.

“Aku nggak akan kasih kamu perlakuan khusus,” kata Baskara sedikit berbisik raut wajahnya terlihat dingin.

“Di kantor ini aku bos dan kamu karyawan.” katanya lagi kali ini dengan tatapan yang terlihat menakutkan.

Ririn sedikit termor namun tubuhnya hanya bereaksi mengangguk.

“Saya mengerti pak." Ucap Ririn nada suaranya sedikit bergetar. Baskara menatapnya lama, lalu menoleh kearah Dewi.

“Suruh HR urus kontraknya dia mulai kerja besok.”

Dewi terkejut mendengar ucapan bosnya.

"Besok pak?” tanya Dewi memastikan

“Iya,” jawab Baskara singkat, lalu menatap tajam ke arah Ririn.

“Kalau kamu merasa nggak sanggup pintu keluar ada di belakangmu.” Ungkap Basakara penuh tantangan

Ririn mengepalkan tangannya di bawah meja.

“Saya siap pak,” jawab Ririn tegas walaupun sebenarnya dia takut.

Untuk kesekian kalinya, Baskara menatap Ririn tanpa senyuman tatapannya tajam, penuh luka lama.

“Bagus,” katanya pelan. “Selamat datang di dunia nyata, Ririn.”

Ririn berdiri dengan kaki sedikit lemas dia tahu, sejak detik itu hidupnya tidak akan pernah sama lagi.

Dan dia tak bisa mundur, atau kabur dari takdir yang mempertemukannya dengan Baskara mantan kekasihnya.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Kontrak Kerja Dengan Mantan   Pindah

    Beberapa hari kemudian, koper Ririn sudah berjajar rapi di ruang tamu apartemen kecil itu.Ririn berdiri menghadap Anggie dan Dewi, menarik napas sebelum bicara.“Gue pamit ya, Gie. Makasih.”Anggie menyilangkan tangan. “Akhirnya pindah juga.”“Aku pindah ya, Kak Dewi,” kata Ririn kali ini sambil menatap Dewi.Dewi menyeringai tipis. “Ke apartemen baru yang disewain Pak Bos?”Ririn mengangguk. “Iya, Kak.”Dewi mengangkat alis. Nada suaranya sengaja dibuat menggoda.“Pak bos emang playboy, tapi nggak ada lho cewek yang pernah dia ajak ke apartemennya. Apalagi sampai tinggal bareng.”Ririn langsung bereaksi. Dia sedikit panik mendengar ucapan Dewi.“Eh, bukan tinggal bareng, Kak Dewi,” katanya cepat. “Kita tetanggaan. Apartemennya depan-depanan.”Anggie terkekeh kecil.“Lagipula,” lanjut Ririn, sedikit defensif, “itu juga karena dia butuh aku buat ngerjain ini itu, biar gampang koordinasi. Gajinya juga lumayan banget.”Dewi dan Anggie saling pandang, lalu sama-sama tersenyum. Senyum yan

  • Kontrak Kerja Dengan Mantan   Jarak Yang Semakin Dekat

    Sejak pulang dari perjalan dinas beberapa hari yang lalu rutinitas mereka nyaris tak ada berubah tugas Ririn tetap aneh tak berkurang tak dipermudah.Mengurus hal-hal kecil yang seharusnya bukan bagian dari pekerjaan seorang asisten, semuanya masih dia lakukan bedanya hanya satu.Makan siang dan makan malam, makan bersama Baskara kini menjadi rutinitas tambahan hampir setiap hari. Kadang di restoran, kadang dibungkus dan dimakan di mobil, kadang di apartemen.Dan satu hal lain yang tak bisa Ririn abaikan Baskara sudah tak lagi main-main dengan perempuan.Tak ada lagi jadwal rahasia tak ada lagi nama-nama di kalender tak ada lagi kebohongan yang harus dia susun.Suatu malam, di sela makan malam yang berlangsung tenang, Baskara berkata tanpa menatap Ririn.“Oh iya Rin, Saya sudah sewa apartemen.” Ungkap Baskara memecah keheningan.Ririn berhenti mengunyah. “Apartemen, buat siapa Pak?”"Buat kamu," sahut Baskara singkat.Ririn melongo kaget, dia hampir tak percaya dengan apa yang di deng

  • Kontrak Kerja Dengan Mantan   Liburan

    Demi menjauhkan Ririn dari Iqbal, Baskara membuat alasan perjalanan dinas ke luar kota. Namun, siapa sangka perjalanan itu justru terasa seperti liburan terselubung.“Berapa hari, Pak?” tanya Ririn, sedikit terkejut.“Empat hari, Rin,” jawab Baskara sambil tersenyum nakal.“Kok… sama saya, Pak?” Ririn menatapnya heran, ragu-ragu.Baskara mencondongkan tubuh ke arah Ririn. Matanya menatap tajam, tetapi tetap tenang.“Kan kamu memang asisten saya. Kamu yang mengurus semua jadwal, mencatat ide-ide saya, dan memantau banyak hal. Jadi, logis saja kalau kamu ikut.”Ririn menelan ludah, bingung bagaimana cara menolak perintah bosnya.“Lagipula, saya memang butuh kamu biar semua urusan saya lancar,” kata Baskara lagi.Ririn kembali menelan ludah, pasrah. Seperti biasa, dia tidak bisa membantah.“Baiklah, kalau begitu,” ucap Ririn lemas.Baskara tersenyum puas. Senyum tipis, tetapi penuh kemenangan. Ada riakan kecil kebahagiaan di hatinya.“Besok kita berangkat. Aku jemput kamu di tempatmu, ya

  • Kontrak Kerja Dengan Mantan   Dimulai Dari rasa Kasihan

    Baskara semakin sering memperhatikan Ririn diam-diam, ada sesuatu yang mengusik pikirannya. Dulu Ririn berkecukupan.Sekarang, dia bekerja sebagai asisten, bahkan Ririn mengerjakan hal-hal yang jelas tak masuk akal, dan tetap menuruti semuanya tanpa banyak bicara. Itu bukan sikap Ririn yang dia kenal dulu, rasa penasaran itu akhirnya membuat Baskara memanggil Dewi, “Dewi, ke ruangan saya sekarang.” kata Baskara, tak lama dia meletakan telpon itu keasalnya. Tak butuh waktu lama, Dewi ada di depan runagan Baskara, Dewi mengetuk pintu berlahan lalu masuk. "Masuk,"Dewi kemudian menghampiri Baskara, lalu berkata “Ada yang bisa saya bantu Pak?” Baskara menutup berkas di mejanya menujukan gestur agar Dewi duduk, Dewi pun duduk persis di depan meja kerja Baskara."Wie ada yang mau saya tanya.” Ungkap Baskara dengan nada yang cukup serius."Soal Ririn," Lajut Baskara. Dewi sedikit terkejut. “Ririn? Baskara mengangguk bersandar di kursin

  • Kontrak Kerja Dengan Mantan   Sabotase Pertama

    Sabotase pertama Baskara dimulai ketika Iqbal seperti biasa menjemput Ririn pulang kerja. Tiba-tiba, dari dalam mobil mewahnya, Baskara membuka kaca dan membunyikan klakson. “Tin-tin!” Ririn menoleh, matanya tertuju pada tangan Baskara yang melambai memanggilnya. Dia menatap Iqbal sebentar, lalu tersenyum meminta maaf. “Maaf, yah… bos manggil,” ucap Ririn sambil melangkah mendekat ke mobil Baskara. Iqbal hanya bisa menghela napas, merasa kesal dengan tingkah Baskara. Ririn mendekat ke mobil Baskara. "Ada apa pak?" tanyanya sopan. “Rin, ayo naik, temenin saya. Ada yang mau saya omongin,” kata Baskara santai tapi tegas. dia ingin menunjukkan kekuasaannya sebagai atasan Ririn. Ririn menarik napas panjang. dia merasa tidak enak dengan Iqbal, tapi diajuga tidak bisa menolak permintaan Baskara. “Tapi, kan, jam kerja saya sudah…” ucap Ririn ragu-ragu. Ririn terdiam saat matanya mulai ciut melihat wajah Baskara yang mengeras. Ririn tahu dia tida

  • Kontrak Kerja Dengan Mantan   Peringatan Untuk Iqbal

    Baskara tiba-tiba nongkrong di kafe milik Iqbal. Iqbal, yang sedang sibuk menyiapkan kopi pesanan pelanggan, menoleh dan sedikit terkejut melihat kehadiran seniornya itu. “Tumben bos, mau ngopi di tempat gue,” sahut Iqbal sambil tersenyum ramah, mencoba mencairkan suasana. Baskara tidak membalas senyuman Iqbal. dia justru menatap Iqbal dengan tatapan menusuk, mengisyaratkan permusuhan yang jelas. “Gue cuma mau bilang, jauhin karyawan gue.” kata Baskara dengan nada dingin dan tegas. Iqbal terkekeh pelan, menatap seniornya itu dia sudah bisa menebak maksud kedatangan Baskara. “Ririn maksudnya, ya?” tanya Iqbal, sengaja memancing reaksi Baskara. Baskara mengangguk tipis, raut wajahnya kaku dan terlihat tidak bersahabat. “Hmm… kenapa? Kalau boleh tau,” tanya Iqbal, penasaran menanggapi pernyataan Baskara dengan santai. dia ingin tahu alasan Baskara melarangnya mendekati Ririn. “Ganggu kinerja,” kata Baskara singkat, seolah itu adalah alasan yang

  • Kontrak Kerja Dengan Mantan   Rencana Ririn

    Suatu sore, saat Ririn sedang menyusun ulang jadwal minggu depan, Baskara tiba-tiba bersandar di tepi mejanya. “Ririn,” Seru Baskara membuat Ririn menoleh ke arahnya, "Iya, pak ada yang bisa saya bantu," Sahut Ririn merendahkan nada suaranya. “Eh Rin, menurut kamu cara buat putus sama merek

  • Kontrak Kerja Dengan Mantan   Aku Mantan Baskara

    Sore itu, apartemen Anggie mendadak ramai. Pintu terbuka Dewi masuk sambil menenteng tas besar, diikuti Aryo, suaminya di belakang mereka, dua anak kembar Nadia dan Nadira langsung berlari masuk dengan riang. “Maaf ya, Gie,” kata Dewi sambil tersenyum. “Kakak sama Mas Aryo mau keluar sebentar bol

  • Kontrak Kerja Dengan Mantan   Ketiga Gadis Baskara

    Setibanya di kantor Ririn mulai sibuk meminta bantuan supir kantor untuk mengurus keperluan bosnya. Sementara itu, dari balik kaca jendela kantornya, Baskara berdiri sambil menatap ke arah jalan. "Apa dia sanggup melakukannya," Ucap Baskara sambil tersenyum kecil. "Sampai kapan kamu akan bertaha

  • Kontrak Kerja Dengan Mantan   Perintah Bos Yang Semakin Absurd

    Belum sempat Ririn menarik napas lega setelah memasukkan semua belanjaan ke dalam bagasi, Baskara sudah berdiri di samping mobil sambil mengecek ponselnya. “Oh ya,” katanya santai, seolah baru mengingat sesuatu yang sepele, “habis ini kamu antar semua,” Suara Baskara terdengar ringan, Ririn yang

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status