LOGIN“Bun–”
“Sebentar,” sela Deswita tetap memasang senyumnya, “Bunda cuma sebentar. Lima menit.”
Emosi Arif yang sebelumnya sudah meninggi, akhirnya turun dengan perlahan ketika mendengar ucapan Deswita. Mungkin ia terlalu keras dan otaknya sudah dipenuhi pikiran negatif tentang sang ibu.
“Ya, ada apa?” tanya Arif mempersilakan Deswita duduk, tetapi wanita itu menggeleng.
“Pulanglah ke rumah kamis malam,” pinta Deswita menghabiskan jarak dengan putranya, “ayah ulang tahun, jadi, ayo kita makan malam. Seperti dulu. Kamu, Bunda, sama Ayah.”
Sudut bibir Arif tertarik skeptis. Bukan karena ulang tahun Ivan, tetapi ia curiga dengan rencana sang ibu di belakang itu.
“Benar cuma bertiga?” tanya Arif memastikan.
“Ya.” Deswita mengusap bahu kiri putranya dengan senyum yang tidak pudar sejak tadi. “Kan, Bunda bilang seperti dulu. Jadi, cuma kita bertiga.”
“Oke, aku datang.” Arif mengangguk setuju dan tidak memiliki alasan untuk menolak. “Tapi kalau–”
“Cuma kita bertiga,” sela Deswita mengulang kembali ucapannya, “sampai ketemu kamis malam. Bunda pergi dulu, ada janji.”
Deswita memberi satu tepukan ringan di bahu Arif, sebelum akhirnya berbalik pergi tanpa menyisakan perdebatan seperti yang sudah-sudah.
Sementara Arif, refleks membuang napas besar. Berusaha percaya dengan sang ibu dan membuang pikiran negatif yang sempat menyelinap. Ia harap, makan malam nanti benar-benar menjadi makan malam keluarga. Hanya ada dirinya, ayahnya, dan bundanya.
💙💙💙💙💙💙💙
“Mas!” Suci berdiri seketika saat melihat Arif memasuki unit apartemen. Ia sengaja menunggu pria itu di ruang tengah karena ingin menyampaikan sesuatu yang membuatnya gelisah. “Tadi siang, aku lihat Bu Deswita ke kantor. Apa Ibu nemuin Mas?”
Arif mengangguk. Berjalan pelan menuju sofa panjang lalu menghempaskan tubuh di sana.
Siang tadi, Deswita memang pergi ke kantor untuk menemuinya. Ibunya itu seolah tidak mengenal kata menyerah dan bersikap seperti tidak ada hal serius yang pernah terjadi di antara mereka.
“Ci …” Arif menjeda kalimat yang akan diucapkannya sebentar.
Sepanjang perjalanan pulang, banyak hal yang telah dipikirkan Arif. Entah mengapa ia tiba-tiba tidak tega jika harus melibatkan Suci dalam masalah yang dihadapinya dengan Deswita.
“Ya, Mas?” Suci duduk perlahan di ujung sofa yang berbeda.
“Sorry, tapi nggak tau kenapa … sepertinya kita batalin aja kontraknya,” ucap Arif tanpa menatap Suci sama sekali, “sepertinya waktu itu aku sedang kebawa emosi sama ibuku dan langsung ngambil jalan pintas.”
“Tapi–”
“Aku akan tetap bayar kamu sesuai perjanjian, tapi … kita nggak perlu lagi melaksanakan isi di dalam kontraknya.”
“Mas Arif sudah baikan dengan ibunya?” tanya Suci hati-hati.
“Ini bukan permasalahan sudah baikan atau belum.” Arif melepas napas panjang lalu menatap Suci. “Tapi, aku cuma nggak mau kamu jadi korban sakit hati ibuku selanjutnya. Maaf, ternyata aku nggak sampai hati. Kamu nggak seharusnya mendapatkan perlakuan yang nggak mengenakkan dari ibuku.”
“Tapi aku dibayar untuk itu.”
Giliran Suci yang tidak enak hati karena mendapatkan uang secara cuma-cuma dari Arif.
“Ci, ibuku akan merendahkanmu serendah-rendahnya,” ujar Arif, “dan maaf, dia mungkin juga akan menghina keluargamu. Ibumu yang pergi, bapakmu yang di penjara, dan mungkin adekmu juga bakal kena imbasnya.”
Suci tersenyum tipis. Ia mengalihkan tatapannya dari Arif. “Kalau Mas sedang bicara harga diri … aku rasa, aku sudah nggak punya hal itu sejak aku terima uang 125 juta. Dan kalau bicara mental, aku sudah kebal kalau dikata-katain sama orang. Gimana nggak kebal kalau punya Bapak tukang judol, suka ngutang, nadah barang curian, terus sekarang di penjara pula. Mana Ibu juga kabur. Kata tetangga sih, lari sama laki-laki lain.”
Arif tertegun. Meski sudah mendengar secara garis besar sebelumnya, tetapi ia tidak menduga jika Suci bisa mengatakannya setenang itu. Tanpa berusaha menutupi. Tanpa terlihat ingin dikasihani.
“Lagian, Mas.” Suci kembali menatap Arif. “Nanggung. Kita sudah nikah, dan itu sah meski ujung-ujungnya cuma sandiwara.”
Arif menghela panjang. Ia memang sengaja melakukan pernikahan dengan Suci secara sah. Karena sebagai putra dari pengacara kondang, ayahnya pasti akan mengecek hal tersebut dengan teliti. Ada yang kurang sedikit saja, maka hal tersebut bisa berimbas pada Suci.
“Kita tinggal jalani sisa rencana sampai Bu Deswita sadar,” lanjut Suci, “ya paling nggak–”
“Kamu yakin nggak papa kalau dihina-hina sama ibuku? Betul-betul siap sakit hati?”
Suci terkekeh hambar. “Telat kalau Mas nanyanya sekarang, aku sudah nyemplung terlalu dalam.”
Desahan berat lolos dari bibir Arif. Ia mengusap wajahnya sebentar. Berusaha menepis penat barang sejenak. Sebenarnya, yang mereka lakukan belum terlalu dalam karena Suci belum bertemu dengan Deswita. Namun, sepertinya Arif sudah tidak bisa mundur dan ia harus terus melanjutkan rencananya meski ada bagian dari dirinya yang bertolak belakang.
“Oke … kalau gitu siap-siap karena kamis malam kita makan malam di rumahku.”
“Kamis malam … malam jumat? Kamis ini?”
Arif mengangguk sambil melepas dasi yang masih melekat di leher sejak tadi. “Kamis ini! Jadi, siap-siap!”
💙💙💙💙💙💙💙
Untuk mengingat Suci, bisa dibaca lagi BonChap Setitik Nila~~
Kisseesss
💋💋💋💋
“Mas …” Suci berbaring miring menatap Arif, setelah selesai menidurkan Aska. Hanya tersisa satu lampu tidur yang menyala di sisi sang suami, sehingga ia masih bisa melihat wajah Arif dengan jelas. “Maaf yang tadi, ya.”Arif menghela pendek. “Sudah kubilang, kamu nggak salah jadi nggak usah minta maaf.”“Tapi tetap aja, aku nggak enak.” Suci mengerucutkan bibir. “Dari awal nikah, kayaknya aku sama keluargaku selalu ngerepotin.”“Kalau begitu, aku mau kita nggak ngomongin masalah itu lagi?” Arif yang sejak tadi berbaring miring melihat aktivitas Suci, lantas menarik selimut. “Dan jangan pernah minta maaf untuk hal yang nggak kamu perbuat. Oke?”“Oke …” jawab Suci masih dengan bibir mengerucut. Arif tersenyum tipis melihat wajah Suci. Karena gemas, ia pun mencubit bibir yang masih maju itu dengan geregetan. “Bibirnya nggak usah gini. Nanti kalau aku pengen bahaya!” Suci menepis pelan tangan Arif. Namun, bibirnya masih saja mengerucut. “Aku lagi dapet.”Arif mencebik. “Kenapa juga pake
Langkah Nurul memelan, saat melihat sebuah motor terparkir di depan rumah keponakannya. Sebuah motor yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Ditambah, pintu rumah itu pun terbuka, berikut dengan jendela di ruang tamu.Yakin ada seseorang di dalamnya, Nurul bergegas memasuki rumahnya lebih dulu untuk meletakkan kantong kresek berisi barang belanjaan. Setelah itu, ia langsung pergi menuju rumah itu. Dan tebakannya benar, pemilik sebenarnya telah berada di rumah. Ginanjar!“Dah keluar, Bang?” tanya Nurul hanya berdiri di bibir pintu ketika melihat Ginanjar sibuk mengotak-atik ponselnya. Tidak banyak yang berubah dalam penampilan pria itu, semuanya hampir sama seperti terakhir kali mereka bertemu. “Masih aja ditanya,” sahut Ginanjar masih menyimpan kesal setelah kepergian Sahli. “Masak apa kamu di rumah? Aku lapar,” ujarnya lalu menatap wanita itu.Nurul mendesis. “Adanya nasi. Telurnya goreng sendiri.”Ginanjar berdecak. “Beliin ayam bakar bentar.”“Lah!” Nurul yang enggan disuruh-suruh
Sahli berdiri di depan lembaga pemasyarakatan sambil bermain game di ponselnya untuk mengisi waktu. Sesekali, tatapannya tertuju pada pintu gerbang, menunggu Ginanjar keluar dari sana. Semua informasi sudah diberitahu lebih dulu oleh Arif, sehingga ia tidak akan menunggu bapaknya terlalu lama. Benar saja. Hanya sekitar lima belas menit menunggu, akhirnya Sahli melihat Ginanjar keluar melewati gerbang lembaga pemasyarakatan. “Pak!” panggil Sahli sambil melambai kecil.Ginanjar menoleh. Untuk beberapa saat, ia menatap ke sekitar untuk memastikan sesuatu. Setelah yakin, ia pun tersenyum tipis sambil menghampiri Sahli yang hanya berdiri di tempatnya. “Sendirian?” tanya Ginanjar saat berhenti di hadapan putranya. Lama tidak berjumpa, Ginanjar cukup terkejut melihat perubahan dari penampilan Sahli. Putranya kini tampak jauh lebih bersih, rapi, terawat, dan berisi dibandingkan terakhir kali ia melihatnya. Sungguh berbeda dari sosok Sahli yang masih ia ingat.“Sendiri,” jawab Sahli meraih
“Yakin mau ngambil psikologi?” tanya Sahli duduk melantai di samping Suci yang sedang menatap laptop. Ia meremas mi instan yang dibawanya dari dapur lalu membuka bungkusnya. Suci menoleh pelan. Menatap mi instan yang ada di tangan Sahli lalu menelan ludah. “Nggak dimasak minya?”“Nggak,” jawab Sahli sambil mengeluarkan bumbu mi tersebut dari dalam bungkus. “Mau kumakan gini aja.”Suci menghela panjang. Ia harus bersabar, karena masih tidak diperkenankan memakan makanan seperti itu oleh Arif dan kedua adiknya. “Eh, itu tadi belum dijawab,” ujar Sahli mengingatkan. “Jadi ngambil psikologi?”Suci menggelang pelan. Harusnya ia sudah mendaftar kuliah beberapa bulan lalu. Namun, karena ada insiden dengan Deswita yang mengharuskannya bedrest, maka Suci terpaksa menunda niatnya untuk kuliah. “Nggak jadi,” jawab Suci kemudian menoleh pada Hadi yang sedang bersama Aska area bermain.Setelah kembali dari rumah mertuanya kala itu, Suci pun berinisiatif untuk mengubah sebagian ruang keluarganya
“Wah …” Langkah Suci berhenti di ruang tengah kediaman Adiningrat. Ia takjub, terkejut, dan tidak menduga jika separuh ruangan tersebut ternyata dijadikan area bermain. Untuk siapa lagi jika bukan untuk Aska. Sebuah playmat luas terhampar dengan beragam mainan bayi dan tempat tidur mungil di sisinya. Pagar pengaman warna-warni pun juga sudah disiapkan sebagai pengaman di sekitarnya. Padahal, saat ini Aska belum bisa berguling ke mana-mana, tetapi semua sudah tersedia di rumah mertuanya. Bahkan, Suci tidak memiliki barang-barang seperti itu di rumahnya sendiri. Sepertinya, Aska akan menjadi “Raja” kecil di keluarga Adiningrat.“Langsung ke atas aja,” ujar Deswita yang sudah duduk lebih dulu di area bermain bersama Aska. “Aska biar sama Oma.”Suci menggaruk pelan sisi lehernya. Sebenarnya, hubungannya dengan Deswita sampai saat ini masih tetap berjarak. Mereka memang sudah tidak lagi bersitegang seperti dulu, tetapi keduanya juga belum memiliki kedekatan yang membuat Suci bisa bersik
“Ayah tadi itu serius, ngajak kita minggu depan nginap di rumahnya?” tanya Suci setelah mobil Ivan keluar dari pagar. Ia masih berdiri di teras rumah bersama Arif, sementara Aska sudah tidur dengan lelapnya di ayunan di ruang tengah. Arif mengangguk sambil mengalungkan sata tangan di pinggang Suci. Ia mengangguk dan tersenyum kecil pada Jaja yang baru menutup pagar, kemudian membawa istrinya kembali masuk ke dalam rumah. “Tadinya cuma makan malam,” terang Arif, “tapi, mendadak Bunda nyuruh sekalian nginap sana. Bawa Aska.”“Haaah …” Setelah mendesah panjang, Suci lantas memajukan bibirnya. Masih separuh hati dengan ajakan Ivan tersebut. Bukan karena trauma, tetapi ia pasti merasa canggung bila harus menginap di rumah mertua yang pernah membenci dan menolaknya mati-matian. “Kenapa? Kamu nggak mau?” tanya Arif.“Aku nggak enak,” jawab Suci sambil melingkarkan tangan di lengan Arif. “Mana bawa bayi, terus juga masih nyusuin. Kalau aku lapar, terus mau makan ini itu pas malam, kan, su
“Sekali lagi, terima kasih banyak, Bu Mila,” ucap Suci pelan sembari menundukkan kepala dengan hormat. Ia telah mengajukan pengunduran dirinya dua hari lalu, sekaligus menawarkan orang pengganti agar Mila tidak kesulitan. “Selama ini Ibu sudah baik banget sama saya.”“Sama-sama.” Mila mengangguk de
Sah.Satu kata itu baru saja mengubah hidup Suci.Ijab kabul selesai, disusul sesi foto singkat yang terasa seperti formalitas. Setelah itu, suasana kembali tenang di unit apartemen tempat ia dan Arif akan tinggal selama satu tahun ke depan. Atau, mungkin kurang dari itu jika Arif ingin menyudahi ko
“Ada yang mau ditanyakan?” Arif duduk tegak. Bersedekap setelah melihat Suci selesai membaca draft kontrak di layar laptopnya. “Atau, ada yang mau ditambahkan?”“Emm …” Suci menatap canggung pada Arif. “Kontraknya … nggak ada batas waktunya, Pak?”Arif menyipitkan mata. “Ada masalah?” tanyanya tenan
“Bun, cukup.” Arif berusaha untuk tidak meninggikan suara di depan Deswita, agar tidak menimbulkan kecurigaan rekan kerjanya. “Sudah berkali-kali aku bilang, jangan lagi ikut campur dengan hidupku.”“Rif–”“Aku juga sudah bilang, jangan pernah datang lagi ke kantorku,” desis Arif semakin memelankan







