LOGINSemua terjadi begitu luar biasa lancar. Kebosanan Daya di rumah lumayan terobati karena rutinitas barunya. Beberapa furniture hasil pilihan Daya langsung disetujui begitu saja oleh Bagas, malah kabarnya sudah ada pula yang sampai di sana. Otomatis Daya harus langsung ke sana mengecek semuanya, meskipun Bagas lagi-lagi sudah meminta bantuan tim Monika untuk mengurus semua dekorasi dan peletakan semua barang. Dan, ternyata lagi selebaran dan juga katalog yang Sukma berikan kapan lalu adalah has
Perubahan-perubahan yang terjadi untuk seorang ibu hamil salah satunya adalah perubahan emosi dan juga nafsu makan yang mulai sulit untuk bisa ditahan. Program diet alias rutinitas menjaga pola makan yang dilakukan Daya selama kurang lebih hampir setahun belakangan ini semua hancur berantakan. Berat badannya bertambah dan itu membuatnya terbelalak tak berkedip saat kakinya menginjak timbangan.“Mas, aku gendutan,” kata Daya pada Bagas yang saat itu tengah duduk bersantai di ruang keluarga.Hari ini hari Minggu, dan Bagas lebih memilih berada di rumah menemani sang istri tercinta. Bagas menoleh melirik aktivitas yang tengah dilakukan Daya—berdiri di atas timbangan.“Memang salahnya di mana kalau kamu jadi gendutan? Kamu itu lagi bawa keajaiban di situ, Sayang. Biarkan dia bertumbuh dengan maksimal.”“Iya, sih. Apa cara makanku yang kebablasan, ya, Mas?” Daya meletakkan bokongnya di sisi sebelah Bagas kemudian menyandarkan tubuhnya di sana. “Anakmu ini lape
Hari-hari Daya kembali seperti sediakala. Ketakutan Juna akhirnya tidak terjadi. Kandungan Daya kuat dan sehat, malah sekarang ia diperbolehkan melakukan semua aktivitas apa pun asalkan tidak terlalu memberatkan. Rutinitas baru Daya sekarang adalah sering berkunjung ke resto. Hal yang dahulu sempat Daya minta ke Bagas akhirnya ia lakukan juga tanpa seizin suaminya itu. Prinsip Daya adalah kalau capek dan bosan, maka ia tidak akan mengerjakan apa-apa. Ya, dan sejauh ini semua terkendali.Tiga bulan sejak kepindahan mereka di rumah baru, suasana tidak mengenakkan resto lagi-lagi datang. Siang itu Daya sedang duduk santai menunggu pesanan makanan di meja yang selalu ia tempati jika ke resto. Ketika Daya mendongak ternyata Rosa sudah berdiri tepat di sampingnya.“Aku dengar kalian pindah rumah.” Rosa langsung menjatuhkan dirinya di kursi depan Daya, dengan cekatan membuka buku menu, lalu menyerahkan pesanannya ke pelayan. “Kenapa pindahan secepat itu? Apa kalian takut aku
Daya terbaring dengan lemas di atas ranjang. Bukan mau Daya merusak acara sore itu, tetapi tubuhnya yang malah berkata lain.“Mas ….”Bagas yang sedang berkutat dengan notebooknya seketika menoleh, mendekati Daya yang benar-benar terlihat tidak berdaya sama sekali.“Masih ada yang sakit?” tanyanya cemas. Terlalu cemas.Daya menggeleng, “Bunda mana?”Selang tidak lama kemudian bunda dan ayah pun masuk dengan wajah tak kalah cemasnya. Tangisan Daya tiba-tiba meledak tidak karuan. Sampai bunda sendiri bingung atas ulah putri sulungnya itu.“Loh, kok? Kenapa mendadak jadi cengeng gini sih? Kamu itu sudah mau jadi ibu anak dua loh, Day. Ssst … sudah … sudah,” celetuk Hera, namun langsung mengelus pelan punggung putrinya itu. “Mulai sekarang kalau mau apa-apa harus lebih berhati-hati. Bunda dan ayah nggak mau kamu dan juga anak yang sedang berkembang ini kenapa-napa. Jangan bandel. Nurut apa kata suami,” kata Hera sambil beralih mengusap perut Day
Semua terjadi begitu luar biasa lancar. Kebosanan Daya di rumah lumayan terobati karena rutinitas barunya. Beberapa furniture hasil pilihan Daya langsung disetujui begitu saja oleh Bagas, malah kabarnya sudah ada pula yang sampai di sana. Otomatis Daya harus langsung ke sana mengecek semuanya, meskipun Bagas lagi-lagi sudah meminta bantuan tim Monika untuk mengurus semua dekorasi dan peletakan semua barang. Dan, ternyata lagi selebaran dan juga katalog yang Sukma berikan kapan lalu adalah hasil rekomendasi dari Monika. Ah … benar-benar luar biasa sekali teman suaminya itu.Satu per satu ruangan sudah mulai terisi persis seperti yang Daya mau. Daya bahkan sudah memberikan aksen tambahan untuk mempercantik ruangan tersebut. Daya tersenyum lega. Di sinilah Daya sekarang. Di ruangan yang agak menjorok ke belakang, namun pemandangan yang disajikan benar-benar membuat mata segar. Sebuah taman serta suara gemericik kolam dan juga gazebo bisa leluasa ia lihat. Bagas memang sen
Siang itu, Daya yang sedang sibuk membongkar kardus di belakang bersama Ratih mendadak kaget dengan kedatangan Sukma yang tiba-tiba ke rumah. Sukma hanya tersenyum tipis saat Ratih menyuguhkan minuman dan camilan di atas meja.Hal pertama yang dilakukan Sukma adalah menyampaikan segala perihal yang diperintahkan atasannya kepada nyonya rumah. Sukma sempat beranggapan bahwa semua yang atasannya itu lakukan sangatlah berlebihan. Namun, Sukma seketika mengerti begitu bertemu dengan istri atasannya itu.“Terus, pak Bagas bilang apa lagi?” cerca Daya merasa tidak suka, karena Bagas benar-benar mulai membatasi geraknya.Sukma menggeleng, “Sejauh ini hanya itu yang pak Bagas minta ke saya. Beliau hanya ingin membuat Ibu merasa nyaman di rumah. Apa masih ada yang memberatkan, Bu? Nanti saya akan sampaikan ke bapak.”Daya menghela napasnya, “Sekarang, pak Bagas di mana? Kenapa bukan dia sendiri yang ke sini? Tumben-tumbenan dia minta kamu kemari dengan urusan yang
Hening. Tidak ada niatan membuka obrolan sama sekali. Pintu mobil belum bisa terbuka karena Bagas belum membuka central lock di sebelahnya. Daya menoleh dengan tatapan bingung. Karena sejak mereka keluar dari area parkiran klinik, suaminya itu tidak berkata apa-apa. Bibir Bagas seperti terkunci, hanya fokusnya saja yang masih waspada dengan kemudi dan jalan di depannya.Daya menepuk pelan pundak Bagas, “Mas? Kok malah bengong. Pintunya belum kamu buka.”Masih belum ada niatan Bagas untuk menjawab—bergeming dengan tangannya yang masih menggenggam erat kemudi. Fokus Bagas hanya pada satu titik, tetapi entah kenapa terlihat kosong di mata Daya.“Kenapa sih?” Lagi. Daya hanya bisa menepuk pundak suaminya itu dengan gemas karena tidak ada respons apa pun. Lalu, Daya mengibaskan tangannya berulang kali ke arah wajah Bagas namun malah digenggam dengan penuh perasaan, “Mas?” Daya kembali membeo.“Maaf ...” ucapnya tiba-tiba. Pelan, juga lirih. Sampai Daya nyaris







