เข้าสู่ระบบLangkah Baskara terhenti di depan kafetaria kantor. Awalnya dia hanya berniat mengambil kopi, sampai pandangannya tertuju pada satu sosok di sudut ruangan.
"Jam Istirahat tinggal 5 menit lagi," Ucap Basakara sambil melirik jam tangannya. "Bukannya langsung naik," Gerutu Baskara masih memperhatikan Ririn. Ririn duduk sendiri, menatap kosong ke arah gelasnya, wajahnya terlihat lelah, pucat, seolah pikirannya melayang entah ke mana. "Dia kenapa sih?" Tanya Baskara membatin, dia masih berdiri di tempat itu sambil memperhatikan Ririn. Untuk sesaat, rasa kasihan mulai menyelinap ke dadanya. "Dia terlihat jauh berbeda dari yang dulu," Basakara masih membatin "Sekarang dia begitu pendiam dan penurut," kata Baskara lagi dalam hati. Namun bayangan lain langsung seketika menerobos masuk ke kepalanya. “Kamu itu bukan siapa-siapa.” “Akhiri hubungan kalian.” “Kamu nggak selevel sama anak saya.” Suara itu kembali menggema, tajam, dan merendahkan, Kata-kata yang di ucapkan ibunya Ririn. Rahang Baskara mengeras, rasa iba yang tadi muncul perlahan tergantikan oleh amarah lama yang tidak pernah benar-benar pergi. "Apa mereka akan berbicara seperti itu, sekarang," ucap Baskara masih membatin. Sejak hari itu, hidup Baskara berubah, dia ingat betul bagaimana dia pulang dengan harga diri yang hancur. Bagaimana dia bersumpah dalam hati kalau suatu hari nanti, keluarga Ririn akan melihatnya dengan cara yang berbeda. "Aku bekerja tanpa henti," " Aku mengambil resiko yang orang lain tak berani ambil" "Dan aku bukan laki-laki nggak selevel seperti yang pernah kalian katakan." Tangan Baskara mengepal kuat seolah semua amarahnya terkumpul di sana. Kini, dia berdiri di tempat yang dulu tak pernah dia bayangkan jabatan, kekuasaan, dan kendali ada di tangannya. Dan ironisnya Ririn kini duduk di bawahnya. Baskara mengalihkan pandangan sebelum Ririn menyadari keberadaannya, tangannya mengepal di saku jas “Dia cuman Asisten ku,” gumamnya pelan pada diri sendiri. “Tidak lebih.” Tapi di dalam dadanya, perasaan itu masih bertarung antara kasihan yang ingin mendekat, dan dendam yang memaksanya untuk membenci Ririn. Jam istirahat berakhir, Ririn kembali ke meja kerjanya namun baru saja dia duduk, telepon di mejanya langsung berdering Ririn sedikit terkejut. “Iya, Pak?” jawabnya cepat. Di ruangan kaca besar di belakang Ririn, Baskara bersandar di kursinya sambil memutar pulpen di tangan. Tatapan pria itu lurus ke arah punggung Ririn dari kaca jendela transparan. “Ririn,” suaranya tenang. “Tolong bawakan laporan meeting satu bulan terakhir.” Ririn mengerutkan kening. “Laporan meeting satu bulan terakhir, Pak?” “Iya” Nada datar itu membuat Ririn sedikit mematung. “Baik Pak, saya kerjakan sekarang.” “Bagus, kirim ke email saya secepatnya.” Sambungan telpon itu terputus, Ririn mengehembuskan napas panjang. “Meeting satu bulan?” gumamnya pelan. Tak mau membuang waktu, Ririn langsung membuka folder komputer, mencari data satu per satu. di rasa belum cukup Ririn bertanya ke staf administrasi Masuk ke ruang arsip mencari data yang satu bulan terakhir. Waktu berjalan cepat 2 jam berlalu, mata Ririn mulai lelah, punggungnya sudah pegal-pegal dan akhirnya laporan itu selesai juga. Ririn tersenyum puas nafasnya terasa lega, Ririn segera mengirim file itu ke email Baskara. Namun Belum sampai 2 menit telepon kembali berdering Ririn memejamkan mata sesaat, lalu mengangkatnya. “Iya, Pak?” “Rin, tolong buat versi fisiknya."Ririn terdiam beberapa detik matanya berkedip beberapa kali. "Versi fisik, Pak?” tanya Ririn memastikan. “Iya di print.” Nada suara Baskara terdengar datar, seolah itu permintaan paling normal di dunia. Ririn menarik napas panjang pelan. “Baik, Pak.” jawab Ririn akhirnya. “Dan Ririn, kerjakan dengan cepat.” kata Baskara lagi Sambungan telepon pun teputus. Ririn menggigit bibirnya, kedua tangannya mengepal sesaat di atas meja. “Dasar Sikopat," Gerutu Ririn sambil mengerjakan semua perintah bosnya, setumpuk dokumen akhirnya selesai dicetak dan dirapikan. Saat itu sudah hampir malam, ketika Ririn berdiri di depan pintu ruangan Baskara Ririn mengetuk pelan. “Masuk.” Ririn melangkah masuk sambil membawa map tebal. “Ini, Pak, laporan yang Bapak minta.” Baskara mendongak perlahan, tatapannya langsung jatuh pada wajah Ririn yang tampak kelelahan. Ada lingkar samar di bawah matanya. Baskara menahan sesuatu di matanya, lalu berkata datar. “Saya malas baca." Ucap Baskara santai, Ririn membeku seketika. “Maaf, Pak?" Ririn berharap dia salah dengar. “Tolong bacakan ringkasannya.” kata Baskara lagi menegaskan. Sunyi beberapa detik, Ririn hanya berdiri menatap Baskara tak percaya. “Mohon maaf pak, ini akan memakan waktu,” “Di ringkas aja Rin," Nada Baskara santai. Seolah sengaja menguji kesabaran Ririn, Ririn menahan nafasnya. “Baik pak," Ririn membuka map mulai membaca dengan suara pelan. “Untuk laporan minggu pertama, progres klien meningkat sekitar dua belas persen…” Baskara menyandarkan tubuh di kursi, dia tak benar-benar mendengarkan isi laporan itu, perhatiannya justru tertuju pada Ririn, Baskara memperhatika cara Ririn berbicara, cara Ririn sesekali memijat pelipis saat bingung. Malam itu para Staff di kantor itu satu per satu pulang. suasana kantor mulai sepi, tapi Baskara tidak menghentikannya. Ririn mulai kelelahan suaranya mulai serak. “dan untuk evaluasi bulan ini," “Stop.” Ririn langsung diam, matanya sedikit berbinar lega akhirnya selesai. Namun Baskara justru menatapnya lama. “Kamu capek?” Pertanyaan itu membuat Ririn mengernyit. “Em, Sedikit pak.” Jawab Ririn kikuk. “Sedikit?” Baskara menyandarkan dagu di tangan. “Kamu kelihatan mau pingsan lho," Ririn menunduk. “Saya nggak apa-apa.” sahut Ririn. “Bagus, saya nggak suka sama orang lemah," Kalimat itu membuat Ririn tercekat, Baskara terdiam sejenak lalu sudut bibirnya terangkat tipis, bukan senyum hangat lebih kepada senyuman puas.Beberapa hari kemudian, koper Ririn sudah berjajar rapi di ruang tamu apartemen kecil itu.Ririn berdiri menghadap Anggie dan Dewi, menarik napas sebelum bicara.“Gue pamit ya, Gie. Makasih.”Anggie menyilangkan tangan. “Akhirnya pindah juga.”“Aku pindah ya, Kak Dewi,” kata Ririn kali ini sambil menatap Dewi.Dewi menyeringai tipis. “Ke apartemen baru yang disewain Pak Bos?”Ririn mengangguk. “Iya, Kak.”Dewi mengangkat alis. Nada suaranya sengaja dibuat menggoda.“Pak bos emang playboy, tapi nggak ada lho cewek yang pernah dia ajak ke apartemennya. Apalagi sampai tinggal bareng.”Ririn langsung bereaksi. Dia sedikit panik mendengar ucapan Dewi.“Eh, bukan tinggal bareng, Kak Dewi,” katanya cepat. “Kita tetanggaan. Apartemennya depan-depanan.”Anggie terkekeh kecil.“Lagipula,” lanjut Ririn, sedikit defensif, “itu juga karena dia butuh aku buat ngerjain ini itu, biar gampang koordinasi. Gajinya juga lumayan banget.”Dewi dan Anggie saling pandang, lalu sama-sama tersenyum. Senyum yan
Sejak pulang dari perjalan dinas beberapa hari yang lalu rutinitas mereka nyaris tak ada berubah tugas Ririn tetap aneh tak berkurang tak dipermudah.Mengurus hal-hal kecil yang seharusnya bukan bagian dari pekerjaan seorang asisten, semuanya masih dia lakukan bedanya hanya satu.Makan siang dan makan malam, makan bersama Baskara kini menjadi rutinitas tambahan hampir setiap hari. Kadang di restoran, kadang dibungkus dan dimakan di mobil, kadang di apartemen.Dan satu hal lain yang tak bisa Ririn abaikan Baskara sudah tak lagi main-main dengan perempuan.Tak ada lagi jadwal rahasia tak ada lagi nama-nama di kalender tak ada lagi kebohongan yang harus dia susun.Suatu malam, di sela makan malam yang berlangsung tenang, Baskara berkata tanpa menatap Ririn.“Oh iya Rin, Saya sudah sewa apartemen.” Ungkap Baskara memecah keheningan.Ririn berhenti mengunyah. “Apartemen, buat siapa Pak?”"Buat kamu," sahut Baskara singkat.Ririn melongo kaget, dia hampir tak percaya dengan apa yang di deng
Demi menjauhkan Ririn dari Iqbal, Baskara membuat alasan perjalanan dinas ke luar kota. Namun, siapa sangka perjalanan itu justru terasa seperti liburan terselubung.“Berapa hari, Pak?” tanya Ririn, sedikit terkejut.“Empat hari, Rin,” jawab Baskara sambil tersenyum nakal.“Kok… sama saya, Pak?” Ririn menatapnya heran, ragu-ragu.Baskara mencondongkan tubuh ke arah Ririn. Matanya menatap tajam, tetapi tetap tenang.“Kan kamu memang asisten saya. Kamu yang mengurus semua jadwal, mencatat ide-ide saya, dan memantau banyak hal. Jadi, logis saja kalau kamu ikut.”Ririn menelan ludah, bingung bagaimana cara menolak perintah bosnya.“Lagipula, saya memang butuh kamu biar semua urusan saya lancar,” kata Baskara lagi.Ririn kembali menelan ludah, pasrah. Seperti biasa, dia tidak bisa membantah.“Baiklah, kalau begitu,” ucap Ririn lemas.Baskara tersenyum puas. Senyum tipis, tetapi penuh kemenangan. Ada riakan kecil kebahagiaan di hatinya.“Besok kita berangkat. Aku jemput kamu di tempatmu, ya
Baskara semakin sering memperhatikan Ririn diam-diam, ada sesuatu yang mengusik pikirannya. Dulu Ririn berkecukupan.Sekarang, dia bekerja sebagai asisten, bahkan Ririn mengerjakan hal-hal yang jelas tak masuk akal, dan tetap menuruti semuanya tanpa banyak bicara. Itu bukan sikap Ririn yang dia kenal dulu, rasa penasaran itu akhirnya membuat Baskara memanggil Dewi, “Dewi, ke ruangan saya sekarang.” kata Baskara, tak lama dia meletakan telpon itu keasalnya. Tak butuh waktu lama, Dewi ada di depan runagan Baskara, Dewi mengetuk pintu berlahan lalu masuk. "Masuk,"Dewi kemudian menghampiri Baskara, lalu berkata “Ada yang bisa saya bantu Pak?” Baskara menutup berkas di mejanya menujukan gestur agar Dewi duduk, Dewi pun duduk persis di depan meja kerja Baskara."Wie ada yang mau saya tanya.” Ungkap Baskara dengan nada yang cukup serius."Soal Ririn," Lajut Baskara. Dewi sedikit terkejut. “Ririn? Baskara mengangguk bersandar di kursin
Sabotase pertama Baskara dimulai ketika Iqbal seperti biasa menjemput Ririn pulang kerja. Tiba-tiba, dari dalam mobil mewahnya, Baskara membuka kaca dan membunyikan klakson. “Tin-tin!” Ririn menoleh, matanya tertuju pada tangan Baskara yang melambai memanggilnya. Dia menatap Iqbal sebentar, lalu tersenyum meminta maaf. “Maaf, yah… bos manggil,” ucap Ririn sambil melangkah mendekat ke mobil Baskara. Iqbal hanya bisa menghela napas, merasa kesal dengan tingkah Baskara. Ririn mendekat ke mobil Baskara. "Ada apa pak?" tanyanya sopan. “Rin, ayo naik, temenin saya. Ada yang mau saya omongin,” kata Baskara santai tapi tegas. dia ingin menunjukkan kekuasaannya sebagai atasan Ririn. Ririn menarik napas panjang. dia merasa tidak enak dengan Iqbal, tapi diajuga tidak bisa menolak permintaan Baskara. “Tapi, kan, jam kerja saya sudah…” ucap Ririn ragu-ragu. Ririn terdiam saat matanya mulai ciut melihat wajah Baskara yang mengeras. Ririn tahu dia tida
Baskara tiba-tiba nongkrong di kafe milik Iqbal. Iqbal, yang sedang sibuk menyiapkan kopi pesanan pelanggan, menoleh dan sedikit terkejut melihat kehadiran seniornya itu. “Tumben bos, mau ngopi di tempat gue,” sahut Iqbal sambil tersenyum ramah, mencoba mencairkan suasana. Baskara tidak membalas senyuman Iqbal. dia justru menatap Iqbal dengan tatapan menusuk, mengisyaratkan permusuhan yang jelas. “Gue cuma mau bilang, jauhin karyawan gue.” kata Baskara dengan nada dingin dan tegas. Iqbal terkekeh pelan, menatap seniornya itu dia sudah bisa menebak maksud kedatangan Baskara. “Ririn maksudnya, ya?” tanya Iqbal, sengaja memancing reaksi Baskara. Baskara mengangguk tipis, raut wajahnya kaku dan terlihat tidak bersahabat. “Hmm… kenapa? Kalau boleh tau,” tanya Iqbal, penasaran menanggapi pernyataan Baskara dengan santai. dia ingin tahu alasan Baskara melarangnya mendekati Ririn. “Ganggu kinerja,” kata Baskara singkat, seolah itu adalah alasan yang
Suatu sore, saat Ririn sedang menyusun ulang jadwal minggu depan, Baskara tiba-tiba bersandar di tepi mejanya. “Ririn,” Seru Baskara membuat Ririn menoleh ke arahnya, "Iya, pak ada yang bisa saya bantu," Sahut Ririn merendahkan nada suaranya. “Eh Rin, menurut kamu cara buat putus sama merek
Semuanya terasa aneh sejak awal Baskara memanggil Ririn ke ruangannya, Wajah Baskara dingin tanpa ekspresi. “Kamu ikut saya,” kata Baskara tiba-tiba, sambil meraih kunci mobil. “Kemana, Pak?” tanya Ririn heran. “Belanja,” jawab Baskara singkat. “Untuk teman perempuan saya.” lanjut Baskara sen
Dua hari berselang, Ririn ikut Anggie ke sebuah gedung perkantoran di pusat kota. Jantung Ririn berdebar sejak mereka turun dari mobil. Di loby, seorang perempuan berpenampilan rapi melambaikan tangan ke arah mereka. "Itu kakak gue,” bisik Anggie. Perempuan itu tersenyum ramah saat Anggie dan
Ririn hanya bisa terdiam menatap rumah yang sebentar lagi harus dia tinggalkan, rumah itu menyimpan terlalu banyak kenangan. Di sana ada tawa mamah dan papahnya, suara panggilan makan malam, obrolan kecil yang dulu terasa biasa saja, tetapi kini begitu dirindukan. Ririn menunduk sebentar, menahan







