LOGINLayla tidak bisa tidur.
Iris cokelatnya terpaku menatap bulan yang bersembunyi di balik awan. Ia terdiam di tepi tempat tidurnya, menimbang-nimbang untuk keluar atau tidak. Matanya melirik jam, sudah hampir tengah malam.Semua orang mungkin sudah tidur sejak tadi, pikirnya.Suasana rumah ini begitu hening sejak beberapa jam yang lalu. Layla beranjak dari tempatnya dan mengintip keluar. Kamar yang ditempatinya langsung terhubung ke halaman belakang.Tempat itu sepi dan hanya ditemani oleh lampu jalan yang bersinar redup. Tetapi pemandangan kolam ikan dan bunganya tampak menenangkan. Mungkin jika Layla menghabiskan waktunya di sana sebentar, ia bisa mengantuk.Layla membuka pintu dengan sangat perlahan, tidak ingin membangunkan siapa pun. Ia berbelok menuju halaman belakang dan udara dingin seketika menerpa wajahnya. Ia bergidik dan mengeratkan jaketnya sebelum duduk di salah satu kursi.Suasana pedesaan memang sangat berbeda dengan suasana di kota. Biasanya, di jam seperti ini, jalanan masih ramai oleh hiruk-pikuk kendaraan. Tetapi sekarang, sejauh mata memandang, hanya ada kegelapan tidak berujung.Layla beralih memandang kolam kecil yang berada tidak jauh dari hadapannya. Pikirannya terlempar pada kejadian tadi sore. Kata-kata Kiran masih terngiang-ngiang di kepalanya.Tetapi, membandingkan dirinya dengan Olivia rasanya tidak mungkin.Arsen terlihat sangat menyukai Olivia sampai membuat kontrak pernikahan selama setahun dengannya. Sejauh ini, pria itu memperlakukannya dengan sangat baik, jadi Layla tidak akan mengeluhkan apa pun.Lagi pula, kenapa ia harus mengeluh?Mereka hanya dua orang asing. Dan setelah menikah pun, tidak akan ada hubungan istimewa di antara keduanya.Layla hanya perlu menjalaninya.Napas berat berembus dari mulutnya. Ia menyandarkan kepalanya ke belakang ketika mendadak saja, suara langkah kaki terdengar mendekat. Ia menoleh dan hampir berteriak jika saja Arsen tidak angkat bicara."Layla?"Apa yang pria itu lakukan di sini?"Mmm, ya," jawab Layla. Ia memperhatikan Arsen yang mendekat, keningnya berkerut dalam."Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Arsen, terdengar khawatir. Ia berhenti sejenak di sisi Layla, kemudian memutuskan untuk duduk di kursi samping gadis itu."Aku tidak bisa tidur. Dan kau?""Ya, aku juga."Layla mengangguk-angguk. Angin dingin kembali berhembus dan Layla spontan melirik Arsen. Pria itu hanya memakai kaos panjang, tetapi tidak tampak kedinginan sama sekali. Layla jadi teringat dengan jas Arsen yang belum ia kembalikan."Oh ya jasmu, maaf. Akan kukembalikan besok," sahutnya. Padahal, ia sudah mencucinya, tetapi ia lupa memberikannya pagi tadi."Disimpan juga tidak apa-apa."Layla menoleh. "Huh?""Maksudku, tidak masalah jika kau tidak mengembalikannya," kata Arsen bercanda. Senyum tipis terbit di bibirnya.Layla kontan memalingkan pandangan. "Tetap saja, aku harus mengembalikannya.""Terserah kau saja kalau begitu."Layla mengangguk pelan. Jika ia menyimpannya, ia hanya akan teringat dengan kejadian di restoran dan terbawa perasaan sendiri.Rasanya susah untuk bersikap biasa saja ketika Arsen terus memberikan perhatian yang tidak seharusnya. Atau, apakah Layla yang terlalu berharap? Mungkin saja Arsen memperlakukan semua wanita seperti itu.Layla meremat tangannya di atas paha. Keduanya tidak lagi bicara untuk waktu yang lama.Hening.Lagi-lagi seperti itu.Hanya saja, atmosfer di antara keduanya tidak lagi secanggung dulu.Layla menatap langit malam yang gelap tanpa kerlap-kerlip bintang. Entah kenapa, ia malah teringat dengan foto-foto Arsen yang tersebar di internet. Begitu kaku dan dingin, berbanding terbalik dengan sikap aslinya."Ngomong-ngomong, kau terlihat sangat kaku di foto-foto yang diambil wartawan," ucap Layla dengan suara pelan. Ia melirik Arsen yang menoleh, tampak terkejut dengan ucapannya. Layla melanjutkan, "Awalnya kupikir kau tipe pria dingin yang tidak banyak bicara, tapi nyatanya sikapmu sangat berbanding terbalik. Maksudku, dalam artian baik."Arsen terdiam sejenak sebelum membalas, "Aku hanya tidak suka menjadi pusat perhatian, itu sebabnya ekspresiku seperti itu.""Ah, begitu.""Yah... sebenarnya, aku tidak pernah berniat terjun dalam dunia bisnis. Aku hanya ingin membantu ibu, tapi menjadi direktur utama rasanya aku belum siap," ujar Arsen, entah kenapa mengakui semuanya. Ia hanya merasa Layla bisa dipercaya, jadi pengakuan itu meluncur keluar begitu saja dari bibirnya."Apa karena tanggung jawabnya? Bagaimana dengan ibumu?" Tanya Layla hati-hati."Ibu tidak tahu dan aku tidak akan pernah memberitahunya. Kondisinya sekarang sudah jauh lebih baik. Setelah kita menikah, ibu akan pergi ke Singapura untuk pengobatan lebih lanjut. Dia akan melakukan pemulihan untuk waktu yang lama, jadi kupikir aku hanya perlu menjalani posisiku sebagai direktur.""Kau sudah berada di titik ini dan itu luar biasa. Jika kau tidak terlalu menyukai pekerjaanmu, tapi kau melakukannya untuk orang yang kau sayangi, aku yakin lambat laun kau akan terbiasa," ucap Layla. Kalimat itu sebenarnya ditujukan untuk dirinya sendiri yang memilih perjodohan dari orang tuanya, dibanding melanjutkan kuliahnya."Pemikiranmu memang selalu dewasa, ya."Layla melirik dari sudut matanya. "Tidak juga." Ia meremas ujung jaketnya dan ragu-ragu bertanya, "Mmm, apa ibumu pernah tahu mengenai hubunganmu dengan Olivia?"Arsen menggeleng, kepalanya ditundukkan. "Ibu hanya tahu kalau Olivia adalah sahabat dan sekretarisku."'Agak mengejutkan', pikir Layla. Setelah empat tahun bersama, ia heran kenapa ibu Arsen tidak tahu hubungan istimewa yang terjalin antara Arsen dan Olivia."Kenapa dari awal kau tidak pernah memberitahu ibumu tentang hubungan kalian? Maksudku, kalian sudah lama bersama. Jika ibumu tahu tentang hubungan kalian, dan tahu bagaimana kau mencintai Olivia, tidak mungkin perjodohan ini dilakukan. Dan tidak akan ada kontrak pernikahan di antara kita." Suara Layla semakin lama semakin kecil. Ia menarik napas panjang saat hatinya terasa disentil.Sebenarnya ada apa dengannya hari ini? Ia selalu mudah terbawa perasaan dan terlalu melankolis. Ia berusaha untuk bersikap biasa saja, tetapi perasaan kecewa di hatinya tidak akan pernah hilang.Di sampingnya, Arsen lagi-lagi terdiam. Entah merenungkan ucapannya atau hubungannya dengan Olivia.Arsen sejujurnya merasa bingung sendiri. Ia sebenarnya ingin memperkenalkan Olivia sebagai kekasihnya, tetapi ia selalu merasa ragu. Apalagi ibunya tidak terlalu menyukai Olivia.Ia berencana untuk memberitahu ibunya jika keduanya sudah berniat untuk menikah, tetapi semesta rupanya berkehendak lain. Ibunya menginginkan perjodohan antara Arsen dan anak dari teman lamanya, tidak lain adalah Layla Kahyana."Aku hanya ... merasa ragu, entahlah." Arsen bicara setelah beberapa menit berlalu. Embusan napas panjang keluar dari mulutnya. "Olivia belum mau menikah, dan jika aku memperkenalkannya pada ibu sebagai kekasihku, ibu pasti menginginkan pernikahan.""Tapi sekarang inilah yang terjadi. Perjodohan yang tidak kau inginkan," sahut Layla.Arsen menatap Layla yang langsung memalingkan pandangan. Mulutnya terbuka, tetapi ia seakan kehilangan kata-kata untuk menjawab. Bagaimana pun juga, apa yang gadis itu katakan benar.Keheningan kembali melingkupi keduanya. Lagi, tidak ada yang bicara untuk waktu yang lama.Angin kencang mendadak berembus dan Layla bergidik. Arsen yang melihatnya segera berdiri dan menarik tangan Layla yang tertegun atas perlakuan tidak terduga pria itu."Sebaiknya kita masuk," ucap Arsen, kembali menarik tangan Layla menuju pintu. "Anginnya sangat kencang dan dingin, tidak baik untuk kesehatanmu."Apa itu bentuk perhatian? Atau apa?Layla ingin sekali memberitahu Arsen untuk bersikap biasa saja, jangan terlalu perhatian. Akan lebih baik jika pria itu bersikap datar atau dingin padanya.Tetapi sekali lagi, bagaimana jika Arsen memang bersikap seperti itu pada semua perempuan? Layla hanya takut terbawa perasaan sendiri dan pada akhirnya sakit hati.Sebab perasaan mereka nyatanya berseberangan.Pagi harinya, mereka telah meninggalkan resort.Pak Surya datang kembali menjemput keduanya. Duduk di jok belakang, Arsen tidak berhenti bertanya apakah Layla baik-baik saja, semata-mata karena apa yang terjadi semalam.Arsen terlihat begitu khawatir, dan Layla malah ingin tertawa.Rasanya tidak sesakit yang Layla bayangkan. Apalagi dengan sentuhan Arsen yang lembut. Alih-alih sakit, ia justru merasa malu.“Kau ingin makan apa pagi ini?” tanya Layla saat mobil mulai berbelok masuk ke kompleks perumahan mereka.Arsen awalnya ingin memesan makanan, tetapi Layla menolak. Ia ingin memasak sendiri untuk Arsen. Mulai hari ini, ia akan menganggap kalau keduanya baru memulai hubungan sebagai suami-istri yang sesungguhnya.Tanpa kontrak itu.Memikirkannya kembali sungguh terasa seperti mimpi. Ketakutan yang selama ini bersarang di hatinya akhirnya menghilang, seperti burung-burung yang terbebas dari sangkarnya.Ketika ia menatap suaminya, hanya ada perasaan tenang yang tertinggal di dadanya. L
“Kalau kau merasa tidak nyaman, kita bisa pulang ke rumah.”“Tidak, tempat ini nyaman. Aku suka,” ujar Layla, menoleh dengan senyum tipis. Detik itu, sebuah kecupan mendarat di pelipisnya. Layla tidak tahu sudah berapa kali Arsen mengecupnya malam ini. Rasanya di setiap kesempatan, dia akan menunduk dan mengecupi wajahnya sampai Layla merasa geli. Meskipun begitu, tak bisa dipungkiri bahwa hatinya dipenuhi bunga yang mekar.Malam ini, sesuai ucapan Arsen, mereka menginap di resort yang baru dibangun. Tempatnya akan diresmikan dalam seminggu. Untuk itu, Arsen ingin memperkenalkan fasilitas apa saja yang ditawarkan oleh resort itu.Selain desain tiap ruangannya yang elegan dan mewah, resort itu juga memiliki fasilitas lengkap seperti kolam renang besar, pusat kebugaran, pusat olahraga air, restoran, spa dan juga arena bermain untuk anak. “Aku senang jika kau menyukainya,” gumam Arsen di belakangnya. Dia berdiri sangat dekat, panas tubuhnya terasa menembus gaun tidur tipis yang Layla k
Olivia mendekat ke arahnya dengan cepat. Tatapannya sinis. Dia tidak berbasa-basi dan langsung menyembur Layla dengan cemoohan dan umpatan, “Pasti sekarang kau merasa di atas angin karena Arsen berpihak padamu dan kami sudah putus hubungan, bukan? Dasar wanita jalang.”Layla menghela napas kasar. “Kau berselingkuh darinya. Dan itulah alasan kenapa Arsen putus denganmu. Kenapa kau malah bersikap seolah aku yang bersalah, padahal jelas-jelas itu salahmu sendiri?” ujar Layla acuh tak acuh. Suasana hatinya berubah drastis dalam sekejap. Ia tidak sedang berminat untuk berdebat.Olivia mendecih. “Memangnya kenapa aku bisa berselingkuh dari Arsen? Itu karena kau merebut Arsen dariku.” Suara Olivia sama sekali tidak terdengar bersalah atau menyesal.Layla menatapnya dengan tidak percaya. Dari semua orang yang ditemuinya, Olivia-lah yang memiliki muka paling tebal. Ia tidak menyangka setelah semua kebusukannya terbongkar, Olivia masih saja mencoba menyalahkannya.“Aku tahu berbohong itu sangat
“... untuk memperhatikan lebih jauh kinerja para karyawan dan tunjangan yang sesuai...”Di atas panggung, penyambutan Arsen telah memasuki inti pembahasan. Seluruh atensi tertuju padanya. Suaranya setenang laut di belakang mereka, tetapi semua orang diam mendengarkan.Layla duduk di kursi depan panggung seraya memperhatikan suaminya. Arsen sebagai seorang direktur dan seorang suami memiliki sisi yang sungguh berbanding terbalik. Selalu seperti ini.Direktur Arsen Sergio adalah pria yang penuh wibawa. Kharismanya tak terbantahkan. Meskipun masih muda, aura kepemimpinan terpancar kuat dari tubuhnya. Mata hitamnya menatap tegas ke arah para karyawan.Pria yang dingin, kaku, dan workaholic itu sedang mengambil alih.Tetapi ketika pandangan Arsen terarah padanya, Layla bisa melihat kehangatan dan kasih sayang itu. Senyum kecil terbit di bibir Arsen, membuat Layla otomatis ikut tersenyum.“Pandangan kak Arsen saat menatap Kakak memang beda, ya,” bisik Kiran di sampingnya. Setelah berkelilin
Layla tidak bisa tidur semalaman memikirkan ucapan Arsen.Layla tahu—ia tahu ini yang ia inginkan sejak lama. Tetapi mengingat Arsen baru putus dari Olivia, ia merasa ragu itu hanya kemarahan sesaat Arsen.Meskipun, keseriusan yang terpancar di mata Arsen... afeksinya... harapan dan keinginannya... semuanya terlihat jelas dalam pandangan Layla.Tetap saja, ada sepercik keraguan yang timbul di hatinya.Jadi, Layla belum memberi jawaban. Ia meminta waktu selama beberapa hari, sampai mungkin pikiran Arsen jernih dari segala amarah. Jika dia tidak menyesali ucapannya tentang kontrak itu, maka Layla tidak akan menyimpan keraguan lagi.Lebih dari apa pun, Layla ingin Arsen terus berada di sisinya. Hanya jika Arsen benar-benar menginginkannya, tanpa ada keterpaksaan.“Kak Layla? Kakak dari tadi melamun terus?!”Suara melengking Kiran berhasil menyentak Layla dari lamunannya. Ia menoleh terkejut, dan Kiran menatapnya khawatir.“Kakak tidak apa-apa?”Layla menggeleng. “Tidak, maaf. Aku—agak me
Angin sepoi-sepoi berembus menerpa wajah Arsen yang termenung di dekat jendela. Pandangannya terarah ke jalanan yang padat di bawah sana, tetapi pikirannya melanglang buana.Ia merasa pusing.Ia belum berani bicara pada Layla. Mereka sarapan bersama pagi tadi, mengobrol seperti biasa, tetapi seolah ada ketegangan tak terlihat yang membentang di antara keduanya.Helaan napas panjang berembus keluar dari mulutnya. Arsen beranjak dari tempatnya ketika pintu ruangannya terbuka.Olivia melangkah masuk dengan terburu-buru. “Arsen, kau tidak mungkin serius—”“Kau seharusnya sudah berada di kantor cabang sekarang,” sela Arsen, sama sekali tidak menatap Olivia. Ia duduk di kursinya, lalu membuka laptopnya.Olivia memutari meja dan mencoba menyentuh Arsen, tetapi Arsen menepis tangannya. Olivia mundur dengan terkejut.“Arsen, tolong dengarkan aku dulu. Aku bisa jelaskan apa yang terjadi semalam. Aku mabuk dan aku tidak sadar! Sungguh! Kali ini saja, tolong maafkan aku!” suara Olivia terdengar p







